logo text

Bab 9 Titik Terang

“Setelah sekian lama mencari tanpa titik temu, akhirnya titik terang itu datang.”
 
 “Kak, punggung kakak sakit ya karena gendong Qila.”
“Sedikit, tapi nggak papa kok.” Devan tersenyum dan berlaga seolah punggungnya tidak sakit.
Qila mendekati Devan dan berjalan kebelakang tubuh Devan, Qila menempelkan tangannya ke pundak Devan dan memijitnya pelan.
“Lo ngapain, nggak usah. Kondisi lo juga lagi nggak baik-baik aja.”
“Gue nggak papa.”
Devan tersenyum dan merasakan sentuhan demi sentuhan tangan Qila yang memijat pundaknya dengan lembut. Waktu sudah sangat malam namun Devan dan Qila belum ada niat untuk beranjak. Melihat keindahan langit yang begitu cerah malam ini membuat mereka betah untuk berlama-lama.
Reihan terus mencari Qila namun sudah hampir 30 menit, Reihan tidak menemukan Qila. Reihan bingung harus mencari Qila kemana, Reihan juga khawatir akan keadaan Qila yang sampai saat ini belum juga ditemukan. Akhirnya setelah sekian lama berpikir dan mencari Qila sendirian, Reihan baru sadar bahwa Reihan memiliki nomor sahabat Qila yang baru yaitu Lina. Reihan mencoba menghubungi Lina.
“Halo, maaf ini siapa ya?” tanya Lina di ujung telepon.
“Ini Reihan, abang Aqila. Saya mau tanya apakah Qila sudah pulang, atau masih ada acara lain?”
“Aqila sudah pulang bang, sebelum acaranya selesaipun Qila sudah pulang.”
 “Sudah pulang sebelum acara selesai, kamu yakin? Tapi sampai kini Qila belum sampai rumah."
“Astagfirulloh, tapi bener kak Qila sudah pulang dari tadi.” Sahut Lina khawatir
“Kamu bukannya datang sama Qila, kenapa nggak pulang bareng juga.”
“Tadi saya ke tunjuk dari MC di acaranya kak, jadi saya nggak bisa nemenin Qila di pesta, tapi saya sudah pesan sama dia kalau mau pulang kabari saya.”
“Yaudah, terima kasih.”
Reihan semakin khawatir dan bingung kemana adiknya pergi. Reihan semakin prustasi karena hp Qila tidak dapat dihubungi.
Qila dan Devan asik memandang langit malam yang cerah, mereka lupa bahwa banyak yang mengkhawatirkan Qila.
“Qil, kita pulang ya, ini udah malem banget.”
“Bentar lagi ya kak, langitnya cerah banget. Rembulan juga bintangnya sangat indah.”
“Oke, tapi kamu kabari dulu orangtua kamu atau Reihan biar mereka nggak khawatir.”
Qila mengangguk dan mencoba menghubungi mamahnya, namun Qila baru ingat bahwa hpnya lowbat. Qila meminjam hp Devan dan memanggil nomor Reihan, abangnya.
“Ada apa Van, gue lagi sibuk. Kalau lo mau ajak gue nongkrong. Kapan-kapan aja ya.”
“Abang..”
“Qila, ini beneran kamu?”
“Iya bang, maaf ya Qila bikin abang khawatir. Qila bentar lagi pulang kok.”
“Oke abang jemput, kamu dimana ?”
“Nggak usah bang, Qila bentar lagi sampe rumah kok.”
“Abang jemput, kamu dimana?”
“Iya, Qila shareloc.”
Qila mengirimkan lokasi dimana dia dan Devan berada pada Reihan. Reihan langsung memasuki mobil dan mengemudikan mobilnya ke tempat yang sudah Qila kirimkan.
“Gimana?”
“Bang Reihan bilang dia bakal jemput.”
“Bagus dong.”
“Tapi kak--.”
“Udah, kapan-kapan gue ajak lo ke tempat yang paling indah untuk melihat bintang dan bulan.”
“Lo yakin gitu kalau nanti gue mau?”
“Ya yakinlah.”
“Terlalu kepedean lo kak.”
“PD itu harus, kalau kita kurang PD nanti insecure dan jatuhnya jadi kurang bersyukur. Tapi jangan terlalu PD juga nanti sombong.”
Qila tersenyum dan tidak menyangka Devan laki-laki yang dikenalnya pecicilan dan menyebalkan ternyata sangat menakjubkan.
Devan juga tersenyum karena benar-benar tidak menyangka akan adanya hari ini, hari dimana dirinya bisa berduaan dengan Qila. Wanita yang sudah beberapa bulan ini selalu menghantui malam-malamnya.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan mereka berdua. Reihan keluar dan langsung menghampiri Qila, Reihan memeluk Qila dengan erat. Reihan tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia sangat khawatir.
“Maafin abang ya Ia, abang lupa untuk jemput kamu.”
“Nggak papa kok bang, Qila juga baik-baik aja.”
“Kamu kok nggak ngabarin abang?”
“Maaf ya bang, hp Qila lowbat. Qila nggak bisa ngabarin abang.”
Devan hanya menatap adik kakak itu dengan penuh haru. Devan sangat tahu bahwa Reihan sangat menyayangi Qila. Bahkan Reihan rela melakukan apapun hanya untuk membuat Qila bahagia.
“Van kok ade gue bisa sama lo?” seru Reihan dengan tatapan menyelidik “awas aja kalau lo berani apa-apain ade gue.”
“Apaan sih lo, gue juga nggak tahu kalau ade lo ada di acara pesta angkatan gue.”
“Jadi itu pesta angkatan kita? Kok gue nggak tau. Kalau tau itu acara angkatan kita mungkin udah dateng gue.”
“Bukannya gue udah line lo ya, atau lo nggak baca?”
“Udah 3 hari gue males buka hp.”
“Kenapa tuh, jangan-jangan.” Seru Devan dengan tawa mengejeknya
“Jangan ketawa lo.”
Qila yang tidak mengerti akan obrolan Reihan dan Devan hanya diam dan sesekali menghirup udara malam yang terasa sangat dingin.
“Bang, katanya mau ngajak pulang. Qila udah kedinginan nih.”
“Oh iya, yuk dek.”
“Lo nggak bawa mobil atau motor Van?”
“Gue bawa motor tapi gue tinggal di area pesta.”
“Kenapa? Udah nggak butuh lo?”
“Ya nggak gitu juga, cuman--.”
“Kak Devan lupa bang, kalau dia bawa motor.”
Devan hanya tersenyum menanggapi ucapan Qila yang tiba-tiba. Devan tahu kenapa Qila langsung menyambar ucapannya, Devan yakin kalau Qila takut Reihan khawatir juga takut di ejek oleh Reihan karena sudah digendong oleh Devan. Devan hanya terkekeh melihat tingkah Qila yang lucu.
Wajah Qila pucat dan Qila menunduk malu karena Devan yang menatap kearahnya.
“Yaudah kalau gitu, lo balik bareng gue sama Qila aja Van. Lo juga boleh nginep di rumah kok.”
Devan mengangguk dan memasuki mobil.
***
Liana yang sedang gelisah menunggu kedatangan putra dan putrinya langsung sumringah ketika mendengar suara mobil yang mulai mendekat. Liana berlari keluar dan mendapati Reihan, Devan dan Qila yang baru saja keluar dari mobil. Liana yang begitu khawatir akan putrinya, langsung berlari dan memeluk Qila erat.
“Kamu kemana aja sayang? Kok jam segini baru pulang. Mamah khawatir, kamu nggak ngabarin mamah lagi.”
“Maaf ya mah, Qila telat pulang ke rumah, hp Qila juga lowbat makanya nggak bisa ngabarin mamah.”
Qila memeluk mamahnya erat.
“Yaudah mah, kita ke dalem ya, udara di luar dingin.” Qila berjalan ke dalam bersama dengan Reihan, sedangkan Devan menyapa dulu Liana dan minta ijin untuk menginap di rumahnya satu malam ini.
“Selamat malam tante.” Seru Devan
“Devan? Kok bisa bareng sama Qila dan Reihan?”
“Iya tan, soalnya tadi Devan ketemu Qila di pesta jadinya pulang bareng.”
“Oh iya tan, Devan ijin nginep disini malam ini ya tan.”
“Kayak sama siapa aja kamu ini, yuk masuk.”
Liana tersenyum dan mempersilahkan Devan masuk.
Devan berjalan ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Rumah Reihan baginya sudah seperti rumah sendiri. Sebelum kedatangan Liana juga keluarga Devan adalah orang yang paling sering ada di rumah ini. Devan selalu menemani Reihan yang terkadang enggan untuk keluar. Devan sangat mengetahui bagaimana kondisi keluarga Reihan.
Reihan adalah anak sulung dan merupakan abang Qila. Reihan sangat menyayangi Qila, buktinya ketika Qila terpuruk, Reihan juga ikut terpuruk dan sangat terpukul. Reihan begitu sakit ketika melihat Qila yang hidup sudah seperti orang yang hilang arah dan tujuan. Semenjak kepergian Dave, kekasih Qila. Qila menjadi gadis yang sangat pendiam dan selalu menyendiri. Qila tidak pernah ingin keluar rumah kecuali ada hal yang sangat penting. Reihan yang melihat Qila yang periang, bawel dan galak tiba-tiba berubah, merasakan hatinya benar-benar hancur dan batinnya terpukul.
Hingga suatu ketika Reihan mengabari Devan bahwa keluarganya akan pindah ke Bandung. Reihan meminta bantuan Devan untuk membersihkan rumah peninggalan neneknya dan mendekorasi rumah itu menjadi lebih indah, apalagi kamar yang akan di tempati Qila.
“Kenapa lo bengong? Awas aja kalo lo lagi mikirin ade gue.”
“Kalau iya mau apa lo.”
“Gue ingetin sama lo, jangan deketin ade gue.”
“Emang kenapa sih Han?”
“Gue nggak mau dia kembali tersakiti.”
“Maksud lo? Lo nggak percaya sama gue?”
“Bukan gitu Van, lo pasti ngerti kok kenapa, gue hanya takut jika suatu saat lo tiba-tiba ninggalin ade gue dan membuat dia kembali seperti kemarin.”
“Iya gue ngerti kok Han, tapi lo harus tau kalau gue nggak mungkin ade lo.” Seru Devan dengan serius.
“Jadi lo beneran mikirin ade gue? mau dikemanain Salsa Van?”
“Hahaha apa sih lo? ya nggak lah, mana mungkin gue mikirin ade lo. Dan lo juga harus tahu Salsa bukan siapa-siapa gue.” Seru Devan kesal.
Devan beranjak dari sofa dan berniat untuk ke kamar Reihan. Devan merasa tubuhnya lelah dan punggungnya sakit. Namun belum juga beberapa langkah, ada yang memanggilnya.
“Kak....”
 
 
 
_Jangan lupa tinggalin jejak ya, Bantu komen dan like biar makin semangat nulisnya_
_Komentar dan dukungan like dari kalian adalah semangat juga motivasi untukku_
_Semoga senantiasa sehat_
 

Komentar Buku (46)

  • avatar
    Puput

    sumpah dehh recommended bgtt novel iniiii

    27/06/2025

      0
  • avatar
    GunturCepi

    gas ken

    29/04/2025

      0
  • avatar
    NurainiIka

    bagusss

    27/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru