“Langit mendung ketika sang mentari terhalang oleh kabut juga awan yang menggumpal.”
Devan menggerak-gerakan tubuh Qila, dan menepuk-nepuk lembut pipi Qila. Devan seamkin bingung harus bagaimana. Devan merasakan tangan Qila dingin dan wajah Qila juga dingin. Devan melepaskan jaket yang dikenakannya dan memakaikannya pada Qila yang kini tidak sadarkan diri. Waktu sudah sangat malam, suasana di jalan buah batu semakin sepi dan udara kian dingin. Angin berhembus dengan lembut mencoba memeluk tubuh Devan dalam dinginnya udara malam. Devan sudah berulangkali mencoba menelepon taksi, namun sudah 30 menit dia menunggu, taksi tak kunjung datang. Melihat wajah Qila yang masih tidak sadarkan diri di atas kursi, membuatnya semakin khawatir akan keadaan Qila. Wajahnya yang pucat dan bibirnya membiru. Tangan dan wajah Qila semakin dingin karena angin yang terus menerus berembus. Dengan berat hati, Devan memutuskan untuk menggendong Qila dan membawanya pulang. Jarak rumah Qila dari tempat yang kini mereka tempati ada sekitar 3 KM. Devan tidak tahu harus bagaimana lagi. Sudah beberapa kali juga Devan menghubungi Reihan namun tidak ada jawaban. Devan mengangkat tubuh Qila dari kursi dan menaikannya pada punggung. Devan mengaitkan tangan Qila dan perlahan-lahan berjalan pulang menuju rumah Qila. Reihan sedang asik main PS bersama teman-temannya, sampai-sampai, Reihan tidak menyadari bahwa adik kesayangannya belum pulang dari pesta, sedangkan Aqila bilang bahwa dia akan pulang paling telat jam 9 malam, namun kini hingga waktu sudah menunjukan jam 10 malam lebih. Aqila belum pulang dan Reihan lupa untuk menjemput adiknya. Liana, mamah Reihan datang dan menanyakan Qila. “Rei,” panggil Liana “Iya mah, ada apa? kok mamah belum tidur.” “Gimana mamah mau tidur Rei, ini sudah jam 11 kurang 25 menit sedangkan adikmu belum pulang juga.” Ucap Liana khawatir akan keadaan putri satu-satunya itu. Reihan yang sedang fokus melihat layar play stationnya, langsung berdiri dan mengahadap Liana. “APAA, Qila belum pulang mah, mamah udah cari di kamar Qila?” “Iya Reihan, kamu dari tadi fokus main PS sampe lupa adiknya belum pulang. Mamah udah cari Qila di kamarnya, tapi memang Qila belum pulang.” “Astagfirulloh, kok Reihan bisa lupa ya.” Reihan berlari mengambil jas yang tersampir di ruang tamu dan mengambil kunci mobilnya. Reihan benar-benar lupa bahwa Qila, adik kesayangannya belum pulang. Reihan berniat untuk menjemput Qila, Reihan berpikir bahwa mungkin saja Qila belum pulang karena tidak ada taksi dan kini Qila sedang menunggunya untuk menjemput. Liana berlari menyusul Reihan. “Kamu hati-hati Rei, jangan kebut-kebutan.” “Iya mah, Reihan jempu Qila dulu. Mamah tidur aja, istirahat ya.” Liana hanya menganggkuk, padahal pada kenyataannya Liana tidak mungkin bisa tidur jika Qila bekum pulang hingga larut malam begini. Devan terus berjalan dan menyusuri jalanan sepi, Qila yang sudah lama tidak sadarkan diri, akhirnya sadar dan Qila melihat bahwa kini dirinya sedang di gendong oleh seseorang. Qila mencoba mengintip siapa yang menggendongnya. Qila melihat dari samping ternyata yang menggendongnya adalah Devan, cowok menyebalkan yang selalu saja mengganggu dan menjahilinya, cowok yang sok cool dan sok tidak peduli namun nyatanya sangat peduli. “Ini beneran si cowok nyebelin itu? Kok bisa sih dia gendong gue.” Qila senyum-senyum sendiri dengan pikirannya, Devan yang merasakan peregerakan Qila, mencoba untuk memanggil Qila karena mungkin saja Qila sudah bangun dan bisa membuat rasa khawatirnya sedikit hilang. Devan mencoba melihat kesamping dimana kepala Qila bersandar pada bahunya. Devan melihat mata Qila masih terpejam, Devan mengira bahwa semua yang dia rasakan tadi hanyalah kehaluannya saja. Qila yang tidak mau Devan tahu bahwa dia sudah bangun, segera pura-pura kembali tidur dan memejamkan matanya. Qila tidak mau menyia-nyiakan moment ini, moment yang membuatnya merasa sangat nyaman berada di dalam gendongan Devan. “Lo kapan bangun La?” “Gue khawatir banget sama lo, lo nggak kasian apa sama gue, yang udah jalan segini jauhnya sambil gendong lo.” Qila mendengarkan kata-kata Devan dengan jelas, Qila tersenyum mendengarkan Devan berkata bahwa Devan sangat khawatir akan keadaannya. Qila terus tersenyum hingga beberapa menit kemudian senyum itu luntur dan membuat Qila sangat kesal mendengar ucapan Devan yang selanjutnya. “Lo tau gak sih La, badan lo tuh berat, sakit tau punggung gue gendong lo.” Devan tahu bahwa Qila sebenarnya sudah bangun dan hanya puar-pura tidur. Devan sengaja mengucapkan kata-kata itu agar Qila terpancing. Namun, ternyata usaha Devan gagal. Qila memang kesal dengan ucapan Devan. Namun, Qila berusaha untuk menahan emosinya. Qila tidak ingin bahwa Devan tahu bahwa Qila kini hanya berpura-pura pingsan. Reihan melajukan mobilnya ke jalan buah batu yang tadi terdapat pesta yang Qila hadiri. Sesampainya disana, Reihan melihat bahwa tempat acara sudah kosong dan sudah sepi. Reihan mencoba mencari Qila, mungkin saja Qila duduk di dalam ruangan yang masih terang untuk menunggunya. Reihan terus mencari Qila di sekitaran pesta, namun hasilnya nihil. Devan bingung, hingga akhirnya mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Qila. Saat Reihan membuka hp, ada banyak panggilan tidak terjawab dari Devan. Reihan tidak menghiraukan panggilan dari Devan, Reihan mengabaikannya karena mungkin Devan hanya ingin mengajaknya kumpul bareng temen-temenya. Reihan mencari nomor adiknya dan mencoba menghubunginya. Namun, hp Qila tidak aktif karena batrenya lowbat. Reihan semakin khawatir ketika terus menerus menghubungi Qila namun tidak pernah tersambung. Reihan mencoba menghubungi mamahnya dan menanyakan Qila, Reihan berpikir mungkin saja Qila sudah di rumah namun tidak berpapasan dengannya. “Mah, Qila udah pulang?” “Belum Rei, bukannya kamu mau jemput Qila di tempat pestanya yang tadi?” “Iya mah, tapi pas Reihan cari-cari Qila nggak ada dan suasana di tempat ini sudah sepi.” “Reihan kamu jangan bohong Nak, mamah sangat khawatir dengan keadaan adikmu.” “Yaudah Reihan cari Qila lagi, tapi mamah jangan nangis ya, mamah harus tenang dan istirahat.” Devan berhenti sejenak di pinggir jalan, Devan mencoba meluruskan punggungnya yang terasa sakit. Devan melihat mata Qila masih terpejam. Qila yang melihat Devan seperti orang kesakitan, merasa tidak tega. Qila memutuskan untuk bangun dan memijat punggung juga pundak Devan. “Kak,,” panggil Qila pelan. Devan yang melihat Qila benar-benar bangun, langsung sumringah dan menghampiri Qila. “Lo udah sadar? Lo nggak papa kan?” tanya Devan dengan nada khawatirnya. “Maafin gue ya kak, udah ngerepotin lo.” Di bawah naungan langit yang indah dengan taburan bintang-bintang yang kerlap-kerlip juga rembulan yang bersinar bersih. Membuat malam kelam terasa indah bagi Devan dan juga Qila. “Lo nggak ngerepotin gue, malah gue yang minta maaf karena udah bikin lo nangis dan akhirnya pingsan.” “Lo nggak salah apa-apa kok kak, itu karena batin gue aja yang lagi rapuh. Maafin gue karena udah bikin lo khawatir.” Entah mengapa Devan dan Qila menjadi akur dan lupa bahwa mereka memiliki kebiasaan ribut dimana-mana.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sumpah dehh recommended bgtt novel iniiii
27/06/2025
0gas ken
29/04/2025
0bagusss
27/04/2025
0Lihat Semua