Minggu yang menyesakan hati akhirnya berakhir, sunyi yang memenuhi langit-langit tempat itu akhirnya bisa ditinggal bekerja di Senin pagi hari ini. Kemarin, Dewa seperti kehilangan arah, ia tak mampu menemukan Mya di mana-mana sekalipun wanita itu ada, istrinya bahkan enggan keluar dari kamar dan terus mengunci rapat pintu agar Dewa tak perlu berkali-kali mengintip keadaannya. Wanita itu hanya minta kunci lemari yang sengaja Dewa sembunyikan, karena Mya juga perlu berganti pakaian setelah ia mandi. Dewa resah, tapi ia tak memiliki daya untuk melawan keputusan Mya, ia terus mengupayakan kesabarannya dan menunggu hingga wanita itu sudi berbicara. Dewa mencoba membeli makanan di restoran area apartemen tersebut, saat ia menawarkannya pada sang istri—Mya menolak. Ia sama sekali tak makan hingga sore tiba dan semua makanan yang Dewa beli berakhir di tempat sampah tanpa tersentuh, pasalnya Dewa juga tak memiliki minat untuk menyantap apa pun, mereka sama saja. Pernah sekali Mya membuka pintu kamar dan keluar menghampiri dapur, Dewa senang bukan main. Ia pikir Mya mau berbicara dengannya, tapi dugaan Dewa salah, wanita itu tetap saja diam dan melangkah melewatinya tanpa berbicara saat Dewa berdiri di ambang pintu dapur—seolah ia tak kasat mata. Pagi ini Mya melakukan aktivitasnya dengan normal, ia tetap bersikap sebagai seorang istri saat membuatkan sarapan untuk Dewa tanpa melupakan kopi, tapi tetap tak ada suara yang terlontar dari bibirnya, menatap Dewa saja enggan meski sang suami terus saja memperhatikan gerak-geriknya seraya duduk di balik meja makan. "My, nanti aku antar kamu kerja, ya?" tawar Dewa mengharap jawaban positif. "Sorry, enggak bisa. Aku mau pesan taksi online aja." Dewa bergeming, ia tak bisa melawan keputusan istrinya lagi, wanita itu beranjak meski hanya menghabiskan setengah potong roti tawarnya. "My—" Suara Dewa menggantung di udara tanpa mampu melanjutkannya, wanita itu sudah lebih dulu keluar, Dewa mendengkus pasrah, ia merasakan perang dingin antara mereka. Dewa membiarkan istrinya benar-benar pergi bekerja sendiri, di sini ia merasa tak berguna sebagai seorang suami, hobinya menyakiti Mya dan membuat hubungan mereka lagi-lagi renggang. Apa sih yang Dewa inginkan? *** "Pagi, My," sapa Melody yang baru tiba di sisi Mya setelah berlari menghampiri wanita itu saat Melody baru turun dari mobilnya di parkiran. "Pagi, Mel." Untuk teman-temannya Mya masih sanggup melukis senyum. "Oh ya, kok kemarin lo pergi duluan sih? Habisnya gue cari enggak ada." "Oh kemarin ya." Mya bergeming mencari alasan. "Ada urusan mendadak, sorry ya enggak bisa lebih lama di sana." "It's okey, oh ya. Satu lagi, My. Kemarin kenapa kok lo kayak kaget gitu pas gue bilang yang tunangan sama Bang Jef itu mantan si Dewa? Omongan lo juga ...." Sebaris alis Melody terangkat, mereka masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong dan tidak antre. "Eum, iya. Kaget aja kalau mantan pacar Dewa ternyata tunangan kakak kamu." Sungguh, segala pertanyaan Melody harus membuat Mya piawai mencari alasan mendadak, harusnya kemarin Mya mengungkapkan status hubungannya dengan Dewa pada teman-teman, sayang sekali dipaksa gagal karena sebuah fakta yang membuat Mya ingin sekali tenggelam ke dasar laut dengan segera. Keduanya berpisah saat Melody mencapai kubikelnya, Mya memasuki ruang kerja seraya merenggangkan otot leher yang terasa kaku, mungkin posisi tidurnya semalam tidak benar sampai terasa pegal. Ia duduk di balik meja dan mengeluarkan ponsel dari cross body bag, ia baru ingat kalau nomor Dewa masih diblokir dan Mya belum memiliki niat untuk membuka blokiran, ia tidak berencana membahas apa pun tentang masalah tersebut. Sekitar lima belas menit berselang pekerjaan untuk karyawan gedung pencakar langit tersebut mulai berlangsung, Mya merasa lega karena kesibukannya di tempat ini mampu mengusir sejenak pelik yang tengah ia hadapi. Tok-tok-tok! "Masuk aja," ucap Mya. Tampak sosok Sakti yang membuka pintu, masuk dan meletakan sebuah map hijau di meja. "Itu perlu tanda tangan kamu, My." "Oke." Mya membukanya, meraih bolpoin dan membubuhkan tanda tangan di permukaan materai. "Ada lagi?" Ia menengadah menatap Sakti yang berdiri di depan meja. "Enggak ada, cuma itu." "Oke." Mya menutup map tersebut dan mengulurkannya pada Sakti. "Eum, kok kamu kelihatan biasa aja ya, My?" "Emangnya aku harus gimana? Tanda tangan laporan mesti pakai ekspresi yang gimana?" Ternyata Mya tak menangkap arti yang berbeda dari pertanyaan Sakti. "Bukan itu." Sakti meraih mapnya dan duduk di kursi yang tersedia, ia meletakan kedua tangan di permukaan meja seraya menatap Mya yang mulai merasa kalau Sakti memang menginginkan sesuatu. "Semalam Melody bilang sesuatu sama aku, Aira juga." "Bilang apa?" "Melody bilang kalau dia pernah kasih lihat kamu video Dewa yang lagi di kafe sama cewek, dan ternyata cewek yang Melody maksud adalah Marisa, tunangan Jefri. Sedangkan saat itu kan kamu udah menikah sama Dewa, My. Jadi, logikanya adalah ... Dewa punya cewek di belakang kamu, selingkuh dia?" Sejak semalam Sakti sudah memikirkan kemungkinan dari perkataan Melody, hanya saja ia memang tak mengungkap hubungan sebenarnya antara Mya dan Dewa mengingat kalau Sakti masih menghargai keputusan Mya yang akan mengatakannya sendiri pada semua orang. Mendengar perkataan Melody membuat Sakti lantas bungkam, ia ingin melontarkan banyak hal yang diketahuinya, tapi tertahan di tenggorokan. Lantas, pagi ini Sakti butuh klarifikasi. "Kenapa diam aja, My? Apa yang aku simpulkan benar kan? Dewa menikah sama kamu, tapi dia punya cewek di belakangnya. Benar kan?" Mya menelan saliva, ia pikir hari Seninnya bisa sedikit menyenangkan karena tidak akan melihat Dewa hingga sore tiba, ternyata ada Sakti yang turut serta memporakporandakan perasaan Mya dengan semua prasangka kebenaran itu. "Sak, aku masih sanggup buat selesaikan masalah rumah tanggaku sendiri. Bisa ngerti kan?" "Artinya omongan aku benar kan, My? Dewa kayak gitu kan?" Keterdiaman Mya membuat Sakti menyimpulkan jawaban sendiri, ia beranjak dan memukul permukaan meja kerja Mya. "Kenapa kamu nikah sama laki-laki kayak dia, My! Bangsat!" Mya bahkan tak pernah menyangka jika Sakti menunjukan sisi seperti ini di depannya, di ruang kerjanya. Wanita itu terperanjat kaget saat kepalan Sakti menyentuh mejanya hingga tampak retak karena berlapis kaca, jika kepalan Sakti menyentuh wajah seseorang kemungkinan mencipta warna kebiruan yang telak. Mya beranjak, ia mendelik pada sahabatnya. "Sakti, aku tahu semuanya, aku tahu hubungan mereka dari lama, sejak awal aku nikah sama Dewa juga aku tahu. Kamu nggak perlu emosional kayak gini, Sak." "Dia nyakitin perempuan yang aku cintai, My! Nyakitin kamu, gimana caranya aku enggak marah? Aku relain kamu." Sakti meluruhkan kadar emosinya saat mata Mya mulai berkaca, sungguh ia tak ingin membuat wanita itu menangis. "Maaf, My." Suaranya melunak. "Dari awal aku udah ngerasa aneh sama pernikahan kalian, tiba-tiba aja kamu nikah dan nggak bilang siapa-siapa, kamu rahasiain semua ini, My. Terus, Melody bilang kebenaran tentang Dewa, aku enggak terima kamu diginiin, My." "Tolong, Sak. Aku tekankan kalau aku bisa mengurus masalahku sendiri, tanda tangannya udah cukup kan? Kamu bisa keluar sekarang karena aku mau lanjut kerja lagi." Sakti mendesah, ia menyadari Mya memang kukuh dengan keputusannya, wanita itu tak ingin rumah tangganya menjadi urusan orang lain, Salsa yang melihat langsung juga tak Mya beri tahu keadaan sebenarnya. Sakti mengalah untuk keluar dari sana tanpa mengatakan apa-apa lagi, tapi yang jelas ia merasa begitu kecewa terhadap Dewa. *** Jam istirahat berlangsung, tapi Mya memutuskan tak keluar dari ruang kerja dan memilih memesan makanan di salah satu aplikasi, ia bisa memastikan jika tubuhnya melangkah melewati ambang pintu dan bertemu keempat temannya—akan sebanyak apa pertanyaan yang terlontar, Mya tidak siap. Biar saja mereka menerka-nerka jawabannya sendiri, Mya sudah terlalu pusing memikirkan kehamilan Marisa. Wanita itu tetap berada di ruang kerjanya seraya menikmati makan siang seorang diri hingga masa istirahat berakhir dan membuat semua orang kembali bekerja, Mya baru keluar dari ruang kerja saat Albert menghubunginya lewat telepon kantor di dekat laptop dan mengatakan ada meeting mendadak. Mya yang berniat untuk bersikap normal di hadapan teman-temannya gagal seketika, jika saja Sakti tak menambah buruknya mood Mya pagi ini, mungkin semua masih bisa Mya kendalikan sendiri. "Senang ya besok kita bisa main ke Jogja, sekalian hunting, istri saya suka sekali sama daster batik," tutur Albert yang mengajak Mya berbicara setelah keluar dari ruang atasan, rencananya besok beberapa pemimpin divisi—termasuk Mya yang notabene pimpinan divisi marketing—hendak melangsungkan kunjungan kerja ke Jogja, Mya cukup senang mendengar kabar baik itu meski bukan sepenuhnya tentang liburan. Ia menemukan celah untuk meninggalkan kerumitan masalahnya di Jakarta sejenak sekaligus menepi dari Dewa, Mya bisa mengunjungi makam orangtuanya juga di sana. Ternyata ada juga yang membuat wanita itu merasa senang hari ini, tak segalanya dipenuhi keabu-abuan. "Kalau gitu besok borong daster dong, Pak. Ya kenyataannya emang bahannya kan adem, terus motifnya bagus-bagus. Saya pernah diajak ibu main ke tempat pembuatan kain jarik, Pak." Mya mengingat masa kecilnya yang pernah tinggal di Jogja. "Ah kamu, My. Kalau sama istri saya semua barang dianggap bagus, apalagi kalau suaminya yang beliin." Mya terkekeh mendengar penuturan atasannya, mereka berpisah di satu persimpangan beberapa kubikel karyawan, Mya terus saja melangkah menyusuri beberapa kubikel tanpa sekalipun menoleh untuk menatap Aira pun Melody yang terlihat sibuk dengan komputer mereka, sepertinya mereka juga tak menyadari lewatnya Mya. *** Saat jam pulang kantor berlangsung pun Mya memilih keluar terakhir ketimbang melangkah bersama teman-temannya, ketika mereka semua tak lagi terlihat di area kubikel barulah Mya melangkah menghampiri lift, ternyata menyiksa juga harus kucing-kucingan seperti ini. "ADA YANG BERANTEM! ADA YANG BERANTEM!!!" Beberapa orang di lobi mencoba memisahkan dua laki-laki yang sempat melangsungkan adu jotos, tak disangka jika dua pelaku utama adalah Sakti serta Dewa. Mereka menjadi bahan tontonan banyak orang karena area tersebut masih ramai karyawan yang melangkah melewati lobi hendak keluar dari kantor, alhasil mereka mengurungkan niat sekadar menonton apa yang terjadi, belum pernah ada sekali pun masalah perkelahian di kantor tersebut. Mya yang baru keluar dari lift mengernyit melihat kerumunan orang-orang di area lobi, ia bergegas menghampiri dan menyela ruang di antara banyaknya orang-orang. Meski tak lagi melangsungkan adu otot, tapi mereka masih bisa adu bacot. "Dasar bajingan!" umpat Sakti yang tak terima atas perlakuan Dewa terhadap Mya, kedua tangannya dipegang karyawan lain. Tadi, saat ia keluar dari lift dan menemukan Dewa duduk di sofa lobi—membuat emosinya melonjak tajam dan memukul Dewa begitu saja di depan banyak orang, Dewa yang tak terima lantas membalas tanpa pandang bulu sekalipun ia berada di kantor orang lain. Dewa menunjuk Sakti, ia juga dicekal dua karyawan lain. "Gue kasih peringatan buat lo, jangan ikut campur urusan rumah tangga gue sama Mya!" Semua orany terperanjat mendengar penuturan Dewa, ekspresi mereka hampir sama, kaget dan bingung. Aira serta Melody juga memperlihatkan ekspresi serupa, mereka saling tatap seraya menggeleng tak percaya. "Rum-rumah tangga Dewa sama Mya?" Aira benar-benar syok. "Jadi, Dewa itu suami Mya?" Melody refleks mengangguk meski ia juga belum sepenuhnya mempercayai semua itu. Mya menelan ludah, kini ia yang berada di tengah-tengah kerumunan menjadi fokus semua orang, sungguh Mya tak ingin terjebak dalam situasi seperti ini, ia merasa seperti seorang teroris yang akan mendapat vonis. Mya melangkah menghampiri Dewa, menarik tangan laki-laki itu dan membuat karyawan yang sempat mencekal Dewa meloloskannya, mereka melangkah keluar dari lobi dan menjadi bahan tontonan serta buah bibir banyak orang. "Kamu ngapain sih, Wa! Kamu ngapain bikin ribut di sini! Kamu senang bikin aku sengsara? Senang kamu, hah?" Mya semakin kecewa dengan perilaku suaminya, mereka berdiri di area parkir kantor, beberapa orang menatap pemandangan tersebut lewat kaca lobi, beberapa lainnya memutuskan pergi seraya membawa bahan gosip masing-masing. "Aku enggak ada niat bikin ribut sama siapa pun, My. Dia aja yang tiba-tiba pukul aku tanpa sebab, apa enggak boleh aku bela diri sendiri?" Selain plester yang masih menutup luka di kening, lebam di sudut bibir turut mewarnai wajah Dewa sekarang. "Kamu ngapain ke sini? Aku enggak minta kamu buat ke sini kan? Omongan aku enggak pernah kamu dengar, kamu kenapa sih, Wa!" "Aku mau ngajak kamu pulang, My? Salah kalau aku kayak gitu?" Dewa mengiba, ia tak menyangka kedatangannya semakin menambah kerumitan bagi Mya. "Aku enggak butuh, jangan lagi kayak gini, sadar enggak kalau kamu bikin malu. Sekarang lihat, kita jadi bahan tontonan banyak orang." Mya menyingkir menghampiri jalan raya dan Dewa mengejarnya. "My! Mya!" "Aku nggak mau bicara sama kamu, Wa. Stop di sini!" Mya melambaikan tangan kiri pada taksi yang kebetulan hendak melewatinya, ia masuk begitu saja saat Dewa masih memohon, Mya tak ingin merasa kasihan, ia telanjur dikecewakan. Saat taksi melaju, Dewa masih menyempatkan waktu mengejar, tapi ia sadar sepasang kakinya takkan mampu menandingi laju kendaraan tersebut, alhasil Dewa berbalik dan menghampiri motornya di area parkir gedung kantor Mya. Pening kembali mendera kening wanita itu, ia tak habis pikir dengan kekonyolan yang baru saja Dewa perbuat. Lagi, manusia satu kantor pasti akan membicarakannya dimulai sore ini, mereka semua tahu kalau Mya sudah menikah, terutama Aira, Melody serta Dimas yang juga baru tahu. Apa tanggapan mereka nanti? Kepala Mya serasa akan pecah memikirkan semua itu. Supir taksi menginjak rem saat kendarannya hampir menyentuh area zebra cross, kebetulan lampu merah menyala di area perempatan jalan yang mereka temui. Beberapa kendaraan lain turut serta berhenti di belakang taksi yang ditumpangi Mya termasuk motor yang dikemudikan Dewa, laki-laki itu turun seraya melepas helm dan meletakannya di jok motor, ia berlari menghampiri zebra cross sebelum berhenti di sana. Ditatapnya wanita yang masih duduk di jok penumpang taksi di hadapan Dewa saat ini. Laki-laki itu merentang tangan—membuat banyak pengguna jalan menatapnya—termasuk Mya serta supir taksi. "MYA!!! PLEASE, DENGERIN AKU, KITA PERLU BICARA. TOLONG JANGAN GINIIN AKU, MY. KALAU KAMU ENGGAK MAU TURUN DAN PULANG SAMA AKU, LAKI-LAKI INI NGGAK AKAN MINGGIR SEKALIPUN LAMPU IJO NYALA SEKARANG," teriak Dewa bersungguh-sungguh dan membuat pengguna jalan menganga. Mya sampai menutup mulut saking tak percaya, apa benar laki-laki yang berdiri di depan sana nan tengah menyingkirkan rasa malu serta harga dirinya agar bisa berbicara dengan sang istri adalah suami Mya? ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ya baik
07/07
0mantap
13/01
0ceritanya cukup menarik
22/11
0Lihat Semua