“Ya udah, terus ini kenapa Tania ngejar-ngejar kamu ?” tanya Bunda Laura pada Rain “Engga tahu tuh Bunda. Tolong aku Bunda” ucap Rain pada Bunda Laura meminta pertolongan “Tania, kenapa kamu ngejer-ngejar Rain ?” tanya Bunda Laura pada Tania “Selagi bermain bola tadi, dia ngeledekin aku Bunda, aku di kolongin sama Rain” jawab Tania yang masih tidak terima kalau dia di kolongin oleh Rain “Namanya juga main bola, lagian aku nggak sengaja melakukannya” ucap Rain pada Tania “Iya Tania, namnya bermain bola ya kamu harus terima, kalau kamu tidak terima kamu bisa membalasnya dengan melakukan hal yang sama seperti apa yang Rain lakukan” ucap Bunda Laura yang sepertinya membela Rain karena Rain tidak bersalah “Tuh Tania dengar, bukan kaya begini” ucap Rain pada Tania yang masih ngumpat di belakang Bunda Laura “Terus itu pipi kamu kenapa Rain, kenapa banyak bekas ciuman ?” tanya Bunda Laura pada anak laki-lakinya itu “Ini Bunda, dari tadi di ciumin sama Tania, karena dia tidak terima aku kolongin saat main bola tadi” jawab Rain pada Bunda Laura “Ya udah sekarang berhenti, kalian ganti baju kalian” ucap Bunda Laura pada kedua anaknya itu “Minta baju kalian sama Bibi Fetrin” ucap Bunda Laura pada ke dua anaknya itu “Bibi Fetrin di mana Bunda ?” tanya Rain pada Bunda Laura “Sebentar Bunda telefon dulu” ucap Bunda Laura dan setelah itu dia mengelaurkan ponselnya dan menelefon Bibi Fetrin, selagi Bunda menelefon Bibi Fetrin, Tania masih ingin menghukum Rain, namun tidak bisa karena lagi-lagi dia mengadu pada Bunda Laura dan Bunda Laura melarang Tania untuk melakukan sesuatu pada Tania Dan setelah Bunda Laura selesai menelefon, nggak lama kemudian Bibi Fetrin pun datang kepada mereka dan Tania pun berhenti mengejar Rain karena di marahi oleh Bunda Laura dan setelah itu mereka berdua mengikuti Bibi Fetrin dan Bibi Fetrin mengajaknya ke depan toilet dan di sana sudah menunggu bodyguard lain yang sedang memegang dua kantong hitam yang bisa di tebak isinya adalah baju ganti Rain dan Tania, setelah itu Rain dan Tania masuk ke dalam toilet membawa kantong hitam itu, sementara para bodyguard berjaga di luar dan mereka tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam sebelum Rain dan Tania selesai mengganti baju mereka. Dan setelah berlama di toilet Tania pun keluar lebih dulu dengan gaun yang hampiri mirip dengan gaun yang sebelumnya dia pakai, dan masih terlihat sangat canti, sementara itu Rain masih belum keluar, dia masih di dalam, masih mengganti baju yang dia bawa. Dan beberapa saat kemudian setelah Tania dan yang lainnya menunggu di luar Rain pun keluar dengan jas barunya yang juga hampir mirip dengan yang sebelumnya dia pakai, ternyata semalam Bunda Laura setelah makan dia memesan baju yang seperti Rain dan Tania pakai masing-masing satu paket lagi untuk cadangan jika terjadi sesuatu, dan itu sangat berguna untuk saat ini. Dan setelah itu mereka semua kembali lagi, karena sudah banyak orang yang mengantri untuk ke toilet, sebelum tadinya dic egah oleh para bodyguard, setelah Rain dan Tania mereka pun bisa memakai toilet itu lagi secara bersamaan. Rain dan Tania berjalan dengan santai dengan baju barunya kembali yang hampir tidak ada bedanya dengan yang mereka pakai sebelumnya. Sementara itu saat mereka berjalan Rain menyadari kalau cowok yang tadi memperhatikan Tania ada tidak jauh dari mereka dan dia masih memperhatikan Tania seperti sangat terpesona melihat Tania, tentu saja Tania tidak tahu karena dia tidak menyadarinya, Rain pun memberitahu Tania tentang hal tersebut “Tania” ucap Rain dengan pelan “Apa ?” tanya Tania dengan santai sambil menggandeng tangan Tania “Sepertinya cowok yang tadi benar-benar seuka sama kamu” ucap Rain dengan santai dan pelan agar tidak terdengar dengan yang lain “Maksud kamu ?” tanya Tania karena dia belum menyadarinya kalau dia masih di perhatikan oleh cowok tersebut “Lihat aja, kamu masih di perhatikan dia dari tadi” jawab Rain sambil metanya melirik cowok tersebut untuk memberitahu Tania posisi cowok tersebut dan Tania tidak berani melihat karena dia tidak suka dengan cowok tersebut “Kan sudah aku bilang kalau aku nggak suka sama dia” ucap Tania pada Rain dengan pelan dan serius karena dia benar-benar tidak suka dengan cowok tersebut “Kenapa nggak suka, kan dia ganteng, kaya lagi” ucap Rain pada Tania dengan pelan “Aku nggak peduli, mau dia ganteng kek, mau dia kaya kek, pokoknya aku nggak suka sama dia” ucap Tania dengan serius pada Rain “Parah banget kamu” ucap Rain meledek Tania dengan senyum “Rain nggak usah rese deh, mau aku cium lagi kamu” ucap Tania mengancam Rain “Iya enggak, mainnya ancaman curang” ucap Rain protes pada Tania “Cari makan yu di luar” ucap Tania pada Rain “Makan somay mau nggak ?” tanya Rain pada Tania karena sebelum mereka masuk tempat itu di luar gerbang tempat itu ada tukang jualan somay “Mau, ayo, aku udah lama nggak makan somay, terakhir makan somay waktu sama Papah, setelah Papah nggak ada jadi nggak ada yang ngajak makanmakanan pinggir jalan lagi” ucap Tania pada Rain dengan serius “Ajak Bibi Fetrin kali yah, biar di bolehin Bunda” ucap Rain Tania dengan serius karena menurut dia karena yang dia lakukan tadi bersama Tania pasti Bunda nggak izinin mereka untuk keluar lagi “Iya, kalau kita berdua aja pasti nggak di izinin sama Bunda, jadi ide bagus ngajak Bibi Fetrin” ucap Tania pada Rain dengan senyum senang “Bibi temenin keluar yu, sama Tania juga” ucap Rain mengajak Bibi Fetrin dengan santai “Ngapain Den ?” tanya Bibi Fetrin pada Rain dengan penasaran “Bibi ikut aja, aku izin dulu sama Bunda” ucap Rain pada Bibi Fetrin dan setelah itu tanpa persetujuan Bibi Fetrin Rain pun izin sama Bunda Laura untuk keluar bersama Tania dan juga Bibi Fetrin dan Bunda Laura pun mengizinkan. Mereka pun keluar berjalan bersama dengan santai dan tetap Tania menggandeng Rain dengan erat karena cowok yang tadi masih memperhatikan Tania dengan seksama, sesampainya di luar gedung Bibi Fetrin masih bingung ingin di bawa ke mana dengan ke dua anak ini, dia pun bertanya lagi pada dua anak itu. “Non Tania, Den Rain, sebenarnya kita mau ke mana ? sampai keluar gedung begini, kan kalau kalian butuh sesuatu tinggal menyuruh Bibi saja” ucap Bibi Fetrin pada Rain dan Tania “Udah Bibi Fetrin ikut aja, nanti juga bakal tahu” ucap Rain dengan santai “Iya Bi, udah Bibi ikut aja” ucap Tania dengan santai pada Bibi Fetrin Sementara itu Anna dan Diana asistennya, mereka masih di tempat yang tadi, mereka pun lagi-lagi melihat Rain dan Tania dan juga kali ini dia bersama Bibi Fetrin, Diana yang melihat itu lebih dulu pun langsung memberitahu Bosnya itu “Bos, itu Rain sama Tania mau ke mana yah” ucap Diana dengan santai sambil menunjuk ke arah Tania dan Rain dan lanjut bilang “Dan juga ada si Fetrin lagi” ucap Diana dengan penasaran “Kita ikutin mereka” ucap Anna dengan singkat dan setelah itu mereka berdua mengikuti Rain dan yang lainnya secara diam-diam agar tidak di ketahui oleh mereka bertiga. Rain dan Tania serta Bibi Fetrin pun masih berjalan dengan santai tanpa mereka sadari kalau mereka di ikuti dan di awasi oleh Anna dan Diana dari jauh. Rain dan Tania langsung mencari apa yang dia cari dari tujuan awal dia mengajak Bibi Fetrin keluar gedung, setelah melihatnya dari jarak agak sedikit jauh, mereka bertiga pun menghampiri tukang somay itu dengan santai, dan Bibi Fetrin yang sudah bisa menebak pun langsung bicara pada Rain dan juga Tania. “Ini ngapain kita ke tukang somay ?” tanya Bibi Fetrin dengan tegas karena dia tahu kalau Tania dan Rain di larang memakan makanan seperti ini “Makan lah Bi, namanya juga ke tukang makanan” jawab Rain dengan santai dan setelah sampai di tukang somaynya, Rain langsung memesan somay tiga porsi untuk mereka bertiga makan “Kalian tidak boleh makan makanan seperti ini sama Bos Laura” ucap Bibi Fetrin melarang mereka makan somay karena memang di larang oleh Bunda Laura “Engga apa-apa Bi, sesekali aja” ucap Tania pada Bibi Fetrin “Nanti Bos marah loh” ucap Bibi Fetrin pada ke dua anak itu “Bunda nggak akan marah kalau Bibi nggak ngasih tahu kalau kita makan somay” ucap Tania dengan serius pada Bibi Fetrin “Tapi Non” ucap Bibi Fetrin yang belum selesai langsung di potong oleh Tania “Udah Bi, yang penting Bibi Fetrin nggak bilang sama Bunda kalau kita makan somay, kalau Bibi bilang sama Bunda ya pasti kita akan di marahi” ucap Tania pada Bibi Fetrin “Please Bi, jangan bilang yah, terkadang kita juga harus makan makanan seperti ini loh Bi” ucap Rain pada Bibi Fetrin dengan memohon “Den jangan memohon seperti itu sama Bibi” ucap Bibi Fetrinkarena melihat Rain memohon pada dirinya dan dirinya sangat tidak bisa melihat kalau anak itu memohon pada dirinya “Please” ucap Rain dan dengan sengaja dia melakukannya agar mereka bisa makan somay dan Bibi Fetrin tidak bilang sama Bunda Laura “Oke ya udah, tapi kali ini aja yah” ucap Bibi Fetrin pada ke dua anak itu “Iya” jawab Tania dengan senyum senang dan setelah itu mereka pun memakan somay yang sudah Rain pesan tadi dan mereka memakannya dengan sangat lahap dan bahkan Rain dan Tania sampai nambah karena kurang hanya makan satu porsi, sedangkan Bibi Fetri dia bahkan belum menghabiskan porsi pertamanya, dia melihat Rain dan Tania makan sangat lahap dan dia sangat senang melihatnya dan mereka makan seperti anak kecil sangat belepotan ke mana-mana, dan Bibi Fetrin pun mengambil tisu dari sakunya dan memberinya kepada ke dua anak itu dan terkadang dia yang mengelapi di bibir Rain mengunakan tisu yang dia bawa. “Kalian kenapa makan seperti anak kecil” ucap Bibi Fetrin dengan senyum karena melihat mereka Dan tiba-tiba saja saat mereka sedang menikmati somay yang mereka makan, Anna dan Diana yang dari tadi mengawasi dan mengikuti mereka pun muncul di hadapan mereka bertiga dan dengan santainya memesan somay juga untuk mereka makan, namun Tania tidak percaya akan hal itu. “Elu ngpain ke sini ? elu ngikutin kita ?” tanya Tania karena dia sangat curiga dengan kedua orang itu, di tambah Tania juga tidak suka dengan ke dua orang itu “Makan somay lah, emang mau ngapain lagi” jawab Tania dengan santai “Alasan aja, bilang aja elu ngikutin kita kan” ucap Tania yang tidak percaya akan hal itu dan lanjut bilang “Lagian elu mau ngapain sih, gua nggak akan kasih izin elu sama Rain” ucap Tania engan kesal karena dia memang tidak suka dengan Anna dan asistennya itu “Bukannya ini tempat umum yah, lagian nggak ada larangannya orang-orang datang ke sini” ucap Anna dengan santai smabil menunggu somaynya selesai di buat “Lagian elu nggak punya hak untuk ngatur Rain, karena elu bukan siapa-siapanya Rain” ucap Anna dengan santai dan kalau di pikir itu memang benar, Rain hanya anak angkat Bunda Laura, dia di angkat sebagi anak salah satunya karena dia telah menolong Bunda Laura dan membahayakan nyawanya demi menolong Bunda Laura yang sedang di rampok dan hampir di perkosa pada malam hari “Jadi nggak usah ngelarang-ngelarang gua atau Rain, karena elu bukan siapa-siapanya dia” ucap Anna dengan santai dan apa yang di bilang oleh Anna itu benar adanya, mendengar itu Tania pun langsung berdiri dan marah pada Anna yang bilang seperti itu “Tania, biarin aja, jangan emosi, itu yang dia mau” ucap Rain dengan santai dan tetap menyantap somaynya yang enak itu, namun Tania sangat marah mendengar apa yang di katakan Anna tadi, walaupun benar tapi tidak seharusnya Anna bilang seperti itu di hadapannya dirinya dan juga Rain Melihat Tania berdiri dan ingin melawan Anna, Bibi Fetrin pun langsung berdiri siaga di belakang Tania untuk melindungi Tania, sementara itu Diana yang asisennya Anna pun melakukan hal yang sama pada Anna, melihat itu Rain pun masih diam dan masih menikmati somaynya saja, karena dia tahu pasti setelah itu ada perkelahian antar mereka berempat. “Kenapa ? benar kan apa yang gua bilang kalau elu bukan siapa-siapanya Rain” ucap Anna yang membuat Tania kesal dan langsung memukulnya namun pukulan itu di tangkap oleh Diana yang dari tadi sigap di belakang, melihat itu Bibi Fetrin pun langsung maju ke depan Tania dan melepaskan tangan Tania yang ditangkap oleh Diana dan setelah itu keduanya pun berseteru, dan al hasil Bibi Fetrin pun berkelahi dengan Diana, sementara itu Tania dan Anna pun masih saling melihat dan Rain dia masih menayantap somaynya karena dia tahu kalau Bibi Fetrin akan menang dari Diana karena Bibi Fetrin adalah petarung yang handal. Dan nggak lama kemudian entah apa yang terjadi dengan Tania, dia pun juga ikutan berkelahi dengan Anna, dan yang bikin Rain kaget kalau Tania benar-benar bisa berkelahi seperti apa yang dia bilang walaupun tidak terlalu hebat, mereka berempat bertarung dengan sengit dan tetap saja Bibi Fetrin bertarung dengan santai, sedangkan Tania dan Anna masih bertarung dan masih saling pukul, sedangkan Rain dia masih melihat dan memperhatikan sambil menghabiskan somaynya, karena menurut dia itu adalah petarugan yang adil, setelah somaynya habis, dia pun masih mengawasi mereka berempat dengan cukup serius karena Rain melihat di sana kalau Tania hampir kalah dengan Anna, sedangkan Bibi Fetrin yang melawan Diana itu bukan masalah baginya karena dia bisa mengalahkan Diana dengan mudah dna cepat jika Bibi Fetrin mau, namun Bibi Fetrin tidak melakukan itu, dia seperti sedang bermain melawan Diana. Melihat Tania yang hampir kalah Rain pun langsung memeisahkan mereka berdua agar tidak berkelahi lagi, sedangkan Bibi Fetrin langsung mengalahkan Diana dengan telak dan langsung tersungkar ke aspal. Anna yang sedikit lagi hampir menang dari Tania dan langsung di pisahkan oleh Rain pun, dia protes pada Rain “Kenapa di pisahin, aku hampir menang melawan perempuan ini” protes Anna pada Rain “Jangan mimpi elu menang dari gua” ucap Tania juga yang tidak terima karena dia belum benar-benar kalah dari Anna “Kalau nggak di pisahin Rain, elu sekarang sudah ada di bawah kaki gua” ucap Anna dengan sangat percaya diri “Jangan terlalu banyak berhayal, nanti elu gila, atau memang udah gila” ucap Tania yang mengejek Anna “Sini elu” ucap Anna yang emosi dan ingin berkelahi dengan Tania “Udah jangan berkelahi lagi, emang nggak capek apa kalian” ucap Rain dengan santai “Engga,” jawab Anna dengan singkat dan lanjut bilang “Sini Tania, lawan gua. Gua akan hajar elu sampai mampus” ucap Anna yang benar-benar emosi pada Tania “Sini, elu pikir gua takut sama cewek gila kaya elu” ucap Tania yang benar-benar memancaing emosi Anna dari tadi “Tania, udah jangan ribut lagi” ucap Rain pada Tania dengan lembut dan lanjut bilang “Kan kita ke sini buat makan somay, bukan buat berkelahi sama orang ini” ucap Rain dengan santai dan setelah itu Rain mengajak Tania untuk duduk dan menyuruh Tania untuk menghabiskan somaynya yang masih tersisa “Nih kamu habisin dulu somay kamu, habis itu kita masuk lagi ke dalam, nggak boleh buang-buang makanan” ucap Rain pada Tania dan Tania pun menurut pada Rain “Bibi Fetrin nggak apa-apa ?” tanya Rain pada Bibi Fetrin yang memenangkan perkelahian tersebut “Dia bukan tandingan saya Den, jadi bukan suatu masalah” jawab Bibi Fetrin dengan santai dan memang apa yang di bilang oleh Bibi Fetrin kalau Diana bukan apa-apa di bandingkan Bibi Fetrin “Ya udah Bi, kalau begitu Bibi habiskan somaynya dulu baru habis itu kita masuk ke dalam” ucap Rain pada Bibi Fetrin “Baik Den” jawab Bibi Fetrin dengan singkat dan santai Dan setelah itu kedua perempuan itu menghabiskan somaynya dengan santai, sedangkan Anna dan Diana mereka langsung pergi setelah membayar somay yang mereka pesan dan mereka tidak memakan somay mereka sama sekali, Rain pun bilang kalau somay yang sudah di makan di kasih ke orang aja atau bapak tukang somay sendiri yang memakannya. “Seharusnya kalaian tidak perlu berkelahi seperti tadi, menghabiskan tenaga aja” ucap Rain pada Tania dan juga Bibi Fetrin “Engga bisa Rain, mereka sudah kelewatan, kamu emang nggak dengar apa yang di bilang Anna dan asistennya itu tadi, gi mana aku nggak marah coba” ucap Tania yang masih kesal dengan Anna dan asistennya tadi karena hal tersebut “Kamu nggak perlu marah, kan apa yang mereka bilang itu benar, aku kan emang anak angkat Bunda Laura” ucap Rain dengan santai dan wajah yang langsung tanpa ekspresi, entah apa yang sedang di pikirkan oleh Rain sekarang “Rain kok kamu bilang begitu, aku nggak peduli dengan hal itu, karena sekarang aku dan kamu, kita sudah menjadi keluarga, dan Bunda Laura juga sudah resmi dan mempunyai surat-surat tersebut, jadi sekarang kamu bagian kita Rain, jadi jangan pernah bilang seperti itu lagi di depan aku” ucap Tania pada Rain dengan sangat serius, sedangkan Bibi Fetrin dia hanya diam saja dan mendengarkan dengan baik “Tapi yang di bilang Anna juga benar kok, jadi kamu nggak perlu marah dan sampai berkelahi seperti tadi” ucap Rain pada Tania dengan santai “Ya udah lah, jadi nggak nafsu makan lagi” ucap Tania dengan kesal dan setelah itu dia langsung menaruh piringnya yang masih menyisakan beberapa somay dan setelah itu pergi begitu saja. Melihat Tania pergi begitu saja dengan kesal, Rain pun langsung membayar semua somay yang di pesan dan langsung mengejar Tania karena dia takut terjadi sesuatu pada dirinya, di tambah lagi Rain takut kalau dia akan berkelahi lagi dengan Anna karena masalah ini. Melihat dua majikannya itu Bibi Fetrin pun langsung menaruh piringnya yang masih ada beberapa somay dan tanpa minum dia pun langsung mengejar Rain dan juga Tania, karena dia harus menjaganya dia itu sudah menjadi tugasnya. “Tania tunggu” ucap Rain pada Tania dan masih mengejarnya dari belakang, namun Tania tak menghiraukan Rain, dia berjalan terus ke depan, sampai dia tidak melihat ada mobil yang masu masuk halaman gedung dan dia hampir tertabrak kalau saja Rain tidak menyelamatkannya. Rain menarik Tania kepelukannya agar Tania tidak tertabrak mobil yang ingin masuk ke halaman gedung itu, sementara itu Bibi Fetrin yang melihat itu hampir saja jantungan jika tidak ada Rain di sana yang menyelamatkan Tania “Tuh kan, hampir saja ketabrak” ucap Rain pada Tania “Ngapain sih, biarin aja aku tadi ketabrak” ucap Tania yang masih kesal dengan Rain dan setelah itu Tania pergi lagi begitu saja dan bilang “Jangan ngikutin aku” ucap Tania pada Rain
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (290)
NinoDesta Nino
cerita nya menarik
26/02
0
Jerapah kecil
sangat bagus untuk di liat dan dipahami
keseluruhan
cerita nya menarik
26/02
0sangat bagus untuk di liat dan dipahami keseluruhan
19/02
0happy
15/02
0Lihat Semua