Setelah di pikir pikir Zuna memilih untuk pulang ke keluarga nya. Apapun yang terjadi nanti, di jodohkan, atau apapun dia akan menerima. Zuna mengendarai mobil dan berhenti di perumahan elit milik keluarganya. Zuna kaya namun masih sedikit di bawah keluarga yama. Saat Zuna memasuki rumah itu para pelayan bersontak kaget. "Tu, tuan muda" "Selamat datang kembali tuan muda, " ucap para pelayan bersamaan. Ada yang berlari dan memberitahu orang tua Zuna tentang kepulangan Zuna. Orang pertama yang Zuna temui adalah papanya. Di ruang baca, Zuna tau papanya ada di sana. "Pa, aku pulang! " ucap Zuna. "Dasar tidak berbakti! Mana menantu papa? " tanya Tama. "Itu, Zuna tidak ingin menikah terlalu muda, pa. Mengertilah! " jawab Zuna. "Papa ini sudah tua, Zuna. Gimana kalau papa sebentar lagi meninggal dan tidak bisa menggendong cucu papa? Lihatlah anak rekan bisnis papa, mereka sudah pada gendong cucu. Apa papa tidak iri? " celoteh tama dengan nada kasihan. "Zuna akan berusaha. " jawab Zuna. "Jadi, kemana saja kamu selama ini? " tanya Tama. "Papa tak perlu tau. " jawab Zuna lalu pergi meninggalkan ruangan. Zuna kembali ke perusahaan Danian dulu. Sama sekali Danian belum sampai di sana. Zuna menghubungi Danian. "Halo, tuan muda. Saya kira anda ada di kantor. " "Aku baru mau kesana" jawab Danian. Danian menatap Aliza lalu menghampirinya. "Aliza, Aku mau ke kantor dulu. " "Hati hati. " ucap Aliza sambil tersenyum. Aliza mencium telapak tangan Danian dan Danian mencium kening Aliza. "Tunggu aku pulang, Aliza. " Sampai di ruangan kerja Danian. Zuna seperti ingin mengatakan sesuatu ke Danian. "Zuna, ada apa? " tanya Danian. "Tuan muda, saya sudah pulang ke kediaman saya tadi. Bertemu papa saya. " jawab Zuna. "Jadi, kamu mau mengundurkan diri? " tanya Danian. "Selama kabur dari rumah, anda selalu menampung saya. Saya berutang budi ". " Zuna, kamu itu temanku. Kapan kamu berutang budi? " ucap Danian kesal. Danian memikirkan siapa yang akan menggantikan Zuna. Secara Zuna sangat Danian percaya. Kalau orang lain, Danian tak mungkin bisa sepercaya itu. "Tuan muda, Saya akan pergi setelah Anda mendapat kepercayaan baru lagi. Saya juga akan mengawasi sekertaris baru tuan sampai dia dapat di percaya. " ucap Zuna. "Aku yang berutang budi padamu, Zuna. " Danian pulang lebih awal dan segera ingin bertemu Aliza. Saat Danian membuka pintu, Aliza menyambutnya. "Danian, aku sudah siapkan makanan untukmu. Kita makan malam bersama. " ucap Aliza dengan ceria. "Kelihatannya enak. " "Kamu kan belum melihat dan mencobanya! " ucap Aliza kesal. Setelah itu mereka makan malam bersama. Namun di sela sela makan Danian teringat akan Zuna. "Zuna mengundurkan diri. " ucap Danian memulai pembicaraan. Aliza mendengar itu langsung tersentak. "Kenapa? Apa kamu memberikan pekerjaan yang berat untuknya? " tanya Aliza. "Bukan karena itu, Aliza. Zuna kembali ke keluarga nya. Mungkin akan meneruskan perusahaan papa nya. " jawab Danian. "Pantasan. Saat pertama kali aku lihat Zuna, dia seperti bukan orang biasa. Ternyata benar. "Guman Aliza. " lalu apa rencanamu? " tanya Aliza. "Zuna akan membimbing sekertaris baru itu dan mengawasinya. Setelah di rasa bisa di percaya, baru zuna akan meninggalkan perusahaan. " jawab Danian sedih. Aliza yang melihat itu ikut sedih. Namun bagaimana pun Zuna akan kembali ke keluarga nya entah kapan. Setelah makan Danian mandi. Danian keluar memakai handuk. Danian melihat Aliza sedang menggodanya memakai baju tidur seksi yang baru di belinya. "Danian." "Aliza!! A, apa yang kamu lakukan? " tanya Danian dengan muka memerah. "Kamu tidak suka ya, " "Bukan begitu. Tapi, kamu menginginkan ini dan jangan menyesal setelah nya. " "Tidak akan. " Aliza dan Danian melakukan malam pertama yang belum mereka lakukan. Bangun dari tidurnya Aliza memeluk Danian. Ketika dia mau berdiri, kaki dan punggungnya terasa nyeri. "Ah, dasar Danian brengsek. Dia seperti harimau yang akan memakan mangsanya. " Aliza menatap Danian yang sedang tidur. "Aku tidak menyesal karena itu kamu, Danian. Semoga saja kamu tidak seperti yang aku pikirkan. " guman Aliza. Danian perlahan membuka matanya dan melihat Aliza yang melihatnya saat tidur. "Aliza, kamu masih kurang semalam? " tanya Danian menggoda. "Danian mesum! Kamu menyiksaku tadi malam! " ucap Aliza marah. "Sepertinya aku terlalu kasar tadi malam. Itu kan pertama kalinya untuk Aliza. Aliza pasti kesakitan. " batin Danian. Danian tiba tiba mendapat telepon dari Zuna. "Halo Zuna," "Tuan muda, para pelamar sudah saya suruh menunggu anda. " "Secepat ini, Zuna? Gak terlalu pagi kah? " tanya Danian. "Tuan muda, ini sudah jam 10. Biasanya anda sudah sampai. " "Gini saja, kamu saja yang interview mereka. Setelah aku sampai sana, berikan CV mereka dan suruh mereka mendapat panggilan selanjutnya. " "Baik, tuan muda. " Telepon pun berakhir. "Aliza aku mau siap siap pergi ke kantor. Aku mandi dulu. " Setelah Danian sampai ke kantornya Zuna memberikan CV mereka ke Danian. Danian melihat satu persatu. "Ini saja! " tunjuk Danian asal. "Baik." Danian tidak masalah siapa saja, namun dia harus bisa di percaya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nya seru, sifat baik akan selalu terlihat
11/08
0sangat menarik
09/08
0asik mengenakan
01/08
0Lihat Semua