Edgar menyambut kedatangan Anton dengan lebar. Wajah Anton cukup meyakinkan bahwa ia membawa kabar baik. Ia bisa melihat wajah Anton yang tampak sumringah. Hal itu semakin meyakinkan Edgar bahwa Anton benar-benar bisa di andalkan. Namun, ia harus urung untuk segera bertanya pada Anton saat Wilda telah kembali ke ruangannya. Ia memberikan gestur pada Anton agar cepat pergi dari ruangannya terlebih dahulu. Anton mengangguk, kemudian meninggalkan Edgar begitu saja. Edgar menatap Anton tidak rela. Pasalnya, ia telah menunggu kedatangan Anton sejak tadi. Karena Wilda, ia harus menguntungkan niatnya begitu saja. "Lama sekali. Kemana saja kamu?" Tanya Edgar. Sebenarnya, Edgar lebih suka jika Wilda memakan waktu yang lebih lama. Dengan begitu ia tidak perlu pusing-pusing bersandiwara pada Wilda, bahwa ia benar-benar jengah melihat wajahnya. Hah... Demi semua rencananya, Edgar harus menahan semuanya. "Aku baru saja bertemu dengan teman lamaku. Kami saling merindukan satu sama lain. Aku sampai lupa bahwa kita telah mengobrol terlalu lama. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud pergi terlalu lama." Ucap Wilda penuh penyesalan. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika aky bertemu dengan teman lamaku. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku memakluminya. Kalau boleh tahu, apakah temanmu laki-laki?" "Iya. Tapi kami tidak menjalin hubungan apapun. Aku hanya dekat dengannya saat sekolah dulu. Aku tidak menyangka jika dia bekerja di sini. Apakah perkerjaannya cukup baik?" "Hm. Tidak masalah jika kamu menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Lagipula siapa aku? Aku bukan sosok istimewa yang bisa memasuki hatimu begitu saja. Mengenai pekerjaannya. Dia cukup baik. Ia sangat terampil dan ulet. Aku sangat menyukainya." "Hei. Jangan berbicara seperti itu. Aku sudah menganggapmu sosok istimewa dalam hidupku. Jika tidak ada kamu, mungkin aku masih tergila-gila pada Nathan yang tidak pernah melirikku sama sekali. Kamu membuatku jadi berfikir realistis, dimana aku harus memikirkan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak akan bahagia jika orang yang aku cinta, tidak kembali mencintaiku." "Haha. Aku merasa istimewa saat kamu mengatakan hal itu. Aku tidak menyangka jika kamu memandangku seperti itu. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu, seperti Nathan. Untung saja, kamu cepat sadar. Aku tidak tahu jika kamu terus saja mengejar sosok Nathan, mungkin yah... Aku tidak bisa membayangkannya." "Aku pun begitu. Tapi, aku akan terus mendekatinya untuk membantumu. Siapa tahu, aku bisa mendapatkan informasi jika aku bersikap seperti Wilda seperti biasanya." "Terimakasih. Aku merasa menja lelaki paling beruntung setelah mengenalmu. Kamu wanita hebat yang bisa di andalkan. Oh, sudah pukul lima. Aku ada urusan dengan salah satu bawahanku. Apa kamu mau aku antar, aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri di sini. Aku takut jika salah satu karyawanku tiba-tiba saja jatuh cinta padamu." "Benarkah? Padahal aku baru saja datang. Mungkin ini kesalahanku sendiri karena pergi terlalu lama. Kamu tidak perlu mengantarkanku. Aku membawa kendaraan pribadiku. Aku tidak mau jika pekerjaanmu terhambat hanya karena mengantarkanku." "Terimakasih atas pengertiannya. Sebagai seorang pria, aku merasa tidak enak. Seharusnya aku bisa mengantarkanmu dan memastikan bahwa kamu pulang dengan selamat." "Tidak perlu berbicara seperti itu. Aku sudah terbiasa pergi sendiri. Aku bisa menjaga diri kok. Kalau begitu, sampai jumpa." "Sampai jumpa sayang." Ucap Edgar kemudian mengecup pipi Wilda singkat. Pipi Wilda memerah. Ia tidak bsia menahan gejolak asmaranya. Jantungnya berdetak begitu cepat. Edgar adalah sosok paling romantis yang pernah ia temui. Karena malu, ia segera meninggalkan Edgar yang masih berdiri di belakangnya. "Halo. Anton, cepat datang ke ruangan saya!" Ucap Edgar. Edgar kembali duduk pada kursi kebesarannya. Ia mengetuk-ngetuk bulpoint pada meja kerjanya. Ia menunggu kedatangan Anton yang terasa begitu lama. Selang beberapa lama. Anton datang menghampiri Edgar. Ia tampak membawa catatan kecil pada sebuah kertas. "Apa yang kamu dapat?" Tanya Edgar tanpa basa basi. "Saya tidak mendapatkan informasi yang banyak. Tapi setidaknya, ini sudah cukup memberikan Bos pencerahan." Jawab Anton "Ck. Jangan bertele-tele. Cukup katakan apa saja informasi yang kamu dapatkan!" Bentak Edgar kesal. "Saya tadi menghampiri temannya yang bernama Rafa. Gadis yang bernama Clara itu pernah satu sekola dengannya. Namun, Rafa mengatakan jika dia tidak terlalu dekat dengan Clara. Saya jadi tidak mendapatkan informasi yang cukup banyak. Satu hal yang saya ingat, saya meminta nomor Clara dari anak itu." "Benarkah? Apa kamu mencatatnya? Jangan katakan bahwa kamu tidak mencatatnya!" "Saya tidak mencatatnya, Bos. Tapi Rafa yang memberikan kertas ini pada saya. Saya yakin bahwa ini adalah nomor ponsel dari Clara." Anton segera menyodorkan kertas bertuliskan bebarapa nomor itu. Echa tersenyum lebar. Tidak apa-apa, ia tidak mendapatkan banyak informasi mengenai gadis itu. Mendapatkan nomor ponselnya saja telah membuat Edgar senang bukan kepalang. "Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang." Ucap Edgar pada Anton. "Apa tidak ada bonus,Bos? Bukankah saya sudah memberikan nomor Clara untuk Bos? Masa tidak ada bonus sama sekali." Keluh Anton. Edgar menghela nafas. Kenapa hampir semua bawahannya seolah-olah malah mengaturnya. Daripada mendengar rengekan pria bertubuh besar itu, lebih baik ia segera merogoh sakunya. Setelah itu, ia mengambil dompet kemudian menyerahkan beberapa uang berwarna merah untuk Anton. Anton tersenyum lebar. Lumayan. Bonusnya tidak main-main. Jika ia di tugasnya seperti ini terus, kemudian mendapatkan jatah sebanyak ini. Anton rela melakukannya setiap hari. Ia segera meninggalkan Edgar yang menatapnya tak suka. Pasti sang bos telah menanti kepergiannya. Edgar menatap Anton yang telah meninggalkan ruangannya. Setelah itu, ia menatap rentetan nomor yang tertera pada kertas kecil yang ada paa tangannya. Ia mencium kertas itu beberapa kali sebelum menyimpannya ke dalam ponsel. Edgar segera mengecek kebenaran tersebut. Ia harus mengirimkan sesuatu pada nomor itu. Tapi apa? Apakah Edgar harus mengirimka kalimat-kalimat romantis padanya? Tapi itu terlalu terburu-buru. Atau, menanyakan kabar secara langsung? Tapi Clara tidak mengenalnyas sama sekali. Bagaimana mungkin ia harus menanyakan kabar? Hah... Mungkin jadi diri sendiri lebih baik. Mengirimkan pesan layaknya terror merupakan hal yang tepat. "Selamat sore ,sayang. Semoga harimu menyenangkan. 🖤" Edgar menyunggingkan senyumannya saat pesan itu telah terkirim. Ia tidak sabar menunggu jawaban Clara. Ia berulang kali melihat arlojinya. Ia menghitung berapa menit Clara akan membalasnya. Satu jam telah berlalu. Namun Edgar tak kunjung mendapatkan balasan. Apakah nomor yang di berikan Anton untuknya adalah nomor yang sudah tidak aktif? Jika iya, ia tidak segan memberikan Anton sebuah hukuman berat. Enak saja mengerjai atasannya sendiri. Anton, bersiaplah jika sang algojo sudah mulai bertindak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya sangat bagus
13/08
0Kerennn
28/06
0mantap
27/06
0Lihat Semua