Part 38

        Clara merebahkan tubuhnya sendiri di ranjang empuknya. Ia mengingat-ingat apa saja yang keluar dari mulut Nathan. Ia seperti memiliki sosok kakak yang bijaksana dan pekerja keras. Namun, dibanding terlihat sebagai seorang kakak, Nathan lebih terlihat sebagai sosok pendamping yang selalu mengerti akan pasangannya.
         Clara menatap Devan yang masih tertidur lelap. Ia ingat saat Devan menceritakan semuanya. Tentang Devan yang sudah mengetahui tentang kepergian ibunya sampai Nathan yang terus menerus membohongi Devan akan fakta yang sebenarnya. Clara berfikir, ternyata Nathan memiliki masalah yang bisa dibilang cukup rumit.
        Entahlah. Clara tidak mau pusing-pusing memikirkannya. Memikirkan hidupnya saja telah membuat kepalanya pening, apalagi ditambah memikirkan orang lain. Clara yakin, pasti kepalanya akan pening tujuh keliling. Clara jadi ingat tentang Alvin dan Audrey. Apakah mereka selamat sampai tujuan? Apakah mereka baik-baik saja disana? Clara ingin sekali menghubungi mereka, namun Clara ingat, pasti mereka kelelahan. Ia tidak mau mengganggu istirahat mereka.
       Clara kembali mengamati wajah Devan. Jika dilihat dengan seksama, ternyata banyak sekali kemiripan antara Devan dan Nathan. Mungkin jika mereka memeliki usia yang sama, mereka akan terlihat bak foto copy. Mirip sekali. Ia jadi pemasaran, bagaimana sosok ibu Devan. Apakah ia memang mirip dengannya? Seandainya Devan memiliki wajah yang mirip dengan mendian istri Nathan, pasti Clara sudah bisa membayangkan bagaimana wajah dari sosok itu.
        Clara jadi membayangkan, apakah jika ia memiliki anak bersama Nathan ia akan mirip dengan Devan? Sial, kenapa Clara membayangkan yang seperti itu. Ia harus menghilangkan segala fikiran buruk yang menghinggapi otak kecilnya.
                               ***
       Alvin dan Audrey baru saja sampai di bandara. Wajah mereka terlihat begitu kuyu. Efek bangun tidur. Mereka tampak begitu kelelahan, terlihat dari wajahnya yang menunjukkan gurat lelah.
       Mereka menyeret koper dengan malas-malasan. Apalagi Audrey, saking malasnya, ia memberikan koper bawaannya kepada Alvin. Ia ti mau bersusah payah membawa barang seperti itu dengan beralasan kasihan terhadap anak yang sedang di kandungnya. Padahal, alasan yang sebenarnya adalah karena ia malas dan lesu. Sedangkan Alvin sih, terima-terima saja saat Audrey memberikan koper itu kepadanya. Ia tahu, pasti sang istri sangat kelelahan sampai ia tidak mampu membawa barang belanjaannya.
        Alvin memfokuskan pandangannya saat melihat seorang pria tua menyambutnya dengan senyuman begitu lebar. Ia yakin bahwa itu ayahnya. Siapa lagi yang menjemputnya jika bukan sang ayah? Ibu pasti tidak ikut. Ia terlalu malas untuk bergerak.
          Pria itu langsung mendekati Alvin kemudian memeluk sang putra dengan erat tak lupa ia juga memeluk sang menantu tercinta. Ia sangat bangga karena sang putra mau memenuhi semua keinginannya. Sedangkan Alvin hanya mendemgus kesal dengan sang ayah. Sang ayah hanya akan bertindak manis jika ada maunya saja. Jika tidak, jangankan memeluk, menyentuh saja seakan tidak suka.
         Alvin heran melihat tingkah sang ayah. Kenapa ia selalu mengandalkannya? Bukankah anak kesayangannya itu bisa saja membantunya bukan ia yang terus menerud harus membantunya bukan? Ia juga masih memiliki banyak sekali pekerjaan yang belum diselesaikan.
"Ayah merindukanmu." Ucap sang ayah.
"Kami juga merindukanmu, Ayah. Bagaimana kabar ibu? Apakah beliau baik?" Tanya Audrey.
"Tentu saja. Dia baik-baik saja. Kalian tahu sendiri, bahwa dia malas sekali bergerak. Bahkan dia tidak mau menjemput anak dan menantunya sendiri ke bandara. Saking malasnya." Ucap Ayah sembari terkekeh.
"Kenapa Ayah tidak memaksa ibu untuk datang? Aku jadi merasa bukan seperti anak kandung." Ucap Alvin disertai kekehan sinis.
"Kamu jangan berkata seperti itu. Kamu adalah putra saya yang paling bisa diandalkan." Jawab Johan, ayah Alvin.
        Alvin hanya mengangguk. Terlalu malas untuk membalas perkataan sang ayah. 'Anak yang bisa diandalkan' katanya. Memang, ia yang selalu diandalkan oleh ayahnya. Namun, ia selalu menjadi yang terakhir jika berkaitan dengan kasih sayang. Ia benci itu. Sejak dulu, ia merasa bahwa ia bukan anak kandung pria tua ini. Pasaln, apapun yang ia lakukan tidak pernah dilirik sedikitpun oleh ayahnya. Bahkan, meraih juara umum pun, sang ayah seakan tidak perduli sama sekali. Seperti angin lalu, tidak nampak keberadaannya sama sekali. Berbeda dengan adiknya, Kevin. Sekecil apapub pencapaiannya, sang ayah akan mengunggulkan Kevin secara terus menerus. Berbanding dengannya.
       Sekarang? Adiknya bahkan belum bisa menyelesaikan pendidikannya. Ia belum juga lulus dari kuliahnya. Ia sudah menempuh pendidikan pada suatu Universitas selama lima tahun. Namun , anak itu belum juga lulus. Ia tidak habis fikir dengan adiknya itu. Dulu, Kevin termasuk anak yang bisa dibilang cukup cerdas. Bahkan ia selalu mendapatkan peringkat tiga besar di kelasnya. Namun sekarang? Sang adik terlalu lama untuk menyelesaikan pendidikannya. Alvin jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? Suatu hal yang membuat Alvin jengah adalah orang tua mereka bahkan tidak menampakkan kekecewaan sama sekali. Mereka tetap biasa saja, Kevin tetaplah menjadi anak kesayangan mereka. Berbeda dengan dirinya.
        Sebagai seorang kakak, Alvin diajarkan untuk mengalah. Ia tidak mau terlihat sebagai seorang kakak yang egois. Bagaimana pun, Kevin tidak bersalah disini. Lantas, untuk apa dia menyalahkan Kevin? Ini hanyalah takdir. Ia hanya terlahir dalam posisi yang salah.
         Alvin tidak menghiraukan celotehan Johan. Sang ayah terlihat bersemangat sekali bercerita dengan sang menantu. Sesekali Audrey menimpali perkataan Johan. Mungkin hanya sekedar untuk bersopan santun. Ia yakin bahwa sang istri juga kurang menyukai sifat ayahnya. Terlihat dari gerak-geriknya yang tampak sekali bahwa ia tidak nyaman. Alvin memilih menulikan pendengarannya. Ia tidak mau telinganya tercemar karena hal yang tidak berguna.
                                    ***
         Ana, Ibu Alvin, terlihat begitu cemas menanti kedatangan sang anak. Pasalnya, Alvin datang terlambat. Seharusnya ia sudah sampai di rumah dari tadi. Namun, putranya tak kunjung datang.
        Ia segera berdiri saat mendengar suara pintu terbuka. Ia dengan terburu menghampiri orang itu. Ia tersenyum lebar saat melihat sosok sang putra telah datang.
"Alvin, kamu kah itu? Ibu sangat merindukanmu,Nak." Ucap Ana sembari memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu.
"Aku juga merindukanmu,Ibu." Jawab Alvin.
"Terimakasih sudah mau datang. Ibu kira, kamu tidak mau kembali ke rumah ini lagi. Maafkan ibu, karena belum bisa menjadi sosok ibu yang baik untukmu."
"Ibu tidak perlu meminta maaf. Aku mengerti."
       Alvin berusaha mengerti posisi ibunya. Bagaimanapun juga, Alvin tahu, bahwa kasih sayang sama. Ia tidak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan Kevin. Berbeda dengan sang ayah yang selalu terang-terangan bahwa ia sangat menyanyangi Kevin. Walaupun terkadang ibu selalu terbawa oleh ayah, namun setidaknya sang ibu tidak terlalu menyakiti hatinya. Sang ibu tetaplah menjadi sosok pengajar sekaligus tempat sandaran jika ia sedang terjatuh. Terkadang, ia tahu bahwa ibunya selalu memperingati sang ayah supaya tidak terlalu membedakan antara dia dan Kevin.

Komentar Buku (1453)

  • avatar
    OryzasativaPrincess

    ceritanya sangat bagus

    13/08

      0
  • avatar
    Atma Maulana

    Kerennn

    28/06

      0
  • avatar
    Al FansyaRafif

    mantap

    27/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru