Bab 32 Nasihat Sia - sia Bagi Orang yang Jatuh Cinta
Untuk sekali pukul, semburat merah tampak di sudut bibir pria tampan itu. Yusuf meringis mengusapnya karena merasa risih. Ia masih bingung apa sebabnya kakak iparnya jadi sebar-bar sekarang? "Ada apa ini, Mas?" Yusuf berusaha bertanya dengan tenang. Namun, beda Yusuf beda Zidan. Lelaki itu tengah dikuasai emosi. "Bangs*t! Gak sadar juga penipu! Beraninya kamu mempermainkan adikku!" Bukannya menjawab secara jelas, Zidan malah memaki sambil melayangkan pukulan kedua ketiga keempat ... dan Yusuf ambruk tanpa mau melawan. Kakak mana yang tak marah, ketika adik perempuan satu-satunya, yang selama ini hidupnya dijaga bahkan lebih berharga dari isi brankas keluarga, dinikahi hanya untuk pelampiasan. Hanna bahkan dimasukkan ke pesantren, mengabaikan mimpi keluarga mengatur bisnis, agar hidupnya terjaga. Namun, dengan mudah Yusuf datang membawa tipu daya, memanipulasi keadaan hingga merenggut kebahagiaan perempuan polos itu. Zidan tak terima semua itu. Pria yang sudah menikahi dan tidur dengan Hanna harus diberi pelajaran. Sebab, setelah ini Hanna lah yang menderita saat terpaksa menjadi janda. Kini Yusuf sudah meringkuk di lantai, tubuhnya terlalu sakit untuk sekadar mempertanyakan lagi pada orang yang menyerangnya secara membabi buta. Bahkan, di saat tak berdaya seperti itu, Zidan masih kesal dan menendangnya beberapa kali. Seolah tak rela pria itu terus bernapas. Asisten direktur kalang kabut berlari ke arah keamanan, karena tak bisa menghalangi orang yang baru datang dan memaksa masuk ke ruangan bosnya. Seorang manajer yang akan kembali turut ke ruangan setelah menyerahkan map ke bagian sekretaris, tak sengaja melihat ke arah ruangan Yusuf yang terbuka. "Hei, hentikan! Keamanan!" Pria itu berteriak, hal itu tentu menarik perhatian pegawai lain yang tengah sibuk bekerja. Mereka mendekat, sebagian yang sudah melihat segera berlari ke arah pos keamanan. Namun, rupanya orang-orang berseragam sudah datang dan berada di depan mereka, karena laporan pertama. Mereka berniat menangkap dia yang dianggap sebagai sumber kegaduhan. Yusuf tak bisa berbuat apa pun selain pasrah menahan setiap rasa sakit yang muncul setelah serangan bertubi-tubi. "Hentikan!" teriak salah seorang satpam dari beberapa yang mendekat dan langsung memegangi tubuh Zidan. Sementara yang lain langsung membawa tubuh Yusuf keluar, Zidan diseret pihak keamanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. "Sial, kerja kalian ini gimana, sih!" omel manajer yang kesal, kecolongan. Bosnya babak belur oleh orang tak dikenal. "Maafkan kami, Pak!" ucap kepala keamanan. "Hah! Sudah, cepat panggil ambulans atau cari mobil!" Suara manajer itu meninggi, sembari menelepon seseorang. "Hallo, ya. Ini Pak Yusuf mulai tak sadarkan diri dianiaya seseorang. Maafkan saya, kecolongan," ucapnya pada orang di ujung telepon. Pria itu tampak gelisah. Takut hal ini akan berimbas pula pada pekerjaannya dan beberapa tender yang sudah sempat jalan. *** "Mbak tolong lepasin! Mbak gak bisa kaya gini! Aku udah punya keluarga sendiri!" seru Hanna bertubi-tubi, disela langkahnya yang terseret dua perempuan di kedua sisi. Indah sengaja memilih dua pembantunya yang bertubuh besar dan memiliki kekuatan lebih untuk mengatasi Hanna. Perempuan kuat yang tidak terkalahkan. Wajah Indah datar. Antara kesal tapi juga kasihan melihat Hanna. "Kenapa kamu sebucin ini sih, Na? Udah jelas bobroknya suamimu itu!" teriak Indah yang terus memberontak saat ia berusaha membawanya pulang. Hanna digelandang ke dalam mobil. "Mbak aku gak bucin! Kalau dia jahat pasti aku juga kabur dari kemarin-kemarin. Udah turunin aku!" Hanna menggerakkan dua bahu berusaha lepas dari dua orang yang menahannya. "Tanganku sakit, nih. Mbak! Oke, aku tar ke rumah deh sama Mas Yusuf, ngadep Mama dan Papa. Sekarang lepasin aku. Mas Zidan pasti berbuat keributan di kantor suamiku. Mbak, pasti tahu kan kalau aku sangat mencintai Mas Yusuf, sama dengan Mbak yang juga mencintai Mas Zidan." Indah tak peduli pada ocehan adik iparnya yang meminta turun. Dia kukuh akan memberi penjelasan, tapi semua penjelasan Hanna terdengar sia-sia. Bahkan ketika, Hanna mengatakan sangat mencintai Yusuf, Indah berpikir semua itu bullshit! Dan Hanna harus disadarkan segera dari pikiran bodoh itu. Yang ia tahu, bahwa Zidan menginginkan Hanna berpisah dari Yusuf. Sepanjang jalan, Hanna terus bicara. Sementara Indah memilih diam. Tak ada gunanya menasihati orang yang jatuh cinta. Apa pun yang ia sampaikan pasti ditolaknya mentah-mentah. Mobil akhirnya merangsek memasuki rumah besar keluarga Subakhi. Pria paruh baya yang kini tengah berada di rumah bersama sang istri yang menikmati teh di ruang tengah dekat taman. Pria itu memang sering menghabiskan waktu dan menjalankan bisnis di rumah lantaran faktor usia. Mereka seketika bereaksi kala mendengar suara ribut-ribut dari ruang tamu. "Ada apa, Ma?" tanya Subakhi sembari meletakkan majalah bisnis di tangan. Sang istri hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. Rasa pensaran mendorong keduanya bangkit untuk datang ke asal suara. "Ada apa ini?!" Nyonya Subakhi bertanya dengan dahi berkerut-kerut. Wanita paruh baya itu heran melihat putrinya Hanna ada di rumahnya dalam kondisi terseret oleh Indah dan dua pembantu mereka. Melihat kedua orang tuanya, Hanna seolah memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dan menghambur ke arah mereka. "Ma, tolong. Ini ada salah paham," ucap Hanna dengan nada menghiba. "Indah, tolong jelaskan pada mama!" pinta Nyonya Subakhi. "Em, maaf, Ma. Ini perintah Mas Zidan. Karena ada fakta baru, Yusuf sudah menikah dan punya istri sebelum menikahi Hanna." Indah mengucap begitu saja. Tak lupa wanita itu mengeluarkan ponselnya, untuk memperlihatkan gambar yang didapat dari Zidan sebagai barang bukti. Subakhi langsung meraih ponsel milik Indah dan memperhatikannya. Pernyataan Indah tentu saja membuat pria tua itu terkejut setengah mati. Mata Subakhi melebar sempurna kala melihat foto si layar ponsel. "Bukankah ini gadis bernama Adelia? Kenapa mereka menikah? Bukankah mereka saudaraan. Kamu juga bilang mereka adalah keluarga tempo hari bukan?" Hanna kini terdiam. Merasa bersalah karena berbohong pada papanya demi membela Yusuf. "Hanna! Jawab!" bentak Subakhi, yang membuat Hanna terhentak kaget. Indah tak percaya, bahwa Hanna sudah tahu semuanya dan memilih untuk membela Yusuf. Sudah dicekoki apa wanita itu oleh ria semengerikan Yusuf. "Em, iya, Pa. Maaf, tapi itu demi kebaikan Mas Yusuf." Hanna menunduk dalam. Ia tak mengerti harus bicara apa, kalau nanti mereka mencecar dengan banyak pertanyaan hingga sampai siapa sebenarnya Adelia? Mengingat mengungkap identitasnya sangat berbahaya. Di waktu yang sama, ponsel Subakhi berdering. "Ya, assalamuallaikum. Apa? Zidan ditahan di kantor polisi?" Semua orang melebarkan mata mendengar jawaban Subakhi pada orang di ujung telepon. "Ada apa lagi, Pa?" tanya Nyonya Subakhi panik. "Zidan menganiaya seorang direktur utama sampai tak sadarkan diri." Subakhi mengucap lemah. Mata Hanna membeliak. Seketika dia pun berlari ke luar, untuk menemui Yusuf. Namun, hal itu ditahan oleh Indah. "Aku tahu kamu pasti akan lebih memilih pria jahat itu ketimbang Mas Zidan, Na." Indah mengucap kecewa. "Maaf, Mbak bukan gitu. Tapi ...." Semua orang harusnya mengerti, kondisi Yusuf lebih mendesak karena menyangkut nyawa. Sementara keduanya berdebat, Subakhi dan istrinya memilih pergi. "Na! Jangan macam-macam selama papa pergi!" Subakhi memperingatkan. Namun, Hanna sudah punya prinsip. Setelah menikah dia akan mendahulukan suaminya ketimbang keluarga, sebab dia tahu seperti apa kejadian sebenarnya. "Sudahlah, percuma aku bicara pada orang bucin sepertimu. Ambil ini!" Indah menyerahkan map yang diamanahkan Zidan. "Pergilah dengan membawa itu!" "Apa ini?" "Lihat saja!" Hanna membaca isi map itu dengan hati bergetar. Tetes demi tetes air mata kembali jatuh, padahal sisa tangis yang tadi saja belum lagi kering. "Kenapa kalian sejahat ini, Mbak?!" *** Di rumah sakit .... Hanna berlarian mencari ruangan sesuai petunjuk petugas di lobi. Diikuti dua pembantunya yang diminta mengawasi wanita itu, mereka kualahan mengikuti wanita yang berlari sambil menangis itu. Ruangan itu akhirnya ditemukan, perlahan ia masuk dengan jantung berdebar. Bukan karena senang dan jatuh cinta seperti kemarin, tapi ada rasa sakit dan takut yang membuatnya semakin gugup. "Mas!" panggilnya pelan. Lelaki yang wajahnya penuh memar dengan mata bengkak itu menoleh. Ia kesulitan melihat siapa yang berdiri di depannya meski sangat mengenal suara itu. Hanna menangis melihat kondisi sang suami. Tak tega. Seolah rasa sakit itu juga ia rasakan di tubuhnya. "Kenapa jadi seperti ini?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat seruh
30/07
0sangat bagus
11/04
0Waw bisa bisanya
10/01
0Lihat Semua