"Saya yakin, ini bukan sebuah kebetulan, Om. Karena rasanya sangat aneh. Bisa jadi gadis itu saudara, keluarga dekat, adik atau kakak dari Yusuf. Jika ternyata ...." Alex yang memiliki dugaan, suaranya tertahan. "Om, akan mencari tahu, Lex," sahut Subakhi dengan raut kecewa. Alex manggut-manggut setuju. Itulah tujuannya bicara pada orang tua yang dihormatinya itu. Agar tak timbul masalah di kemudian hari, seperti tengah menunggu bom waktu. "Kamu ... tidak memberitahukan pada Zidan bukan?" tanya Subakhi kemudian. Mengigat Alex sangat dekat dengan Zidan. "Oh, nggak, Om. Nggak akan. Saya akan menjaga rahasia ini seperti menjaga nyawa saya sendiri." Alex meyakinkan. "Kalau benar mereka punya hubungan keluarga, dan Yusuf sengaja menikahi Hanna untuk hal ini, maka dia akan mencari jam tangan tersebut untuk barang bukti." Subakhi menyebutkan apa yang kini ada dalam pikirannya. "Jadi ...." "Aku sudah mengamankan benda itu, Alex. Jauh sebelum Yusuf hadir dalam kehidupan keluarga kami." Subakhi mengungkap upayanya sejak awal. Jadi sebenarnya dia pun tak abai untuk hal ini. _____________ "Apa yang terjadi?" tanya Hanna panik. Namun, Yusuf tak mengindahkannya dan terus bergerak membersihkan tangan. Usai dengan itu, segera dilap dengan handuk kecil yang menggantung di samping cermin toilet. Ia lalu bergerak keluar kamar mandi. Melewati Hanna begitu saja dan berusaha memanggil seseorang melalui ponselnya. Hanna menunggu jawaban dengan panik. Merasa tak mendapat jawaban dari Yusuf yang tak menghiraukannya dan sibuk dengan diri sendiri, perempuan yang memakai gamis tanpa khimar dengan rambut tergerai berantakan itu berlari ke luar kamar. Kakinya bergerak ke arah ujung koridor di mana bilik Adelia berada. Siapa tahu, Yusuf ceroboh tak menutupnya dengan begitu ia bisa melihat sendiri apa yang terjadi di dalam sana. Apakah Adelia bunuh diri? Keguguran? Atau malah dia menyerang Yusuf? Tapi suaminya itu tadi tampak baik-baik saja. Namun, betapa kesal Hanna, saat tahu bilik tertutup rapat. Kenapa lelaki itu sangat hati-hati? Bukankah justru bahaya tetap mengurungnya di dalam sana? "Bissmillah," gumamnya sambil memencet nomor sandi yang dia tahu sebelumnya. Tapi setelah mencoba tiga kali memastikan dan tetap gagal. Akhirnya, Hanna menyerah. "Ya Rabb, sudah diganti paswordnya," keluh Hanna sambil mengusap pintu yang tampak sangat tebal itu. Hanna lalu kembali berlari ke kamar. Memaksa Yusuf yang tengah menunggu jawaban orang di ujung telepon. Dia tampak frustasi, di samping khawatir pada kondisi Adelia, Zaki tak juga mengangkat panggilan darinya. "Mas! Sudah! Berapa sandinya? Adelia bisa mati!" Hanna bicara mencubit dan menarik kemeja Yusuf dengan tak sabar. "Diamlah!" hardik Yusuf yang merasa terganggu oleh perbuatan Hanna. Lalu melanjutkan mencoba mengubungi Zaki agar lekas datang memeriksa Adelia. Hanna menggeleng. Tak mau menurut pada Yusuf karena ini menyangkut nyawa. Semakin cepat mendapat pertolongan, kesempatan sembuh akan lebih banyak untuk Adelia. Kini ditarik paksa lengan Yusuf sambil beristigfar dalam hati karena telah melawan kemauan sang suami. "Tidak, Mas! Kamu bisa mikir gak! Dia sudah berdarah-darah di dalam sana. Kita harus memeriksanya dan membawanya ke rumah sakit. Nyawa Adelia dan bayinya sedang terancam sekarang, Mas!" teriak Hanna. Yusuf yang awalnya kesal dipaksa Hanna, lalu mulai berpikir kala mendengar kalimat terakhirnya. Bahwa nyawa Adelia dan bayi dalam kandungannya terancam. "Mas cepat, buka!" Hanna mendongak, menatap tajam ke arah sang suami dengan kata-kata menekan. Yusuf yang juga sangat khawatir, karena Zaki tak juga menjawab, akhirnya mengikuti kemauan Hanna. "Ayo!" ucap Yusuf tercekat, berjalan mendahului ke arah bilik, dan Hanna mengikuti di belakangnya. Saat memencet angka di laman paword, pria menoleh ke arah Hanna karena ragu. Khawatir kalau sebenarnya istri barunya itu sangat membenci Adelia, karena merasa tak bisa menerima kehadirannya, yang mengejutkan hari-hari bahagianya setelah menikah. Dalam waktu sama, hati Yusuf mempertanyakan seperti apa wanita di sampingnya ini? Kenapa sulit memahami karakternya? Wanita yang mengetahui maksud tatapan itu, lalu juga menatapnya dalam-dalam meski kondisi remang, ia seolah mampu menyelami hati pria itu. Hanna juga ingin memberi tahu dari sorot matanya bahwa ia tulus melakukan ini. Tak lama pintu bilik terbuka, jantung Hanna berdegup kencang tak karuan. Membayangkan Adelia terkapar bersimbah darah di lantai dengan kesempatan hidup yang sangat kecil. Dia yang tak sabar, masuk mendahului Yusuf. Mata Hanna melebar sempurna menyaksikan pemandangan dalam kamar tersebut. Sprei yang penuh darah dan lantai dengan noda-noda darah bekas terinjak. "Apa yang terjadi, Mas?" tanya Hanna pada Yusuf yang tampak bingung dengan kondisi yang dialami Adelia untuk kali pertama saat mereka tinggal bersama. Yusuf menggaruk kepala tak gatal, bingung. Tak mengerti harus menjawab apa pada istri keduanya itu. Hanna tak membuang waktu, bergerak mendekat pada Adelia. Di depan sana, Adelia tampak sibuk membersihkan darah memenuhi dua kakinya. Tak ada tanda-tanda kesakitan melainkan kesal karena setelah mengelap kakinya dengan selimut, darah kembali keluar dan mengotorinya lagi. "Em, kamu gak papa?" Hanna yang bingung, ragu dan takut Adelia tiba-tiba menyeranganya, memaksakan diri mendekat dan ingin menolong. Wanita yang duduk di lantai itu mendongak, melihat siapa yang bicara. "Mama?!" serunya memegangi tangan Hanna. Tangan Adelia yang dipenuhi darah dan kini membuat tangannya ikut berlumuran membuat Hanna menelan saliva. "Kenapa dia memanggilku Mama?" tanyanya berbisik pada Yusuf yang berdiri di sebelahnya. "Di saat jinak, dia juga memanggilku papa," jawabnya. Kondisi Adelia saat bermanja-manja jauh lebih menyenangkan dari pada saat dia kehilangan kendali dan meneriaki semua orang yang mendekatinya. "Oh." Wanita itu sedikit tenang mendapat jawaban Yusuf. Artinya emosi Adelia sekarang sedang berada dalam kondisi aman. Tapi bagaimana dengan kondisi fisiknya? Dengan cepat, meski ragu, Hanna berjongkok dan mengusap punggung perempuan hamil itu. Ia ingin mengatasi ini. Takut jika Adelia kehikangan banyak darah dan meninggal. Seperti kasus yang pernah ditemuinya dulu di rumah orang tuanya. Saat remaja rumah megah mereka dimasuki maling. Namun, saat pembantu memergoki malah kena tusuk di perut. Dia pun dilarikan ke rumah sakit. Sayang nyawanya tak tertolong karena kehilangan banyak darah. Padahal kata dokter, pisau itu tidak mengenai organ dalam, harusnya bisa selamat jika ditangani dengan cepat. "Ya, ya. Ka-mu sa-kit? Ada yang luka?" Ucapan Hanna terbata. Adelia menggeleng. "Kotor, Ma." Perempuan yang berusia dua tahun lebih tua dari Hanna itu mencebik sambil menggeleng. "Oh, baiklah. Kita ke kamar mandi dulu, ya." Hanna membantu Adelia bangkit dari duduknya untuk digiring ke kamar mandi. Tampaknya dia tahu dari mana asal darah ini meski tak tahu persis apa penyebabnya. Kalau keguguran, harusnya Adelia kesakitan karena mengalami kontraksi. Namun, perempuan itu kelihatannya baik-baik saja. "Mas, tolong ambil pembalutku di laci dalaman!" titah Hanna melihat pada Yusuf. "Hah?" Ap-apa tadi?" Yusuf terkejut mendengar permintaan Hanna. "Pem ... dan dal ... aish ...." Bahkan menyebut benda itu saja dia tak sanggup. "Pembalut Mas!" Mata Hanna melotot. Dia paham ekspresi wajah Yusuf saat ia menyuruhnya. Namun, sekarang ini darurat tak ada waktu untuk memikirkan hal itu. "Kamu mau urus dia di kamar mandi?!" tanya Hanna. "Em. Yah, kamu saja, aku pasti lebih bingung kalau sampai melihat ... ah sudahlah!" Yusuf berbalik dan mengerjakan apa yang Hanna mau. ____________ Setelah Hanna membersihkan Adelia dan memakaikan pembalut. Tak ada lagi darah bercecer. Ia pun meminta pada Yusuf untuk menyiapkan mobil dan mereka harus bergegas ke rumah sakit. Awalnya Yusuf menolak, tapi saat Hanna menjelaskan bisa saja Adelia sedang keguguran dan mengancam nyawanya, pria itu pun terpaksa menuruti. "Adelia, sabar, ya. Jangan bergerak. Tunggu sampai Papa kembali. Ingat, jangan gerak nanti darahnya keluar lagi. Mama mau beresin ini dulu." Hanna bicara selembut mungkin. Sampai akhirnya Adelia tampak luluh. Ia tak mengerti sampai kapan perempuan itu stabil. Yang jelas Hanna harus bergerak cepat dan membawanya ke rumah sakit. Begitu mobil telah siap, akhirnya dengan dituntun Yusuf juga Hanna, Adeliapun berjalan keluar kamar. Namun, tak lama ia merengek kelelahan, hingga Yusuf segera menggendongnya di belakang. Tanpa disadari Hanna yang berjalan di belakang pasangan suami istri itu, hatinya teremas sakit karena cemburu. Dia sangat yakin, kalau Yusuf sangat mencintai Adelia. Kalau saja perempuan itu waras-waras saja, dia pasti tak akan ada di sini dan menjadi istrinya. 'Ah, aku bahkan sangat membencinya sebelum ini, tapi kenapa rasanya sesak melihatnya menyayangi wanita lain,' batinnya menjerit. Di dalam mobil, Hanna duduk di belakang dengan Adelia yang tidur dalam pelukannya. Beberapa kali tatapannya bertemu Yusuf di kaca spion. 'Dia pasti sangat khawatir padanya,' batin Hanna. Mereka memilih bisu sepanjang jalan. Tak ingin suara-suara obrolan menggangu Adelia dan mengubah kondisi mentalnya saat bangun. Hanya ada tatapan demi tatapan yang beradu, dan membuat mereka seolah bersahutan saling bicara dalam hati. ______________ Sampai di rumah sakit .... Yusuf sangat lega disambut oleh Zaki. Sepupunya itu tadi tengah berada di ruang operasi sehingga tak bisa mengangkat panggilan darinya. "Aku senang lihat kamu, Zak. Tolong jangan sampai pihak RS tahu dan memaksanya mssuk rumah sakit jiwa." Yusuf tampak masih khawatir. "Ya, kamu tenang saja." Zaki menyahut. Hanna yang berada di dekat mereka bisa mendengar obrolan itu dengan jelas. Dari sini ia tahu bahwa Yusuf sangat takut Adelia masuk rumah sakit jiwa. Pasti karena tak mau pisah dengannya. Setelah Adelia dibawa masuk ke dalam ruangan dan mendapat tindakan dokter, Yusuf dan Hanna duduk bersebalahan di kursi tunggu. Keduanya masih dalam kondisi cemas. Meski begitu, Hanna memberanikan diri bicara pada sang suami. "Sampai kapan kamu akan merahasiakan ini dari semua orang?" tanya Hanna. "Dia perlu dirawat." "Kamu tahu apa? Diamlah dan jangan berkomentar," sahut Yusuf yang tak suka dengan pendapat Hanna. "Apa ... kamu sangat mencintainya dan tak akan mungkin mencintai wanita lain?" tanya Hanna kemudian yang membuat Yusuf seketika menoleh dan menatap lekat wajahnya. Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat seruh
30/07
0sangat bagus
11/04
0Waw bisa bisanya
10/01
0Lihat Semua