logo text

Bab 87 Bertemu Salma

PoV Bu Sarnih
Hari ini aku berencana akan menjual cincin milik Ria. Sebelum anak tidak sopan itu menyadari cincinnya hilang, lebih baik segera aku jual. Tapi, alasan aku keluar dari rumah ini apa ya?
Oh iya! Aku pura-pura ke makam Haris saja. Ide bagus!
Bangkit, secepatnya aku mematut diri. Melihat wajah dari pantulan kaca, wajah yang telah lama tidak mendapat perhatian dariku. Ternyata aku masih cantik. Apa sebaiknya aku mencari laki-laki kaya raya? Laki-laki yang akan menjamin kehidupanku.
Kalau aku mau menggaet lelaki lagi, aku harus mengubah penampilan.
Dulu, ada seorang lelaki pengusaha sukses, dia jatuh cinta padaku tapi saat itu aku tidak butuh lelaki. Aku terlalu benci sama manusia bernama lelaki! Cinta lelaki itu pun kuabaikan.
Apa aku harus menemuinya kembali?
Nanti sajalah, kalau penampilanku sudah seperti dulu lagi.
Tok, tok, tok!
Aku berjalan ke pintu. Membuka kunci.
"Ibu, ayok kita sarapan." Nafisa anak pertama Halimah alias Kakaknya si Haris. Anak ini memang sangat baik dan bodoh! Aku tersenyum menanggapi ajakannya.
"Iya, Nak." Menutup pintu, berjalan mengikuti Nafisa dari belakang.
Tiba di ruang makan, sudah ada adik-adik Nafisa. Pandanganku jatuh pada Ria, adik Nafisa yang kurang ajar.
"Silakan duduk, Bu." Nafisa menarik kursi, menyuruhku duduk di sana.
"Ya ampun ... Gak tahu diri banget. Udah numpang, berlaga jadi ratu!" Ucapan Ria membuatku terhenyak. Kalau bukan karena harta Nafisa, ingin sekali mulutnya aku sumpal pakai sendal!
"Ria, jaga ucapanmu. Tidak sopan." Teguran Nafisa pasti dianggap angin lalu sama si Ria. Ah bodo amatlah! Sekarang aku mengalah saja, suatu saat aku pasti akan memberimu perhitungan.
Menyantap sarapan tanpa suara. Perkataan Ria sangat menyakiti hatiku. Aku tidak akan terima sampai kapanpun!
Adik-adik Nafisa telah pergi. Termasuk si Ria. Kini saatnya aku berakting.
"Nak ...." panggilku saat Nafisa sedang mencuci piring. Nafisa menoleh, menyudahi aktivitasnya.
"Ada apa, Bu?" Wanita berambut pirang itu duduk di bangku yang bersebrangan denganku.
"Ibu ... Ibu pengen ke makam Haris."
Nafisa memaksakan bibirnya tersenyum. Duh, jangan-jangan dia keberatan mengantarku ke sana. Eh tapi tidak apa-apa. Misalnya dia tidak mengantarku, Nafisa pasti akan menyuruh aku naik taksi. Uangnya kan lumayan.
"Sekarang, Bu?"
"Iya, Nak. Soalnya semalaman ibu gak bisa tidur. Ibu ... Ibu masih tidak percaya kalau Haris telah meninggalkan ibu. Pergi dari dunia ini. Ibu masih tidak percaya, Nak ... Huks, huks, huks ...." Lagi-lagi berakting menangis. Tangisanku ini sangat menyayat hati padahal air mata buaya!
"Bu, ibu ... Kalau ibu mau ke makam Haris silakan. Tapi ... Tapi, saya tidak bisa mengantar ibu. Soanya ibu saya sendirian di rumah. Adik-adik semuanya kan pergi. Saya khawatir kalau meninggalkan ibu sendirian di rumah."
Tuh kan, apa aku bilang? Dia pasti tidak mau mengantarku. Tidak masalah, yang penting Nafisa memberiku uang.
"Tidak apa-apa, Nak ... Ibu bisa ke sana sendirian. Area pemakamannya dekat daerah sini 'kan? Soalnya kalau jauh, ibu ... Ibu gak punya uang." Minta uang secara tidak langsung. Hahaha ...
"Pemakamannya cukup jauh, Bu. Ibu tenang saja ya, saya akan pesankan taksi dan memberi ibu uang. Sebentar." Nafisa beranjak, meninggalkanku seorang diri di ruang meja makan. Aku berharap Nafisa memberiku banyak uang. Aku bukan mau ke makam Haris melainkan hendak menjual cincin dan juga mau mampir ke rumah Laila. Barang kali saja Laila prihatin melihat keadaanku dan mengajak aku tinggal bersamanya. Ah tapi tidak! Aku tidak mau tinggal di sana. Keinginan menemui Laila hanya ingin melihat kabarnya saja. Apakah dia menderita atau jatuh miskin semenjak bercerai dengan Haris?
"Ini, Bu. Ini uang untuk Ibu." Nafisa memberikan lima lembar uang ratusan ribu ke tanganku. Lumayanlah ... Buat jalan-jalan. Nanti hasil penjualan uang cincin, aku akan membelikan beberapa potong pakaian dan juga tas.
"Ya ampun, Nak ... Ini banyak sekali." Aku berpura-pura mengatakan demikian. Supaya terkesan tidak enak hati.
"Gak apa-apa, Bu. Pegang saja buat ibu sisanya. Lagi pula, ibu kan belum punya pakaian. Ibu bisa beli apapun pakai uang itu."
Dari luar terdengar suara klakson mobil.
"Nah itu, Bu! Taksinya sudah datang. Ibu sudah siap 'kan?" Anak Halimah itu berdiri, membantuku berjalan. Aku masih pura-pura menjadi wanita yang lemah.
Cincin Ria yang aku ambil dari kamarnya sudah tersimpan rapi di dalam bra-ku.
Taksi yang membawaku melaju memecah jalan raya.
"Pak, kita jangan ke pemakaman. Tolong anterin saya ke salah satu pusat perbelanjaan," kataku pada supir taksi. Tadi sebelum berangkat Nafisa berkata pada supir tersebut menyuruh mengantarkanku ke salah satu pemakaman di kota ini. Mau ngapain juga ke sana? Lihat makam Haris? Tidaklah, buat apa? Orang kalau sudah mati, ya sudah mati saja!
"Baik, Bu," sahut supir itu tanpa bertanya alasannya. Baguslah, aku suka supir yang tidak banyak tanya.
Sampai di pusat perbelanjaan, aku membayar ongkos taksi lalu turun dengan perasaan yang sangat bahagia. Beruntung, hari ini pakaian Halimah yang diberikan Nafisa untukku jauh lebih bagus ketimbang kemarin.
Aku percaya diri masuk ke tempat pusat perbelanjaan.
Toko pertama kali yang aku cari adalah toko perhiasan. Semoga saja biaya potongan jualnya tidak besar. Aku tidak punya surat perhiasan.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya salah satu penjaga toko. Tanpa banyak bicara, aku mengeluarkan cincin tesebut.
"Saya mau jual cincin, Mbak," sahutku sambil menyimpan cincin di atas atalase.
"Surat perhiasannya mana, Bu?"
Duh, kenapa juga menanyakan surat perhiasan sih?
"Suratnya gak ada, Mbak. Saya ... Saya lupa nyimpannya. Maklum sudah tua."
Tidak masalah merendahkan diri sendiri dahulu. Yang penting, cincin itu menjadi uang!
"Oh iya udah, sebentar ya."
Aku menunggu penjaga toko memberi harga untuk cincin tersebut. Kalau aku perkirakan harganya lebih dari dua juta. Coba saja kita lihat.
"Bu, karena surat perhiasannya tidak ada. Kami memberikan uang sebanyak ini. Silakan ibu hitung dulu."
Dengan cekatan kuhitung lembaran demi lembaran uang ratusan. Terhitung ada dua juta dua ratus ribu rupiah. Memangnya berapa gram cincin itu? Tapi tidak masalah, lumayan dua juta juga.
"Bagaimana, Bu?"
"Ya sudah tidak apa-apa. Makasih ya, Mbak."
Memasukkan uang ke kantong rok bekas Halimah. Aku tidak punya tas. Lebih baik sekarang aku beli tas dulu supaya uang-uang ini tersimpan rapi.
Hampir dua jam berkeliling di pusat perbelanjaan. Hatiku senang bukan main. Aku membeli tas, dua step pakaian, sendal dan juga peralatan make up. Semua ini akan aku kenakan jika mau keluar dari rumah Nafisa. Kalau di rumahnya, cukup pakai baju pemberian Nafisa saja.
Usai berbelanja, aku ingin mampir ke rumah Laila. Ingin mengetahui kondisi terkini si menantu sombong.
Tiba di depan rumahnya, menekan bel. Tidak berselang lama, pintu terbuka. Kedua bola mataku membeliak, ketika melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu.
"Salma? Kamu ngapain ada di rumah ini??"
"Bu ... Ibu Sarnih?"

Komentar Buku (108)

  • avatar
    Iham1nada

    mantap

    07/05

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    keren kak

    02/02

      0
  • avatar
    DindaDinda

    bagus cerita nya

    04/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru