PoV Damar Masya Allah, Subhanallah ... tak henti hatiku mengucapkan dua kalimat itu. Menganggumi ciptaan Allah yang begitu cantik dan anggun. Dengan balutan gamis, ia tampak cantik sekali. Biasanya Laila selalu mengenakan stelan celana atau kemeja. Laila terlihat tersipu malu, ia merunduk, mengulum senyum. “Terima kasih, Mas Damar.” Aku tersentak mendengar ucapan Laila barusan. Dia panggil aku ‘Mas’? Ya Allah, bahagianya hatiku. “O-oke, sama-sama. Hmm ... aku boleh minum lagi ya?” Laila mengangguk, memamerkan senyum manisnya. “Eh, kok habis?” Gumamku, membalikkan cangkir kopi. Laila teekekeh, menutup mulut dengan sebelah telapak tangan. “Mau lagi? Bentar ya, aku buatin.” Laila beranjak tanpa menunggu jawabanku. Kepergiannya membuatku sedikit lega. Mengembuskan napas pelan-pelan, Berusaha mengontrol diri agar tidak terlihat norak lagi. Ekspresiku tadi seperti orang yang belum pernah lihat cewek cantik. Hadeuh! Laila datang membawa secangkir kopi, menyimpannya di depanku. Kemudian ia duduk di sofa semula. Aku langsung meneguk kopi tersebut setelah meniup asap sebentar. “Tumben malam Minggu ke sini? Biasanya nongkrong di kafe?” Aku mendongak, meletakkan cangkir di atas meja, memandang Laila. “Justru aku ke sini mau ajak kamu ke Kafe. Mau gak?” wanita bergamis ungu tampak berpikir, menyandarkan punggung. “Enggak deh! Aku di rumah aja.” “Kenapa? Malu ya jalan sama aku?” “Bukan. Aku Cuma ... gak mau kamu dibilang, jalan sama tante-tante.” Aku mengerutkan dahi, tak mengerti arah pembicaraan Laila. Yang aku ajak kan dia, kenapa malunya jalan sama tante-tante. “Tante-tante siapa?” “Aku! Umur aku kan lebih tua dari kamu.” Aku tergelak, mendengar jawabannya. “Aku pikir siapa. Laila, sama sekali kamu gak kayak tante-tante. Kamu masih terlihat muda, La. Sumpah!” Aku berusaha meyakinkannya. Ia merunduk dalam. Seolah ragu dengan ucapanku. “Sorry, aku bicara apa adanya. Ya udah gak apa-apa kalau kamu gak mau. Aku gak masalah.” Kataku mengedikkan bahu. Berusaha menerima apa yang Laila putuskan. “Kamu udah makan?” Laila mengalihkan topik pembicaraan. Aku mendesah. Sepertinya dia memang tidak mau jalan keluar denganku. “Belum.” “Makan yuk! Aku tadi masak lho. Tapi jangan dihina ya kalau masakannya gak enak. Soalnya udah lama banget gak masak sendiri.” “Oh ya? Bolehlah aku cobain masakan kamu.” “Ya udah hayu! Eh kamu udah laper belum?” “Udah.” Aku berdiri, jalan beriringan menuju meja makan. Di sana sudah ada Bi Inah, asisten rumah tangga Laila. “Malam, Bi.” Sapaku, Bi Inah mendongak. Menatapku sejenak lalu menata piring kembali. “Malam juga, Den Damar.” Aku menarik kursi, begitu pula Laila. Wanita bergamis ungu itu mengambil piring, menyendokkan nasi, dan beberapa lauk pauk. Lalu menyimpan piring tersebut ke hadapanku. “Bi, tadi Laila bilang ini hasil masakannya sendiri. Bener emang, Bi?” Sebelum menjawab, Bi Inah melihat ke arah Laila. “Bener banget, Den. Bibi Cuma bantu iris-iris aja. Non Laila yang meracik bumbunya.” “Bibi malah bilang-bilang? Biarin aja kalau dia gak percaya.” cetus Laila merengut. “Aku yang tanya, La. Percaya kok kalau kamu yang masak. Boleh makan sekarang gak nih?” “Boleh.” Aku dan Laila menyantap makan malam. Bi Inah entah berada di mana. Dia membiarkan kami berdua di meja makan. Usai makan, membantu Laila mencuci dan merapikan piring. “Kamu duduk aja sih! Biar aku yang beresin.” Laila mengambil piring kotor dari tanganku. “Gak apa-apa. Sambil belajar jadi calon suami yang baik.” Cetusku, membantu Laila mencuci piring. Laila tersenyum kecut. “Emang udah ketemu calon istrinya?” tanya Laila menyerahkan piring yang sudah dicuci padaku. Aku mengelapnya. “Udah.” “Cantik?” “Banget.” “Boleh aku tau?” “Boleh.” “Siapa?” “Kamu, Laila Hussein.” Laila menoleh, keningnya berkerut. Piring kotor sudah bersih seperti semula. Laila mengambil serbet dari tanganku, mengeringkan telapak tangannya. “Ngaco!!” Ia melempar serbet ke arahku, berjalan keluar dari dapur. Aku mengikuti, berjalan di sampingnya. “Aku serius, La ....” Wanita bergamis itu berhenti di depan lemari pendingin, mengambil satu buah Apel. Kembali ke meja makan, aku terus mengekorinya. Laila mengambil pisau, duduk di kursi meja makan, mengupas buah tersebut. Aku duduk di sebelahnya, memerhatikan. “Jangan suka PHP!” ucap Laila tanpa menatapku. Aku menarik napas panjang. Bingung, harus dengan cara apalagi meyakinkannya. “Aku gak pernah PHP. Dari dulu emang suka sama kamu.” Laila menoleh, menatapku tajam. “Meyla mau dikemanain?” Keningku berkerut. Kenapa jadi bawa-bawa Meyla. “Mau dikemanain?” Laila mencebik, membuang muka ke arah lain. “Bukannya kamu juga dekat sama Meyla?” “Enggak. Siapa yang bilang?” Wanita berjilbab ungu itu menyandarkan tubuh. Tangan kanannya memegang potongan Apel. “Mau Apel?” tanyanya, mengacungkan irisan buah itu di depanku. “Mau.” “Nih!” “Suapiiin ....” “Makan sendiri!” Hem galak banget janda satu ini. Ia meletakkan potongan Apel pada telapak tanganku. Sesaat kami diam, tidak ada pembahasan lain. Aku dan Laila menikmati manisnya buah Apel. Melirik Laila, ia sedang mengunyah. “La?” “Hm?” “Kayaknya aku kena pelet.” Laila menghentikkan aktivitas mengupas buah Apel, pandangannya beralih padaku. “Kena pelet? Hm ... apa aku bilang. Tadi ngegombalin aku, sekarang ngerasa dipelet orang.” Bibirnya yang tipis merengut. Wajah Laila bukannya jadi jelek, malah semakin menggemaskan. “Hahahaha ... kamu lucu amat sih, La ....” “Malah ketawa? Memangnya ada yang lucu?” ucapnya menyimpan pisau dengan kesal. Aku menghentikkan gelak tau. Menatap Laila intens. “Ya ... aku ngerasa dipelet. Dipelet sama kamu. Selesai makan masakanmu, cintaku makin bertambah. Itu namanya dipelet kan??” “Huuu ... gombal. Kamu harus ingat! Aku ini bukan gadis, udah gak perawan, janda. Sedangkan kamu, belum pernah menikah, masih jejaka!!” Aku menarik napas panjang mendengar ucapannya. Tatapan Laila beralih ke arah lain. “Laila?” “Hm?” “Lihat aku.” Ia memutar badan, menghadapku. Kami saling pandang. Laila cantik alami. Kecantikan khas Timur Tengah. Bukan hanya fisiknya saja yang cantik, tapi hatinya juga. Dari dulu aku tahu, kalau Laila suka beramal. Ia kerap kali memberi santunan anak yatim piatu, bersedekah atau melakukan aksi sosial lainnya. Jika ada salah satu karyawan perusahaannya yang sakit atau terkena musibah, Laila selalu menyempatkan diri datang menjenguk. Andai kami telah menjadi pasangan suami istri, ingin sekali membelai pipinya seraya berucap, Uhibbuki Fillah, Laila. “Hei, kenapa?” Pertanyaan Laila membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sebelum memberinya sebuah pertanyaan. “Dih malah senyam senyum??!” “Laila?” “Kenapa?” “Memangnya salah, kalau ... jejaka kepincut janda??”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
07/05
0keren kak
02/02
0bagus cerita nya
04/07/2025
0Lihat Semua