logo text

Bab 61 Kecelakaan

Langkah kaki kuayunkan menuju kantin Perusahaan. Di kantin, aku termangu. Mengingat kembali perjalanan hidup. Terutama tentang persoalan cinta. Mungkin, memang seharusnya aku menyendiri dulu. Tidak membuka hati pada laki-laki siapapun. Setidaknya untuk saat ini atau beberapa tahun kemudian.
Perjumpaan dengan Haris dan Sadewa seolah menguak luka lama. Luka lama yang terkadang masih kurasa.
Menarik napas panjang, memejamkan mata. Tenang, saat ini yang kurasakan. Jauh dari para pria.
Melihat kopi yang sudah mulai dingin. Lalu menyesapnya hingga tetes terakhir.
“Sadewa udah pulang. Gue batalin kerja sama kita.” Mendongak, tanpa kusadari, Siska sudah duduk di bangku yang bersebarangan.
“Kenapa?”
“Muak gue. Ucapannya tinggi banget. Males dah ngadepin manusia congkak kek dia.”
Tak lama secangkir kopi yang masih mengepul diantar pelayan. Entah kapan Siska memesan kopi tersebut.
“Oh begitu.” Kualihkan pandangan, menatap luar jendela.
“Laila?”
“Hm?”
“Sori.”
Aku tersenyum, menyandarkan punggung ke kursi.
“Gak usalah minta maaf. Gue baik-baik aja.”
Tangan Siska mengaduk-aduk kopi, tanpa ditiup, wanita tomboy itu meneguknya.
“Gak panas?” tanyaku melihat Siska baik-baik saja, tidak kaget dengan kopi yang kuyakini rasanya masih panas.
“Apanya?”
“Kopinya. Lo minum kopi tanpa ditiup dulu. Emang gak panas?”
Bibir Siska mencebik.
“Elah, gak bakal mati Cuma karena kepanasan minum kopi, Laila ....” sahutnya asal.
Hening beberapa saat diantara kami. Aku memilih mencomot cemilan goreng kentang, memakannya.
“Gue pikir, si Dewa udah berubah. Yaa ... secara dia udah kaya raya. Udah jadi bos perusahaan. Punya banyak karyawan pastinya. Otomatis, harusnya jiwa angkuh itu berkurang.”
Kusunggingkan senyum mengejek. Bukan mengejek omongan Siska tapi sikap Dewa.
“Menurut gue sih mustahil kalau si Dewa jadi tawadhu.”
“Apa tuh tawadhu?”
“Rendah hati.” Siska manggut-manggut.
“Laila.”
“Hm?”
“Gue mau cerita soal lain.”
Menumpu kedua tangan di atas meja, menyimak omongan Siska lebih serius.
“Cerita apa?” Penasaran dengan cerita Siska. Sepertinya masalah serius.
Wanita brambut pendek itu menarik napas panjang.
“Sebenarnya ... gue takut nikah.” Celetukkan Siska membuatku terperangah.
“Eh, kok ngomong gitu?”
“Gue takut gagal. Ujungnya malu.” Sekarang aku mengerti maksud dari ucapan sahabatku itu.
“Sis, gak semua orang nasibnya sama. Rumah tangga gue gagal, tapi gak menjamin lo juga gagal. Hei, kalian harus tenang. Apa yang lo alami sekarang wajar kok. Harus yakin ya?” Kupegang telapak tangan Siska, menguatkan. Dia tersenyum.
“Lo yang lembut, cantik, soleha, baik aja gagal, bagaimana gue?” Ya Allah, ternyata nasib rumah tanggaku telah membuat Siska ragu untuk menikah.
“Persoalannya bukan di gue, tapi dari lakinya. Lo tau sendirilah. Irwan, Haris tuh beda jauh. Dari segi penampilan, pemikiran, wawasan. Laki lo bukan si Haris, tapi si Irwan. Lo harus inget itu?”
Kulihat wajah Siska sedikit tenang. Tidak nampak tegang seperti beberapa menit lalu.
“Iya, gue pasti inget, makasih.”
“Betewe, nanti kalian mau honeymoon di mana?”
Siska mengaduk-aduk kopi, matanya mengitari sekeliling.
“Kayaknya ke Bali deh. Irwan sih ngajakin ke luar negeri. Kalau ke sana harus lama. Gak bisa sehari dua hari. Kalau di Bali kan bisa.”
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Siska.
“Lho kenapa harus dua hari? Hey kalian itu bulan madu? Semingguanlah minimal.”
“Perusahaan gimana?” Astaga ... nih orang masih saja mikirin perusahaan.
“Ada gue, Sis. Lupa?”
“Inget. Tapi kan lo pasti kewalahan ngehandle kerjaan segitu banyaknya.” Nada suara Siska terdengar merasa tak enak hati.
“Emang di perusahaan Cuma ada gue doang? Kan ada Adam, Damar, prety, Zuki, dan yang lainnya. Mereka tim yang kompak. Lo tenang ajalah. Kalau si Irwan ngajak honeymoon ke luar negeri, ya udah gak apa-apa.” Aku terus meyakinkan Siska agar dia tidak terlalu memikirkan soal Perusahaan.
“Nah lo sendiri? Kapan mau nikah lagi?” Pertanyaan Siska kusambut dengan gelak tawa. Gelak tawa hambar.
“Yeeh ... malah ketawa. Gue nanya serius tau!”
“Masa iddah gue baru lewat. Luka yang ditempelin si Haris sama si Dewa itu masih ada. Susahlah buat gue buka hati lagi. Dahlah, biar gue sandang dulu status JANDA LAILA. Hahahaha ....” Sengaja, ucapanku diakhiri oleh gelak tawa.
Siska menggeleng-gelengkan kepala. Aku cuek menanggapi ekspresinya.
Kualihkan pandangan ke luar jendela. Kantin perusaahan terletak di bawah, dekat area parkir, bersebrangan dengan salah satu kafe.
“Laila, gue selalu berdoa buat lo. Moga aja suatu saat nanti, ada laki-laki baik, yang mencintai lo dengan tulus, yang bisa bahagian lo.” Ketulusan tampak terpancar dari aura wajah Siska. Ya, aku mengerti. Siska adalah salah satu saksi hidupku. Dia tahu betul kisah asmaraku.
“Aamiin. Makasih ya, Sis.”
Kuambil kembali potongan kentang goreng di atas piring. Tatapan Siska fokus ke luar jendela. Terlihat pandangannya sangat serius.
“Eh lo lihatin apa sih? Serius amat?”
“Laila, kayaknya di depan cafe ada kecelakaan. Tuh lihat?”
Kuputar pandangan mengikuti jari telunjuk Siska. Ya, benar kayaknya ada kecelakaan.
“Lihat yuk!”
“Gak ah!”
“Ya udah, gue lihat bentar!”
Membiarkan Siska keluar kantin, memasuki kerumunan orang-orang di tengah jalan raya. Entah siapa korbannya, semoga masih bisa tertolong.

Komentar Buku (108)

  • avatar
    Iham1nada

    mantap

    07/05

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    keren kak

    02/02

      0
  • avatar
    DindaDinda

    bagus cerita nya

    04/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru