logo text

Bab 50 Kabur

PoV Haris
Tak berapa lama, wanita renta dengan gamis hitam kerudung putih datang menghampiri. Wanita itu duduk di atas kursi roda didorong oleh wanita yang menyambut kedatangan kami.
“Bunda, dua orang ini yang ingin bertemu. Mas, Mbak, beliau adalah Bunda Fatimah. Pengurus panti yang lama.” Wanita berkerudung hijau memperkenalkan. Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Kalian siapa? Mau apa?” terdengar parau suara Bunda Fatimah.
“Saya Susi, ini Haris. Katanya, Haris dulu pernah tinggal di sini.” Tante Susi membuka suara. Bunda Fatimah membenarkan letak kaca mata.
“Oh begitu. Haris, mau tau asal usulnya?” Aku mengangguk mantap. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa kedua orang tua kandungku. Jika mereka berasal dari keluarga kaya raya seperti di film-film, dengan senang hati aku akan tinggal bersama mereka dan meninggalkan Tante Susi yang perhitungan itu. tapi kalau sebaliknya, cukup tahu, tidak mau tinggal bersama mereka. lebih baik tinggal bersama Tante Susi dari pada miskin lagi.
“Iya, Bunda. Saya ingin tau siapa orang tua kandung saya yang sebenarnya,” ucapku antusias. Bunda Fatimah menghela napas.
“Berapa usia kamu? Siapa orang yang mengadopsi kamu?” tanya Bunda Fatimah, aku pun menyebutkan usia dan orang yang mengadopsiku yakni Bu Sarnih.
Mendengar nama Ibu, kedua bola mata Bunda Fatimah membeliak. Dia nampak terkejut. Kedua tangannya mengepal.
“Sa-Sarnih binti Sarwan?” Bergetar suara Bunda Fatimah menyebut nama Ibu.
“I-iya, Bun betul.” Aku jadi ikutan gemetar. Bunda Fatimah seperti menahan amarah. Aku tak mengerti, ada apa dengan Ibu? Kenapa Bunda Fatimah nampak tak suka.
“Kamu pulanglah dulu. Lusa ke sini lagi. Saya mau istrahat. Salwa, bunda mau ke kamar.”
“Lho, Bun? Bunda ada apa?” Tante Susi berusaha mencegah.
“Lusa ke sini lagi!” Gertak Bunda Fatimah. “Lusa akan saya ceritakan.” Sambung Bunda dengan suara agak melembut.
Bunda dan Salwa meninggalkanku dan tante Susi.
“Aku rasa, Ibu kamu pernah bermasalah sama Bunda Fatimah.” Desis tante Susi. Aku menghela napas.
“Aku semakin bingung dan penasaran. Sebenarnya ada apa?”
“Sudahlah, lebih baik kita pulang!” Ajak tante Susi. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Ternyata kedatanganku ke sini tidak membuahkan hasil. Sia-sia.
“Udah, jangan kamu pikirin. Lusa kita ke sini lagi. Nanti aku antar,” ucap tante Susi menenangkan. Aku tersenyum mendengar niat baiknya.
“Makasih ya, Yang?”
“Iya,” sahutnya mengelus-elus bahuku.
Ya, saat ini hanya tante Susi orang terdekatku. Ibu sudah tidak bisa diharapkan lagi. Ibu benar-benar sudah tidak waras.
“Haris, besok kita bawa Ibu ke rumah sakit jiwa. Aku takut dia bertindak liar di apartemen. Malu-maluin nanti.” Celetuk Tante Susi. Aku mengangguk setuju. Ibu Sarnih ternyata benar-benar tidak waras. Tadinya aku pikir dia cuma pura-pura saja, ternyata ....
“Iya, biar Ibu tinggal di sana saja. Tapi ... masalah biaya gimana?”
“Gak usah kamu pikirkan. Biar nanti aku yang tanggung.”
“YangSus ... kamu baik sekali. Padahal ibu sangat gak suka sama kamu.” Tante Susi menghela napas.
“Kalau bukan rasa sayang aku sama kamu, gak sudi aku berbuat baik sama orang macam Ibu kamu itu. Eh tapi, kira-kira Ibu kamu sama Bunda Fatimah ada masalah apa ya? Kok Bunda kayak yang gak suka banget?” Aku mengedikkan bahu. Sejujurnya aku juga sangat penasaran, ada masalah apa antara Ibu dan Bunda Fatimah.
Tiba di lobby apartemen, bagian keamanan menghampiri kami.
“Tuan Haris, saya mau bicara.” Bagian keamanan itu langsung berbicara tanpa basa basi.
“Bicara soal apa Pak?”
“Kita duduk di sana saja.” Tunjuk bagian keamanan apartemen ke sofa depan lobby.
“Ada apa sih Pak? Apa ada masalah?” Tante Susi terlihat sangat penasaran. Bagian keamanan itu memerhatikan tante Susi dengan seksama.
“Ini Nyonya Susi?”
“Iya, Pak.”
“Oh, saya kira siapa. Penampilannya sangat berbeda.” Pasti bagian keamanan itu tidak mengenal Tante Susi. Tante Susi yang biasanya berpenampilan seksi sekarang sedang mengenakan gamis dan berhijab.
“Langsung ke inti aja. Sebenarnya ada apa?” tante Susi mulai jengkel dengan ucapan bagian keamanan itu.
“Sekitar dua puluh menit yang lalu, saya mendengar kegaduhan dari dalam apart Nyonya. Kami langsung ke sana, dan masuk ke dalam apart dengan kunci cadangan. Maaf bukan kami tidak sopan. Soalnya kami sangat khawatir kalau terjadi sesuatu di dalam. Setelah kami buka pintu, ternyata ada orang gila di dalamnya. Mohon maaf, kami tidak tau orang gila itu masuk dari mana.” Tutur penjaga keamanan dengan wajah serius. Aku dan tante Susi saling pandang.
“Itu bukan orang gila, tapi Ibu saya.”
“Haris, ibu kamu emang udah gila. Aku bilang apa, harusnya cepat-cepat kita bawa dia ke rumah sakit jiwa! Belum masuk ke RSJ malah udah bikin onar duluan.” Tante Susi marah.
“Sekarang keadaan apart saya gimana, Pak?” Tante Susi bertanya dengan nada khawatir.
“Tadinya sangat berantakan. Tapi saya udah menyuruh orang untuk membersihkan apart Nyonya.”
“Ya udah hayu kita ke atas. Aku gak mau ya, kalau ada barang-barang berhargaku hilang.” Tukas tante Susi berjalan lebih dulu. Aku hanya mengangguk lemah.
Ibu ada -ada saja? Kenapa pula harus kehilangan akal sih, Bu? Aku terus membathin.
Begitu sampai di depan pintu apart, keadaan dalamnya sudah bersih dan rapi. Tante Susi memeriksa setiap sudut ruangan.
“Bagaimana Nyonya, aman?” Tanya bagian kemanan, tante Susi mengangguk.
“Aman. Makasih, ya?”
“Iya, Nyonya. Kalau begitu saya pamit dulu.”
“Eh sebentar, ibu aku kalian titipkan ke mana?” cegahku. Bagian keamanan itu membalikkan badan.
“Mohon maaf, sebelumnya saya gak tau kalau orang itu adalah Ibu anda. Pas kami masuk, Ibu anda langsung keluar. Dia berlari sambil tertawa. Entah keluar kemana. Salah satu bagian keamanan kami mengejarnya tapi tidak bisa diamankan. Ibu anda terus-terusan berontak dan akhirnya pergi ke jalan.”
“Apa kalian tau ke arah mana?”
“Mohon maaf, saya gak tau, Pak.”
Aku sangat terkejut mendengar penuturan bagian keamanan itu. Jadi ibu kabur. Pergi kemana?
“Sudahlah, Haris. Biarkan saja Ibu kamu pergi. Toh sekarang dia udah gak waras, bukan ibu kandung kamu pula.”
Ucapan tante Susi ada benarnya. Ya sudahlah lebih baik biarkan saja ibu pergi. Yang penting bukan aku yang mengusirnya.

Komentar Buku (108)

  • avatar
    Iham1nada

    mantap

    07/05

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    keren kak

    02/02

      0
  • avatar
    DindaDinda

    bagus cerita nya

    04/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru