Ternyata masakannya enak juga. Walaupun dengan menu sederhana. Apalagi goreng ikan Lelenya, gurih! Tak terasa nasi di atas piring sudah habis tanpa sisa. Begitu pula dengan sambal terasinya. Benar-benar mantap! “Enak ‘kan?” Damar bertanya sambil memerhatikanku. Aku kikuk dibuatnya. “Iya enak," sahutku malu-malu. “Iyalah, piringnya sampe bersih!” celetukkan Damar membuatku semakin tersipu malu. Aku diam tak menanggapi guyonan laki-laki berkemeja biru muda itu. “Mau nambah?” tanyanya yang kutanggapi dengan menggeleng cepat. “Udah kenyang,” sahutku menyeruput teh hangat yang berada di sisi. Segar ... apalagi cuacanya mendung begini. Membuat badan terasa hangat. “Aku mau bayar dulu.” Damar beranjak menemui penjual pecel tersebut. Selesai membayar, Damar mengajakku naik mobil. Melanjutkan perjalanan. Damar melajukan mobil dengan kecepatan sedang. “Katanya kamu mau cerita?” Tanyaku menatap Damar sekilas. “Cerita kenapa aku muslim?” “Iya.” Damar mengembuskan napas. Memulai cerita. “Mama aku muslim. Sebelum orang tuaku menikah, Papa muallaf. Untungnya keluarga Papa gak keberatan. Untuk masalah keyakinan, dalam keluarga Papa diberi kebebasan yang penting menjalankan ibadah agamanya dengan baik. Ya ... jadilah aku muslim dari lahir.” Tutur Damar. Matanya tetap fokus ke depan. “Oh begitu. Aku kira kamu Nasrani. Apa kamu anak semata wayang?” “Sebenarnya aku ada kakak laki-laki. Tapi pas bayi ada yang nyulik. " Aku terkejut mendengar saudara kandungnya diculik. "Diculik? Kok bisa?" tanyaku penasaran. Mengubah posisi duduk lebih menghadapnya. Damar mengedikkan kedua bahu. "Entah, Papa Mama tidak pernah memberitahuku alasan penculikan itu." Aku terdiam. Setelahnya tidak ada obrolan diantara kami. Keheningan tercipta kembali. Aku memandang luar jendela mobil, jalan raya sore hari mulai ramai. Kendaraan roda empat mulai memadati. Mungkin karena jam pulang para pekerja. “Laila,” panggil Damar. “Iya?” Damar seperti memikirkan sesuatu. “Boleh aku tanya?” “Boleh.” Kulihat Damar mengubah posisi duduk, kedua tangannya masih tetap di atas stir. “Apa kamu ... gak akan nikah lagi?” Aku sedikit terlonjak mendengar pertanyaannya. Entah apa yang membuat Damar berani mengajukan pertanyaan itu. “Entah. Bukan aku gak mau nikah lagi, tapi rasa percaya pada lelaki mulai berkurang. Aku takut dikhianati lagi,” ucapku apa adanya. Kulirik Damar, dari gurat wajahnya ia nampak kurang puas dengan jawabanku. “Jadi menurutmu, semua laki-laki sifatnya sama?” Aku mengedikkan bahu, “Setidaknya laki-laki yang pernah dekat denganku selalu begitu. Tukang selingkuh! Gak bisa dipercaya!” tukasku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Sejujurnya aku kurang nyaman dengan pertanyaan Damar. Tapi kalau tidak dijawab, rasanya tak enak juga. Perjalanan kami selanjutnya hanya diliputi keheningan. Masih sekitar dua atau tiga jam lagi untuk sampai ke rumah. *** Akhirnya sampai juga di rumah. Badanku pegal-pegal. Sudah pukul sembilan malam. Mang Karman membuka gerbang, Damar memasukkan mobil ke dalam garasi. “Kamu pulang naik apa?” tanyaku setelah kami keluar dari mobil. Damar menyerahkan kunci mobil padaku. “Naik grab. Aku langsung pulang ya?” “Iya, hati-hati. Damar, makasih banyak.” “Sama-sama.” Masuk ke dalam rumah, aku dikejutkan oleh kedatangan anak angkat Abi Ummi, yang asyik nonton televisi. “Nafisa?” Nafisa menoleh saat menyadari kedatanganku. “Hai, Laila apa kabar?” sapanya berdiri menghampiriku. Wanita usianya yang empat tahun lebih tua dariku mencium pipi kanan dan kiri. Aku bergeming. Menelisik penampilannya. Sepuluh tahun tidak bertemu, Nafisa sekarang sangat berubah. Dia sudah tidak lagi berhijab. Pakaiannya pun sedikit terbuka. “Kok diam? Jangan bilang kalau kamu sedang mengagumi kecantikanku,” ucapnya percaya diri. Memamerkan senyum sambil bersidekap. “Ngapain kamu ke sini?” tanyaku memandang Nafisa dengan sinis. Tidak menjawab pertanyaannya yang tidak penting. Rasanya, amarahku masih diubun-ubun tiap kali mengingat kelakuan tak tau diri anak angkat itu. Bagaimana tidak? Dari umur satu tahun dia diasuh oleh Ummi dan Abi. Tapi setelah dewasa, dia berani melawan Ummi Abi hanya karena laki-laki bule. Bahkan, Nafisa membawa kabur uang tabungan Ummi senilai seratus lima puluh juta. Sejak saat itu, nama Nafisa tidak tertulis lagi di surat keterangan keluarga. “Ish, judes amat sih? Ini juga kan rumah aku! Wajar dong kalau aku balik ke sini,” sahutnya tanpa tau malu. Aku makin muak melihat sikap Nafisa yang seolah tidak terjadi apa-apa. Aku mencebik mendengar ucapannya. “Gak tau diri banget kamu! Emangnya kamu siapa? Inget, kamu itu Cuma bocah yang dipungut Ummi dari kolong jembatan. Kalau bukan karena belas kasih Ummi, kamu itu gak bakal kayak gini!” Kuberanikan berbicara demikian. Aku yakin, jika saja ummi mendengar ucapanku, pasti akan sangat marah besar. “Diam kau, Laila!! Kamu juga harus ingat, kalau bukan karena aku, kamu gak akan ada di dunia ini! Aku yang memancing Ummi supaya bisa hamil anak kayak kamu.” Aku tergelak mendengar omong kosong Nafisa. Memang, tiga tahun merawat Nafisa, Ummi baru mengandung. Anak yang tiga tahun didamba oleh Ummi dan Abi. Dari situ, Nafisa selalu berpikir, kalau kehadiranku ke dunia berkat Ummi menjadikannya anak angkat. “Dasar ngaco! Udahlah, aku capek!” “Eh, Laila tunggu!!” Aku menghentikkan langkah. “Bi Inah bilang, Ummi dan Abi sudah lama meninggal? Kenapa kamu gak kasih kabar aku? Keterlaluan kau Laila!!” mendengar ocehan Nafisa aku membalikkan badan. Menatapnya tajam. “Eh, yang keterlaluan itu kamu! Gimana aku mau kasih tau, nomor telepon dan tempat tinggal kamu aja aku gak tau! Gak mikir!” Aku bersungut. Benar-benar menguras tenaga menghadapi orang yang tidak tahu diri! Ya Allah ... kenapa hidupku selalu dihadapkan dengan orang-orang yang gak tau malu dan gak tau diri? Astaghfirullah .... “Ya sori ... namanya juga orang kabur. Lagian, Ummi Abi itu kolot banget. Masa aku nikah sama Jhoni gak boleh?” “Tutup mulut kamu! Jangan berani-beraninya menjelekkan orang tua aku! Ummi dan Abi gak setuju dengan hubungan kalian, karena Jhoni bukan Islam. Susah emang ngomong sama orang gak paham! Dahlah, aku mau istirahat!” “Idiihh sewoottt ....” Aku memutar bola mata malas. Menaiki anak tangga menuju kamar. “Laila! Kamar kamu buat aku ya? Pakaian aku ada di sana. Awas jangan diacak-acak! Kamu tidur di bawah aja.” Aku tak menanggapi perkataan Nafisa. Tetap melenggang masuk ke kamar. Benar saja, di depan lemari, ada dua koper besar. Segera kutarik koper-koper itu keluar kamar. Kemudian mengunci pintu. Aku bergegas membersihkan diri. Mandi, berganti pakaian, dan tidur. *** Satu jam kemudian, pintu kamar digedor-gedor. Sama siapa lagi kalau bukan Nafisa? “Laila!! Buka pintunya!! Koper aku kenapa dikeluarin!! Lailaaaa ....!!” teriakan Nafisa tak kuhiraukan. Daripada meladeni anak gak tau diri itu, lebih baik aku tidur.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
07/05
0keren kak
02/02
0bagus cerita nya
04/07/2025
0Lihat Semua