logo text

Bab 43 Terungkap

Sepanjang jalan aku menangis. Pikiran buruk berkecamuk. Entah bagaimana nasibku jika Damar tidak datang. Aku menoleh pada laki-laki bercambang tipis itu, tatapannya lurus ke depan. Fokus menyetir. Sekarang aku hutang budi.
“Damar, terima kasih,” lirihku merunduk.
“Iya. Udah jangan nangis terus. Mau makan dulu atau langsung pulang?”
“Langsung pulang,” jawabku pelan.
Selang tiga puluh menit, tiba di depan rumah. Mang Karman membuka gerbang. Damar memasukkan mobil ke dalam garasi.
“Sebelum tidur makan dulu,” pesan Damar setelah mematikan mesin mobil. Kami pun keluar dari dalam mobil.
“Ini kunci mobilnya. Aku langsung pulang.”
“Gak masuk dulu?”
“Gaklah udah malam. Pamit, ya?” Aku mengangguk. Setelah Damar pergi, aku bergegas masuk ke rumah.
“Non baru pulang?” sapa Bi Inah saat aku menaiki anak tangga.
“Iya, Bi,” sahutku parah.
“Non, Non Laila gak kenapa-napa?” Bi Inah mendekat. Terlihat panik. Mungkin karena melihat mataku yang sembab.
“Gak kenapa-napa, Bi. Laila ke kamar dulu.”
Aku meninggalkan Bi Inah yang masih terpaku.
Sampai di kamar, aku segera membersihkan diri. Untung saja sudah sholat Isya di kantor. Kulirik jam dinding sudah pukul 23.20, namun mataku masih sulit terpejam, masih penasaran siapa pelaku teror dan orang yang membekapku tadi. Kuambil laptop dan rekaman CCTV villa. Aku ingin melihatnya, barang kali ada sesuatu hal yang terlewati.
Pertama aku mengecek CCTV halaman depan. Kuperhatikan dengan teliti. Kemudian aku cek ruang tengah hingga menit kesepuluh tidak ada yang mencurigakan. Selanjutnya aku klik kejadian di halaman belakang, mendekatkan wajah ke layar laptop. Memerhatikan satu persatu karyawan wanita. Setelah aku hitung, yang berkerumun hanya sebelas orang. Harusnya ada dua belas. Siapa yang gak ada?
Keningku berkerut memikirkan siapa yang tidak ada di sana. Kembali meng-cek satu-persatu wajah mereka.
Kedua mataku melebar saat tahu siapa yang tidak ada di sana
Maura?
Iya, Maura tidak ada dalam kerumunan tersebut. Aku bisa pastikan Maura tidak ada di sana karena penampilan ia jauh berbeda dengan kami. Penampilan Maura sangat culun, mirip film waktu kecil sering aku tonton, film Betty La Fea. Belum lagi perawakan dia yang tinggi besar.
Kalau Maura tidak ada di sana, bagaimana dia tahu soal kardus itu?
Astaghfirullah ... jangan-jangan ....
Tidak, tidak. Aku gak boleh asal menuduh. Aku harus cari keberadaan Maura. Rekaman CCTV aku cek kembali. Mencari keberadaan Maura. Di mana dia sewaktu insiden itu?
Tepat tiga belas belas menit setelah teror, Maura muncul dari belakang Villa yang dihuni karyawan laki-laki membawa satu kantong plastik hitam. Aku cek rekaman CCTV halaman belakang Villa kedua, ternyata di sana gak ada CCTV.
Aku mengikuti Maura yang sudah masuk Villa. Dia nampak acuh dengan kerumunan karyawan yang berbincang-bincang. Langsung masuk kamar yang terletak di dekat ruang tamu. Tak berselang lama, Maura keluar kamar. Duduk di atas sofa, mengambil majalah di atas meja, lalu fokus membaca. Ia tidak mengobrol dengan siapapun.
Ini mencurigakan! Aku harus mengintrogasi Maura lagi. Tapi, apa mungkin dia pelakunya? Motifnya apa?
Bisa jadi penjelasan Maura tempo hari tentang Adam bohong. Kalau begitu, Adam juga harus aku introgasi.
Kulirik jam dinding, sudah pukul setengah dua. Lebih baik sekarang aku tidur. Besok di kantor, aku harus menceritakan soal ini pada Siska. Semoga saja, langsung terungkap siapa pelaku sebenarnya.
***
Pukul 08.30 Wib aku sudah tiba di kantor. Sengaja datang lebih awal. Ketika di dalam lift, kebetulan sekali bertemu dengan Adam. Ia menyapa seperti biasa.
Keluar dari lift, aku mengikuti Adam ke ruangannya. Kulihat di samping kiri terletak meja Maura.
“Ada apa, Bu?” tanya Adam heran, melihatku tiba-tiba masuk ke ruangannya.
“Kamu bisa ke ruanganku sekarang? Ada hal penting yang mau aku omongin?” ujarku cepat. Takut kalau-kalau Maura datang.
“Bisa. Sekarang?”
“Iya. Ayok!”
Adam mengekor hingga masuk ruangan.
Aku persilakan laki-laki berkulit putih itu duduk di kursi yang berseberangan denganku.
“Ada masalah?” tanya Adam.
Aku menghempaskan bokong ke kursi. Menyimpan tas di atas meja. Kemudian menatap Adam intens.
“Adam, kamu salah satu karyawan kami yang sangat royal dan salah satu karyawan kami yang bekerja saat awal-awal perusahaan ini berdiri.”
“Iya. Terus?”
Aku mengembuskan napas.
“Apa kamu tau, kejadian teror yang di Villa?”
“Teror? Teror apaan?” Adam terlonjak. Mengubah posisi duduk menjadi lebih serius. Aku menyandarkan tubuh sambil memijat pelipis. Rupanya benar, Adam Cuma dijadikan kambing hitam. Adam benar-benar tidak tahu kejadian itu, terlihat dari ekspresi wajahnya.
“Laila, teror apa? Ceritalah! Kita udah lama saling kenal. Ada apa sebenarnya?” Kini Adam tidak memanggilku dengaj formal. Ya kami memang sudah lama berteman.
Aku membuka mata. Adam memang sudah lama mengenalku bahkan sebelum perusahaan ini berdiri. Ibunya Adam adalah teman pengajian Ummi. Dulu, Adam pernah cerita, kalau Ummi telah membantu biaya operasi kista yang dialami ibunya.
“Apa ada hubungannya dengan perusahaan?” celetuk Adam.
“Entah. Jadi, waktu di Villa sempat ada teror. Ada yang naro dua bangkai ayam di dalam kardus. Kardusnya itu mirip kardus yang kamu pakai buat kue pie. Nah semalam, ada seseorang yang membekap mulutku. Untung saja Damar datang. Dia nolongin aku.” Adam tampak serius menyimak ceritaku.
“Adam, apa kamu ada masalah dengan Maura?” tanyaku hati-hati. Adam menelan saliva. Dia nampak gugup.
“Kenapa kamu tanya itu?”
“Aku lihat kamu tampar dia waktu di Villa. Kalau aku boleh tau ada apa sebenarnya?”
Adam membuang muka. Dia nampak ragu menjawab.
“Jujur, aku curiga sama Maura.” Tukasku. Adam menatapku. Ia menumpu tangan di atas meja.
“Begini Laila. Aku emang tampar dia. Soalnya dia ngancem mau nyakitin wanita yang aku cintai, kalau aku gak mau nikahin dia. Maura ... Maura sekarang lagi hamil,” ucapan Adam membuatku tersentak.
“Kamu hamilin dia?”
“Oh, enggak-gak. Dia dihamilin laki-laki lain. Justru itu aku gak mau nikahin dia. Oke, aku cerita dari awal.” Adam menarik napas panjang. Menarik kursi agar lebih kedepan.
“Selama ini kan, aku sama dia satu ruangan. Sekitar tiga bulan lalu, Maura ungkapin perasaannya. Tapi aku tolak. Aku Cuma anggap dia teman, gak lebih. Suatu waktu, dia nge-cek hape aku. Dia liat foto-foto perempuan yang aku cintai. Maura marah. Katanya dia cemburu. Terus dia nangis-nangis. Aku kejar Maura sampai parkiran. Di sana dia bertemu Rano. Mereka berpelukan. Aku pikir mungkin nenangin Maura yang lagi nangis. pulang kerja mereka pulang bareng. Malam harinya, aku gak sengaja lihat Rano dan Maura keluar dari hotel. Waktu itu aku lagi nongkrong di cafe yang bersebrangan sama hotel tersebut. Bahkan aku sempat memotretnya. Sebentar!” Adam mengeluarkan handphone, lalu menyodorkannya padaku. Di sana nampak Rano sedang merangkul pinggang Maura.
“Ok. Terus hubungannya sama aku apa?” tanyaku berharap mendapat jawaban dari Adam. Adam mendesah.
“Kalau benar Maura pelakunya, itu karena ... karena wanita yang aku cintai itu kamu.”
Aku memundurkan badan.
“Maaf, Laila. Aku tau, aku udah lancang punya perasaan ini. Tapi aku juga gak bisa cegah. Kamu tenang saja, walaupun aku mencintaimu, tapi aku gak minta kamu buat balas cintaku. Laila, tolong jangan marah. Please ... jangan pecat aku. Biar aku di sini, bantu perusahaan kamu. Kalau bisa, aku ingin lindungi kamu.”
Aku menghela napas panjang. Kemudian tersenyum.
“Gak apa-apa Adam. Aku ngerti sama perasaan kamu.”
“Maaf, Laila. Perasaanku ternyata malah bikin kamu celaka.”
Suara pintu terbuka.
“Laila!!” Seru Siska.
Siska dan Damar masuk ruangan tanpa mengetuk pintu. Siska menarik kursi dekat Adam lalu duduk. Sementara Damar berdiri di sisi kiri Siska.
“Ada apa?” tanyaku. Wajah Siska dan Damar terlihat serius sekali.
Siska menoleh ke arah Adam.
“Gak apa-apa, Sis. Adam bisa dipercaya. Oh iya, aku punya kabar tentang pelaku teror.”
“Gue juga. Semalam Damar langsung telepon gue. Dia cerita soal yang lo alami semalam. Dan, tadi pas diparkiran, Damar nemuin gelang ini. Damar bilang, itu kayak gelang pelaku.” Siska menyerahkan gelang. Di sana ada inisial M.
“Lho itu kan gelangnya Maura.” Celetuk Adam.
Aku, Siska dan Damar serempak menoleh.
“Lo serius?” Siska meyakinkan.
“Iya. Maura bilang, itu gelang pemberian kakaknya.”
“Maura gak punya kakak!” timpal Siska.
“Gue tahu keluarga Maura. Rumah gue gak terlalu jauh dari tempat tinggal dia. Maura anak pertama.”
“Sebentar, kayaknya aku pernah ... Astaghfirullah, itu kan gelang yang semalam aku tarik pas peneror itu membekap mulut aku!!” Aku berbicara dengan nada tinggi.
“Jadi, benar pelakunya Maura. Ya udah, lo suruh Silvi panggil Maura ke sini.” Titah Siska. Aku mengangguk mantap.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Maura tidak langsung berjalan ke arah kami. Dia mematung di ambang pintu, matanya menatap kami satu persatu.
“Masuk aja, Maura.” Aku menyuruhnya masuk. Adam berdiri, mempersilahkan Maura duduk.
“A-ada apa?”
“Maura, mending sekarang lo jujur. Lo kan pelaku teror itu?” cecar Siska tanpa basa basi.
Maura tidak langsung menjawab. Dari balik kaca matanya kulihat Maura menatapku tajam.
“Jawab Maura!!!” Gertak Siska. Mendorong bahu Maura.
“Iya. Akulah pelakunya!” tantang Maura.
Siska meradang. Dia mendorong kursi yang diduduki Maura
“Brengsek! Mau lo apa, heh??” Siska menarik kerah kemeja Maura.
“Siska tahan, biarkan Maura cerita dulu,” ucapku. Siska melepaskan tangannya.
“Semua ini gara-gara kamu, Laila!!!” tunjuk Maura ke arahku sambil berdiri.
“Eh, lo jangan songong! Apa masalah lo sama Laila??”
Maura duduk kembali. Ia membenarkan letak kaca matanya. Lalu menoleh pada Adam.
“Aku cinta sama Adam. Tapi Adam, malah mencintai dia!! Aku gak terima. Aku sakit hati. Adam yang selama ini baik ternyata Cuma anggap aku sebagai adik!! Tiga tahun aku nunggu cinta Adam. Pokoknya Adam harus nikahin aku, sekarang aku sedang hamil. Kamu harus tanggung jawab, Adam!!”
“Maura! Sadar! Aku gak pernah nyentuh kamu! Kenapa harus aku yang bertanggung jawab??” Adam tidak terima.
“Iya! Emang bukan kamu yang ngehamilin aku, tapi aku ... aku cinta kamu Adam ... aku sayang kamu!”
“Eh! Lo tuh aneh! Minta tanggung jawabnya sama laki yang ngebuntingin lo, Maura!” imbuh Siska.
“Aku gak mau. Gak mau nikah sama dia. Aku gak cinta dia. Aku cintanya sama kamu, Adam ....”
“Aneh! Lah terus, alasan lo teror Laila Cuma karena cemburu doang? Gila lo ya?” Siska berbicara sinis.
“Kalau Adam tidak bisa aku miliki, perempuan lain pun gak boleh miliki Adam!! Aku gak akan biarin hidup wanita yang dicintai Adam tenang. Hahahaha” Sengit Maura menatapku sembari tertawa.
“Udah keganggu jiwanya nih orang. Terus lo tempo hari nuduh Adam pelakunya, tujuan lo apa?”
“Apalagi? Selain membuat Laila benci Adam.” Maura tersenyum sinis.
“Udah-udah, sekarang mending lo ke kantor polisi. Lo harus tanggung jawab atas perbuatan yang udah lo lakuin!” Damar menyela.
“Aku gak mau! Kalian gak ada bukti kalau aku pelakunya! Hahahaha ....” Elak Maura sembari tertawa.
“Laila, harusnya semalam kamu mati!! Gara-gara ada bocah ingusan itu, misiku jadi gagal. Kalau kamu mati, aku pastikan Adam akan menjadi milikku. Betul ‘kan, Dam?”
“Enggak! Lebih baik kamu minta tanggung jawab sama Rano. Dia yang udah ngehamilin kamu Maura! Rano bapak dari bayi yang kamu kandung!”
“ENGGAK!! AKU MAU KAMU ADAM!!”
“Eh, kalau lo mau sama Adam. Kenapa ngelakuin ‘itu’ sama Rano?” Siska meledek.
“Aku khilaf,” sahut Maura.
“Khilaf kok sampe hamil? Dahlah, ayok Damar! Kita jeblosin si Maura sama Rano ke kantor polisi! Gue udah muak lihat muka mereka berdua.” Siska menarik lengan Maura.
“Enggak! Kalian gak punya bukti apa-apa. Kalian gak bisa masukin aku ke penjara! Lepasin Siska!!” Maura berteriak histeris.
“Pengakuan lo barusan udah gue rekam. Ditambah rekaman dari CCTV, dan juga bukti gelang ini,” jelas Damar.
Maura tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia langsung diseret Siska keluar ruangan.
“Laila, lo di sini aja. Biar gue sama Damar yang bawa si Betty ke kantor polisi.”
“Iya.” Aku sudah tak dapat berkata-kata lagi. Maura yang terlihat polos ternyata memiliki jiwa kriminal hanya karena cemburu. Ya Allah ... terima kasih, Engkau masih melindungi hamba. Aku menutup wajah.
“Maafin aku, Laila.” Adam angkat bicara. Aku memandang Adam tersenyum.
“Iya. Maaf, Adam. Aku hanya anggap aku teman. Maafin aku.”
“Gak apa-apa, Laila. Justru aku yang minta maaf, gara-gara perasaanku ini, nyawa kamu hampir melayang.”
“Iya. Gak apa-apa.”
“Aku pamit keluar ya. Mau lanjut kerja.”
“Iya silakan.”

Komentar Buku (108)

  • avatar
    Iham1nada

    mantap

    07/05

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    keren kak

    02/02

      0
  • avatar
    DindaDinda

    bagus cerita nya

    04/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru