PoV Haris Tiba di apartemen, Tante Susi langsung merebahkan tubuh moleknya di atas kasur ukuran king size. Tak kusangka, tante Susi memiliki apartemen yang cukup mewah. “Sini, Sayang,” panggil tante Susi menjentikkan jarinya. Aku mengulas senyum sambil berjalan mendekati tante Susi yang tidur dengan posisi miring. Belahan gunung kembar wanita yang usianya hampir setengah abad itu terlihat jelas. Aku menelan saliva. “Kenapa sih masih malu-malu?” tanya tante Susi, kini jarinya membelai tanganku. “Bukan malu, Yangsus ... tapi mau ....” jawabku sembari menjawil dagunya. Tante Susi tersenyum nakal. Menit berikutnya kami sudah tenggelam dalam lautan gairah birahi yang sudah memuncak. *** Pukul delapan malam, tante Susi sudah bersiap-siap pulang. “Kenapa gak nginep di sini aja sih, Yang?” Aku bertanya sembari memeluk pinggangnya dari belakang. “Malam ini gak dulu. Aku ada janji sama seseorang.” “Seseorang apa simpanan?” Aku bertanya ketus, Melepaskan pelukanku pada janda bohay itu. “Hahahahaha ... kamu cemburu? Sudahlah, ini soal bisnis. Dah ya, aku pulang dulu.” Cup Tante Susi mencium pipiku, kemudian keluar apartemen. Kepergian tante Susi membuatku berpikir, meraba isi hati sendiri. Apa benar, aku telah jatuh cinta pada janda tanpa anak itu? Gak mungkin, seorang Haris Prayoga jatuh cinta pada seorang janda apalagi tante Susi usianya jauh lebih tua dari pada aku. Lebih baik sekarang tidur. Rasanya lelah sekali tiap berhubungan dengan tante Susi. Gairah nafsunya luar biasa. Membuatku sedikit kepayahan mengimbanginya. Kadang, sebelum melakukannya, aku minum obat kuat terlebih dahulu, Supaya tante Susi terpuaskan tentunya. Aku tersenyum mengingat pertarungan kami tadi. Tante Susi luar biasa. The best! *** Pagi hari, aku memanggang roti tawar untuk sarapan. Sambil sarapan, pandanganku mengitari sekeliling. Sepi, itu yang kurasa. Biasanya kalau sarapan, suara Ibu selalu menemani. Berbicara apa saja. Terkadang ngomel-ngomel gak jelas. Walaupun menjengkelkan tapi aku sudah terbiasa. Justru sekarang merasa kehilangan sosok ibu. Aku mendesah. Meraih handphone. Hendak menelepon Ibu. “Hallo, Bu?” sapaku, begitu telepon diangkat. “Ngapain kamu telepon ibu? Belum puas nyakitin hati Ibu, heuh??” Ibu langsung marah-marah. Aku tersenyum mendengar omelan Ibu. “Haris kangen Ibu. Ibu udah sarapan?” “Belum.” “Kok belum? Ibu masih di kontrakan tante Susi ‘kan?” “Enak saja! Gak sudi ibu tinggal di sana lagi! Udah sumpek, gerah, bau! Gak levellah ....” jawab Ibu dengan nada emosi. “Sekarang Ibu tinggal di mana?” Aku mulai panik. Jangan-jangan Ibu gak punya tempat tinggal. Luntang-lantung di jalanan. “Di rumah Meyla!” tukas Ibu. Aku mengernyitkan kening. “Kok Ibu bisa tinggal di sana?” “Bisalah. Meyla itu udah kepincut sama kamu, Haris ... dia udah ngasih lampu hijau, kamunya malah milih janda gatel si Susi!” suara Ibu terdengar geram. “Ibu jangan mimpi terus. Bisa saja si Meyla Cuma mau harta kita.” Ucapku lemah. Ibu tertawa menanggapi ucapanku. Dari hari ke hari, kelakuan ibu semakin aneh saja. Kadang tiba-tiba menangis, kadang tiba-tiba tertawa. Suatu malam aku pernah memergoki Ibu berbicara sendirian di depan cermin. Dia seperti berbicara dengan seseorang. Pernah juga, melihat Ibu tertawa tengah malam berdiri di dekat jendela kamar. Tapi tertawanya hilang, berakhir dengan isak tangis yang pilu. Aku sempat berpikir, kalau Ibuku itu mengalami gangguan jiwa. Dan sempat juga berniat membawanya ke rumah sakit jiwa. Tapi suatu waktu ibu seperti orang yang normal. Entahlah kenapa sikap Ibu jadi berubah aneh semenjak aku dan Laila bercerai. “Ibu tidak mimpi, Haris!! Ibu sekarang memang benar tinggal di rumah Meyla. Dan asal kamu tau ya? Anggapan kamu dan si janda gatel itu tentang Meyla cewek matre salah besar!!” Suara Ibu meninggi. Ibu masih saja membela Meyla. Sudah jelas uang aku dikuras habis dalam satu hari dua puluh juta, masih dibilang gak matre! “Masa?” tanyaku tidak yakin dengan perkataan Ibu. “Iya, dong! Makanya kamu tinggalin si Susi! Dengerin omongan Ibu!” “Emang gimana ceritanya Ibu bisa ngenilai si Meyla gak matre?” selidikku. Ibu mengembuskan napas. “Jadi, kemarin itu, ibu nemuin si Laila. Tadinya minta si Laila terima Ibu tinggal di rumahnya lagi, tapi si Laila sombong! Dia malah usir ibu dari perusahaannya.” “Ya ampun Ibu ... kenapa sih masih saja ngerengek tinggal di rumah Laila? Aku sama dia udah bukan suami istri lagi, Bu. Malu-maluin aja!” Aku benar-benar kecewa dengan sikap ibu. Kenapa harus minta tinggal di rumah Laila? Kayak gak punya harga diri saja. “Lah dari pada Ibu tinggal di tempat pemberian si Susi?? Nanti yang ada dia minta macam-macam balik.” “Ya terus?” “Nah pas Ibu udah keluar dari kantornya si Laila, tiba-tiba Meyla telepon. Ngajak ketemuan. Ibu seneng banget dong. Akhirnya Ibu ajak dia ketemu di restoran deket kantor si Laila. Ya ... daripada ketemu di kontrakan yang bau apek itu?!” Ibu masih saja nyolot kalau bicara soal kontrakan tante Susi. Padahal kami tidak bayar sama sekali. Tante Susi menggratiskan kontrakan itu yang penting aku selalu siap sedia kalau ia minta ditemani. Begitu mudahnya ternyata mencari uang. “Terus?” “Singkat cerita, pas Meyla mau bayar makanan di restoran, dompet dia ketinggalan. Katanya saking buru-buru, dia takut Ibu kelamaan nunggu. Duh ... Meyla itu calon menantu idaman. Perhatian banget!” Baru segitu aja Ibu sudah membanggakan Meyla. “Terus?” “Haris! Dari tadi kamu bilang terus-terus mulu?! Emangnya ibu mobil yang lagi diparkirin???” Sungut Ibu berapi-api. “Maaf, Bu. Setelah itu gimana lagi ceritanya?” Terdengar helaan napas Ibu. Mungkin untuk meredakan emosi. “Ya ... karena Meyla gak bawa dompet, akhirnya Ibu yang bayarin semua makanan itu.” “Berapa duit emang?” “Hmmm ... empat jutaan.” “Apaa??? Ibu ini gimana sih? Itu namanya si Meyla matre!! Haris kan udah bilang, Bu ... si Meyla Cuma morotin duit kita doang!!!” Aku benar-benar gak habis pikir sama sikap Ibu. Mau saja disuruh bayarin makanan ampe jutaan gitu. Sudah tau lagi susah cari duit, ini yang ada malah dihambur-hamburin. Aku mengacak rambut. Tingkah Ibu menyebalkan! “Tenang dulu, Hariis ... Meyla ngegantiin uang ibu kok! Dengerin dulu! Ibu belum selesai cerita!” Aku mencebik tak percaya. “Oke, oke, Haris dengerin!” “Kamu tuh kayak emak-emak aja, belum apa-apa udah ngomel!” “Iya, maaf, Bu. Ya udah lanjut ceritanya. Jadi, Meyla gantiin uang Ibu?” “Iya dong ... jadi pas nyampe di rumahnya. Ibu langsung di ajak Meyla ke kamar tamu khusus keluarga Meyla. Kamarnya luaaaaasss ... banget. Lebih luas kamar tamu si Meyla dari pada kamar Ibu yang di rumah Laila!” Aduh, Ibu ini bicaranya malah muter-muter. “Pas Ibu duduk di sisi ranjang, Meyla bilang mau gantiin uang Ibu. Dia keluar kamar. Gak lama, beneran Har, dia bawa uang empat gepok!” Aku tidak menanggapi. Menunggu kelanjutan cerita Ibu. “Haris, hallo? Kamu masih dengerin Ibu ‘kan?” “Masih, Bu ....” “Bagus ... sekarang kamu udah tau kan kalau Meyla gak matre?” “Hm.” “Habis itu, si Meyla ngasihin uang itu ke Ibu. Tapi, ibu pura-pura nolak. Kalau langsung Ibu terima, nanti dia tau kalau Ibu butuh uang. Jadinya, ya ... Ibu pura-pura nolak aja!” celetuk Ibu. Aku mengerutkan dahi, tak mengerti cerita Ibu. Sebenarnya uang Ibu dikembalikan apa tidak? Bukan, tepatnya uang tante Susi yang digunakan Ibu untuk membayar makanan di restoran, diganti apa gak? “Jadi, sekarang uang Ibu udah kembali yang empat jutaan itu?” “Kamu nyimak omongan Ibu gak sih? Tadi kan Ibu bilang, ibu pura-pura nolak uang yang diganti Meyla supaya dia gak mikir kalau Ibu butuh uang!!” tandas Ibu. Aku menggelengkan kepala. “Intinya, Ibu nolak uang dari Meyla dan sekarang uang Ibu sisa sejuta?” “Iya.” Ibu menjawab ringan. Aku memejamkan mata. Merasa kecewa dan kasihan sama Ibu. “Astaga, Bu ... itu namanya Ibu dimanfaatin Meyla. Dia udah morotin uang kita sebanyak, dua puluh empat juta, Buuuuu??” “Enggak, Haris! Meyla udah niat ganti kok, Cuma Ibu aja yang pura-pura nolak!” Ibu masih saja mengelak. Aku menggelengkan kepala. “Terserah Ibu dah!!”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
07/05
0keren kak
02/02
0bagus cerita nya
04/07/2025
0Lihat Semua