logo text

Bab 28. Hari Bahagia

Gedung bercat putih dengan dekorasi nuansa biru langit ini menjadi saksi Mas Abi telah mengucapkan akad nikah untukku. Janji suci mengarungi bahtera rumah tangga yang bahagia telah priaku katakan di hadapan semua tamu yang hadir.
Aku menoleh pada pemilik hati ini, senyumnya yang manis membuatku candu. Pria paling gigih dan paling baik yang pernah kukenal kini telah menjadi suamiku. Ada sesuatu yang hangat, menjalari hati ketika untuk pertama kalinya Mas Abi menggenggam tangan ini erat. Mengusap-usap dengan penuh sayang.
“Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini, Sa?” bisiknya di telinga. Aku menoleh ke arahnya, membuat mata kami kembali bertatapan, pun hidup Mas Abi menempel di pipiku. Membuat pipiku bersemu merah serta tubuh ini bagaikan disengat aliran listrik.
Ini bukan pertama kalinya bagiku jatuh cinta kepada seorang pria yang bergelar suami. Akan tetapi, kenapa bersama Mas Abi terasa lebih indah dan membuatku melayang? Apa karena pernikahan kami berbeda?
Saat menikah dengan Mas Dirga dulu, kami sama-sama belum memiliki perasaan cinta. Butuh perjuangan panjang untuk meraih hatinya yang sempat membeku untukku. Namun, bukan takdir kami untuk bersama, sehingga Allah menyatukanku sekarang dengan pria yang ada di setiap suka dan dukaku.
Berbeda dengan Mas Dirga, bersama Mas Abi cinta kami telah bersemayam sebelum pernikahan ini berlangsung. Dengan kesungguhannya memperjuangkan hubungan kami yang sempat tidak berjalan mulus dan penuh rintangan, itu membuatku yakin dengan janjinya untuk berbagi kasih dengannya. Menyerahkan segala jiwa raga ini untuknya.
“Aku pria paling bahagia di muka bumi ini telah mendapatkan istri sepertimu. Wanita yang setiap malam selalu menjadi bunga tidur di setiap malamku,” tambah Mas Abi membuatku semakin ingin menenggelamkan diri ini. Mungkin bila orang melihat, wajah ini sudah memerah bak kepiting rebus.
“Mas Abi jangan ngegombal,” ucapku sambil memalingkan muka ke arah lain. Mencoba membenahi dudukku yang terasa tidak nyaman. Suamiku terkekeh melihat reaksi istrinya ini.
“Mas enggak ngegombal, Sayang. Semua yang Mas katakan benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam.”
Mendengar kata ‘Sayang’ yang terucap dari mulut Mas Abi membuatku seketika kembali menoleh. Tubuh kami semakin berdempetan ketika suamiku terus bergeser ke arahku. Mas Abi mulai mengikis jarak di antara kami. Wajahnya mulai mendekat, membuat setiap embusan napasnya menerpa kulit pipiku.
Kami sama-sama saling berpandangan, sampai suara seseorang mengejutkan kami, membuat Mas Abi seketika menjauh dariku.
“Sa, Mas Abi. Jangan di sini. Kalian ini, ya. Mentang-mentang sudah sah enggak ingat tempat. Ini kan masih di pelaminan,” sungut Ami sambil terkekeh seolah ada yang lucu. Aku menyenggol badan sahabatku itu saat melihat Mas Abi terlihat malu.
Tawa Mia semakin membahana, tatkala melihat Mas Abi, sampai-sampai mengeluarkan air mata.
“Masa sekarang malu. Padahal tadi enggak lihat tempat buat bermesraan.”
“Mi ....” Aku menatap sahabatku itu sampai ia berhenti tertawa. Sedangkan Mas Abi, dia malah bergantian terkekeh. Katanya, itu hanya sandiwara saja. Padahal, yang kulihat tadi, ia benar-benar terkejut saat Ami mengejutkan kami.
“Ngomong-ngomong, Azzam dan Azzurra di mana, Mi?” tanyaku mengingat mereka sama sekali belum terlihat kembali sejak tadi.
“Ada. Sama Papanya tadi di dekat prasmanan. Nyari es krim katanya.” Aku menggeleng mendengar ucapan Ami. Mereka memanfaatkan situasi untuk mendapatkan es krim. Jika, bersamaku pasti sering dilarang, kalau bersama papanya segala yang kedua putraku mau pasti dituruti. Apalagi Mas Dirga selalu memanjakan mereka.
Dari kejauhan dapat kulihat Azzam dan Azzurra menghampiri kami dengan Mas Dirga di belakangnya. Mantan suamiku itu tersenyum lalu memberikan selamat untukku dan Mas Abi. Ia juga sampai memeluk serta seperti membisikkan sesuatu kepada suamiku. Entahlah, apa yang dia katakan?
**
Debur ombak terdengar menyejukkan hati kami yang saling menggenggam tangan. Angin malam yang dingin berembus menusuk tulang. Kurapatkan baju hangat yang melekat di badan, berharap dapat menghangatkan tubuh yang mulai menggigil. Mas Abi menoleh saat gerakanku terlihat olehnya.
“Ada apa, Sa? Kamu enggak apa-apa, kan? Kamu kedinginan?” tanya Mas Abi dengan nada khawatir.
Aku mengangguk sambil tersenyum, mengiyakan ucapan suamiku. Tanpa diduga, Mas Abi merangkul tubuh ini. Menjalarkan kehangatan dari suhu badannya dalam dekapan. Membuatku menegang bagai disengat aliran listrik.
Tubuh ini mulai kaku. Aku menggigit bibir bawah, tetapi bukan karena merasa hawa semakin dingin. Melainkan merasakan kegugupan yang mulai merajai jiwa. Bertahun-tahun mengenal Mas Abi tak pernah sekali pun merasakan hal ini.
Dekapan dari Mas Abi baru pertama kali kurasakan. Pipi ini mulai memanas, tatkala Mas Abi menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.
“Kamu tahu, Sa. Dalam hidupku, baru pertama kalinya tergila-gila pada seorang wanita. Awalnya, aku tidak percaya akan adanya cinta pada pandangan pertama. Tapi, segalanya terbantahkan dengan hadirnya kamu,” ucapnya dengan suara pelan. Kami sama-sama menikmati malam yang dingin ini berdua.
Menatap bintang yang mulai berkelap-kelip, serta bulan mulai menampakkan cahaya saat awan yang menghalangi sinarnya mulai pergi menjauh.
Ombak di depan kami mulai bergulung-gulung berkejaran. Suaranya menentramkan hati, membuatku mulai menikmati suasana sekitar. Apalagi semilir angin menerpa wajah kami.
“Mas, ada yang ingin kutanyakan,” tanyaku sambil melepaskan dekapannya. Lalu, berbalik membuat kami saling berhadapan. Tautan mata kami saling beradu, aku mulai menyelami apa yang ada di pikirannya melalui mata Mas Abi.
“Kamu ingin bertanya apa, Sa.”
“Kenapa Mas Abi jatuh cinta dan memilih seorang janda sepertiku? Bukankah masih banyak wanita lain yang pantas untuk Mas Abi? Apa yang menjadi alasan Mas ingin memilikiku?” tanyaku, membuat suamiku itu tersenyum dan kami masih di posisi yang sama.
“Kamu sungguh-sungguh ingin tahu apa yang membuat aku jatuh cinta padamu?”
Aku mengangguk sambil menyimak dengan sabar apa yang akan Mas Abi katakan.
“Aku tidak tahu apa yang membuatku jatuh cinta padamu. Yang pasti, segala yang kamu miliki terlihat indah di mataku. Termasuk mata indahmu ini, Sayang. Kalau untuk alasannya, aku enggak tahu. Tidak ada alasan yang harus kujabarkan jatuh cinta padamu, karena semua yang kulihat dalam dirimu hanya sebuah kesempurnaan,”
Lagi-lagi ucapan Mas Abi membuatku seakan terhipnotis. Bagai beribu kupu-kupu beterbangan di perutku mendengar kata-katanya. Aku sangat bersyukur, Allah menghadirkan suami sepertinya yang selalu ada menemaniku di saat masa-masa terpurukku. Mencintai dengan tulus tanpa memaksa untuk berbalas.
Cinta yang awalnya untuk Mas Dirga, perlahan terganti menjadi nama Mas Abi. Namanya kini telah mengisi sepenuhnya hatiku. Pria tersabar, baik, dan bertanggung jawab yang pernah aku kenal.
“Terima kasih. Mas Abi telah memberikan cinta tanpa syarat kepadaku. Rasa yang tulus serta sudah mau menjadi ayah anak-anak sejak dulu sampai saat ini.”
Mata ini mulai berembun, merasakan haru serta bahagia bersamaan. Mas Abi menatap mataku lebih dalam. Mengusap pipi ini tatkala air mata haru ini mulai mengalir di pipi. Dadaku bergemuruh saat Mas Abi mengikis jarak di antara kami. Kutempelkan tangan ke bibir suamiku ketika wajahnya tidak beberapa senti saja dariku kemudian menggeleng. Membuat ia terkekeh mengingat kelakuannya.
“Ups ... maaf. Mas terbawa suasana. Biar enggak ada yang ganggu, lebih baik kita kembali ke kamar. Lagi pula sudah terlalu malam dan udaranya semakin dingin,” paparnya sambil tersenyum.
Aku mengiyakan ucapan Mas Abi. Lalu, mulai berbalik arah di mana kamar kami berada. Berjalan terlebih dulu sedang Mas Abi masih di belakang. Namun, sesuatu yang tidak kuduga terjadi. Aku memekik saat tubuhku melayang di dalam pangkuan suamiku.
Pipi ini mulai kembali memerah bak kepiting rebus. Untung saja, ini sudah malam sehingga tidak ada siapa pun yang melihat kami. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan seberapa malunya aku dalam posisi seperti ini.
Ingin menolak pun tidak mungkin, bagaimanapun Mas Abi telah menjadi suamiku. Ia berhak atas diri ini. Dalam dekapannya, kutenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Merasakan kenyamanan menjadi nyonya Muhammad Abi Satria Baskara. Seorang dokter yang telah menerbangkan menyembuhkan luka hatiku. Menggantinya dengan berjuta kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Komentar Buku (1277)

  • avatar
    CacaAnggi

    bagus

    18/08

      0
  • avatar
    KhasanSaiful

    segala narasi yang kami baca semoga menjadi pelajaran bagi kehidupan kita semua

    01/08

      0
  • avatar
    Ameliaa Delta

    novel nya bagus banget kak

    20/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru