"uh... Jam berapa ini?" Ucap Mahendra dengan suaranya seraknya. Tangannya memegang kepalanya lalu segera duduk dan ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap kekantor. "Kakak!" Ucap Anders yang sambil mengetuk pintu kamar Mahendra dengan kencang. "Siapa yang datang pagi-pagi ke rumah ku?" Ucap Mahendra kesal dan terganggu dengan suara tersebut. "Oh iya aku pulang ke mansion utama, katanya kakek merindukan ku jadi aku pulang kesini setelah berjalan-jalan dengan anak itu" ucap Mahendra yang sedikit asing dengan kamar yang ditempatinya dan ia hampir lupa bahwa dia sedang di mansion utama. (Yang dimaksud dengan anak itu adalah teman masa kecilnya yaitu Varellino). Mahendra memang biasa tinggal sendiri, ia merasa lebih nyaman dan fokus jika tempat itu tenang jadi ia memutuskan untuk tinggal sendiri saja, sejak kecil ia sudah dirawat oleh kakeknya yaitu kakek Bartholomew. Ia memutuskan tinggal sendiri karena kebetulan kantornya hampir dekat dengan rumahnya. Alasan lainnya ia memutuskan untuk sendiri tidak lain tidak bukan karena adiknya si Anders, adiknya memang menyayangi Mahendra. Tapi menurut Mahendra adiknya terlalu berisik dan heboh yang membuat Mahendra tidak bisa fokus jika sedang bekerja di rumah. Anders adalah termasuk orang yang ramah dan hangat ia dibesarkan oleh kasih sayang. Anders dilahirkan di luar negeri karena ayah dan ibu Mahendra yang termasuk orang tuannya Anders, sedang bekerja disana, Mahendra dititipkan oleh kakek Bartholomew karena ayah dan ibunya merasa Mahendra akan menyusahkan mereka saja. Mahendra dibesarkan oleh kejamnya hidup walaupun setelah bertemu kakeknya hidupnya jadi sedikit membaik. "Kakak! Apa kau belum bangun?" Ucap Anders lebih keras. "Hei anak kecil kau tidak usah berteriak di depan pintu kamar ku" ucap Mahendra yang sedang bersiap-siap. "Oh kau sudah bangun ya yasudah" ucap Anders lalu ia segera kembali ke ruang makan. "Apa kakak mu sudah bangun?" Ucap kakek Bartholomew. "Sudah kek ia sedang bersiap-siap" ucap Anders. Dan tak lama setelah itu Mahendra pun langsung keluar dari kamarnya menuju ruang makan. "Selamat pagi Mahen cucu ku" sapa kakek Bartholomew dengan hangat. "Pagi juga kek" ucap Mahendra yang akan duduk di dekat kakeknya. "Bagaimana tentang bisnis mu?" Tanya sang kakek. "Semuanya lancar kek" ucap Mahendra. "Ya kakek tau kau memang sangat berbakat dalam bisnis" ucap sang kakek sambil tersenyum lebar. "Nah ayo dimakan" ucap sang kakek pada kedua cucunya itu. "Nak setelah makan kau duduk dulu di halaman mansion kita berbincang dulu sambil menikmati pemandangan yang indah" ucap sang kakek. "Tapi nanti aku bisa telat kerja kek" ucap Mahendra. "Kakak ini setiap pulang ke mansion utama pasti hanya numpang tidur saja" ucap Anders menyindir kakaknya. "Saya sibuk Anders" ucap Mahendra sambil menatap Anders. "Setidaknya luangkan waktu untuk keluarga kak bukan untuk keluarga untuk kakek saja" ucap Anders. "Baiklah" ucap Mahendra akhirnya menuruti permintaan Anders dan kakeknya itu. "Yasudah jangan bertengkar kita lanjutkan makan" ucap sang kakek yang senang dengan jawabannya cucunya itu. Saat selesai makan Mahendra pun langsung ke halaman mansion menuruti apa kata kakenya dan disusul juga oleh Anders yang ikut duduk di samping Mahendra. "Kakak kau jarang sekali pulang, apa kau tidak merindukan adik mu ini?" Ucap Andres yang berusaha mencairkan suasana. "Tidak, aku tidak merindukan mu" ucap Mahendra dengan cepat. "Yaampun kejamnya" ucap Anders yang langsung duduk menjauh dari kakaknya. "Anders apakah kakek selama ini baik-baik saja?" Ucap Mahendra yang merasa ia sangat jarang mengunjungi kakeknya. "Iya kakek selama ini baik-baik saja" jawab Anders. "Teruslah menjaga kakek dan terus lah tinggal bersama kakek" ucap Mahendra yang sepertinya meminta adiknya untuk tetap bersama kakeknya. "Iya kak" ucap Anders sambil mengangguk patuh. "Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya serius sekali" ucap sang kakek yang tiba-tiba saja muncul. "Hahaha bukan apa-apa kek" ucap Anders sambil tertawa. "Oh iya kak, aku ingin bertanya, saat itu kau pernah tidak pulang ke rumah mu selama beberapa hari, lalu dimana kau tidur?" Ucap Andres. "Dari mana kau tau?" Ucap Mahendra bertanya. "Saat itu aku ke rumah kakak tapi kakak tidak ada, aku sudah kesana selama dua hari berturut-turut tapi katanya kakak tidak pulang sama sekali selama dua hari itu" ucap Anders menjelaskan. 'saat itu kan aku sedang di rumah sakit menemani Aletta' monolog hati Mahendra. "Aku sedang banyak urusan dikantor dan aku selalu tertidur dikantor" ucap Mahendra mencari-cari alasan. "Nak tetap jaga kesehatan nak walaupun sedang banyak urusan, kakek jadi selalu khawatir jika kau begitu terus" ucap sang kakek khawatir dengan cucu yang keras kepala yaitu Mahendra. "Iya kek aku selalu tidur tepat waktu dan makan tepat waktu walaupun aku sedang berada di kantor" ucap Mahendra mencoba menenangkan sang kakek. "Kak hari ini kau tidak bekerja kan, bagaimana kalau kita bermain golf?" Ucap Anders. "Untuk apa bermain dengan mu kalau ujung-ujungnya kau akan kalah" ucap Mahendra. "Aku sudah banyak belajar kakak jadi aku tidak akan kalah lagi dari kakak" ucap Anders. "Apa kau ingat terakhir bermain golf, kau kalah telak dengan ku Anders" ucap Mahendra yang sambil tersenyum tipis mengingat adiknya yang payah dalam bermain golf. "Kita tanding dulu Kakak baru kita akan tau siapa yang lebih baik nanti" ucap Anders sambil tersenyum tipis ke arah kakaknya. "Oh iya aku ingin menantang kakak lagi bagaimana kita bermain golf dengan berkuda?" Ucap Andres sambil tersenyum kearah kakaknya. "Baiklah, jangan menangis lagi jika kau kalah" ucap Mahendra yang setuju dengan tantangan adiknya. Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju lapangan golf dan mengambil perlalatan untuk bermain golf. "(Kai hari ini aku tidak masuk kerja karena ada urusan dengan Anders)" Ucap Mahendra yang langsung menelfon Kai. "(Oh iya Tn.)" Ucap Kai yang senang. 'akhirnya setelah sekian lama mereka berdua dapat bersama lagi' monolog hati Kai. Mahendra pun langsung menutup telfonnya dan pergi menghampiri Anders. "Kak sebelah sini" ucap Anders yang melambaikan tangannya karena memang posisi Mahendra dan Anders berada sangat jauh. "Kau ingin memilih kuda yang mana kak?" Ucap Anders sambil melihat-lihat kuda yang akan ia tunggangi. Lalu Mahendra memegang salah satu kuda berwarna coklat dan kepalanya ada bercak warna putih dan memiliki kaki yang putih. "Ternyata kakak masih mengingat kuda yang kakak rawat waktu kakak masih remaja ya" ucap Anders. Lalu tak lama setelah itu Anders pun segera memegang kuda berwarna hitam dan memiliki warna putih dibagian kepala dan kaki.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus bangettt
13/03/2025
0Bagus Banget Ja
11/03/2025
0suka sama alur ceritanya🤩
25/02/2025
0Lihat Semua