Bab 8 HP Baru

"Aku dah siapin catatan matematika, sama geografi... " ucap Sofia dengan semangat pada Arman saat jam kosong sebelum pulang.
"Ga dulu deh Sof... Hpku rusak. Aku mau benerin hp dulu hari ini... " tolak Arman dengan wajah lesunya yang tak kunjung hilang.
"Yaaahh... Kok gitu, ga ada tebengan balik dong... " keluh Sofia blak-blakan.
"Sorry ya... Ini urgent banget... " jelas Arman singkat dan tak mau ambil pusing soal Sofia. "Ntar kalo aku dah siap belajar bareng, aku kabarin... " sambung Arman.
Sofia hanya mengangguk lalu kembali ke bangkunya. Harapan dapat tumpangan pulang gratis plus makan siang hilang sudah. Mau tak mau Sofia harus pulang naik angkutan umum.
Begitu bel pulang berbunyi Arman langsung bergegas keluar, tak peduli ada pak Sugiono yang menghadangnya di ikuti beberapa orang entah datang dari mana untuk memberi penyuluhan sekaligus promosi bimbel. Arman terus melangkah ke parkiran dan langsung tancap gas pulang. Hanya satu keinginan Arman hari ini, beli ponsel baru!
Sesampainya di rumah Arman sudah di sambut papanya yang langsung memberikannya uang untuk membeli ponsel baru. Bila dalam ekspektasi Arman ia akan mendapat tiga sampai lima juta, ternyata ia salah. Papanya hanya memberikan uang dua juta, tidak lebih. Niatnya membeli ponsel khusus game terkubur sudah.
"Beli yang penting bisa di pakek aja, " ucap Samud mewanti-wanti putranya sebelum banyak protes.
Arman juga sudah tak mau tawar menawar soal uang ponselnya langsung pergi ke counter ponsel terdekat yang bisa di temuinya. Di belinya ponsel baru sesuai uang yang di milikinya. Tapi saat ia sudah memasukkan email dan sim card. Semua kontak di ponselnya hilang. Chatting di whatsapp juga tak sempat terbackup, hilang semua.
Arman yang semula semangat dan berbunga-bunga kembali lemas mendapati kenyataan tawaran kencan dari sarah hilang tak sempat ia abadikan. Belum lagi foto-foto dan video yang ada di galerinya. Hilang semua tak bersisa.
●●●
Seharian Sarah menunggu balasan dari Arman. Bahkan Sarah yang biasanya tak mau membawa ponsel ke sekolah, hari ini sengaja membawa ponsel. Tapi pesan balasan dari Arman tak kunjung muncul. Selama di kelas juga Sarah terus mencuri waktu untuk mengecek ponselnya tetap saja yang di tunggunya tak kunjung muncul.
"Cie Sarah sekarang bawa hp juga... " goda Siti. "Bucin sama ustadz Arif ya... " sambungnya.
"Ih apaan sih, enggak lah. Ga ada bucin-bucin. Aku nunggu pengumuman give away... " dusta Sarah lalu menunjukkan laman instagramnya.
"O gitu... Give away apa tuh? Kirain kamu ga suka ikut gituan, katamu kayak gitu mengundi nasib... Ga bagus dosa..." tanya Siti meragukan ucapan Sarah.
"A-aku cuma di ajakin... " Sarah mulai kehabisan kata-kata untuk menutupi dustanya.
"Halah ga usah bohong. Kalo emang mau ngebucin juga gapapa kok. Lagian kamu sama ustadz Arif cocok. Sama-sama guru ngaji. Ga usah gengsi buat ngakuin deh... " lagi-lagi Siti mendesak Sarah.
"Astaghfirullah beneran aku ga bucin sama ustadz Arif... " aku Sarah yang malah tersipu malu mendengar pengakuan Siti bila ia cocok dengan Arif.
Kling! Suara pesan notifikasi dari ponsel Sarah yang menunjukkan pesan dari Arif. Sarah langsung menggeser notifikasi yang muncul di ponselnya. Bukan itu yang ia tunggu-tunggu.
Kling! Sekali lagi muncul notifikasi dari orang yang sama dan baru kali ini Sarah merasa benar-benar tidak tertarik pada Arif yang sebelumnya begitu di sukai. Perlahan Sarah merasa ilfil dengan cara Arif mendekatinya dan terus berkirim pesan dengannya. Tapi meskipun bila melihat Arman dengan gaya berandalannya dan sama menemukannya. Kali ini Sarah benar-benar mencari dan menunggu Arman.
●●●
"Abang hpnya baru ya... " ucap Cecil sambil memakai jilbabnya sendiri di depan cermin.
"Iya, masih baru. Masih abang benerin... " jawab Arman lalu membenarkan rambut Cecil yang masih keluar-keluar dari jilbabnya.
"Abang, kalo hp abang dah bener, aku mau telfon mama boleh? " tanya Cecil sambil memakai parfum sendiri.
"Kamu mau ngapain telfon mama? " Arman balik bertanya.
"Ya aku kangen mama, aku mau tau mama sekarang rumahnya dimana. Kalo deket kan kita bisa datengin, ya kan bang? "
Arman hanya tersenyum lalu mengangguk mendengar rencana Cecil.
"Yes! Yes! Yes! Ketemu mama! " pekik Cecil senang lalu memeluk Arman.
"Cecil! Cecil! " teriak teman-teman Cecil yang datang menghampiri untuk berangkat ngaji bersama-sama.
"Aku ngaji dulu ya bang, asalamualaikum! " pamit Cecil dengan semangat.
Arman kembali hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya. Arman langsung mengirimkan pesan pada Yuni bertanya kabarnya juga menceritakan soal ponselnya yang baru saja rusak. Arman menceritakan semua yang sudah di laluinya akhir-akhir ini hingga ketertarikannya pada Sarah meskipun Yuni membalasnya cukup lama. Sampai akhirnya Arman menanyakan soal kabar keberadaan Yuni saat ini.
"Pa... Mama bilang kalo mau ke tempat mama suruh tanya papa. Mama di mana pa? " tanya Arman sambil menunjukkan chatting di ponselnya.
"Sekarang kau belum siap buat ketemu mama kau. Nanti kalau sudah selesai sekolahmu baru ku beri tau... " jawab Samud tanpa melihat chatting di ponsel Arman.
"Aku mau tau, aku berhak tau di mana mamaku! Kenapa aku di persulit buat ketemu! " bentak Arman yang langsung emosi.
"Kau belum siap... " Samud berkeras untuk tidak mengijinkan.
"Kenapa belum siap? " desak Arman.
Sadar bila Arman akan terus berkeras hati untuk menemui mamanya. Akhirnya Samud mengirimkan sebuah alamat ke ponsel Arman.
"Kalau kau mau ketemu, kau sendiri saja. Jangan bawa-bawa adikmu... " ucap Samud mengalah.
Arman hanya diam lalu menyaut jaket dan kunci motornya. Arman langsung tancap gas mencari alamat yang di berikan padanya tanpa babibu lagi. Arman benar-benar penasaran apa yang menyebabkan papanya begitu sulit membiarkannya menemui mamanya. Toh bila bercerai, yang bercerai orang tuanya. Hubungan sebagai suami istri, bukan anak dan orangtua. Tidak ada mantan anak kan?
●●●
Sarah yang tengah mengajar ngaji melihat Arman yang pergi dengan terburu-buru. Lagi-lagi Arman sama sekali tak melihatnya. Bahkan tak melirik sama sekali.
Apa Arman sudah tidak menyukainya lagi? Apa perempuan yang waktu itu sudah menggantikannya? Tapi kenapa Arman masih mendatanginya secara terang-terangan pula mendekatinya di depan perempuan itu... Apa maksudnya? Batin Sarah yang jadi gundah sendiri memikirkan Arman dan perubahan sikapnya yang begitu mendadak.
"Dek Sarah... " panggil Arif karena melihat Sarah yang tidak fokus.
"Eh?! Iya... " saut Sarah kikuk.
"Kenpa ngelamun? " tanya Arif.
"Em.. Enggak, gapapa... " jawab Sarah lalu kembali menyemak bacaan iqro anak-anak setelah sempat teralih karena Arman.

Komentar Buku (107)

  • avatar
    lokfitx

    semangat

    09/03

      0
  • avatar
    Ica

    bagus banget si ga boong

    27/12

      0
  • avatar
    Siti Aisyah

    best

    15/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru