Usai makan malam bersama, Sofia kembali berlajar bersama Arman dan Cecil. Tak ada perubahan hidup yang signifikan pada Arman dan Sofia. Keduanya tetap biasa saja, bahkan keduanya sama sekali belum merasakan indahnya malam pertama karena sama-sama canggung. Tapi meskipun begitu Arman tetap bahagia bisa menikahi Sofia. "Sof, aku mau futsal dulu... " ucap Arman setelah selesai belajar. "Iya... Hati-hati ya... " jawab Sofia sambil merapikan bukunya bersiap mengajari Cecil membaca. "Kamu ga mau ikut?" tanya Arman lalu kembali duduk di samping Sofia. "Enggak, mau belajar dulu sama Cecil... " jawab Sofia lalu menyalimi Arman. "Kamu ga takut aku kecantol cewek lain?" tanya Arman yang ingin memancing cemburu Sofia. Sofia menggeleng. "Kemarin adek yang mana bacanya?" tanya Sofia pada Cecil yang membukakan buku. "Yaudah deh ga jadi futsal... " ucap Aman lesu lalu menyenggol-ngenggol Sofia. "Aku mau nongkrong aja deh... " sambung Arman. "Iya boleh... " jawab Sofia santai. "Kok boleh mulu... " protes Arman. "Ya kan kamu butuh sosialisasi sama teman-temanmu juga. Temenmu laki semua. Gimana aku mo cemburu?" jawab Sofia lalu menghela nafas. Arman langsung cemberut. Arman ingin Sofia cemburu padanya, cerewet atau banyak melarangnya. Arman merasa dirinya tidak berubah setelah atau sebelum menikah kalau seperti ini. Tapi apa yang di sampaikan Sofia ada benarnya juga. Bila tiba-tiba Arman membawa Sofia ke tempat futsal atau tongkrongannya juga tidak menyenangkan. "Arman..." panggil Samud lalu duduk di sofa melihat semua anaknya berkumpul di bawah sambil belajar. "Kau perlu pindah dari rumah. Kau kan sudah menikah. Tak baik bila terus tinggal serumah denganku... " ucap Samud. Sofia dan Arman langsung saling tukar pandang mendengar ucapan Samud yang ada benarnya juga itu "Banyak itu yang dah nikah masih serumah sama orang tuanya... " ucap Arman membela diri agar tidak pindah. "Lagian Cecil lagi seneng sama Sofia... " sambung Arman. Sofia hanya diam sambil menatap Arman dan papanya yang mulai beradu argumen. "Kau bisa tinggal di perumahan punya papa, kau bisa tinggal di sana. Masih ada tiga rumah yang di kontrakan. Bisalah buat modal kau usaha... " ucap Samud yang sudah berpikir bila Arman perlu mulai hidup mandiri. "Tapi Cecil bagaimana?" tanya Arman. "Papa yang urus lah. Papa juga mau menikah... Ada lah nanti orang yang bisa urus Cecil... " jawab Samud. Arman menundukkan kepalanya bingung harus bicara apa. Arman memang sudah menikah tapi bila papanya ikut menikah juga dan ia punya ibu tiri, rasanya Arman juga tidak terima. Meskipun di sisi lain mamanya sendiri juga sudah menikah dan memulai hidup baru tanpa mengingatnya dan Cecil sama sekali begitu saja. "Nanti aku obrolin dulu sama Sofia, Pa," putus Arman kemudian. Arman ingat betul tujuannya menikahi Sofia adalah agar Sofia bisa ia lindungi dengan baik dan benar. Agar ia bisa menjadi tempat tinggal untuk Sofia. Jadi Arman ingin Sofia benar-benar merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya. "Kak Sofia mau pindah?" tanya Cecil sambil menatap Sofia lalu Arman juga Samud. "Tapi aku suka kalo di rumah ada kak Sofia sama abang... " ucap Cecil sedih. "Tidak, tidak pindah sekarang. Kita masih bisa sama-sama... " ucap Sofia agar Cecil tidak sedih. "Dah yuk belajar dulu... " ajak Sofia lembut. ●●● Arman duduk di sofa menunggu Sofia keluar dari kamar Cecil setelah menidurkannya. Arman berencana membicarakan kembali ucapan papanya yang menyuruhnya pindah. Bukan masalah makan apa atau biaya kehidupan selanjutnya yang Arman pusingkan. Tapi Cecil dan statusnya dengan Sofia. Apa lagi mereka hanya nikah siri, bisa-bisa mereka di grebek dan di kira sebagai pasangan mesum yang sedang kumpul kebo. "Sof, keluar yuk!" ajak Arman. "Mau kemana?" tanya Sofia yang baru keluar kamar Cecil. "Kemana aja, ayo ngobrol... " ajak Arman. Sofia duduk di samping Arman lalu menghela nafas. "Mau bahas soal papa tadi?" tebak Sofia. Arman langsung mengangguk. "Jajan wedang ronde?" tawar Arman. "Aku masih kenyang. Tapi kita keluar buat ngobrol dulu ga masalah. Aku ganti baju dulu... " ucap Sofia lalu masuk kamar untuk ganti baju dan sedikit berdandan untuk menutupi bekas lukanya yang masih terlihat. "Yuk!" ajak Sofia yang sudah siap dengan celana jins panjang dan hoodie milik Arman yang biasa ia pakai. "Kamu cantik kalo di ajak pergi, kalo di rumah pakek daster mulu... " komentar Arman. Sofia hanya bisa nyengir mendengar komentar Arman. "Ya gimana di rumah ngurus dapur sama bersih-bersih masa iya pakek baju pergi terus... " jawab Sofia. "Pa, mau kencan sama Sofia... " pamit Arman lalu mengambil kunci motor. "Pergi dulu pa... " Sofia ikut pamit lalu mengintili Arman. Arman dan Sofia sama-sama bingung dan tak punya tujuan. Wedang ronde yang biasanya berjejer di alun-alun kota juga banyak yang tutup kalaupun ada sudah begitu ramai. Tidak kondusif untuk bicara. Warung makan juga tidak menarik untuk keduanya, selain rame karena ada live music, mereka juga sudah makan tadi. Akhirnya Arman memilih ke warmindo tempatnya biasa nongkrong karena bisa hanya pesan minuman. "Jeruk anget... " ucap Arman lalu menatap Sofia. Sofia langsung mengangguk. "Jeruk anget dua... " ucap Arman lalu naik ke lantai dua untuk duduk lesehan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
semangat
09/03
0bagus banget si ga boong
27/12
0best
15/12
0Lihat Semua