Angkot terakhir sudah pergi dan Sofia masih di kamar mandi sekolahan membersihkan bajunya juga kepalanya yang jadi bau. Sofia tidak pernah dekat dengan Anita dan circle pertemanannya meskipun duduk sebangku. Lagi pula Sofia awalnya duduk sendirian, karena wali kelasnya tiba-tiba mengacak tempat duduk sesuai peringkat kelas ia jadi duduk bersama Anita. Besok masih memakai sragam batik yang sama. Sofia hanya punya satu itu saja. Kamar mandi sekolahan juga hanya ada air, tidak ada sabun itupun kran airnya sudah dimatikan dan Sofia masih bau. "Kirain dah ga ada orang, kamu kok basah semua gini... Bau lagi... " sambut satpam sekolah yang berpapasan dengan Sofia yang baru saja keluar dari kamar mandi. "I-iya... Habis di jahilin... " jawab Sofia sambil memalingkan wajah lalu berjalan pulang. Terbayang di pikiran Sofia betapa susahnya ia nanti bila bajunya besok tak kering juga. Perjalanan ke rumahnya memang hanya lima belas menit kalau menaiki angkutan umum, tapi bila berjalan bisa makan waktu lebih dari satu jam. Belum lagi kakinya masih sakit bila di gunakan berjalan. Uangnya juga tidak cukup untuk naik ojek, ingin membeli minuman atau makanan juga tidak bisa. Sofia harus menahan lapar sampai rumah nanti. "Sofia!" teriak Arman yang langsung menghampirinya. Sofia terkejut melihat Arman yang datang menghampirinya dengan motor bebek entah milik siapa. "Ayo naik ku antar pulang! " ajak Arman yang langsung menghentikan motornya di samping Sofia. Sofia sedikit menjauh menjaga jarak membuat Arman mengira bila Sofia masih marah padanya masalah kemarin. "Ayo, dari pada jalan kaki pulangnya... " paksa Arman. "Aku bau... " jawab Sofia pelan, Sofia jadi menyesal sempat marah pada Arman yang mencoba peduli padanya kemarin. Nyatanya sampai sekarang hanya Arman yang peduli padanya, tapi tetap saja bagi Sofia yang kerap di perlakukan buruk menjadi kaget dan bingung hingga tanpa sengaja membentengi diri hingga ketus pada Arman seperti kemarin. "Gapapa... Ayo buruan mau ga nih? " tawar Arman lagi. Sofia sedikit tidak yakin tapi ia tetap menerima tawaran Arman. Apa lagi Arman sudah ganti baju. Jadi tidak masalah bila seragamnya yang basah tak sengaja mengenainya nanti. "Kamu basah gini, kotor, bau, orang tuamu nanti marah gak kalo kamu pulang kayak gini?" tanya Arman. Sofia mendengus pelan lalu mengeka airmatanya. "Marah... Tapi gapapa... " jawab Sofia. Setelah mendengar jawaban Sofia, Arman yang semula hendak ke rumah Sofia langsung putar arah menuju rumahnya. Sofia hanya diam sambil berusaha menyembunyikan tangisnya. Sofia merasa sangat malu sekarang. Ia benar-benar lemah sampai bisa di kerjai seperti tadi dan sekarang ia malah pergi bertamu dengan kondisi kotor begini. "Aku punya detergen sama mesin cuci. Kamu bisa cuci baju sama mandi di rumahku, ku carikan baju gantiku... " ucap Arman begitu sampai sambil membawa Sofia ke belakang. Sofia mengangguk patuh. Sial ia tak bisa menolak bantuan dari Arman. Sofia takut Arman akan melihat sisi lemahnya dan memanfaatkan kondisinya. Tidak, jangan sampai itu terjadi. Jangan sampai ia mencari belas kasihan. "Ini... Papa bilang ada dasternya mama jadi bisa kamu pakek dulu... " ucap Arman sambil memberikan daster batik pada Sofia. Sofia mengangguk sambil tersenyum canggung menerimanya. "Abang!!! " teriak Cecil mencari Arman. "Iya!!! " saut Arman. "Kamu tau cara pakek mesin cuci kan? Nanti pakek aja... " ucap Arman lalu meninggalkan Sofia yang harus membersihkan diri. ●●● Arman baik, baik sekali, bahkan setelah Sofia membentaknya dan memberi jarak di antara keduanya. Arman masih begitu baik dan mau berbesar hati memaafkannya. Bahkan seolah bertanggung jawab atas kejahilan Anita dan gengnya. Sofia jadi merasa bersalah pada Arman. "...Sofia... Aku temenmu kan?... " ucapan Arman masih terngiang di kepalanya. Sofia sadar seharusnya ia juga menceritakan sesuatu soal dirinya pada Arman. Apa lagi Arman sudah pernah menceritakan masalah keluarganya dan alasannya meminta Sofia mengajarinya. Selain itu Arman juga baik padanya. Tidak masalah bila berteman baik dengannya. "Sofia sudah makan?" tanya Samud menawari Sofia yang masih diam memperhatikan mesin cuci yang mengeringkan seragamnya. Sofia menggeleng. "Sudah... " jawab Sofia tidak singkron. Samud tertawa melihat jawaban Sofia. Jelas sekali ia bukan pembohong yang baik. "Aku beli nasi Padang, masih satu bungkus. Kau makan ya... " ucap Samud lalu meninggalkan Sofia dan kembali kedepan menunggu anak buahnya datang satu persatu. "Kak Sofia!" panggil Cecil mengejutkan Sofia. "Ayo makan! Aku juga mau makan. Kita makan sama-sama. Sama abang juga!" ajak Cecil. Sofia mengangguk. Keluarga Arman memang tidak utuh, tapi hangat sekali. Papanya cukup baik meskipun seorang preman. Arman yang doyan berkelahi juga ternyata tidak searogan itu dan Cecil... Dia gadis kecil paling baik dan ceria yang pernah Sofia temui. Bingung rasanya kenapa keluarga seharmonis ini bisa membuat ibunya Arman tidak betah dan memilih cerai. "Makan sof... " ucap Arman yang sudah membukakan nasi padang untung Cecil. Sofia mengangguk. Tak ada percakapan lagi. Arman sibuk makan, Cecil juga berusaha makan sendiri meskipun berceceran. "Arman... " panggil Sofia. "Ha? " saut Arman sambil makan. "Maaf ya, kemarin aku bentak kamu... Aku gak maksud gitu... " ucap Sofia memberanikan diri meminta maaf pada Arman. "Iya gapapa. Kamu bener juga, seharusnya aku ga kepo sama masalah pribadimu... Aku juga salah... " ucap Arman sambil menatap Sofia sekilas. "Aku habis di hajar ayahku... I-itu aib keluarga, jadi aku gak berani cerita... " jelas Sofia lalu mulai makan sementara Arman menghentikan makannya karena terkejut Sofia di hajar ayahnya sendiri. "Nasinya tidak mau berkumpul, susah... " keluh Cecil akan tekstur nasi padangnya. Sofia tertawa pelan mendengar keluhan Cecil dan langsung menyuapinya sembari makan. Hingga semuanya selesai makan, karena sadar ia tak bisa membalas apapun Sofia langsung mencucikan tumpukan piring kotor di wastafel dapur. Arman terus memperhatikan Sofia yang membereskan dapurnya. Sofia terlihat keibuan sekali di mata Arman. Caranya tadi saat menyuapi Cecil dengan sabar juga begitu berkesan bagi Arman apa lagi Cecil yang sulit makan. Sofia terlihat rapuh sekarang. Tidak, tidak hanya sekarang. Dari dulu Arman selalu melihat sisi rapuhnya Sofia, tapi baru sekarang ia benar-benar menyadarinya. "Bajuku dah gak sebasah tadi. Aku mau pulang, kalo kelamaan nanti aku di marahin orang tuaku... " ucap Sofia setelah mengecek bajunya yang cepat kering karena mesin cuci dan cuaca yang cukup terik. "Yah kok pulang... " keluh Cecil sedih. "Iya, lain kali aku main kesini agak lama ya..." Arman tak peduli apa yang di bicarakan Sofia dan Cecil. Arman hanya diam memandangi Sofia dengan alis bertaut. Ia jadi sedikit heran pada dirinya sendiri. Kenapa ia malah jadi terpesona pada Sofia? Ia kan hanya teman... ●●● "Makasih ya... " ucap Sofia tulus setelah turun dari motor Arman. Arman hanya mengangguk lalu buru-buru pulang. Ia enggan berlama-lama dengan Sofia, ia sudah yakin pada Sarah. Kenapa malah goyah hanya karena Sofia tampak keibuan? "Sofia itu kayak korban KDRT... " ucap Samud begitu Arman pulang setelah mengantar Sofia. Arman hanya diam dengan alis bertaut. "Kurus, banyak luka, memar, pincang. Ga mungkin dia ikut tarung bebas... Orang yang jadi korban KDRT biasanya ga mau cerita apa yang di alami... " "Kenapa?" akhirnya Arman tertarik pada ocehan papanya. "Orang-orang bakal melabeli dia lebay, manja, melebih-lebihkan, mendramatisir keadaan. Beberapa orang yang jadi korban KDRT juga mengira kalo yang di alami itu ga boleh di ceritakan soalnya aib keluarga... Kayak istrinya Eddy... " Arman langsung mual terbayang istri salah satu anak buah papanya yang mati setelah pendarahan di otaknya dan tubuh yang penuh memar. "Terus aku harus apa buat bantu Sofia?" tanya Arman sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya berusaha menepis bayangan istri Eddy yang membayangi kepalanya. Samud mengedikkan bahunya. "Bapaknya Sofia bukan anak buahku. Aku ga tau lah harus apa..." Samud acuh tak acuh.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
semangat
09/03
0bagus banget si ga boong
27/12
0best
15/12
0Lihat Semua