logo text

Bab 11 Lost Contact

Arman berkali-kali mengirim pesan pada Sofia karena bingung dengan materi soal perdagangan internasional. Berkali-kali Arman mengirim pesan dan menelfon Sofia tapi tak ada jawaban bahkan tak aktif. Pesan yang di kirim juga hanya centang satu.
Arman sempat merasa marah pada Sofia ketika begitu sulit di hubunginya. Setelah kesepakatan yang ia setujui bersama dan sekarang Arman jelas membutuhkan Sofia. Tak mau lama menunggu Arman langsung mengambil kunci motornya untuk datang ke rumah Sofia.
Tapi belum juga ia menstarter motornya Arman teringat kondisi Sofia tadi. Arman sedikit mengkhawatirkan Sofia, Arman juga memikirkan penolakan Sofia untuk belajar bersama juga. Niatan Arman untuk datang ke rumah Sofia ia urungkan saat itu juga. Arman juga masih menaruh curiga pada luka-luka pada tubuh Sofia. Kesalahan apa yang ia perbuat sampai bonyok begitu.
"...sof, kamu gapapa kan?... " Arman memutuskan untuk mengirim pesan lagi pada Sofia yang jelas tak mendapat balasan. Jangankan balasan terkirimpun tidak.
●●●
"Beli hp? " tanya Tari yang melihat Sofia datang membawa kantung plastik bersablon dari counter.
"Iya, buat komunikasi aja... " jawab Sofia lalu duduk berhadapan dengan ibu tirinya itu, menunjukkan hp hitam putih kwnya nokia.
"Stroberi... " Tari membaca box yang di bawa Sofia. "Berapa? " tanyanya.
"Delapan lima, sama beli pulsa jadi pas seratus... " jawab Sofia lalu mengemasi barangnya dan masuk ke kamar.
Sofia memandangi wajahnya pada pantulan kaca lemarinya yang sudah usang, perlahan tangannya mulai menyentuh luka di wajahnya. Setetes airmatanya mengalir meratapi entah apa yang ia ratapi, rasanya hidupnya hanya bisa di isi ratapan. Tapi sedetik setelahnya ia sadar meratapi nasib tidak akan membuahkan apapun. Ayahnya tetap temparamental, ibunya tetap sudah mati. Mati karena KDRT.
Sofia menghela nafasnya, apa mungkin ia akan bernasib sama seperti mendiang ibunya.
"...arman, kalo butuh aku sms aja. Aku ga bisa pakek wa... " Sofia mengirimi pesan pada Arman.
Sofia enggan menunggu balasan. Badannya terasa remuk, kepalanya masih pusing, badannya juga terasa mulai panas saat hawa dingin mulai menjalar masuk ke kamarnya. Sofia merebahkan tubuhnya menyamankan posisinya sebelum hilang kesadarannya.
"Sofia... Bangun... " panggil Tari membangunkan Sofia. "Badanmu panas... Nanti ke puskesmas ya? " ajak Tari khawatir pada Sofia.
"Ayah kemana? " tanya Sofia.
"Ikut garap proyek ngaspal... " jawab Tari.
Sofia hanya mengangguk lalu kembali tiduran.
"Makan dulu ya... " bujuk Tari yang kembali di angguki Sofia.
"...sof kamu gapapa?..." Sofia tersenyum kecil melihat pesan yang di kirimkan Arman untuknya.
"...aku nanti ga sekolah, aku sakit... " balas Sofia lalu keluar kamarnya untuk sarapan bersama Tari.
●●●
Arman menatap balasan sms Sofia dengan kecewa. Arman sudah menunggu kedatangan Sofia, bahkan ia sudah membeli nasi kuning yang di kemas dalam mika untuk sarapan bersama Sofia.
"Arman... " panggil Anita teman sebangku Sofia yang datang sambil memberikan roti isi buatannya pada Arman.
Arman menunjukkan dua porsi sarapan yang di belinya. "Aku dah ada sarapan... " tolak Arman.
"Kok dua? " tanya Anita kepo.
"Buat Sofia tapi dia ga masuk... " jawab Arman lalu memasukkan sarapannya ke dalam laci.
"Eh Arman, kalo Arman mau belajar bareng... Sama aku juga bisa loh... Ga usah bayar... " ucap Anita menawarkan diri.
"Iya nanti ya... " jawab Arman lalu fokus pada ponselnya menunggu balasan dari Sofia.
"Aku bisa... "
"Halo sof... " ucap Arman lalu berjalan keluar untuk menelpon Sofia. "Sof kamu ngapain pakek sakit segala... "
Anita hanya menatap Arman yang pergi menjauh darinya dan tampak begitu asik bertelepon dengan Sofia.
"It's oke nice try... Seenggaknya kamu dah coba buat deketin... " ucap Sinta menyemangati Anita.
"Mau roti? " tawar Anita pada Sinta yang duduk di belakangnya.
Sepanjang pelajaran Arman tampak begitu tak fokus bahkan Arman beberapa kali tampak melamun atau sibuk berkirim pesan. Sampai saat bel pulang berbunyi Arman sudah langsung siap pergi dari kelas. Tiba-tiba Anita menarik tangannya menahan langkahnya.
"Apa? " tanya Arman.
"Boleh nebeng gak? Aku ga ada yang jemput... " pinta Anita.
"Sama yang lain aja ya, aku buru-buru... Maaf ya... " tolak Arman lalu langsung berlari ke tempat parkir dan tancap gas tanpa menghiraukan Anita.
Arman langsung pergi kerumah Sofia, apalagi tadi Sofia bilang ayahnya sedang tidak di rumah. Arman menyiapkan begitu banyak pertanyaan dan soal-soal yang membuatnya bingung untuk Sofia. Tapi sayang begitu Arman sampai dan mendapati Sofia yang tengah menjaga warungnya jadi sedikit kasihan karenanya. Bagaimana tidak Sofia tampak begitu pucat, luka di wajahnya juga sepertinya belum di obati.
"Kesini beneran... " sambut Sofia lalu mengikat rambutnya yang tergerai.
"Iya dong. Kamu susah di hubungi... " jawab Arman.
Sofia menunjukkan ponsel barunya yang begitu jadul sambil menahan tawa. "Yaudah yuk belajar... Bentar ya aku ambil bukuku dulu... " ucap Sofia santai.
Arman hanya bisa diam melongo melihat ponsel yang di pamerkan Sofia. Sofia yang mengenakan celana pendek juga tanpa sadar menunjukkan kaki mulusnya yang terlihat memar.
"Minum... " ucap Sofia yang datang membawa buku dan alat tulisnya juga bisa segelas air putih untuk Arman. "Maaf ya hpku ganti dulu sementara... " sambung Sofia.
Arman hanya mengangguk lalu meminum segelas air yang di berikan Sofia padanya. "Kemarin aku bingung soal ini loh... " Arman langsung menunjukkan soal yang masih belum di pahaminya, mengalihkan perhatiannya pada pelajaran meskipun Arman penasaran apa yang terjadi pada Sofia.
Sofia yang langsung mendapat pertanyaan dari Arman langsung berusaha menjelaskan sejelas yang ia bisa pada Arman sembari menunjukkan cara mengerjakannya. "Paham kan? Gampang kan? " tanya Sofia.
Arman hanya diam lalu memegang kening Sofia dengan punggung tangannya. "Kamu kenapa sih? " tanya Arman penasaran.
"Mana lagi yang kamu ga paham? " Sofia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengembalikan fokus pada pelajaran sambil menepis tangan Arman yang menyentuh keningnya.
"Sof... Aku ga suka kamu mengalihkan pembicaraan... " ucap Arman dingin lalu menutup bukunya.
"Ku kira aku di bayar hanya untuk mengajarimu, bukan buat membagikan masalah pribadiku ke kamu... " ucap Sofia membela diri.
Arman menghela nafas kesal dengan jawaban Sofia.
"Gimana hubunganmu sama Sarah? Dah ada perkembangan? " tanya Sofia mengalihkan pembicaraan sambil merapikan bukunya dan menumpuk semua jadi satu.
Arman terdiam sejenak menatap Sofia tajam lalu kembali menghela nafas ingin membalas ucapan Sofia tadi yang membuatnya diam tak berkutik. "Bagus, aku mau kencan... " sial Arman tak tega melakukannya.
"Wah! Progresnya bagus juga! " ucap Sofia ikut senang.
"Oh iya jelas! " jawab Arman sedikit ketus, bukan tanggapan seperti itu yang kali ini Arman inginkan dari Sofia. Tunggu tapi sejak kapan Arman tak suka bila ada yang memuji progresif dari hubungannya dengan Sarah. "Sudah belajarnya hari ini... " pamit Arman lalu memasukkan barang-barangnya ke tas.
"Besok kalo aku sehat, aku berangkat sekolah... " ucap Sofia sambil memperhatikan Arman yang berkemas.
Arman hanya menatap Sofia dengan pandangan dingin lalu tancap gas pergi meninggalkan rumah Sofia. Kok aku jadi gini sih... Batin Arman heran sendiri dengan dirinya.

Komentar Buku (107)

  • avatar
    lokfitx

    semangat

    09/03

      0
  • avatar
    Ica

    bagus banget si ga boong

    27/12

      0
  • avatar
    Siti Aisyah

    best

    15/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru