Beranda/Cachtice Castle ; Blood Countess de Ecsed/
97. Suspect
Gustav, Arpad dan Gyorgy bergegas untuk pergi setelah pertemuan dengan Raja Matyas. Gustav yang telah memiliki janji dengan Ellie untuk bertemu di rumah pohon dan bermalam bersama kekasihnya, berpamitan pada Arpad dan Gyorgy. "Aku rasa, Fia dan anak-anaknya lebih baik bermalam di rumahmu saja. Sebab aku ada urusan penting, jadi mungkin aku tidak pulang ke rumah. Di tempatmu, mereka akan lebih aman." Gustav menjabat tangan Gyorgy dengan hangat. Bagaimanapun pembicaraan mereka barusan terkait semakin banyaknya laporan kehilangan gadis-gadis perawan membuat Gustav gelisah. Dia selalu saja teringat Lovisa. Gyorgy tersenyum menyambut uluran tangan Gustav. "Pasti aku akan menjaga mereka, Tuan Gustav. Selain itu, ada Arpad yang juga akan melindungi mereka. Tenanglah. Aku mengerti kamu mengkhawatirkan Lovisa. Aku juga punya anak gadis. Jadi aku paham sekali dengan kekhawatiranmu." Gustav tersenyum dan menepuk punggung tangan Gyorgy lalu menggenggamnya dengan erat. "Aku percaya padamu juga Arpad. Selain keluarga kita, kalian juga perlu melindungi keluarga orang lain, terutama para gadis yang mungkin saat ini sedang di sekap entah di mana. Aku bangga dengan kalian." Kemudian Gustav beralih pada Arpad. "Kumohon, jaga Fia dan Lovisa-ku dengan sepenuh hati. Mereka adalah permata hidupku." Arpad tersenyum getir. "Aku akan menjaga mereka dengan nyawaku, Tuan Gustav. Beritahu aku, bagaimana aku harus bersikap kepada seseorang, yang memperlakukan permata hatimu juga permata hati kami semua dengan kejam?" Gyorgy yang mendengar pertanyaan Arpad sedikit tersentak. Namun dirinya hanya bisa diam sambil menunggu reaksi Gustav. Gustav termenung sejenak, mencoba mencari jawaban paling bijaksana yang bisa dia ucapkan. "Jika, seandainya kalian menemukan pembunuh para gadis perawan tersebut. Lakukan hukuman terberat yang bisa kalian berikan kepadanya. Sebab dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia sudah menjadi penyebab hilangnya permata hati orang tua mereka. Itu sangat jahat." Gustav langsung teringat peristiwa ketika dirinya mencoba untuk menculik anaknya sendiri yang baru lahir dari tangan para pengawal suruhan, namun dirinya tertipu. Sehingga dia harus kehilangan putri satu-satunya yang terlahir dari wanita yang sangat dia cintai di dunia ini. Sampai saat ini, Gustav masih sering merasakan sakit setiap mengingat peristiwa itu. Terkadang, dirinya tak sadar menangis dalam pelukan Ellie setiap kali mereka sedang bersama di rumah pohon. Gyorgy dan Arpad saling berpandangan menatap Gustav. Mereka tahu, Gustav adalah pria yang baik hati, serta memiliki kasih sayang luar biasa terhadap sesama. Sayangnya kebaikan dan kejujuran Gustav membuat dirinya kurang peka terhadap kejahatan seseorang yang terlihat baik. Bagi Gustav, semua orang adalah baik, sampai dia terbukti bersalah. Namun hal itu sering membuat kewaspadaan Gustav terabaikan. Sehingga banyak orang-orang berniat jahat disekitarnya yang tidak dia ketahui. Namun sikap Gustav bukanlah merupakan sebuah kesalahan atau sifat buruk. Jadi baik Arpad maupun Gyorgy hanya bisa merasa prihatin terhadap Gustav. "Kak Gyorgy, apakah penyelidikan terkait kasus hilangnya banyak gadis perawan semakin mengerucut?" Arpad tidak berani menyampaikan dugaan yang sama-sama sudah mereka ketahui bersama. Gyorgy menghela nafas panjang dan setelahnya mencoba menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya lalu menghembuskan perlahan, seolah-olah ingin melepaskan beban berat yang membebani dirinya. Kuda mereka berjalan perlahan beriringan menuju perkebunan Arva tempat tinggal Gyorgy. Keduanya lebih banyak terdiam dengan pikiran masing-masing. Kalaupun mereka saling bicara, akan ada jeda yang cukup panjang untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan. "Hmmm... Ya. Banyak informasi yang telah aku terima terkait kasus hilangnya para gadis tersebut. " Jawab Gyorgy datar. "Dan...?" Arpad mencoba mengorek informasi lebih dalam. "Dan seperti dugaan kita, kemungkinan pelakunya semakin mengkerucut ke arahnya." Gyorgy menjawab pertanyaan Arpad tanpa menoleh sedikitpun. Tatapannya kosong ke arah garis cakrawala yang semakin kelam. Arpad mengerti beban berat yang berada di pundak Gyorgy. "Kita perlu menyelidiki semuanya lebih mendetil, Kak. Sebab ini menyangkut nyawa orang. Dan sebisa mungkin, kita juga tidak menuduh orang yang salah." Arpad mencoba menghibur Gyorgy, juga dirinya sendiri. "Ya, Arpad, kamu benar. Kita akan berhati-hati dalam melakukan penyelidikan, agar kita tidak memberikan tuduhan kepada orang yang salah." "Kak, apakah kita perlu beristirahat sejenak sebelum masuk ke rumah?" Arpad telah melihat bangunan rumah Gyorgy dari kejauhan. Namun mereka berdua dalam kondisi yang sedang galau. Dan itu tidak baik jika dilihat oleh anak dan istri mereka. Gyorgy menatap Arpad lekat-lekat. "Apakah kita tampak seburuk itu, Arpad?" Arpad mengedikkan bahu. "Kita sudah sering mengalami hal berat di luar sana. Berperang melawan musuh dan terluka berkali-kali sampai hampir mati. Namun semua bisa kita lewati dengan baik, kenapa? Karena yang kita hadapi adalah orang yang tidak kita kenal baik. Mudah bagi kita melibas siapa saja selama kita tidak mengenal mereka." Gyorgy masih menatap Arpad. Kudanya berhenti, di ikuti oleh Arpad. "Mari kita berhenti sejenak di sebelah sana." Gyorgy menunjuk area pepohonan yang cukup rimbun dengan rerumputan di sekitarnya. Arpad mengangguk menyetujui ide Gyorgy. Keduanya segera melangkah perlahan ke sana. Setelah itu menambatkan kudanya masing-masing, membiarkan mereka merumput dengan tenang. Sementara keduanya duduk bersandar pada pohon. "Aku yakin sekali, kita berdua memang tampak menyedihkan. Jika harus jujur, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali aku selalu mencoba menyangkal hasil invetigasi. Namun berkali-kali pula, informasi tambahan yang masuk semakin menguatkan. Aku merasa hampir kehilangan akal." Arpad tersenyum kecil. "Kita ini abdi masyarakat, Kak. Kita perlu menguatkan diri kita untuk mengambil keputusan yang seadil-adilnya untuk masyarkat, terutama keluarga korban." "Menurutmu, jika kamu jadi aku, apa yang akan kamu laporkan kepada Raja Matyas terkait kasus ini?" Arpad mendadak menghembuskan nafas berat. "Pertama, mari kita pastikan lagi semua informasi sampai benar-benar tidak ditemukan celah, bahwa pelaku bukan orang lain." Gyorgy mendengarkan. "Kedua, lakukan pengecekan sekali lagi dengan saksi-saksi baru, juga asumsi-asumsi baru." Gyorgy masih dengan sabar mendengarkan Arpad. "Ketiga, coba untuk bicara baik-baik dengan pelaku, jika memang terbukti dia pelakunya. Tanyakan motivasinya secara langsung, mungkin kita bisa membantunya untuk meringankan beban hidupnya dengan suatu cara sebelum kita menjatuhi hukuman. Sebab, seseorang yang melakukan kejahatan, biasanya ada pemicu khusus. Dan sebagain besar pemicunya adalah persoalan batin, ya semacam tekanan batin." "Apa yang akan kamu tanyakan pada pelaku jika kamu harus melakukan proses interview terhadap pelaku?" Arpad tampak termenung mendengar pertanyaan Gyorgy. "Uhmmm... aku akan bertanya, 'mengapa kamu melakukan hal keji ini'?" "Lalu?" "Apakah kamu tidak merasa bersalah melakukannya?" "Lalu?" "Apakah kamu tidak memiliki anak gadis? Bagaimana jika anak gadismu yang menjadi korban?" "Menurutmu, apakah dia pernah berpikir seperti itu?" Tanya Gyorgy penasaran. "Entahlah. Seharusnya dia berpikir sampai ke situ." Jawab Arpad tidak yakin. "Apakah menurutmu dia tidak mencintai anak gadisnya, sehingga tidak pernah berpikir sebuah kemungkinan jika anak gadisnya menerima perlakuan seperti para korban akan membuatnya terluka?" Arpad menatap tajam pada Gyorgy. "Apakah dia juga tidak mencintai suaminya?" Gyorgy menghela nafas. "Setahuku," Gyorgy menjeda kata-katanya, berat mengucapkan betapa almarhum sahabatnya sangat mencintai istrinya, namun istrinya tidak, "menurutmu bagaimana?" Akhirnya Gyorgy justru bertanya balik pada Arpad. "Sepertinya ini telah menjadi rahasia umum, bahwa dia tidak mencintai suaminya, dan juga anak-anaknya. Tetapi dia justru mencintai orang lain, dan mungkin saja dia memiliki trauma karena anak perempuannya dibunuh, sehingga dia membalaskan dendamnya pada gadis-gadis lain." "Penjelasanmu masuk akal, Arpad. Aku akan memikirkannya. Sekarang, mari kita bicarakan sesuatu yang menyenangkan, agar kita bisa tersenyum saat bertemu anak dan istri kita." Arpad mengangguk menyetujuinya. Sejenak kemudian mereka sudah saling terlihat tertawa dan semakin lama semakin lepas. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang setelah dirasa cukup rileks dan lebih mampu tersenyum.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (110)
EmpoDhe Tawal
utamakan kualitas dan selalu mengedepankan kepentingan masyarakat yang luas untuk mendapatkan informasi yang menarik dan mutu
utamakan kualitas dan selalu mengedepankan kepentingan masyarakat yang luas untuk mendapatkan informasi yang menarik dan mutu
20/06/2025
0Mantap
05/03/2023
0cerita sangat bagus
26/02/2023
0Lihat Semua