logo text
Rumah Warisan Ayah

Rumah Warisan Ayah

Ardilo Argya


Bab 1 Pesan Dari Kakak

Rumah Warisan Ayah Part 1
Dung Dung Dung, Ding Ding Ding!
Untuk kesekian kalinya hapeku bergetar dan berbunyi. Pasti Mas Hamzah lagi yang menelpon.
Kurogoh hapeku dari celana jeans-ku dan langsung saja kupencet tombol merah dilayar. Aku sedang tidak mood berbicara dengan Mas Hamzah. Dia sangat cerewet, melebihi diriku. Hari ini saja sudah tujuh belas kali, ia mencoba meneleponku.
Untung ini masih belum jam buka, jadi bos tak akan marah padaku bila ia mendengar rentetan nada dering yang berulang kali menyala.
Ting! Ting!
Bunyi dari ponselku lagi. Itu pasti Mas Hamzah. Kelihatannya dia sudah menyerah. Dengan berat hati, aku melirik pesan yang Mas Hamzah tulis.
Mas Hamzah menulis; Pulanglah Wan. Ayah sakit. Ayah sekarang dirawat di rumah sakit.
Mataku menatap layar ponsel beberapa saat. Mencerna pesan kakakku. Saat jari-jariku akan mengetikan sesuatu untuk membalas, Mas Hamzah menelpon lagi. Kedua kalinya, dengan berat hati kali ini aku mengangkat teleponnya.
[ Halo! Halo! Wan? Wawan? ]
"Iya! Iya! Ga usah teriak gitu, lah!" Sahutku.
[ Kau ini kenapa, sih? Tak kau angkat satupun teleponku? ]
"Nih, sekarang udah aku angkat. Ada apa?"
[ Ayah sakit! ]
"Dia sudah sakit dari dulu," kataku, dengan sedikit kesel.
[ Dengar! Aku tak tahu apa masalahmu dengan ayah. Tapi kau jangan terus berpura-pura bahwa dia bukan ayahmu, oke? Sekarang! Pulang dan bawa bokongmu kemari! Ayah sekarat dan kita semua diminta untuk datang. Aku pulang dari Cina dan sudah sampai di Indonesia jauh hari, dan kau tidak ada. Kau ini anak macam apa, ha? Aku juga mendengar dari Diana kalo kau juga tidak mengangkat teleponnya, ] cerocos Mas Hamzah.
"Kenapa aku harus pulang? Itu sudah bukan urusanku lagi," kekeuhku.
Bayangan masa lalu kembali memenuhi pikiranku. Masih terekam jelas, saat ayahku sendiri mengusirku dan mengatakan pada diriku bahwa 'aku bukan lagi anaknya.'
[ Wan, dia tetap Ayahmu. ] Ucap Mas Hamzah, pelan tapi penuh penekanan. [ Kutunggu kepulanganmu oke? Sampai bertemu disini, bro ] tutup Mas Hamzah.
Cukup mudah bagi Mas Hamzah dan siapapun di dunia ini untuk tidak membenci Ayah. Tapi bagiku? Rasanya menyakitkan. Semuanya terlalu menyakitkan bagiku. Mas Hamzah dan Diana adikku, adalah anak favorit Ayah. Jadi mereka berdua tak akan bisa memahaminya. Hanya Bunda-lah, yang bisa memahami perasaanku. Tapi Bunda sudah pergi. Pergi selamanya meninggalkanku. Dan kepergiannya juga gara-gara Ayah. Tak akan pernah mudah bagiku untuk menemuinya kembali setelah apa yang ia perbuat.
Sekarang, setelah dua belas tahun lamanya setelah aku pergi dari rumah itu. Pergi dari akar kehidupan yang dulu telah membesarkanku. Kini, aku harus kembali lagi kesana. Meski aku tak yakin.
Lombok sudah terasa rumah bagiku. Sekarang, aku tinggal di salah satu tiga pulau kecil tersohor di Lombok. Tepatnya di Gili Trawangan. Pulau terbesar diantara tiga pulau Gili, dan tentu saja paling rame.
Aku juga sangat menyukai pekerjaanku. Jadi koki di salah satu restoran disini. Bertemu tamu-tamu dari berbagai negara. Sampai aku bertemu dengan pacarku, Melisa. Dia perempuan luar biasa. Tak hanya cantik, dia juga seorang penyanyi terkenal disini. Itulah kenapa kusyukuri nikmat kehidupan ini dan tak menyesal sama sekali, setelah Ayahku mencoret namaku dari KK. Aku sudah punya kehidupan sendiri disini. Aku tak butuh mereka lagi.
Aku berkata pada diriku sendiri bila aku memilih tetap tinggal. Tapi, hatiku yang paling dalam mengusikku. Membuatku sangat gelisah. Memintaku untuk kembali pulang menemui Ayah.
"Woi! Ngalamun terus, lu. Ada apa? Baru kali ini liat mukamu masam begitu sepanjang hari," celetuk Nyoman, bosku.
Mataku melirik ke arah Nyoman. Meski ia atasanku, hubungan kami malah seperti keluarga. Kami sering disangka adik-kakak. Untungnya, Nyoman selalu keras dan tegas bila menyangkut urusan bisnis. Itulah yang membuatku selalu menaruh respek padanya bila kami sedang bekerja.
"Ngga ada. Paling kecapekan. Kan kemarin, kita libur malah snorkeling seharian," kelitku, berusaha tak mengatakan yang sebenarnya pada Nyoman.
Pukul sepuluh malam restoran akhirnya tutup. Dan para Bule bergegas pindah menuju klub, untuk melanjutkan menikmati dunia malam.
"Ke klub, yuk?" Ajak Nyoman.
Tanganku sibuk mengelap kompor. "Ngga dulu bro, aku kayaknya kurang enak badan. Mau pulang langsung saja." Kulipat semua kain pembersih, dan memasukan dalam lemari. Nyoman pasti menangkap gelagat anehku, bila aku lama-lama dekat dengan dirinya. Aku harus segera pulang.
Nyoman menatapku, mulai nampak curiga. "Oke, deh. Kamu istirahat aja. Sana pulang, biar Ratna yang bersih-bersih besok." Nyoman melepasku, tidak ingin mengusikku malam ini.
"Terima kasih, bos." Kutepuk bahunya sebelum aku keluar dari restoran untuk pulang ke rumah.
Kuambil sepedaku dibelakang restoran, lalu mulai mengayuhnya melewati pondok-pondok bungalow dan rumah makan sepanjang jalan di tepi bibir pantai Lombok yang sangat indah. Meski gelap menyelimuti, keindahan pantai disini masih bisa terlihat dengan jelasnya.
Salah satu yang aku suka tinggal disini, tak akan ada suara bising kendaraan yang berlalu lalang. Transportasi disini kebanyakan menggunakan kuda untuk mengangkut barang-barang berat. Sepeda sebagai alat transportasi utama, dan juga skuter listrik untuk menggantikan motor.
Sebagian pulau gelap, karna lampu-lampu dimatikan. Sebelum aku pulang, aku memutuskan untuk mampir ke ATM.
Hanya ada satu ATM disini, dan itupun jumlah penarikannya sangat dibatasi. Hanya bisa menarik uang lima ratus ribu, dalam satu transaksi. Jika harus mengambil uang lebih harus melakukan transaksi berulang-ulang. Memang agak menjengkelkan mesin ATM-nya.
Setelah selesai mengambil uang, aku keluar dengan kagetnya. Sepedaku hilang! Tadi kuparkirkan disini! Hanya berjarak dua meter dari ATM.
Letak ATM juga berada pas, tepat di depan hotel bintang lima yang super besar di pulau ini. Sialnya, jalan lurus ke Utara kearah rumahku sudah gelap.
"F*ck! F*ck! F*ck! Sial!" Umpatku.
Tubuhku jingkrak-jingkrak, marah menginjak-injak pasir. Tanganku menjambak-jambak rambutku sendiri.
"F*CK!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriakku sekencang-kencangnya. Sampai-sampai Pak Satpam Hotel menghampiriku.
"Ada apa mas?" Tanyanya.
"Sepeda saya dicuri pak." Kemarahan masih meluap-luap dalam diriku. Ini bukan soal sepedanya. Ini soal nilai sepeda itu, itu sepeda yang kubeli dengan gaji pertamaku saat mendarat di pulau ini. Membeli sepeda baru tentu mudah bagiku, tapi kehilangan barang yang sudah disayang begitu lamanya. Menemani perjuangan selama bertahun-tahun rasanya seperti kehilangan seseorang yang disayang. Ditambah hari ini mood-ku sangat buruk, membuat semuanya jadi runyam.
Setelah dua jam lamanya Pak Satpam membantuku mencari sepedaku. Tentu saja hasilnya nihil, sepedaku benar-benar hilang. Pak Satpam dengan baik hati mengantarkanku pulang naik skuternya.
"Akhir-akhir ini memang banyak maling mas. Hati-hati," pesan Pak Satpam, saat kami sudah berkendara di atas skuternya.
"Pulau sekecil ini, kok bisa-bisanya mereka nekad maling, sih?" Aku heran.
"Paling bule iseng, atau bule yang kehabisan uang mas. Tapi kadang juga ada anak-anak nakal yang butuh duit buat beli bir. Tahulah, anak-anak ABG. Lagi nakal-nakalnya."
Lima naik skuter, akhirnya aku sampai di rumahku. "Makasih, pak."
"Sama-sama." Pak Satpam kembali memutar gas skuternya, kembali ke Hotel tempatnya bekerja.
Aku masuk ke dalam rumah setelah mataku tak melihat Pak Satpam dan skuternya. Hari ini benar-benar membuat seluruh tubuhku kelelahan. Segera saja aku menjatuhkan diri ke atas kasur, mengambil remote di nakas dan menyalakan tivi agar ada suara di rumah yang berhasil aku beli dengan uang sendiri setelah mencicil selama sembilan tahun lamanya.
"F*ck!!!!" Aku kembali mengumpat dengan mulut tertutup bantal.
Kling Kling Kling
Suara notif WhatsApp masuk ke gawaiku. Segera kurogoh dan mengecek siapa yang mengirim pesan malam-malam begini?
Kupikir, hari burukku sudah cukup sampai disini. Nyatanya, masih berlanjut. Pesan WhatsApp yang barusan kuterima ternyata dari mantan pacarku. Lebih tepatnya mantan toxic-ku. Ia ingin kembali mengusik hidupku.
"Janc*k!" Hari ini benar-benar mimpi buruk bagiku.

Komentar Buku (61)

  • avatar
    IkhwanNiel

    mantap

    05/09

      0
  • avatar
    HklJkt

    baik

    05/03

      0
  • avatar
    anantafaradila

    mnarik

    23/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru