logo text

Bab 78 Kejujuran

“Siapa di dalam?” tanya seorang pria yang terdengar langkahnya kian mendekat.
Kalila dan Qinara saling bertatapan mendengar seorang pria berada di luar sisi kamarnya. Keduanya pun beranjak dari ranjang dan mendekati dinding. Kalila mendekati pintu untuk meraih hijabnya sedangkan Qinara meraih kresek obat yang tergeletak di atas meja. Wanita yang terurai rambutnya itu menggerakkan mata dan mulutnya seolah membisikkan sesuatu. Mengkode kalau Hanna telah datang dan memberi obat untuk mereka. Wanita berhijab pun manggut-manggut mengerti maksud adiknya.
“Please Honey. I know you’re hiding something. You hid a man?! Would you have an affair?” tanya pria itu lagi di balik ruangan ini. Kali ini pertanyaan yang membuat lawan bicaranya tersudut.
“Ada pria bule sama Hanna kayaknya,” gumam Kalila meyakinkan saudarinya kalau pria itu tengah bertanya pada Hanna.
“Suaminya hanna orang bule kayaknya,” bisik Qinara menanggapi sembari telinganya merapatkan ke dinding.
Keduanya menyadari bahwa kebohongan yang berusaha disembunyikan Hanna itu akhirnya akan terkuak juga.
Memang pada akhirnya rahasia tak selamanya bisa disimpan dan dikubur dalam-dalam. Berharap bisa digali di saat yang tepat. Namun waktu yang tepat untuk mengungkapkannya tidaklah mudah. Malah justru akan mengubur kebohongan lainnya. Mau atau tidak memang inilah saatnya.
“No! you wrong, Honey. You missunderstand! No … the girls …” Spontan Hanna menggantung ucapannya.
“Cewek?! Berapa orang di dalam?” tanyanya lagi dengan nada curiga. “Siapa mereka?” suara pria itu merendah seolah menahan amarah.
“Honey, please. Jangan marah.” Suara Hanna seolah meminta belas kasihan.
“Sepertinya aku kenal suaranya, La … duh, siapa ya?” gumam Qinara yang masih di dalam kamar. Dia menautkan kedua alisnya sembari mengingat suara pria itu. “Oh ya, aku ingat, dia …” sambungnya sembari menatap Kalila untuk meyakinkannya.
Memang kecerdasannya masih kalah jauh dibanding dengan kakaknya. Namun kalau ada seseorang ataupun kenangan yang melekat, tentunya ingatan Qinara masih setajam silet.
“Joe Spyer,” bisik wanita itu kala mengingat sebuah nama. Memorinya kembali muncul saat bertualang di Tanzania.
“Siapa itu?” Kalila masih tak mengerti siapa nama pria yang disebutkan adiknya.
Tiba-tiba tak terduga, Qinara bergegas membuka pintu dan menunjukkan siapa dirinya.
“Ra!” bisik wanita berhijab itu meski terlambat karena adiknya telah percaya diri menampilkan diri. “Ish!” Kalila pun mencebik kesal.
“Joe Spyer,” seru Qinara. Akhirnya dia bisa melihat dengan kedua matanya sendiri. Seorang pria blesteran yang sempat menyelamatkannya serta Hanna di sampingnya seolah begitu akrab.
Namun, baru sedetik menampakkan diri, wanita itu ditarik masuk kembali. “Argh!”
“Ish! Pake hijab kenapa sih? Dari kemarin-kemarin aku gatal lihat kamu kayak gitu. Nih, mumpung ada hijab. Dipake-lah!” sewot Kalila berbisik pada adiknya dengan raut wajah merengut.
Sebenarnya dari kejadian yang mendekatkan mereka berdua, Kalila ingin mengubah sedikit demi sedikit adiknya. Qinara juga pernah sekali dua kali menampilkan dirinya berhijab, tapi sayang tak bertahan lama. Memang seseorang berhijrah itu jika tak dipaksakan tak akan berubah. Setidaknya nasihat dari kakaknya berharap bisa diterima dan dijalankan Qinara.
Di kala kedua wanita itu membersihkan kamar, mereka menemukan beberapa hijab terlipat dan tersusun rapi di lemari yang sepertinya pernah dipakai Hanna saat masih single.
“Ya … ya,” ketus wanita itu sembari memasangkan peniti di hijab segitiganya.
“Itu bu Qinara kan?” tanya pria itu di balik tembok.
Kontan mata Qinara berbinar kala namanya disebut pria blesteran itu. “Tuh kan, dia masih ingat aku.” Wanita itu melengkungkan kedua sudut bibirnya. Percaya dirinya semakin tinggi karena masih ada orang yang mengenal dirinya di daerah yang belum dikenalnya.
Sementara Kalila mengernyitkan keningnya melihat tingkah adiknya yang kekanak-kanakkan.
“Awas kalau ngincar cowok itu. Sudah ada yang punya,” tegas wanita berhijab syar’i itu. Menekankan kalau pria itu sudah dimiliki Hanna. Mengingat Qinara pernah merebut Dewa serta mencoba mengincar suaminya. Wajar, Kalila harus memperingatkannya.
Tak lama kedua saudari itu menunjukkan dirinya di depan Hanna dan suaminya.
Bukan bermaksud mengkhianati permintaan Hanna. Namun jika mereka diam diri di kamar, ditakutkan hubungan Hanna dan suaminya semakin rumit. Kalila dan Qinara pun yang juga sebagai istri juga memahami situasi seperti itu. Hanya kejujuran yang harus dilakukan Hanna. Dan mereka-lah yang membantu menjelaskan.
“Bu Kalila … Bu Qinara … kok?!” Ucapan Joe Spyer menggantung. Pria itu masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. “Jadi selama ini …?”
“I’m so sorry, Honey.” Hanna menatap penuh rasa bersalah. Mencoba membujuk suaminya agar tak marah.
“Kenapa gak …” Pria itu menjeda lagi bicaranya. Dia mencoba menarik napas panjang berusaha menenangkan diri.
Jika kebohongan terungkap, maka kemarahan akan tampak bagi yang mendengarnya. Itulah yang ditakutkan wanita berhijab itu. Dia tak ingin suaminya akan naik pitam hingga keluar kata-kata yang tak ingin didengarnya. Terlihat jelas aura pria di depannya yang mencoba menahan gejolak amarah di dada.
Tak lama berselang pandangan pria blesteran itu ke bawah mencoba menenangkan diri. Berusaha merangkai kata-kata yang berharap tak menjadi klimaks percekcokan. Pria itu pun mengusap wajahnya “Astaghfirullah.”
Kedua saudari ini tertohok pada seorang pria blesteran di depannya yang mengucapkan istighfar di kala suasana semakin panas.
Tiba-tiba pria itu melangkahkan kaki ke kamar mandi. Joe Spyer hanya terdiam melewati ketiga wanita itu. Tentu membuat mereka hanya saling bertatapan penuh tanya. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi. Hanya terdengar suara air disiram beberapa kali.
Tak lama pria itu keluar. Rambut, wajah, tangan, serta kaki basah. Rupanya Joe Spyer telah berwudhu.
Menatap pria itu dengan kondisi telah bersuci, Kalila dan Hanna pun langsung menangkap maksud pria itu kenapa dia harus ke kamar mandi. Terlihat dari tatapan keduanya tersenyum seolah telah mengerti. Sementara hanya Qinara yang bereaksi berbeda.
“Joe Spyer habis mandi, waah?” Qinara melongo menatap pria blesteran tampan yang gagahnya menunjukkan rambut pendeknya yang tertutup kening seolah memiliki poni ala artis korea.
Namun sekejap pria blesteran itu menyibakkan rambutnya yang basah ke belakang.
Inilah yang membuat Hanna semakin jatuh cinta pada suaminya. Setiap amarah Joe Spyer meradang. Dia segera mengambil air untuk berwudhu. Mengikuti hadits nabi yang pernah dia dengar di suatu kajian tentang meredamkan amarah bisa dilakukan dengan duduk, tidur, ataupun berwudhu. Bersyukur Hanna memiliki suami yang bisa mengetahui bagaimana membuat agar emosinya tak meledak.
Sebenarnya Joe Spyer bukan termasuk pria yang suka menuduh sembarangan. Terlebih lagi pada wanitanya. Namun melihat kelakuan tak wajar pada istrinya, wajar dia mempertanyakannya. Dia menyadari dengan berbicara baik-baik, semua akan berakhir baik. Jika melontarkan pertanyaan biasa, wanita itu bisa berkilah. Mungkin dengan berwudhu bisa membuat percakapan menjadi tak tegang lagi.
“Bisa kita duduk, honey?” Joe Spyer menatap wanitanya seolah ada yang ingin dibicarakan lebih serius.
Wanita berhijab segitiga itu pasrah mengikuti permintaan suaminya. Kalila dan Qinara pun juga turut mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan pasangan halal itu.
“Aku hanya ingin melindungi mereka dari Angela. Itu aja,” jelas Hanna singkat.
Sudah saatnya kejujuran diungkapkan. Berharap dengan keterbukaan bisa membuat hubungan suami istri yang tadinya renggang kembali dengan penuh kasih.
“Jangan salahkan Hanna sepenuhnya. Angela yang membuat kami seperti ini.” Kalila pun mengangkat bicara. Tentunya untuk membela Hanna.
“Oya … apa Joe Spyer pernah ketemu lagi dengan Mas Dewa? Dia gak kesemsem sama Angela kan?!” tanya Qinara penasaran.
Sejatinya wanita itu khawatir dengan suaminya yang satu rumah dengan Angela. Wanita penggoda itu bisa menarik perhatian pria manapun, termasuk suaminya. Wajar, kekhawatiran menyelimutinya karena Dewa sempat terpesona dengan wanita blesteran itu. Memang itulah naluri seorang pria yang terkadang membuat sang wanita meradang.
“Sorry. Aku …” ucapan pria itu menggantung kala mendengar suara benda pipih di tas selempangan Hanna berdering.
Hanna pun membuka dan melihat layar pada ponsel. “Angela …” bisiknya.
Melihat reaksi manggut-manggut dari suami dan kedua saudari itu pertanda setuju, akhirnya dia menekan tombol hijau.
“Hanna … apa kamu udah dapat kabar dari Kalila dan Qinara?” suara Angela dibalik ponselnya yang telah di loadspeaker sebelumnya.
“Kan aku udah bilang. Aku gak peduli. Toh, juga pertanyaanmu sampai sekarang gak berubah.” Hanna mencoba mengulur waktu.
“Ribet amat ngomongnya. Aku cuma ingin tahu. Kamu udah dapat info tentang cewek-cewek itu?” tanyanya lagi dengan nada meninggi.
“Gak! Nanti aku kabari kalau berhasil. Maaf, aku sibuk,” tegas wanita itu. Hanna akhirnya menekan tombol merah.
Dari pertanyaan Angela, Kalila dan Qinara bisa menyimpulkan kalau Hanna ternyata termasuk orang suruhan Angela. Lebih tepatnya Hanna berkhianat pada Mak Lampir itu. Selama ini Hanna berpura-pura menjadi kaki tangan wanita blesteran itu.
“Why? Kenapa kamu mau jadi suruhan Angela?” tanya pria itu setelah Hanna meletakkan ponselnya kembali ke tas selempangannya.
Entah kenapa air mata itu tiba-tiba jatuh tumpah ruah membasahi pipi Hanna. Wanita itu menangis terisak-isak menatap dalam suamiya dengan mata berlinang. Kemudian wanita itu menunduk lagi.
“Mimpi … mimpi itu … Angela … tahu … dan mengancamku.” Hanna berucap dengan tersendat sembari mengatur napasnya agar kembali stabil.
“Mimpi … Bejat! Gila! Orang itu … dia … dia …” Terlihat sekali aura ketakutan menghantui Hanna. Matanya bergerak ke sana kemari dan mengerutkan pelipisnya. Sesekali juga dia melipat kedua bibirnya. Tangannya menyilang ke dada seolah ketakutan disentuh. Tubuhnya bergidik seolah ingatannya yang kelam kembali muncul.
“Argh!” jerit wanita itu.
Dari ekspresinya jelas sekali kalau wanita itu menjadi korban pemerkosaan. Dia gelisah sembari pandangannya ke bawah dengan napas tersengal-sengal kala traumanya muncul lagi.
Kontan Joe Spyer beranjak berdiri dan merengkuh tubuh istrinya.
“Astaghfirullah. Kenapa kamu gak cerita dari awal. Aku gak apa-apa, honey. Aku tetap di sini.” Rengkuhan pria itu semakin erat dengan linangan air mata mengalir di pipinya.
Tangisan wanita itu semakin menjadi seolah meluapkan rasa sakitnya yang selama ini dipendamnya.
Kalila dan Qinara tak kalah baper melihat keromantisan dibalik kesedihan yang mendalam.
***

Komentar Buku (576)

  • avatar
    Dani Lulut

    *Template Ulasan Singkat - 1 Paragraf* > Setelah membaca novel _[Judul Novel]_ karya _[Nama Penulis]_, aku merasa [terkesan/terharu/penasaran/dll]. Ceritanya tentang [sinopsis 1-2 kalimat tanpa spoiler]. Yang paling aku suka adalah [tokoh/alur/amanat/bahasa penulisnya] karena. Novel ini cocok buat kamu yang suka [genre/tema]. Kesimpulannya, ini novel yang [kesa

    26/08

      0
  • avatar
    Reinnati02Yuthry

    Terimakasi

    17/02

      0
  • avatar
    BulgaJang

    sangat menghibur

    22/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru