logo text

Bab 50 Keguguran

"Catch him!" Salah seorang pria berpakaian keamanan menunjuk pada Dareen.
Pria yang dianggap telah melakukan tindakan tidak menyenangkan di area mereka.
"Apa?!" Kalila melebarkan mata karena bingung. Menatap pada pria-pria yang memakai seragam, lalu pada Dareen, untuk membaca situasi di depannya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Begitu juga Dareen dia sangat heran, apa kesalahannya sampai para petugas datang padanya. Dan ingin menangkap tiba-tiba. Mungkinkah ini dendam papinya?
Namun, ia segera menepisnya. Pria tua itu terlalu sibuk, untuk bercanda seperti sekarang. Apalagi Qinara dan Dewa ada di bawah pengawasannya.
"What? I cannot understand what he mean?!" Dareen meninggikan suaranya pada orang-orang itu.
"Mas, ada apa ini?" Kalila berbisik. Yang kemudian pria di sampingnya menggeleng menjawabnya.
"Aku belum pernah ngalamin kaya gini," bisik Dareen.
"Are you okay?" tanya salah seorang petugas pada Kalila, sementara petugas lain bergeraka memegangi Dareen.
Mereka pikir Dareen memaksa Kalila di lift. Pria itu tampak menarik dan melecehkannya di CCTV. Wanita itu melawan, tapi kalah kuat hingga pelecehan terjadi untuk beberapa lama. Itu kenapa Kalila mendorong pria tersebut atas perbuatan yang tidak menyenangkan yang dialami.
"Oh, why? Im fine." Kalila menyahut cepat, ia tak rela sang suami ditangkap tanpa kesalahan yang jelas.
"We saw you forced em ... with ...." Polisi mengungkap ragu, menunjuk pada Dareen lalu menatap lift yang kini sudah tertutup di belakang mereka.
"With him!" seru salah seorang yang memegangi Dareen.
"Ouh ...." Kalila menahan tawanya. "No! He is my husband."
"What?!" Orang-orang itu terkejut. Mereka saling pandang. Bahkan dua orang yang memegangi Dareen mengangkat kedua tangannya, karena merasa tak nyaman.
"Huft!" Dareen membuang napas kasarnya. Ia lega. Untung saja hanya karena salah paham.
Pria-pria itu kemudian meminta maaf pada pasangan suami istri, yang sudah dibuat tak nyaman. Mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Lalu pergi untuk melanjutkan tugas.
"Hahaha." Kalila akhirnya melepaskan tawanya. Ini kejadian konyol yang membuatnya deg-degan.
Dareen mencebik ke arah wanitanya. Puas tampaknya menertawakan apa yang terjadi.
"Padahal gak dipaksa juga kan?"
"Hah?"
"Hem. Coba aja di kamar hotel. Kamu pasti gak mungkin dorong aku kaya tadi. Agak kasar, sih. Tapi ya .... Okelah, aku yang salah karena sudah buat kamu lupa diri, jadi dikira dipaksa."
"Ish ... Udah ah, kita bahas yang lain aja." Pipi Kalila memanas, setiap kali Dareen mengatakan bahwa wanita itu juga sangat menginginkannya.
Saat berjalan, tiba-tiba saja, ponsel Dareen berbunyi. Begitu melihat sang Papi yang menelepon, pria itu lekas mengangkat. Berbeda di saat biasa, ketika tak ada kabar yang ditunggu.
"Halo, assalamualaikum. Pi. Apa ada masalah?" tanyanya.
Kalila pun seketika menghentikan langkah. Diam kala suami bicara dengan orang di ujung telepon.
"Apa, Qinara pingsan?!" Suara Dareen langsung meninggi karena terkejut. Kalila yang tengah berdiri di dekatnya pun ikut terkejut. Apa yang terjadi? Kenapa Qinara pingsan dan yang menelepon malah mertuanya?
______________
"Wah, Nenek kayanya gak enak badan," gumam Miranti, menatap pintu kamar mertuanya ditutup rapat.
"Baguslah! Ini waktunya me-time!" Perempuan paruh baya itu bersorak senang. Di depan tivi.
Dengan cepat ia mematikan televisi yang menganggur, tak ada penontonnya itu. Setelag itu ia pergi ke kamarnya sendiri, untuk melakukan hal-hal yang disenangi.
Pas sekali di rumah tak begitu ada orang di rumah. Tidak memikirkan makan siang, karena hanya berdua dengan nenek. Nenek sendiri makannya cuma sedikit. Kadang melewatkan makan siang dengan alasan perut yang tak nyaman.
Miranti terlihat bingung, ke sana ke mari mencari barang. Ponselnya telah hilang. Padahal dia sudah sangat ingin menyibukkan diri dengan berselancar di dunia maya, lepas dari mertuanya.
"Ke mana, sih? Duh, bisa ketinggalan updatenya Lambe Dower dong," gerutunya.
Wanita yang doyan berbaur dengan netizen mengomentari kehidupan orang-orang yang jadi sorotan publik itu, semakin tak sabar.
Miranti mendesah. Mulai putus asa. Setelah setengah jam dan tak juga menemukannya.
"Apa aku tanya Nenek saja?" gumamnya bertanya-tanya.
Ingin bertanya pada mertuanya, tapi ada perasaan tak nyaman.
Namun, karena keinginannya terlalu kuat untuk mendapatkan ponsel itu, akhirnya Miranti berjalan ke kamar Nenek yang tertutup rapat.
Dengan perasaan ragu, perempuan itu mengetuk pintu perlahan.
"Bu, permisi. Apa aku boleh masuk?" tanyanya hati-hati.
Semenit, dua menit tak ada jawaban. Miranti merasa makin tak nyaman.
"Kenapa Ibu gak buka pintu, ya?"
______________
"Ra, bangun! Ish kamu pingsan apa molor, sig?!" teriak Dewa yang mulai kesal dan lelah mengurus perempuan di pangkuannya.
Bukannya dia tak mau membawanya ke rumah sakit. Tapi takut, kalay uang yang dipegang tak akan cukup untuk membayar.
Dewa tak tahu, kapan mereka bisa keluar dari masalah ini dan kembali ke Indonesia. Dan di kota ini, ia perlu bertahan hidup dengan membeli makanan.
Memberi kayu putih dari tas Qinara juga tak membantu. Dewa celingukan, memastikan tak ada yang memperhatikannya. Lalu memasukkan tangannya ke ketiak. Mungkin dengan cara memberinya bau menyengat, Qinara akan bangun.
"Ah, kita coba ya. Bagus juga kamu pingsan, aku jadi punya kesempatan ngerjain kamu gini, Ra. Haha."
Setelah menaruh tangannya yang bau 'ketek', rupanya Qinara tak juga bangun.
Dewa mendesah. Ia kemudian menyadari kenapa itu tak berguna.
"Yah, jelas lah. Bau ketekku kan wangi!" Pria itu memuji diri sendiri.
"Oke, kita coba sesuatu yang lain." Ia kemudian membuka sepatunya dengan satu tangan karena tangan lain memegangi tubuh Qinara yang tak bergerak.
"Duh, kamu selalu merepotkan, Ra. Nyesel aku kenal kamu!" ucap Dewa seiring tangannya yang bergerak melepas sepatu dan kaus kaki.
Ditempelkan kaus kaki itu ke hidup Qinara.
Siapa sangka, setelah berbagai cara dilakukan, justru kaus kaki itulah yang paling ampuh membangunkannya. Kepala Qinara bergerak, menghindari bau itu.
Kontan saja hal itu membuat Dewa sangat senang.
"Hemh." Qinara berusaha membuka mata, mencari tahu bau tak enak yang terhirup olehnya.
"Hah?!" Wanita itu segera duduk menghindari sesuatu di tangan Dewa.
"Hahaha." Lelaki yang membawa kaus kaki tertawa melihat wajah Qinara yang tampak jijik dan kesal.
"Baguslah. Kamu bangun, Ra. Ada untungnya, kamu jadi istri pemalas. Nggak ngurusin sepatuku sampe lembab pun aku pake ke kantor. Sekarang ... hahaha sangat berguna ternyata!"
"Hiss. Sialan kamu, Mas!" desis Qinara.
"Hahaha." Dewa tertawa lepas.
Namun, tawa itu tiba-tiba memelan. Wajah pria itu berubah saat melihat ekspresi perempuan di depannya. Qinara meringis. Tampaknya ia tengah menahan sakit, sambil memegangi perut bagian bawahnya.
"Ada apa?" tanya Dewa mulai khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu dalam kandungannya.
Qinara tak menjawab. Hal itu membuat Dewa makin panik.
Bersambung
Duduh, keguguran kah dia?

Komentar Buku (576)

  • avatar
    Dani Lulut

    *Template Ulasan Singkat - 1 Paragraf* > Setelah membaca novel _[Judul Novel]_ karya _[Nama Penulis]_, aku merasa [terkesan/terharu/penasaran/dll]. Ceritanya tentang [sinopsis 1-2 kalimat tanpa spoiler]. Yang paling aku suka adalah [tokoh/alur/amanat/bahasa penulisnya] karena. Novel ini cocok buat kamu yang suka [genre/tema]. Kesimpulannya, ini novel yang [kesa

    26/08

      0
  • avatar
    Reinnati02Yuthry

    Terimakasi

    17/02

      0
  • avatar
    BulgaJang

    sangat menghibur

    22/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru