Dewa turun tangga dengan bersungut-sungut. Mulai merasa frustasi menunggu kabar dari Dareen. Entah, apa rencananya kali ini akan berhasil? "Sial! Dia memang sengaja mempernainkanku! Katanya mau transfer tapi malah tak ada kabarnya sampai pagi," ucap pria yang kakinya menapaki anak-anak tangga. Pria yang selalu berpakaian rapi itu tengah menuju lantai bawah. Untuk menemui Nenek yang selama ini terlihat berpihak pada Dareen. "Yah jelas saja ibu tua itu lebih berpihak pada Dareen, pria kaya yang memiliki segalanya. Bukan Dewa yang hanya rakyat jelata," gumamnya kesal. Saat kakinya baru saja menjejak di lantai bawah, matanya menangkap sosok Qinara yang tengah menenangkan Mamanya. Wanita paruh baya itu seperti tengah menangis kehilangan sesuatu. "Ada apa?" tanya Dewa penasaran. Bukannya menjawab Qinara melirik pria itu dengan kesal. Mamanya tak peduli, pada keberadaan Dewa. Pria yang sejak awal tak ia sukai. Miranti lebih sibuk memikirkan kalau sekarang ini, mertuanya tak lagi percaya padanya. "Pergilah, Mas! Kami tak butuh bantuanmu," ketus Qinara. "Hah?" Dewa melongo. Apa salahnya? Sampai Qinara sikapnya dingin begitu? Karena Dewa tak juga pergi, Qinara pun berinisiatif membawa mamanya menjauh lebih dulu. "Kita ke kamar saja, Ma." Puteri bungsu keluarga Pramana itu memeluk dengan memegangi dua bahu si mama. Lalu membawa ke arah kamar kedua orang tuanya. "Aneh sekali. Kemarin-kemarin saja dia sangat lembut dan bersikap seolah tak mau kehilanganku. Tapi sekarang ...." Dewa meneleng berpikir serius. "Ck. Ini pasti ada hubungannya dengan uang. Jangan-jangan mamanya selama ini judes padaku juga karena uang?" Mata pria itu menyipit melihat sosok ibu dan anak yang masuk ke kamar. Masih sempat ia melihat Qinara yang membuang pandangan meremehkannya. "Cih. Dasar cewek matre! Lihat saja besok kalau aku dapat uang dari musuhku itu. Kamu bakal ngemis di kakiku ingin ikut menikmatinya," maki Dewa dengan nada sinis. Meski tak ada yang melihatnya, terutama Qinara, memaki seperti itu bisa mengurangi sedikit kemarahannya. "Argh! Harga diriku diinjak-injak oleh istriku sendiri." Dewa kemudian, mengayunkan langkah ke kamar nenek Kalila. Namun, baru berada di depan pintu dan belum mengetuknya, tiba-tiba knop pintu bergerak. Tak lama keluar sosok wanita yang terburu-buru. "Nen ...." ucapan Dewa menggantung. Bahkan saking terburu-buru, nenek tak melihat bayangan Dewa yang berdiri di depan pintu, dan melaluinya begitu saja. "Apa dia tak melihat ada orang di sini?" tanyanya sembari menunjuk hidungnya sendiri. "Ah, benar. Nenek itu kan sudah tua. Pasti matanya rabun." Saat akan melangkah menyusul Nenek, langkah Dewa tertahan karena mendengar suara dering telepon. Saat menoleh, ponsel itu ada di atas nakas tak jauh dari tempatnya berdiri. Karena Nenek lupa menutup pintu, ia jadi bisa melihatnya tanpa masuk ke dalam. Dewa pun melangkah mendekat dan meraih benda pipih itu. "Halo, assalamualaikum, Nek. Gimana kabarnya?" Suara lembut seorang perempuan terdengar di ujung telepon. Suara yang membuatnya terus jatuh cinta, meski sosoknya telah menjadi milik pria lain. Seseorang yang membuat jantungnya terus berdetak, hanya dengan sebuah harapan. Lagi pula ia tak yakin, Dareen akan dengan mudah meluluhkan Kalila. Dewa saja dulu perlu waktu berbulan-bulan untuk mendapat cinta dan perhatiannya. Apalagi Kalila sekarang sempat memiliki kekasih, yakni dirinya. Dan lagi Kalila bukan Qinara yang mata duitan yang luluh karena uang Dareen. "Waalaikumsalam, Kalila." Suara berat seseorang terdengar di ujung telepon. "Hem. Siapa ini? Apa ini suara Mas Dewa?" Kalila merasa heran. Kenapa ponsel neneknya ada di tangan Dewa. Apa terjadi sesuatu. "Ada apa, Sayang?" tanya Dareen yang merasa Kalila tak baik-baik saja dengan ekspresinya sekarang. 'Sial! Kenapa harus ada Dareen di sampingnya!' maki Dewa dalam hati, lantaran merasa obrolannya berdua dengan Kalila terganggu. 'Ah, ya. Benar. Bukankah tujuanku ke kamar Nenek adalah untuk meminta Dareen memenuhi janjinya untuk mentransfer uangku.' "I- ini Mas Dewa?" Suara Kalila tergagap. Takut jika Neneknya kenapa-kenapa dikerjai Dewa atas perintah Qinara. "Ya." Dewa tersenyum. Dipikir bahwa Kalila masih berdebar saat mendengar suaranya. Ya, walau agak aneh. Karena tadi malam, wanita itu sempat bicara padanya, tentang Dareen, tapi reaksinya terkesan tenang di ujung telepon. "Halo!" Suara ketus seorang pria terdengar di ujung telepon terdengar. Dewa langsung tahu bahwa itu adalah suara Dareen. "Eh, Tuan kaya yang sombong! Bukannya kamu bilang tadi akan mentransfer uang. Mana? Aku tunggu tak ada notif. Aku sampai minta temenku yang kerja di bank untuk mengeceknya." Pria itu menceritakan bahwa tak ada juga keterangan uang dipending bank. Artinya memang Dareen belum mentransfer. Mantan kekasih Kalila itu bahkan juga mengecek status rekeningnya. Takut jika ucapan Dareen ternyata benar, kalau rekening tersebut diblokir bank. Tapi temannya bilang juga masih aktif. "Apa kamu mempermainkanku?" "Haha. Untuk apa aku mempermainkanmu, jika di sini aku sedang sibuk bermain di kamar dengan Kalila." Dareen sengaja memanas-manasi Dewa. Sejak semalam, ia terus memikirkan cara, bagaimana memberi tahu Dewa bahwa Kalila sudah menyerahkan diri dan tidur dengannya. "Cih. Sialan! Kamu pikir amu aku akan terpengaruh?" "Terserah. Lagian kamu sendiri kenapa tak sopan membuka ponsel orang lain?" Dareen mengorek info. "Hah. Aku cuma mengambilnya karena nenek meninggalkan kamarnya." "Wah, emang suka salah kamar kamu, ya. Kamar nenek-nenek pun kamu masuki." Dareen mengejeknya. Mendengar obrolan keduanya, Kalila merasa lega. Untunglah yang dipikir dan takutkan tidak terjadi. Wanita itu pun memberi kode pada suaminya, agar berhenti bicara dengan orang tak penting itu segera. Demi rasa yang sudah sepenuhnya berbeda. Sudah seharusnya tak ada celah bagi pria yang bernama mantan itu untuk tetap ada dalam kehidupannya. "Heh. Sudahlah! Kamu berusaha mengalihkan perhatian rupanya. Cepat kirim uangnya, sebelum aku mulai kesal!" Dewa mulai kehilangan kesabaran. Tampaknya Dareen mendapat efek baik dari pengakuannya. Jadi sangat kurang ajar jika tidak segera memenuhi janjinya. "Hah? Halo? Halo. Wah, gak ada suara nih." Dareen berpura-pura sinyal buruk. "Sayang, coba kamu dengar. Hapenya yang bermasalah apa kupingku!" Dareen berpura-pura tanya pada Kalila, lalu mematikan sambungan telepon. Kalila menahan tawa melihat kelakuan Dareen. Ada saja akal pria itu. Dewa mengerutkan kening. Menatap layar ponsel yang sudah mati. "Sialan! Ini pasti akal-akalan Dareen. Apa itu artinya dia memang tak berniat mentransfer uangnya? Sialan Dareen. Benar-benar sialan!" Dewa menyesal, telah bicara pada konglomerat tersebut. Bukan hanya tak dapat jawaban apa pun, ia juga harus mendengar Dareen telah bermain-main di kamar hotel. Dadanya terasa nyeri saat membayangkan itu. "Argh! Sial!" Kekesalan Dewa yang memuncak, membuatnya kalut dan membanting ponsel yang dipegangnya ke lantai. "Kamu ... apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Nenek yang sudah berdiri di depan pintu. Tatapan wanita itu lalu beralih ke se onggok benda di lantai. "Oh, ponselku?!" Wanita tua itu berjongkok untuk memungutnya. Mata tua Nenek melebar sempurna ke ponsel lalu mendongak ke arah Dewa. Pemuda itu sampai merasa bersalah dan salah tingkah sendiri. "Eum. Maaf Nek." Saat wanita tua itu lengah, Dewa cepat-cepat pergi meninggalkannya. Bukan apa-apa. Dia benar-benar bokek, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. ___________ "Ish, ini semua karena Mas Dewa, Ma. Coba aja dia itu cowok tajir, jadi aku nggak perlu melirik Mas Dareen," omel Qinara yang sedang berduaan dengan sang mama. Miranti mendesah panjang. "Bukan karena keserakahanmu, Qinara?!" Suara wanita itu tiba-tiba meninggi dan mengejutkan Qinara. Mamanya tak pernah sekasar itu padanya. "Kamu tahu, karena banyaknya permintaanmu, dan mama ikut-ikutan, Papamu jantungan dan Nenek meminta Papa menceraikan Mama!" Pengakuan Miranti membuat Qinara membeliakkan mata . Ia bertanya dalam benak. Apa maksud mamanya? Kenapa tiba-tiba menyalahkannya? Apa ini tanda wanita itu mulai sadar dan berbalik menentang semua kemauan dan rencana besar yang sudah mereka susun bersama? Bersambung
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (576)
Dani Lulut
*Template Ulasan Singkat - 1 Paragraf*
> Setelah membaca novel _[Judul Novel]_ karya _[Nama Penulis]_, aku merasa [terkesan/terharu/penasaran/dll]. Ceritanya tentang [sinopsis 1-2 kalimat tanpa spoiler]. Yang paling aku suka adalah [tokoh/alur/amanat/bahasa penulisnya] karena. Novel ini cocok buat kamu yang suka [genre/tema]. Kesimpulannya, ini novel yang [kesa
*Template Ulasan Singkat - 1 Paragraf* > Setelah membaca novel _[Judul Novel]_ karya _[Nama Penulis]_, aku merasa [terkesan/terharu/penasaran/dll]. Ceritanya tentang [sinopsis 1-2 kalimat tanpa spoiler]. Yang paling aku suka adalah [tokoh/alur/amanat/bahasa penulisnya] karena. Novel ini cocok buat kamu yang suka [genre/tema]. Kesimpulannya, ini novel yang [kesa
26/08
0Terimakasi
17/02
0sangat menghibur
22/01
0Lihat Semua