Tidak ada hal yang bisa kukerjakan di sini, kecuali menatap ruangan yang serba putih ini. Sudah seharian aku berada di sini, namun Dave sama sekali belum menunjukkan tanda tanda akan datang kemari. Aku ... merindukannya .... Dan Lucy juga menginginkan dia, bisa kurasakan serigalaku yang gelisah dalam pikiranku. Aku rindu dengan senyuman hangatnya, mata dark greynya yang selalu menatapku dengan penuh kasih sayang dan cinta. Aku merindukan usapan tangannya yang menenangkan, juga pelukannya yang terasa hangat dan membuatku nyaman. Bahkan, aku juga merindukan ciumannya yang selalu membuat jantungku siap melompat dari tempatnya. Astaga, kupikir aku akan sudah mulai gila. Tak pernah sekalipun aku menginginkan seseorang sampai seperti ini. Rasanya sangat aneh ... Ini seperti bukan diriku yang biasanya. “Lucy, aku sangat merindukannya ...” ucapku pada serigalaku yang sedari tadi terus memanggil nama Dave dalam pikiranku. “Aku juga, Levi. Menurutmu, apa dia akan datang?” tanya Lucy tidak sabar dan langsung kuhadiahi dengan helaan napas panjang. “Aku tidak tau,” jawabku pelan sebelum mataku terpejam. Itu adalah pembicaraan terakhir kami karena rasa kantuk sudah menyerang diriku lebih dulu. Aku hampir terlelap saat aroma yang begitu memabukkan itu memenuhi indra penciumanku, dan aku langsung tau siapa pemilik bau itu. Aku ingin segera membuka mataku, namun aku masih terlalu takut untuk melakukannya. Aku takut jika ini hanyalah bunga tidurku saja, dan saat aku membuka mata, aku tidak akan melihat siapa-siapa. Kuputuskan untuk tetap terpejam, menikmati aroma lavender yang seperti candu untukku. Aroma itu semakin kuat, membuat serigalaku berteriak semakin keras menginginkan pemilik aroma itu. Kurasakan sesuatu yang hangat jatuh diatas keningku kemudian mengusapnya perlahan. Bisa kurasakan percikan-percikan itu saat tangannya bersentuhan langsung dengan kulitku. Darahku mulai berdesir dan jantungku mulai tak mengikuti iramanya lagi. Tangannya mulai turun ke pipiku dan aku tak bisa lagi bertahan dengan posisiku. Dengan cepat tanganku meraih tangannya yang menyentuh pipiku dan segera membuka mataku setelah tanganku berhasil melingkari tangannya. “Akhirnya kau datang!” Senyumku merekah dan dia tampak begitu terkejut melihat reaksiku. Namun, senyumanku tak bertahan lama. Karena Dave segera menarik tangannya setelah itu. Dahiku mulai berkerut dan aku berusaha bangkit dari posisiku saat Dave mulai berjalan menjauhiku. “Maaf, kurasa aku harus pergi sekarang. Aku hanya ingin mengecek keadaanmu dan kau terlihat baik-baik saja,” ucapnya dingin tanpa menatap ke arahku. Kulihat punggungnya yang semakin menjauh dan aku segera turun dari ranjangku saat melihat Dave yang sudah berada di ambang pintu, berniat meninggalkanku. Tapi aku yang terlalu terburu-buru untuk turun tidak bisa menjaga keseimbanganku. Aku langsung terjatuh saat mengambil langkah pertamaku. Aku merutuki tindakan bodohku, tapi aku juga mensyukurinya. Karena setelah itu Dave langsung berbalik dan dengan cepat menghampiriku. Tubuhku terasa melayang saat Dave mulai menggendongku, kemudian meletakkanku perlahan di atas kasurku kembali. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan suara yang lebih hangat dibandingkan sebelumnya. Wajahnya terlihat begitu khawatir dan mata dark greynya menatapku cemas. Aku mengangguk pelan dan langsung menahan tangannya saat dia ingin beranjak dari tempatnya. “Jangan pergi ...” bisikku pelan menatap mata dark greynya dengan tatapan memohon. Kudengar helaan napas berat dari Dave sebelum dia melepas paksa tanganku yang melingkar di tangannya. “Maaf,” ucapnya pelan tanpa menatap mataku sedikitpun. Dave segera beranjak dari tempatnya dan aku tak bisa melakukan apapun lagi selain menatap kepergiannya. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi. Tapi melihat sikap Dave yang begitu dingin membuat hatiku terasa di remas. Dadaku terasa sesak dan mataku memanas. Aku berusaha menutup mataku secara paksa saat merasakan bulir-bulir air mata sudah mengalir deras dari sana. Bisa kurasakan Lucy yang berteriak frustasi dikepalaku, membuat air mataku mengalir semakin deras. “Dia menolak kita, Levi. Dave menolak kita! Dia sudah tidak menyukai kita, dia sudah tidak mencintai kita!” racau Lucy dengan suara yang terdengar parau dalam pikiranku. Kututup mulutku dengan tanganku kuat-kuat, menahan isakan yang hampir keluar dari sana. Aku meringkuk diatas kasurku dan tak perlu waktu lama aku kembali terlelap setelah menangis cukup lama. *** Aku mulai membuka mataku dan mendapati Alena yang sedang mengupas buah apel di sampingku. “Oh, kau sudah bangun. Mau buah apel?” tawar Alena sambil memberikan potongan buah apel yang sudah dikupas olehnya. Aku tersenyum padanya sebelum menerima potongan apel di tangannya. Penampilan gadis itu tampak lebih baik dari sebelumnya. Bengkak di matanya sudah berkurang, bahkan hampir tersamarkan oleh make up tipis yang dipakainya. Ya, aku tau Alena memang ahli dalam hal itu. Jadi bengkak di matanya bukanlah hal yang sulit diatasi olehnya. “Kau terlihat lebih baik,” ucapku sambil menggingit potongan apel di tanganku dan Alena hanya terkekeh pelan mendengar ucapanku. “Aku membawa kabar baik untukmu,” ucap Alena dengan semangat. Aku menatapnya penasaran. Kira-kira kabar baik apa yang akan dikatakan Alena? “Kau bisa kembali ke rumah, malam ini!” Teriaknya heboh bersamaan dengan senyum lebar yang mulai merekah di wajahku. Jujur, aku memang tidak betah jika harus berlama-lama di rumah sakit pack ini. Tiba-tiba saja aku mulai teringat dengan Stiff dan Maro. Yang terakhir kuingat adalah aku meninggalkan mereka berdua bersama Liliy di taman. Dan aku tidak tau apa yang terjadi pada mereka setelah itu. “Emm ... kakak, bagaimana keadaan anak-anak itu?” “Maksudmu Lily, dan dua bocah kembar itu?” tanya Alena dan aku langsung mengangguk menatapnya dengan perasaan takut. Jika ada satupun hal yang terjadi pada mereka, tentu saja aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Karena akulah yang meninggalkan mereka terlelap sendirian di tempat terbuka saat itu. “Mereka baik-baik saja,” jawab Alena membuatku merasa begitu lega. Tanpa sadar senyumku sedah merekah hanya dengan membayangkan wajah wajah polos mereka. Aku merasa semakin tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan para malaikat kecil itu. “Kau sangat menyukai mereka ya?” tanya Alena membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya bingung dan dia kembali mengulang pertanyaannya. “Kau sangat menyukai mereka? maksudku anak-anak itu?” tanya Alena sekali lagi dan aku langsung mengangguk dengan semangat. “Tentu saja! Mereka sangat lucu dan menggemaskan! Siapapun yang melihat mereka pasti juga langsung jatuh cinta pada mereka,” jawabku dengan semangat menggebu gebu. Namun semangatku mulai mereda saat mendengar suara tawa Alena yang langsung menusuk indra pendengaranku. “Wow, oke-oke ... tak diragukan lagi. Kau memang sangat menyukai mereka. Baru kali ini aku melihatmu begitu bersemangat seperti itu,” ucap Alena setelah tawanya mereda. Aku sedikit menunduk malu, aku tau mungkin semangatku terlalu berlebihan. Dan itu membuatku tanpa sadar berteriak pada Alena. “Aww, jika kau memang sangat menyukai mereka. Kenapa kau tidak buat satu yang lebih lucu dari mereka?” tanya Alena membuatku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar. “Yang lebih lucu?! Hei, tapi mereka manusia, bukan benda yang bisa dibuat dengan mudah!” Teriaku setelah sadar ada yang aneh dengan pertanyaan Alena. Aku menatap kesal Alena, tapi lagi-lagi gadis itu tertawa dengan suara renyahnya. “Ayolah! Kau ini pura-pura bodoh atau kelewat polos, Levi? Tentu saja kau bisa buat yang lebih lucu. Tapi kau perlu bantuan Dave untuk membuat yang lebih lucu dari mereka.” Alena kembali tertawa puas setelah mengatakannya. Sedangkan aku masih terdiam mencerna semua maksud ucapannya. Pipiku memanas dan wajahku tertunduk dalam. Darahku terasa mendidih dan aku yakin wajahku sudah semerah tomat sekarang. Suara tawa Alena semakin keras dan aku mulai menyembunyikan wajahku dibalik bantal. Aww ... aku merasa sangat malu sekarang. Tanpa sengaja Alena sudah menghidupkan imajinasi liarku. Aku jadi teringat kejadian saat itu .... Saat Dave menandaiku .... Cara dia menyentuhku, menciumku , dan ... tubuh polosnya yang sempat terekam dalam ingatanku. Aww ... semuanya seakan diputar ulang dalam kepalaku. Dan aku ... merindukan saat saat kebersamaan kami sebelum hari itu. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus sekali
14/02
0bagis
30/01
0love story ada yang
24/12
0Lihat Semua