logo text

Part 21

Mataku terasa cukup berat untuk dibuka. Bau pepohonan dan tanah basah begitu kuat memenuhi penciumanku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan menyadari aku tidur di ruangan yang tidak aku kenali. Ingatanku kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu sebelum aku kehilangan kesadaranku karena terlalu lelah menangis.
Aku harap itu hanya mimpi burukku. Tapi aku yakin jika apa yang sudah aku dengar dari Alena itu bukanlah mimpi. Aku segera bangkit dari tidurku mendapati diriku yang tidur diatas sofa dengan selimut tipis warna merah. Kurasa Alena yang sudah memindahkanku di sini.
Tanpa sadar air mataku sudah lolos dari mataku. Ingatanku memaksaku untuk kembali melihat kenyataan. Kenyataan bahwa kehancuran di masa lalu akan terulang lagi dalam hidupku. Aku tak bisa membayangkannya, bagaimana orang yang aku sayangi direnggut dariku. Mereka sudah merenggut ayah, ibu, kakak, dan semua anggota packku, satu-satunya harta berhargaku saat itu. Dan sekarang, setelah aku bertemu dengan orang-orang yang benar-benar menyayangiku, mereka juga ingin merenggutnya lagi dariku.
“Dave?” Tanpa sadar nama itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tenggorokanku terasa begitu kering, membuat suaraku terdengar seperti orang yang tercekik.
“Levi, kau sudah bangun?” Kudapati Alena yang datang menghampiriku dengan segelas air putih. Gadis itu tersenyum, namun senyumannya terlihat begitu hambar dan aku yakin itu hanyalah senyum palsunya. Alena menyodorkan gelas yang sudah berisi air putih itu padaku, namun segera kutolak dengan menggelengkan kepalaku.
“Kakak, Dimana Dave?” tanyaku sambil menatap mata gadis itu lekat-lekat. Kulihat Alena terpaku, gadis itu diam dan tak merespon pertanyaanku. Senyum palsu itu sudah hilang dari wajahnya berganti dengan tatapan yang sendu.
“Kakak, jawab aku! Dimana Dave?!” Kini aku berteriak, mencengkram lengan Alena dan mengguncang tubuh gadis itu kuat-kuat.
“Tolong... jangan tanyakan hal itu padaku Levi,” jawab Alena lirih, membuatku behenti mengguncang tubuhnya. Aku terdiam menatapnya, dan aku baru sadar jika Alena yang ada dihadapanku saat ini bukanlah Alena yang aku kenal. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan wajahnya menunjukkan kesedihan yang dalam.
“Kumohon berhentilah bertanya. Karena aku tak tau jawaban apa yang harus aku berikan padamu.” Gadis itu mulai terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hatiku terasa tersayat mendengar suara isak tangisnya dan satu hal yang kusadari adalah aku sudah berbuat tidak adil pada Alena. Aku bersikap sangat egois dan bersikap seolah-olah hanya aku yang merasakan kesedihan ini. Padahal aku yakin, saat ini Alena pasti jauh merasa menderita dibandingkan aku.
“Maafkan aku,” bisikku lirih berusaha meraih tubuhnya dalam pelukanku. Aku sadar bahwa gadis ini juga terluka sama sepertiku. Selama ini aku yang terlalu egois karena tak menyadari semuannya. Kami Berpelukan cukup lama dan sama-sama terisak. Alena mulai menarik tubuhnya dariku dan mengusap air mata yang masih mengalir deras di matanya.
“Ah, harusnya aku tidak bersikap seperti ini,” gumamnya pelan seperti itu memang ditujukan untuk dirinya sendiri. Gadis itu membuang pandangannya dariku, terlihat berusaha menghentikan tangisannya.
“Kakak, katakan apapun yang kakak ketahui padaku. Aku hanya ingin tau dimana keberadaan Dave sekarang,” ucapku pelan membuat Alena menoleh ke arahku dengan wajah yang terlihat serius.
“Aku tidak bisa Levi, aku sudah berjanji.” Jawabnya membuatku merasa sedikit kecewa. Tapi aku tidak akan menyerah untuk membujuk Alena untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Apa janji itu lebih penting dari keselamatan seluruh anggota pack?” tanyaku yang sepertinya berhasil untuk memancing Alena.
“Apa maksudmu?” tanya gadis itu dengan dahi yang sedikit berkerut.
“Tentu saja mereka sangat penting, tapi menjaga Luna mereka agar tetap aman juga salah satu hal yang sangat penting! Kau adalah Luna kami Levi, keselamatanmu adalah hal yang sangat penting!” lanjut Alena menaikkan nada suaranya.
“Tapi bagaimana bisa aku hanya diam dan bersembunyi di tempat yang aman, sedangkan seluruh anggota packku sedang mati-matian mempertaruhkan nyawanya untukku?!” Aku mulai berteriak, aku tak bisa jika terus terdiam seperti ini. Aku langsung berdiri dan Alena terlihat sangat terkejut dengan reaksiku. Dadaku naik turun menahan emosi yang dari tadi sudah kutahan-tahan. Bayangan kehilangan semua orang yang kusayang hanya untuk melindungiku membuat kemarahan menjalar dan kian mengoyak hatiku. Aku tak bisa terus bersikap seperti seorang pengecut seperti ini!
“Itu sudah jadi salah satu tugas mereka Levi.” Bisa kudengar nada keraguan dalam ucapan Alena. Kurasa gadis itu sudah mulai merasa bimbang dengan keputusannya. Aku berbalik menatapnya dengan sorot mata yang dalam, kuharap aku bisa menggoyahkan pendiriannya.
“Pikirkanlah Kakak, aku tak bisa membiarkan kesalahanku terulang kembali. Aku tak bisa terus lari seperti ini. Sudah banyak nyawa yang sudah berkorban untukku, dan sudah banyak kehidupan yang direnggut hanya untuk melindungi nyawaku. Kumohon, beritahu aku kakak,” mohonku dengan nada yang sangat frustasi. Kupengang kedua bahu Alena dan gadis itu masih terpaku menatapku.
“Tapi ...” Kata-katanya terhenti dan keraguan mulai terlihat di mata gadis itu.
“Kumohon .... Sebelum semuanya terlambat. Aku tak ingin kehilangan semuanya untuk kedua kalinya.” Mintaku dengan mata yang kuyakin sudah berkaca-kaca. Alena mulai menunduk kuyakin keraguan mulai melanda gadis itu. Dahinya terlihat berkerut dan dan ia telihat berpikir cukup keras, sebelum akhirnya kembali membuka suaranya.
“Jujur, aku mulai bingung memilih mana yang paling penting. Janjiku atau permohonanmu.” Alena mulai menutup matanya dan terlihat berpikir kembali. Dihirupnya napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberi jawabannya padaku.
“Kuharap keputusanku kali ini tidak salah. Akan kuberitahu ... Sekarang Dave berada di wilayah selatan pack. Pasukan Crimpsonmoon pack sudah mengepung kita dari arah selatan dan barat. Karena itulah aku membawamu ke arah utara, tempat ini sudah jauh dari jangkauan musuh,” ungkap Alena menatapku dengan tatapan serius.
“ Antarkan aku ke sana,” ucapku langsung, namun langsung ditolak keras oleh Alena.
“Tidak! aku tau kau akan mengatakan hal itu. Selain memberitahumu aku tidak akan membahayakan nyawamu dengan mengantarmu ke sana. Aku sudah melanggar janjiku untuk tidak memberitahumu apapun yang terjadi. Dan kali ini aku tak akan membiarkanmu pergi dari tempat ini!” ucap Alena dengan tegas tak terbantahkan. Sorot mata yang tadinya dipenuhi dengan keraguan, kini sudah berganti sorot mata yang tajam dan mendominasi.
Aku menghembuskan napas beratku dengan frustasi. Kukira hati gadis itu sudah benar-benar luluh dan pendiriannya sudah goyah. Namun, nyatanya tidak! Alena sulit untuk ditumbangkan dan di goyahkan.
“Please!” teriakku frustasi namun Alena masih tetap berdiri tegak dengan tatapan tajamnya. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain lagi untuk memaksa gadis itu mengantarku pada Dave.
“Baik, kalau begitu aku akan pergi sendiri ke sana.” Itulah keputusan terakhir yang kukatakan setelah berdebat cukup lama dengan Alena. Aku sedikit terkejut melihat reaksi Alena yang justru tersenyum mendengar keputusan terakhirku. Aku pikir dia akan marah, tapi kali ini dia malah tersenyum?
“Jadi keputusanmu memang sudah bulat ya? Baik, aku akan membawamu kesana,” ujar Alena yang sukses membuat mataku melebar. Aku tidak tau setan mana yang telah membuatnya berubah secepat ini. Beberapa saat yang lalu dia secara terang-terangan melarangku untuk pergi. Dan sekarang?... Dia sendiri yang akan mengantarku ke sana. Oh ... Dewi, ini adalah keajaiban!
“Kau bersungguh-sungguh?” tanyaku dengan berhati-hati dan langsung dijawab anggukan oleh Alena. Aku menatap Alena heran sekaligus takjub. Aku tidak tau apa yang membuatnya berubah pikiran secepat ini.
“Kau berhasil meyakinkanku Levi. Sekarang tak ada lagi keraguan di hatiku. Dan tidak seharusnya aku meragukan ucapan Lunaku,” ungkap Alena seakan mengerti maksud tatapanku. Dia tersenyum dan aku masih merasa tertegun mendengar ucapannya.
“Kalau begitu sebaiknya kita segera berangkat sekarang!” seru Alena sebelum menarik tanganku keluar dari pondok kecil ini.
“Apa kau sudah siap, Lucy?” tanyaku pada serigalaku. Sudah kuputuskan bahwa kali ini aku tidak akan bertindak egois seperti sebelumnya. Aku tidak akan lagi mengambil keputusanku sendiri dan aku juga tidak akan mengabaikan serigalaku lagi. Lucy dan aku berada dalam wadah yang sama dan juga terikat dalam satu jalan kehidupan yang sama. Dan detik ini juga aku menerima serigalaku menjadi bagian dari diriku.
“Tentu saja, aku selalu siap,” jawab Lucy dengan penuh keyakinan dan aku mulai merasakan keberadaannya bertambah kuat dalam diriku. Aura Lucy mulai mendominasi tubuhku, tapi aku masih bisa memegang kendali penuh atas tubuhku. Aku merasa semakin dekat dengan serigalaku dan bisa kurasakan perasaan Lucy yang mulai mengalir menyatu dengan hatiku.
“Apa itu baik-baik saja?” tanya Alena yang menatapku khawatir. Kami sudah berada diluar pondok kecil ini dan bersiap pergi dari sini.
“ Ya, aku sudah berdamai dengan serigalaku,” jawabku yakin dan dibalas anggukan oleh Alena. Senyum terulas di bibirku sekilas sebelum aku berganti shift dengan Lucy. Aku merubah wujudku menjadi serigala dan segera melesat pergi mengikuti Alena yang sudah berganti shift dengan serigalanya. Kami berlari menuju ke arah selatan, tempat dimana Dave berada sekarang. Oh ... Moon goddes, kuharap langkah yang kuambil ini tidaklah salah.
***

Komentar Buku (203)

  • avatar
    Fi Qi

    bagus sekali

    14/02

      0
  • avatar
    DewisartikaHana

    bagis

    30/01

      0
  • avatar
    Dwi

    love story ada yang

    24/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru