Udara sejuk yang semestinya dirasakan oleh siapa saja yang melintas, kali ini dirasakan oleh Lina dengan begitu gersang. Nanar panas tak bisa terhindarkan. Kicau burung serta suara hewan lain menambah amukan pemikiran yang tak karuan Lina rasakan. Silvi yang duduk disebelah jok mobil sopir masih tidak mau menyinggung dan angkat bicara soal kejadian apa saja yang telah terjadi terhadap sahabatnya. Dirinya juga sadar, dalam keadaan demikian tak ada yang lebih berharga daripada selain diam. Diam, diam adalah salah satu solusi yang paling banyak diminati kala kenyataan sedang tidak baik sesuai kehendak hati. "Mau makan apa?" Lina hanya menatap Silvi yang menanyai dirinya. Dalam tatap wajahnya masih terlihat teramat jelas sebuah kekecewaan yang baru saja dirinya alami. "Enggak nafsu aku! Maaf." Ya, bukan tanpa alasan memang apa yang diperlihatkan oleh Lina. Dirinya memang tidaklah orang yang gampang menaruh kekecewaan terhadap seseorang sebelum dirinya sendiri dengan kedua bola matanya membuktikan. Ini mungkin adalah salah satunya. Fuad telah jelas membohongi dirinya soal Nadia. Katanya, dia telah tiada. Ternyata malah telah menjadi pasangan istri sah bagi dirinya. Cukup mengesankan, bukan? Ketika orang yang dirimu cinta dengan penuh harapan. Ternyata dengan begitu teganya membohongi serta main belakang soal sebuah perasaan. Ah sakitnya, begitulah kira-kira yang dirasakan oleh Lina tanpa lebih dahulu mencari penjelasan yang nyata. Silvi juga tidak bisa berbuat banyak. Seorang Lina yang terlihat selalu dalam keadaan baik-baik saja, andaikata merasa kecewa sekali saja. Maka, ya sudah, tidak ada yang bisa menawarnya. Selain waktu yang akan dengan sendirinya membuat dirinya kembali tertawa. Pernah, suatu ketika saat Lina telah mempunyai janji terhadap teman seangkatan SMA. Semua telah diundang dan menyetujui akan datang sesuai tanggal dan hari yang sudah tertuliskan. Kebetulan, tanpa diduga serta direncana. Semua teman-temannya tidak bisa datang, mengecualikan Silvi yang memang datang sendirian. Dengan berbagai alasan mereka mengabari Lina dengan begitu santainya meminta sebuah permintaan maaf. Ya, jelas, dirinya hanya membiarkan pesan itu terbaca tanpa dirinya membalas barang mengiyakan dengan lapang. Lina telah memesan tempat sesuai voting yang dirinya berikan pada grup seangkatan. Lina juga yang menanggung semua biaya yang dibutuhkan. Sebenarnya hal itu sama sekali tidak menjadi permasalahan. Karena baginya itu bukanlah biaya yang terbilang mahal. Mungkin, setara dengan uang jajan bagi dirinya per hari. Yang membuat kecewa seorang Lina adalah balasan iya dari rekan-rekannya, yang ternyata pada akhirnya tidak bisa datang dengan alasan sendiri-sendirinya. Apalagi, yang memilih tempat itu adalah teman-teman Lina sendiri. Dan teman-teman sendirinya itu pula yang harus dengan alasan tidak masuk akal tidak bisa menghadiri. Sebenarnya, ketidak bisa datangan mereka mampu Lina ampuni serta maklumi. Tapi, setelah beberapa jam Lina melihat salah satu story dari teman-temannya. Membuat Lina merasa tambah kecewa diatasnya kecewa. Dan hanya Silvi pula yang mampu mengerti Lina ini. Silvi yang berada diposisi dekat itu. Berbagai cara diupayakan Silvi agar mampu membuat Lina kembali tertawa dan merasa tenang dengan keadaan. Malah, Silvi juga mendapat imbas dari perilaku teman-temannya yang tidak mungkin bisa datang. Dari kejadian itu pula, yang kini membuat Silvi lebih memilih diam atas sikap yang sedang Lina rasakan. Daripada resiko, cukuplah diam. Dan berharap secepat mungkin hal-hal yang membuat Lina kecewa sesegera mungkin beranjak dan dia kembali mampu tertawa seperti Lina sebelumnya. "Bisa-bisanya Fuad ini! Bilang Nadia sudah tiada, eh tahunya malah sudah jadi istri sahnya!" Lina menggerutu mencurahkan kekecewaan yang benar-benar sukar serta menyesakkan jika dirasakan. Silvi hanya sesekali senyum dan lebih memilih untuk diam. "Enggak habis pikir aku! Bisa-bisanya dia berperilaku demikian!" Lina terus saja mengomel. Pemandangan langka yang mungkin andaisaja itu berupa barang, mampu dimasukan dalam salah satu koleksi situs museum. "Jadi penasaran aku sama sosok Nadia itu! "Terus?" "Kembali lagi kesana kita ke Rumah Sakit! Penasaran aku." Silvi tidak habis pikir dengan pola pandang pikir Lina yang jelas terlihat super gila. Ah, sudah tidak bisa membuat Silvi terus-terusan diam. Dia mulai angkat bicara. "Eh, Lin! Sudah enggak waras ya, kamu?" "Kenapa emang? Hah!" "Ngapain balik lagi coba? Kita sudah sampai sejauh ini," "Bodo amat! Penasaran aku," Jika Lina telah berkehendak. Maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Sedikit keras kepala serta ego yang entah berantah akan muncul dengan begitu sendirinya ketika Lina berada dalam posisi demikian. "Bentar-bentar sebentar aku bilang," Lina memberhentikan mobil dengan maksud pula hendak membanting setir kembali menuju Rumah Sakit Umum Magelang. "Mau ngapain kesana lagi, Li ... na?! Ini kita sudah keluar kota Magelang!" "Telingamu dimana sih? Tadi enggak dengar aku?! Hah!" Bagai bidadari yang tiba-tiba saja aura kecantikan luntur seketika. Termasuki perangkap iblis yang mampu menggoda Hawa serta Adam penyebab mereka berdua turun dari surga. Jujur, kali ini seakan Lina terlihat sangat emosi dan kecewa. Biasanya mungkin dia akan meneteskan air mata. Tapi, kali ini? Lain rasa sepertinya. Kekecewaan bercampur amarah rasanya menjadi satu pada hati milik Lina. Dia tidak bisa berbuat banyak selain rasa ingin memarahi orang disekeliling. Mendengar ucapan dengan nada tinggi. Sebenarnya membuat Silvi takut. Dirinya merasa seperti dibentak oleh sahabat sendiri. Dan baru kali ini juga Silvi mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Lina. Sosok bidadari yang sebenarnya dimiliki luar dan dalam dari seorang Lina. Harus dengan mudahnya terbakarkan oleh hal sederhana yang membuatnya kecewa. Dari dia orang yang dirinya cinta, dari dia pula yang mampu membuatnya merasa terluka dengan begitu hebatnya. "Mm-ma-af," Suara gemeteran terdengar dari mulut Silvi. Lina sama sekali tidak memikirkan hal itu. Seperti sudah tidak ada harga diri sebagai sahabat terlihatnya. "Enggak usah gemeteran gitu. Aku enggak ngapa-ngapain kamu, cuma aku inginkan ikut, tidak lebih dan tidak kurang!" Silvi sontak diam, memang pilihan yang tepat dirinya lakukan. Dan memang harus dipertahankan sampai kondisi benar-benar memungkinkan. Lina tetap saja memacu mobil pribadi miliknya untuk kembali menuju ke Rumah Sakit. Dengan sifat dongkol serta segumpal kekecewaan yang belum reda-reda juga, Lina tetap dengan nekad hendak menemui Nadia entah untuk apa. Silvi hanya berani menuruti keinginan Lina yang belum dengan pasti juga alasannya. Dirinya benar-benar memilih untuk diam, daripada melontarkan sebuah ucapan yang mampu membuat hatinya terluka. Wajar, tidak hanya perempuan saja. Namanya manusia sudah barang pasti mempunyai sisi kelembutan tersendiri. Merasa kurang berkenan dengan suara agak keras yang mungkin juga mampu melemahkan mental seseorang. Setidaknya, itu pula yang sedang Silvi hadapi. Itu pula yang sedang Silvi alami. Rasa khawatir serta perhatian terhadap keadaan sahabat yang harus ditanggapi dengan kesalahpahaman.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
makasih ya
05/10
0bagusss
23/03/2025
0mayan seruuu semangat minnn
08/12/2024
0Lihat Semua