Bab 68 Mirip

"Alika Shanice udah makan belum?" tanya Ratna diseberang.
"Udah Mah, ini sekarang lagi makan eskrim." ucap Alika.
"Kebiasaan banget kamu kalo anaknya gak bisa makan pasti dikasih eskrim. Lainkali biasain enggak kasih eskrim, kasih apa gitu. Jepitan atau apa. Biar dia juga enggak bosen nantinya." ucap Ratna.
"Iya Mah." ucap Alika.
"Oh iya kamu mau berapa lama nginep disana? Mama juga kan pengen ikut, tapi papamu malah bilang jangan kesana nanti encok lagi pinggangnya gimana? Mama tuh sekarang sebel sama Papa, apa-apa enggak boleh. Orang Mamanya sehat-sehat aja juga. Lagian itu mah maunya Papa aja supaya enggak mau repot ngurusin Mama yang suka encok. Bilang tuh ke Papamu kalo Mama sakit encok tuh dibantu, bukan ditinggal." ucap Ratna panjang lebar, setelahnya sayup-sayup suara ayahnya terdengar dibelakang.
"Papa dengar Mah." ucap Rudi.
"Eh Papa, denger aja Pah. Kirain belum selesai nanem pohonnya." ucap Ratna tidak enak karena obrolannya barusan didengar.
Ratna kembali berbicara pada Alika dengan berbisik. "Tuh liat, pendengarannya tajem banget lagi, meuni seuket, padahal udah aki-aki. Heran deh Mama, enggak bisa diomongin sedikit, langsung ketahuan. Papamu ini keturunan superhero kali ya?" bisik Ratna di ujung telepon.
"Haha keturunan suparman kali Ma." tawa Alika.
"Suparman setahu Mama tukang ojek." ucap Ratna
"Oh iya kamu mau pulang kapan? Jangan lupa bawa oleh-oleh dari bogor ya? Mama pengen yang manis-manis. Biasalah lagi ngidam nenek-nenek. Biar enggak ileran nanti." ucap Ratna.
"Iya deh, nanti dibeliin haha." tawa Alika.
"Oh iya enggak ada hal-hal aneh kan disana? Mama punya perasaan enggak enak dari kemarin, soalnya ada berita di tv kalo ada pengunjung di taman safari yang diterkam harimau." ucap Ratna. Alika terkejut. Mungkinkah itu berita tentang Lucas?! Untungnya saja ibunya itu tidak tahu kalau itu Lucas, bisa-bisa sakit encok-eh jantungnya kumat lagi.
"E-eh. Enggak kok Ma, enggak ada hal aneh." ucap Alika gugup.
"Ngeri ya, padahal penjagaan disana ketat banget tapi kenapa bisa kecolongan gitu ya? Tapi semua dari manusianya juga sih, katanya sih itu karena pengunjungnya yang nekat keluar dari mobil, makanya diterkam sama si tuh harimau." ucap Ratna. Alika tersenyum.
"Iya Ma." ucap Alika terkesan menutupi sesuatu. Ia hanya tidak ingin masalah melebar kemana-mana. Cukup dirinya dan Lucas serta Angela dan Yudistira saja yang tahu tentang ini.
Setelahnya Alika pun menutup teleponnya. Lucas muncul dan duduk dihadapannya.
"Wah enak banget makan eskrimnya. Besok enggak boleh makan eskrim lagi ya? Kan seminggu sekali kamu  jatah makan eskrimnya." ucap Lucas dengan bahasa inggris.
"Enggak mau." ucap Shanice juga dengan bahasa inggrisnya. Alika tersenyum.
"Nanti Mama beli yang lain deh selain eskrim. Kamu mau apa Nis?" tanya Alika.
"Es krim." ucap Shanice dengan terus menjilati eskrimnya hingga ada sisa di atas dan ujung bibirnya.
Alika tersenyum dan menyekanya dengan tisu.
"Gimana kalo Mama beliin jepit rambut? Itu loh yang gambarnya kupu-kupu." ucap Alika.
"Aku mau kupu-kupu dan eskrim." ucap Shanice, Alika tertawa.
"Kenapa harus ada eskrim dibelakangnya? Kamu harus pilih.. Mau kupu-kupu atau es krim?" tanya Alika.
"Kupu-kupu dan eskrim." ucap Shanice mengulang perkataannya. Alika melihat ke arah Lucas sembari tertawa bersamanya.
"Kupu-kupu aja ya? Kan eskrim udah sering." ucap Alika.
"Kupu-kupu dan eskrim." ucap Shanice. Alika tersenyum. "Yaudah enggak usah keduanya. Kalo kamu enggak mau pilih salah satu." ucap Alika.
"Kupu-kupu dan eskrim!" ucap Shanice dengan penekanan.
"Enggak ah, Mama maunya kamu pilih salah satu. Kalo enggak mau pilih, ya berarti enggak dapat apa-apa." ucap Alika. Shanice tetap mengatakan
"Aku mau kupu-kupu dan eskrim!" ucap Shanice kekeh. Alika menghela nafas dan melihat ke arah Lucas yang tertawa.
"Anak kamu." ucap Alika.
"Kamu juga haha." tawa Lucas.
"Oh iya kita pulang besok atau kapan?" tanya Alika.
"Iya, terserah kamu enaknya gimana." ucap Lucas.
"Yaudah besok aja. Tapi aku kepikiran sama cewek tadi loh Mas." ucap Alika.
"Kinanti?" tanya Lucas. Alika mengangguk.
"Saya juga. Dia selalu dianiaya oleh saudara tirinya tapi masih saja mengkhawatirkan mereka. Apa kita bantu saja ya dia?" tanya Lucas.
"Gimana caranya?" tanya Alika.
"Saya juga enggak tahu, tapi sekalipun kita membantu dia juga apa dia mau menerima uluran tangan kita?" tanya Lucas.
"Iya, tadi saja responnya seperti itu." ucap Alika bingung.
"Entah kenapa ya, saat melihat dia saya jadi kepikiran dengan Angela." ucap Lucas.
"Kok bisa gitu? Apa karena dia dua saudara dan memiliki kakak laki-laki?" tanya Alika.
"Iya karena itu. Didalam hati saya seperti ada ajakan untuk menolong dia gitu entah gimanapun caranya." ucap Lucas. Alika tersenyum. Ia memahami betul perkataannya. Dia berhak merasakan hal semacam itu, karena ia adalah seorang kakak. Dan mungkin saja, itu bagian dari impian almarhum kakak Kinanti yang kemungkinan tersampaikan pada Lucas.
Risha sedang berada di pasar sekarang bersama Kania. Adik perempuannya yang masih berusia 8 tahun.
Mereka sedang membeli segala macam kebutuhan seperti yang tertera didalam list ibunya berikan tadi.
Berbagai tukang jualan mereka jelajahi, seperti tukang perabotan, tukang sayur, tukang ikan, tukang baju, tukang sendal hingga tukang cilor.
"Efek bawa bocah ke pasar ya gitu, kalo enggak diturutin jajan ya ngambek. Males aja ngedenger adek gue nyanyi ala rocker, yang ada gendang telinga gue jebol." batin Risha seraya memakan cilornya bersama Kania.
"Kak habis ini beli kado ya?" tanya Kania.
"Lah, kado buat kamu kan udah ada baju tiga biji." ucap Risha aneh.
"Ih tapi kan itu baju buat sehari-hari. Aku mau boneka beruang, masak-masakan sama boneka barbie." ucap Kania.
"Lah lah... Kenapa jadi banyak gini sih pengennya?" batin Risha tidak terima. Risha mencoba bersikap tenang meskipun ia agak empet dengan adiknya ini.
"Dek, kan kakak cuma bawa uang sedikit. Ya masa uang tinggal dikit dipakai beli macem-macem. Nanti kita tiba-tiba dijalan, bannya bocor gimana? Kamu mau dorong motor sampai ke rumah?" tanya Risha.
"Males ah, kakak aja yang dorong. Yang ngendarain kan kakak." ucap Kania. Rasa empet Risha pun semakin menaik.
"Ini bocah anak siapa sih? Bawaannya pengen gue loakin aja, terus dituker sepeda." batin Risha kesal, ia makan cilornya lalu telan kasar.
Selepas memakan cilor, mereka pergi ke tukang mainan menuruti keinginan memaksa Kania yang terus diulang-ulang sepanjang berjalan tadi.
Tapi hanya membeli satu jenis barang saja yaitu boneka beruang. Risha coba membohongi Kania dengan mengatakan jika boneka barbie dan masak-masakannya sudah habis dibeli orang.
Hingga pada akhirnya Kania pun menurut dan patuh hanya dibelikan boneka beruang saja.
Yah, masih belum berakhir juga sih perjuangan Risha dalam menahan sang adik untuk tidak membeli ini dan itu.
Selama mereka masih menginjakkan kaki di pasar ia harus pintar-pintar mengeles adiknya. Ia merasa saja, jika ia masih berada disana ia masih belum aman.
Sejujurnya Risha hanya tidak mau berfoya-foya mengeluarkan banyak uang yang Albert berikan.
Dirinya berkenan mengumpulkan uangnya itu untuk keperluan lain, membeli kado secukupnya juga tidak masalah, ia hanya khawatir jika menuruti semua keinginan adiknya, takut akan membuat adiknya itu ketagihan dan meminta lagi di hari ulang tahun berikutnya.
Sepanjang berjalan menuju tempat parkir, Risha berkali-kali mengeles semua serangan adiknya yang beruntun tertuju ke arahnya.
"Kak itu apa?"
"Bukan apa-apa."
"Kak aku mau itu."
"Mahal."
"Kak itu barbie."
"Mahal."
"Kak itu keren banget."
"Mahal."
"Kak itu.."
"Mahal."
"Kak kenapa mahal terus sih?! Aku mau itu ih!"
"Duitnya habis."
"Kakak ihh!"
"Ditinggal."
"Tunggu kakak! Kok ditinggal sih!"
Tiba-tiba Risha melihat sesuatu di ujung sana, seekor kucing yang sangat mirip dengan... Elijah?!
Tapi mana mungkin ada disana. Kan rumah Albert saja di ujung berung. Tidak mungkin ada disana lah! Mungkin hanya mirip!
Risha pun coba mencuekinya dan tetap berjalan melewatinya. Akan tetapi tiba-tiba saja kucing itu mengeong dan bahkan mengikutinya.
Risha bahkan bisa merasakan bagaimana kucing itu sampai mengendus dan melingkari kakinya. Mirip sekali dengan Elijah!
Risha yang tersentuh hatinya pun segera menghentikan laju kakinya dan mengusap-usap kucing tersebut dengan sayang.
Kania yang melihatnya langsung merasa gemas. "Ih lucu banget sih kak kucingnya. Bawa ke rumah dong kak. Plis! Aku mau kak, bawa ke rumah." pinta Kania.
"Enggak lah ini tuh kucing orang Dek. Kamu mau kakak dipenjara karena nyulik kucing orang?" tolak Risha menakut-nakuti Kania dengan alasan tidak masuk akalnya.
Kania pun jadi bungkam saat itu. Ia ikut mengusap dan elus kepala kucing itu, hingga sang kucing pun jadi malah tiduran karena keenakan.
Mereka saling tertawa gemas melihatnya seperti itu.
"Sepertinya kucing saya cukup menghibur kalian." ucap suara familiar yang dirasa sangat Risha kenal.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    NisaulAlvi

    blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy

    29/03

      0
  • avatar
    TusholihaSilvia

    banyak yang menghasilkan uang

    08/03

      0
  • avatar
    ariyantoriki

    bgus

    17/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru