Beranda/Bermain Cantik Denganmu, Mas/
Bab 62 Reuni
"Ya, dia adalah pemilik salah satu perusahaan di indonesia." ucap polisi itu. Alika terdiam berpikir.
Ia penasaran siapa sebenarnya Mr. X ini. Apakah Lucas benar-benar mengenalnya?
"Bisa anda beritahu nama lengkap Mr. X ini?" tanya Alika penasaran.
"Mohon maaf untuk nama lengkapnya kami masih belum tahu, karena orang ini jarang berada di rumahnya dan susah sekali ditemukan. Rumah juga selalu kosong saat kami pergi kesana. Dia tidak memiliki satpam melainkan bodyguard dan para bodyguard yang berjaga di sekitar rumahnya selalu mengatakan jika bosnya sedang pergi keluar kota. Mereka hanya bertugas menjaga rumah kosong itu." ucap polisi tersebut.
"Baik Pak, tapi apa Bapak sempat menanyakan berapa nomor telepon Mr. X ini?" tanya Alika.
"Tidak Bu, karena para bodyguardnya juga tidak memberikan informasi apapun selain itu. Kami juga di hari itu dalam keadaan menyamar, bukan datang sebagai polisi, rencananya besok kami akan kembali ke sana. Kami mengundang Ibu atau suami Ibu untuk ikut pergi kesana sebagai perwakilan, untuk memastikan apakah Ibu atau Bapak mengenal orang tersebut atau tidak. Jika kenal maka sudah bisa dipastikan dia adalah tersangkanya." ucap sang polisi.
"Oh baik Pak, nanti saya akan tanyakan langsung kepada suami saya terlebih dahulu." ucap Alika setelahnya telepon pun ditutup. Alika segera menelepon Lucas yang saat ini sedang bekerja.
Tepatnya sejak tiga hari yang lalu Lucas sudah mulai kembali bekerja. Saat itu Alika beri tahu semua informasi yang ia terima dari polisi tersebut.
Hingga pada akhirnya sebuah keputusan pun diambil oleh Lucas yang berniat untuk ikut pergi kesana bersama polisi.
Esok harinya di hari minggu. Angela dan Yudistira sedang menghadiri acara reunian SMA-nya.
Banyak orang yang melihat betapa cantiknya Angela saat itu, hingga siapapun pasti akan tertarik dengannya sejak pandangan pertama terlebih itu kaum adam.
Tapi sayangnya siapapun yang berani menatap ke arah Angela akan langsung ditatap garang oleh sang pengawal setia Yudistira. Mereka yang melihat pun jadi beralih menunduk.
Angela langsung disambut baik oleh beberapa orang, tak lain itu adalah kepala sekolah dan beberapa guru wanita.
"Apa kabar Njel? Wah kamu hebat ya sekarang. Suka nongol di tipi. Kok jarang kesini sih kemarin-kemarin? Ibu kan kangen." ucap guru berkacamata itu. Kepala sekolah membalas. "Kangen, kangen. Udah kayak orang tuanya aja." ucapnya.
"Loh emang salah Pak? Angela kan anak kita semua yee." ucap guru itu.
"Wah Yudis juga makin ganteng dan kinclong nih, tapi dari dulu sampai sekarang kok terus nempel aja ya di belakang Angela? Kayak ulet keket yang nemplok didaunnya. Haha." ucap guru lainnya.
"Setdah ulet keket katanya, bayanginnya aja geli." gumam Yudistira langsung membela.
"Ulet keketnya udah berubah jadi kupu-kupu kok Bu." ucapnya memuji diri sendiri.
"Haha, tetep aja bikin gatel." ucap guru lain.
"Eh tapi beneran loh Bu, sekarang Yudis makin kinclong kayak piring yang baru dicuci." ucap guru itu. Yudistira serta merta pun merasa bangga hingga terbang.
"Tapi dari lobang celengan liatnya haha." lanjut guru tersebut.
"Setdah, terus aja Bu hina.. Terus aja.. Menghina saya kan dapat pahala." ucap Yudistira. Mereka saling tertawa saat itu.
"Plus dapet centong nasi Yud." lanjut guru itu. "Dikira kondangan Bu haji." balas Yudistira.
"Oh iya, Angela rencananya kapan nyusul kakaknya nikah? Ibu udah enggak sabar nih mau ke undangan kamu. Pasti nanti heboh." ucap salah satu guru.
"Yang bikin heboh nanti bukan Angela tapi kamu haha." ucap teman guru lainnya.
"Kita karaokean Bu ibu!" pekik teman gurunya yang langsung memicu kehebohan. Tawa mereka serempak terdengar.
Yudistira geleng-geleng.
"Kelakuan Ibu-Ibu jaman now. Gue yakin suaminya pada enggak nyadar kalau magic com di rumah masih belum ada nasinya." gerutu Yudistira. Angela berbisik.
"Kamu ngomong apa nangis Yud?" tanya Angela.
"Ketawa ayang Njel." ucap Yudistira dimanis-maniskan.
Angela segera berkata pada guru-gurunya itu.
"Kejauhan ah Bu mikirnya. Calonnya aja masih belum ada." ucap Angela merasa malu.
"Belum ada apa belum lahir haha." ucap salah satu guru.
"Kagak lah Bu, masa belum lahir sih. Kalo bu ibu nyari siapa calon suami Angela. Orangnya ada disampingnya langsung sekarang." ucap Yudistira bangga.
Meski para Bu guru itu tidak mau menerima langsung kalau yang disampingnya itu adalah Yudistira.
Mereka malah lebih percaya dengan pohon yang ada disamping kiri Angela.
"Mana calonnya? Pohon?" tanya salah satu guru tertawa.
"Oh Angela calon suaminya pohon toh.. selamat ya Njel! Nanti kalo lahiran anaknya jadi manusia pohon dong! Hahaha." pekik seorang guru.
"Pinokio anaknya Bu hahaha." tawa guru lainnya. Yudistira menghela nafas.
"Inilah akibatnya dari ibu-ibu yang tiap harinya diicekokin film azab kubur." gumam Yudistira.
"Maksudnya Yudistira kok Bu, bukan pohon." ucap Angela menegaskan. Yudistira pun merasa luluh dikatakan seperti itu.
"Baik banget sih ayang Njelly drink. Makin pengen ngawinin aja." batin Yudistira.
"Oalah, Yudis toh. Emang kamu mau kasih mahar apaan Yud? Setoples rengginang?" tanya guru itu. Beberapa guru tertawa.
Yudistira membela diri. "Enggak Bu, saya kasih mahar lebih besar dari itu, tidak lain adalah rumah." ucap Yudistira bangga.
"Rumah-rumahan kali?"
"Rumah yang terbuat dari lego Yud?"
"Rumah buat kucing kali?"
"Rumah berbie?"
Tanya mereka bersusulan. Yudistira hanya menghela nafas, menerima serangan beruntun yang terkesan membabi buta itu. Memang ia tidak diperbolehkan untuk berbangga diri.
"Semerdeka ibu aja." ucapnya tersenyum.
Albert sedang menikmati hari libur kerjanya dengan memandikan Elijah di depan pekarangan rumahnya. Setelah sempat hilang selama berada di Bandung, di hari berikutnya Elijah kembali ditemukan oleh Risha.
Ini semua berkat wanita itu karena sudah bersusah payah mencari Elijah ke sekeliling tempat di daerah Ciwidey sejak pagi buta.
Albert sangat berterima kasih pada Risha saat itu. Ia merasa berhutang budi pada wanita itu.
Elijah juga merasa nyaman dengan Risha. Selama di Bandung pun Elijah sering diajak makan oleh Risha dan hasilnya kucing itu menurut makan.
Padahal sebelumnya Elijah tidak mau makan ketika diajak makan oleh sang pemilik, Albert.
Mungkin ke depannya jika Elijah tidak mau makan lagi, Albert akan meminta bantuan Risha untuk membujuknya.
Selesai memandikan, Albert pun segera mengeringkan bulu Elijah dengan hair dryer, mengelapnya dengan handuk. Setelahnya Albert pun segera memberikan makan pada Elijah.
Menyodorkan satu mangkuk whiskas
padanya. Akan tetapi sayangnya Elijah kembali mundur lagi, ia tidak mau makan.
Albert coba kembali dekatkan ke mulutnya atau sodorkan kepingan whiskas itu, akan tetapi tetap tidak mau makan.
"Kamu kenapa lagi hm? Sakit? Atau kedinginan?" tanya Albert heran.
Elijah hanya diam saja ketika itu.
Albert menghela nafas. Apakah mungkin ia harus meminta bantuan Risha ya sekarang?
Albert pun segera menggendong Elijah ketika itu, tubuh besar dan gempal Elijah membuat bahunya terkadang pegal, menggendong layaknya seorang anak kecil yang digendong ibunya.
Albert mengelus-elus kepala Elijah ketika itu sambil mengambil ponselnya. Ia hubungi Risha ketika itu.
"Halo.. Risha.. Ada sesuatu yang gawat. Kamu bisa ke rumah saya sekarang? Situasinya sangat darurat, saya berharap kamu segera kesini." ucap Albert seraya mematikan ponselnya dan memberikan peta lokasi keberadaannya pada Risha.
Beberapa saat kemudian Risha pun sampai didepan rumah Albert dengan pakaian kasualnya.
Ia tampak ngos-ngosan saat itu karena mengira ada hal gawat yang benar-benar terjadi.
Tapi nyatanya ketika pintu rumah Albert dibuka, menampak Albert yang sedang menggendong kucingnya layaknya menggendong orok.
Risha tercengang dan langsung bertanya. "Yang mana yang gawat Pak? Apa hal darurat yang terjadi?!" tanya Risha panik.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (86)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy
29/03
0banyak yang menghasilkan uang
08/03
0bgus
17/11
0Lihat Semua