Bab 60 Amnesia

Beberapa saat kemudian Karina menahan tawa saat melihat Albert di ujung sana bersama Elijah yang masih di tentengnya didalam kandang.
"Pak, kayaknya kurang estetik deh kalo pakai kandang, mending Elijahnya dilepas." ucap Risha memberi saran sembari cengar-cengir mengikuti Karina.
"Masa sih? Saya khawatir Elijah lepas lagi." ucap Albert. "Enggak kok Pak, disini aman. Nangkepnya gampang." ucap Risha.
"Yasudah." ucap Albert segera mengeluarkan Elijah dari kandang. Ia memegang Elijah saat itu dan menciumnya, ketika itu juga dirinya pun dipotret.
Dirinya dan Elijah difoto dalam berbagai posisi, meskipun raut wajahnya tidak berubah sama sekali.
Beberapa orang yang melihat Albert dengan gaya bakul bekasnya pun tampak memusatkan perhatian pada pria itu.
Apalagi menurut mereka Albert cukup tampan hingga salah satu dari mereka hanya sibuk memperhatikan Albert hingga bahkan cengar-cengir, melihatnya berfoto dengan kucing.
Menurut mereka Albert mungkin tipe cowok langka, imut dan penyayang.
Risha melihat semua itu dan entah kenapa ia merasa Albert cukup populer dimata banyak wanita.
Tidak heran sih, karena di kantor juga dia seperti itu. Sayangnya, dia tipe orang yang sangat kaku. Hingga siapapun pasti akan... Menyerah dibanding memperjuangkan rasa kagumnya.
Risha hanya memperhatikan Albert saja disana, sembari ditemani angin yang mengajak menari ujung rambutnya dan topi pantainya.
Meskipun kemarin sempat ada percekcokan diantara mereka, akan tetapi Risha perlahan mulai paham, bagaimana sebenarnya sifat Albert sebenarnya.
Dia... Bukan orang pendendam.
Kejadian kemarin menyadarkan Risha, kalau Albert bukan tipe orang yang gila dengan uang atau segala macamnya itu. Dia tipe orang yang bahkan ketika marah pun...
Tetap menunjukkan wibawanya... Yang ketika marah pun itu akan berakhir dengan cepat dan mudah dilupakan.
Entahlah sisi mana lagi yang Risha tidak tahu dari Albert.
Intinya... Risha paham beberapa sisi, yang orang lain tidak tahu mengenai Albert.
Risha menarik senyum manis di sudut bibirnya seraya menghadap ke arah Albert berdiri.
Tiba-tiba saja Albert menyadari senyuman manis itu. Risha langsung memalingkan wajahnya menunduk. Ia kembali beranikan diri menatap Albert akan tetapi Albert masih tetap dalam posisi pandangan yang sama, menatapnya lurus.
"Dia ngapain sih liatin gue?" batin Risha. Risha melihat ke sekeliling atau belakangnya. Ternyata tidak ada seorang pun didekatnya. Ia pun pada akhirnya sadar dan sangat malu kala tahu Albert barusan menyadari senyumannya.
Bahkan sebuah suara bariton keluar dari mulutnya.
"Risha." panggilnya.
Risha mengangkat dagunya dan melihat ke arah Albert.
"I-iya Pak?" tanya Risha dengan suara memekik. Ia takut jika Albert kini bersiap mempertanyakan senyumannya barusan.
"Sini sebentar." ucap Albert.
Risha pun mau tak mau segera pergi mendekatinya. "Iya Pak? Ada apa?" tanya Risha.
"Foto bersama saya." ucap Albert. Risha tercengang. "Eh? S-saya Pak?"
Karina tertawa geli diujung sana.
"Hahaha! Ini kesempatan Ris, buat pedekate sama Pak Albert. Kapan lagi coba?!" pekik Karina seraya memegang ponselnya dalam mode siaga.
"T-tapi Pak, kenapa saya?" tanya Risha.
"Karena hanya kamu yang sedang menganggur." ucap Albert.
"Apaan tuh?" batin Risha.
Risha segera mendekati Albert dan berdiri menghadap kamera. Albert menyerahkan Elijah pada Risha. Wanita itu pun menerimanya.
Mereka pun dalam posisi renggang. Tapi Karina yang melihat ini pun langsung coba menyuruh mereka untuk mendekat.
"Deketan lagi dong, ini kok kayak musuhan sih? Ayo deketan lagi." ucap Karina. Risha pun segera menggeser ke dekat Albert sesenti atau dua senti.
"Dikit banget sih gesernya. Ayo geser lagi, sampai nempel dong!" pekik Karina seraya mengikik setelahnya.
Risha menggeser sesuai perkataannya akan tetapi gesernya hanya sedikit sekali. Tidak mau Karina terus menggerutu, Albert pun inisiatif merangkul Risha dari samping.
Risha pun kaget bukan kepalang. Ia merasa deg-degan sekali saat itu. Apalagi tubuh kokoh Albert seakan menggepit tubuhnya hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak leluasa.
Mereka terus difoto dalam berbagai posisi, dari yang awalnya bersikap canggung kini jadi semakin terlihat tawa dan senyumnya.
Bebas dan banyak gaya, meskipun itu hanya Risha, Albert masih lempeng seperti tol.
Mereka saling berkeliling lalu foto. Mereka juga memberikan makanan pada rusa.
Risha sering tertawa saat Albert sering didekati oleh rusa, penyebabnya adalah karena ia terus membawa Elijah yang berada di sangkarnya.
Rusa itu bahkan sampai mau menyeruduk Albert ketika itu. Karina memvideokan momen lucu itu, ternyata ia tidak ingin Risha maupun dirinya tertawa sendirian disana.
Benar-benar sesat mereka.
Di rumah sakit, dihadapan ruang rawat Lucas. Angela mengetuk pintu ruangan tersebut, ia dan Yudistira kini berniat menjenguk Lucas. Alika membuka pintunya, menyambut mereka. "Kalian." ucap Alika.
"Gimana keadaan Kak Lucas Mbak?" tanya Angela.
"Belum sadar orangnya. Kita diluar aja ya." ucap Alika menyuruh mereka untuk segera keluar dari sana, duduk di kursi tunggu.
Angela tampak khawatir dan sedih saat itu. "Mereka sudah kelewatan Mbak, bagaimanapun Kak Lucas sudah dianiaya sama mereka. Mereka harus diberi pelajaran." ucap Angela.
"Masalahnya pelakunya masih belum ketahuan Njel. Bagaimana bisa menyalahkan mereka sedangkan buktinya saja tidak ada." ucap Alika.
"Tapi kalau bukan dia siapa lagi, apa Mbak mau aku melabrak Andrew sekarang?" tanya Angela.
"Jangan! Lucas tidak mau ada kesalahpahaman nantinya. Lucas sedang menyelidiki perihal ini dengan melibatkan irang suruhan. Kamu jangan khawatir ya." ucap Alika.
"Tapi Mbak, aku udah lelah sama semua teror ini. Udah kelar masalah ibu tiriku, muncul lagi masalah lainnya. Pusing aku. Kak Lucasnya yang kasihan, terlalu banyak menderita dan menahan luka dari perbuatan mereka." ucap Angela.
"Iya Mbak juga enggak tega kalau begini terus." ucap Alika.
Tiba-tiba pintu ruang rawatnya terbuka. Lucas keluar dari ruang rawatnya dengan gontai. Alika yang melihat itu pun langsung terkesiap bangun dan menopang tubuh Lucas.
"Ka-kamu kenapa Lucas? Kamu sudah siuman?" tanya Alika.
"Kamu... siapa." ucap Lucas. Alika, Angela dan Yudistira terkejut serentak. Apakah mungkin dia... Amnesia?!
"Kamu... Lupa ingatan Lucas?!" tanya Alika panik.
"Bukan... S-saya lupa..."
"Belum makan." ucap Lucas seraya tertawa geli. Mereka semua memandang datar ke arah Lucas, apalagi Alika yang merasa sangat gemas hingga menghujaninya dengan cubitan di pinggang. Lucas pun meringis kesakitan.
"Iseng banget sih heh? Kamu mau aku jantungan barusan?!" tandas Alika. Lucas tertawa sembari meringis. "Haha iya duh ampun.. ampun."
"Kakak nih emang paling hobi bikin orang jantungan, kalo kita jantungan berjaamah gimana?" tanya Angela.
"Ganti jantung pisang Jel." bisik Yudistira.
"Ngelawak kamu?" tanya Angela sinis.
"Iya kan gue badut lo." ucapnya nyengir.
"Stres." balas Angela.
"Kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Alika cemas.
"Sini duduk." Alika menyuruhnya duduk disampingnya.
"Iya tidak apa-apa. Meski masih pusing sedikit." balas Lucas.
"Aku sudah melapor pada polisi dan menyerahkan nomor plat kendaraan yang ditumpangi oleh orang yang menabrak kamu. Sekarang masih dalam penyelidikan. Semoga saja hasilnya segera terungkap dimana letak keberadaan mobil tersebut sekarang." ucap Alika.
"Oh begitu. Bagus Al, semoga saja bisa segera terungkap." ucap Lucas.
"Oh iya apa kamu hapal dengan jenis mobil yang mengejar kamu kemarin?" tanya Alika.
"Mobil CR-V hitam."
"Sepertinya itu mobil berbeda deh dengan yang menabrak kamu kemarin. Apa mungkin itu orang suruhannya saja ya?" tanya Alika.
"Mungkin." jawab Lucas.
"Kamu sendiri sudah ada informasi dari orang suruhanmu?" tanya Alika.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    NisaulAlvi

    blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy

    29/03

      0
  • avatar
    TusholihaSilvia

    banyak yang menghasilkan uang

    08/03

      0
  • avatar
    ariyantoriki

    bgus

    17/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru