Bab 55 Penjemputan

Dokter itu pun merasa terancam dan takut. Apalagi ia juga tahu jika Lucas adalah anak dari pengusaha besar yang namanya terkenal di luar negeri sana.
Ia pun segera berlutut dihadapan Lucas saat itu juga.
"Ampun, saya mohon maafkan saya. Saya hanya disuruh oleh wanita itu. Saya tidak ada maksud lain, saya cuma disuruh olehnya dengan diiming-imingi uang senilai 10 juta kalau saya merahasiakan ini semua dari kalian. Saya mohon maafkan saya. Tolong jangan masukkan saya ke penjara." ucap dokter tersebut memelas.
Lucas dan Alika saling menatap. Kemudian Lucas berkata. "Siapa wanita itu?" tanyanya.
"Anak kedua dari keluarga Handoko, namanya Rachel."  ucap dokter itu. Alika benar-benar tidak menyangka, jadi semua penuduhan terhadap Rachel ternyata benar!
Alika sekarang tidak percaya lagi dengan Rachel, dia benar-benar lelah mempercayai wanita semacam Rachel!
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini? Melabrak Rachel lagi?" tanya Alika pada Lucas.
"Jangan, kita kumpulkan dulu buktinya baru laporkan dirinya ke polisi." usul Lucas. Alika mengangguk, ia setuju dengan perkataan suaminya tersebut.
Lima hari kemudian.
Rachel sudah rapih ingin menemui teman-temannya di kafe, tepatnya sekitar jam sepuluh pagi nanti acara kumpul itu dilaksanakan.
Akan tetapi baru akan membuka pintu, pintunya sudah terbuka duluan oleh seorang pria tidak dikenal... tidak. Lebih tepatnya itu...  lima orang polisi!
Rachel terbelalak. "A-ada apa ini kenapa kalian kesini? Langsung masuk lagi tidak sopan sekali." tandas Rachel.
"Ah, maaf Bu. Kami dari kepolisian. Kami ingin menanyakan sesuatu. Apakah anda betul Ibu Rachel Putri Handoko?" tanya polisi itu.
Rachel terkejut, ia terdiam dengan sejuta kepanikan didalam kepalanya. "Mau apa kalian mencari saya?" tanya Rachel.
"Hari ini anda resmi kami tangkap, karena sudah menjadi tersangka penyebab kematian bayi yang dikandung oleh saudari Alika." ucap polisi itu.
"Loh apa-apaan ini?! Kenapa saya? Alika keguguran itu karena kecelakaan! Kenapa saya jadi yang dilibatkan?!" tandas Rachel tidak terima.
"Benar Bu, akan tetapi kami menerima laporan dari saksi sendiri yang tak lain adalah dokter, kalau bayi yang dikandung Bu Alika meninggal karena keracunan." ucap polisi tersebut. Rachel semakin keringat dingin.
Ia panik, meski luarnya masih terlihat tenang dan bisa mengontrol dirinya.
"T-tunggu... bisa saja kan dokter itu berbohong? Alika dan Lucas memang sangat membenci saya sejak lama, bahkan mereka sering sekali menuduh saya tanpa alasan berdasar. Kalau kalian ingin menangkap saya serahkan dulu buktinya baru tangkap! Bukannya seperti ini! Nuduh orang seenaknya." ucap Rachel tidak mau kalah.
Polisi itu pun segera menyerahkan sebuah surat yang didalamnya berisi tulisan bukti adanya cairan kimia alias racun didalam tubuh Alika di hari ia mengalami kecelakaan.
Rachel yang selesai membacanya pun langsung lemas seketika itu juga. Ia hampir akan terjatuh saat itu, ia meronta saat polisi memborgol tangannya dan membawanya pergi keluar.
"Tunggu dulu! Lepasin saya! Saya enggak bersalah! Mereka yang salah! Tunggu! Jangan tangkap saya!" pekik Rachel terus meronta seiring polisi tersebut menggiringnya ke mobil yang terparkir didepan rumahnya.
Pembantu Rachel terkejut saat melihat sang majikan dibawa oleh banyak polisi, ia yang panik pun segera menelepon Andrew.
"Tuan Bos, Nyonya Tuan... Nyonya dibawa polisi!" ucapnya. Suara pekikan nyaring terdengar diseberang telepon.
"Apa? Rachel ditangkap polisi?!"
Alika dan Lucas saling duduk bersebelahan di sebuah kursi, menikmati pemandangan langit dan matahari senja sejurus di hadapannya. Tepatnya saat ini mereka sedang berada di halaman belakang rumahnya.
Di sebuah pekarangan yang diliputi kehijauan rumput dan pepohonan. Sembari itu mereka saling bercanda ria disana, tertawa.
"Masa sih? So sweet banget sih, selama aku koma kamu setia nungguin aku. Pantes aja sampai ketiduran disebelahku, ngiler lagi satu panci." ucap Alika yang langsung dicubit pipinya oleh Lucas, tertawa.
"Istri beneran jujurnya kelewatan ya. Ibarat naik angkot, enggak berenti-berenti sampai terminal." tawa Lucas.
"Masih mending jujur dibanding berbohong, sama kayak kamu waktu itu." sindir Alika.
"Bisa aja lagi balesnya." ucap Lucas. Alika menghela nafas.
"Syukurlah masalah kemarin sudah kelar." ucap Alika mempersoalkan Rachel yang kini kemungkinan sudah ditangkap oleh polisi.
"Benar, saya rasa dia sedang berdalih macam-macam sekarang. Tapi sayangnya bukti yang kita kumpulkan kemarin sangat kuat, bahkan dokter itu sendiri sudah menyerahkan uang sepuluh jutanya pada polisi untuk dikembalikan nantinya pada Rachel.
Itu juga sudah jadi bukti kuat sebenarnya. Kalau Rachel memang benar pelakunya." ucap Lucas.
"Iya, tapi bagaimana dengan Andrew? Aku khawatir kalau Andrew nantinya tidak terima dan beralih membalas dendam sama kita. Aku punya feeling tidak enak saja mengenai ini." ucap Alika cemas.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, ngapain mikirin hal sampai sejauh itu. Memangnya siapa yang salah duluan? Jelas-jelas Rachel salah karena memiliki niat untuk meracuni kamu. Karena dia loh kamu keguguran. Ini hukuman buat dia, biar dia sadar atas kesalahannya itu. Dia sama saja sudah membunuh nyawa seseorang. Saya tidak terima ini. Coba bayangkan kalau kamu juga tidak selamat, apakah dia mau mempertanggung jawabkan semuanya? Tidak bisa didiamkan begitu saja." ucap Lucas. Alika terdiam.
"Mulai sekarang kamu fokus ke penyembuhanmu saja dulu. Biar masalah Andrew saya saja yang urus." ucap Lucas.
Alika tersenyum tipis, ia sandarkan kepalanya di bahu Lucas seraya melihat ke matahari terbenam saat itu.
"Menurutmu aku terlalu parno gak sih?" tanya Alika.
"Iya, sampai saya ingin menjulukimu Mrs. Parno." ucap Lucas seraya tertawa Alika yang gemas pun mencubit pinggangnya hingga lelaki itu kesakitan.
  
Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang mereka. "Tahu deh yang lagi menikmati masa-masa pacaran setelah menikah." sindir Angela.
Alika langsung menegakkan badannya kembali, menjauhkan diri dari Lucas dan berbalik ke arah Angela, pun sama halnya Lucas.
"Loh? Kamu kesini Njel?" tanya Lucas heran.
"Iya Kak, lagi mampir kesini. Mau liat Shanice... Sekaligus..." Angela menggantung perkataannya sebentar, lalu kembali dilanjut.
"Menanyakan alasan pasti kenapa Mbak Rachel ditangkap polisi atas tuduhan merencanakan keguguran seseorang. Apakah mungkin maksud orang yang keguguran itu adalah Mbak Alika?" tanya Angela serius.
Alika menatap ke arah Lucas. "Kasih tahu enggak?" tanya Alika setengah berbisik.
Lucas berkata. "Ya benar, Rachel yang menyebabkan Alika keguguran."
"Heh, benar-benar bejat orang itu. Kan benar aku bilang, pasti mereka punya cara licik dibelakang, sikap baiknya beberapa waktu lalu, semua itu tipuan." ucap Angela kesal. Alika terdiam begitupun Lucas.
"Pokoknya Mbak Alika jangan kasih kesempatan lagi sama orang seperti mereka. Pokoknya jangan lengah kalau menghadapi mereka." tandas Angela.
"Iya Njel." ucap Alika. 
Tiba-tiba Shanice muncul dan langsung mengubah secara mendadak ekspresi wajah Angela saat itu.
"Waah Shaniceku tayang... udah mandi kamu? Hmm?" tanya Angela yang langsung merangkul dan mencium pipi Shanice yang sudah cemong dibubuhi bedak.
"Aunty Angela pesek." ucap Shanice tanpa dosa, Lucas langsung tertawa geli ketika mendengarnya.
Angela setengah kesal dengan respon Lucas saat itu. Alika yang menahan tawa langsung menegur.
"Shanice you dont have to say that, it was your aunty honey. Kamu harus bersikap sopan sama bibimu. Minta maaf Nak." ucap Alika.
"I'm sorry aunty, you are not pesek then." ucap Shanice. Meski begitu Lucas masih terus menertawai adiknya itu yang jadi tidak pede.
"Ini kakak pasti yang ngajarin!" pekik Angela.
"Biasanya yang suka ngomong pesek ibu saya Njel, Lucas enggak pernah ngajarin begitu." ucap Alika.
Lucas ikut berkata. "Lagian kamu mancung kok enggak usah minder kayak gitu. Nanti pesek beneran aja."
"Kakak nih body shaming mulu." ucap Angela kesal.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    NisaulAlvi

    blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy

    29/03

      0
  • avatar
    TusholihaSilvia

    banyak yang menghasilkan uang

    08/03

      0
  • avatar
    ariyantoriki

    bgus

    17/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru