Beranda/Bermain Cantik Denganmu, Mas/
Bab 42 Anak pertama dan kedua
"Boleh deh, terserah kamu aja." ucap Alika. Lucas segera menghadapkan Alika kedepannya. Lucas bersimpuh didepan Alika mencium perut istrinya itu.
"Bayi mungil, kamu baik-baik ya didalam. Semoga kamu nanti keluar enggak susah ya? Dan jadi anak yang baik seperti ibumu. Siap-siap jadi bayi bule ya disini?" ucap Lucas. Alika tertawa.
"Bayi bulenya kalo rambutnya item gimana?" tanya Alika.
"Dicat pake nodrop biar bule." seloroh Lucas. Mereka saling tertawa geli saat itu. "Anti bocor dong haha. Dasar gak jelas." tawa Alika.
Siang harinya mereka checkup ke rumah sakit bersalin dekat sana. Itu adalah kegiatan mingguan yang sering mereka lakukan.
Mereka pun masuk ke dalam ruang dokter setelah namanya dipanggil untuk konsultasi.
Disana juga Alika periksa USG, dimana bisa kelihatan jika calon bayi itu dalam keadaan sehat dan aktif. Bahkan sudah dapat diketahui jenis kelamin apa sang calon bayi tersebut.
"Jika boleh tahu apa jenis kelamin bayi ini ya?" tanya Lucas memakai bahasa inggris.
"Selamat ya bayi kalian berjenis kelamin perempuan." ucap dokter wanita itu.
Lucas langsung merasa sangat bersyukur dan mengusap perut Alika.
"Syukurlah... perempuan Al. Bisa jadi teman curhatmu nanti." ucap Lucas.
Alika merasa sangat senang. "Temanmu juga... buat memijat punggung." ucapnya. Lucas mengernyit. "Hah?"
Sepuluh bulan kemudian.
Di kediaman Angela. Lucas dan Alika membawa seorang anak perempuan berusia 1 tahun, namanya adalah Shanice.
Dan dia merupakan anak kandung Alika yang sepuluh bulan lalu masih berada didalam perutnya.
"Permisi!" ucap Alika mengetuk pintu yang terbungkam rapat dihadapannya. Berkali-kali ia mengetuk namun belum ada jawaban.
"Angela kemana nih? Kamu sudah kasih tahu dia tadi?" tanya Alika.
"Iya sudah. Dia dirumah sendiri soalnya bibinya lagi pulang kampung." ucap Lucas.
"Oh sendiri toh dia. Lagi tidur apa ya?" tanya Alika.
"Saya telepon deh sekarang." ucap Lucas segera merogoh ponselnya akan tetapi pintu sudah keburu dibuka. Dan Angela terbelalak hingga tercengang dalam waktu bersamaan saat melihat seorang anak kecil sangat imut didepannya termasuk ibu dan ayahnya yang begitu amat ia rindukan.
"Kalian!" ucap Angela antusias, ia langsung memeluk mereka satu per satu. "Mbak Alikaaa. Gimana kabarnya? Kalian nih betah banget tinggal disana. Mukanya juga ikutan berubah nih jadi bule. Waaa anak ciapa niiy." ucap Angela yang langsung berubah gemas melihat Shanice, si mungil bule yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya.
"Kamu shanice bukan cii?" tanya Angela. Shanice seperti tidak mengerti yang dikatakan olehnya.Wajar saja karena yang diajarkan oleh Alika dan Lucas selama disana adalah bahasa sana, bukan bahasa indonesia.
Mungkin karena pengaruh dari lingkungan juga dan kedua orang tuanya yang terbiasa dengan lingkungan sana selama 10 bulan lamanya.
"Enggak bakal ngerti haha. Pakai bahasa inggris Njel." ucap Lucas.
"Oh okeh, hey Shanice mau main sama kakak enggak? Kakak punya banyaak banget mainan buat kamu." ucap Angela memakai bahasa inggris.
"Aku mau makan es krim." ucap Shanice dengan bahasa inggrisnya. Mereka pun saling tertawa kala itu.
"Pinter juga ya udah nagih es krim. Pasti ini ulah bapaknya ini suka jejelin es krim." ucap Angela.
"Enggak kok Njel, dia emang suka nagih begitu. Cuma kita enggak kasih, yah paling dikasih seminggu sekali. Enggak sering." ucap Alika.
"Yuk kita main, kakak punya banyak boneka loh didalam." ucap Angela mengajak Shanice pergi masuk bahkan sampai menggendongnya.
Alika dan Lucas saling tertawa. "Adikmu kayaknya gemas banget sama Shanice, kenapa enggak sekalian dia nikah aja sih? Supaya bisa punya anak." tanya Alika.
"Katanya sih dia lagi dekat sama orang kantor." ucap Lucas.
"Siapa?" tanya Alika penasaran.
"Yudis." ucap Lucas. Alika langsung tertawa ketika mendengar nama itu disebut.
"Haha jadi dia, memang sejak dulu dia kelihatan agak-agak sih. Angela yang serius memang cocoknya dengan orang seperti itu hahaha." ucap Alika.
"Iya juga sih ya." ucap Lucas.
"Bakal aneh kalo sama Albert, kukira waktu itu Angela bakal cinlok sama Albert ternyata twist haha." ucap Alika.
"Berarti Albert bakal jomblo seumur hidup dong ya kalau begitu?" tanya Lucas.
"Apa kita jodohkan saja ya dia? Biar tidak kucing terus yang diurus. Dia lama-lama bisa kawin sama kucing deh." usul Alika.
"Haha maharnya whiskas." Lucas tertawa.
Esok paginya Alika muntah-muntah. Ia mengira jika dirinya mungkin masuk angin karena kemarin habis dalam perjalanan ke Amerika.
Bahkan ia berniat libur dulu dari kerjanya, ia mengatakan hal itu kepada Albert, beralasan jika dirinya sakit karena perjalanan kemarin.
Akan tetapi Shanice terus meminta kepada Alika untuk pergi membeli eskrim. Lucas sudah pergi ke kantor sejak tadi.
Meski ia meninggalkan mereka berdua dalam keadaan khawatir setengah mati dengan keadaan Alika itu.
Ia khawatir jika Alika menderita penyakit serius. Meski pada akhirnya Alika bisa membujuk Lucas kembali untuk beralih pergi ke kantor.
Pada akhirnya Alika pun meminta bantuan Bi Inem, pembantunya. Untuk mengantar Shanice membeli es krim di sebuah minimarket.
Alika merasa panas dingin. Ia merasa ingin meminum air hangat. Ia ambil segelas air hangat dari dispenser ujung tengah rumah meski dengan langkah gontai sekalipun.
Kenapa kok rasanya mata gelap sekali ya? Dan pening. Alika juga merasa sangat berkeringat. Ia meriang. Ia minum beberapa teguk air hangat itu lalu berjalan perlahan menuju kamarnya.
Ketika berjalan ia bahkan sampai membutuhkan dinding disebelahnya untuk berpegangan.
Alika merasa kepalanya berputar. Baru beberapa langkah berjalan, ia yang tidak tahan pun akhirnya jatuh pingsan.
Di minimarket.
Inem membuka pintu minimarket dan Shanice sudah langsung menghambur mencari dimana eskrim itu berada. Sayangnya yang dibukanya malah kulkas berisi minuman.
"Eh bukan disitu Neng, ini disini." ucap Bi Inem.
Shanice pun pergi dari sana lalu beralih ke arah Inem, ke kotak biru di ujung sana berjejer dua.
"Es krim, yummy! Bi, apa ada es krim rasa coklat?" tanya Shanice memakai bahasa inggris.
Inem yang tidak mengerti bahasa inggris pun berkata. "Duh Neng jangan pake bahasa inggris, Bibi gak ngerti. Bisa bahasa inggris juga boleh nyolong." ucap Inem.
"Mana es krim favoritku?!" tanya Shanice merengek. "Dimana? Dimana eskrim favoritku?!" tanya Shanice seraya merengek berulang-ulang.
"Duh nih anak ngomong apa sih? Apa Bibi kudu beli kamus dulu ya disini? Ada kamus gak sih disini? Mana hape bibi ditinggal lagi." ujar Inem bingung.
Inem yang tidak mau ambil pusing pun segera meminta bantuan pramuniaga disana.
"Mbak tolong dong artiin dia ngomong apa, Bibi gak ngerti." ucap Inem, pramuniaga itu hanya tertawa mendengarnya.
Ia pun bertanya bahasa inggris pada Shanice. "Kamu mau es krim apa dik?" tanya pramuniaga pria itu.
"Es krim coklat." ucap Shanice.
"Oh, oke. Ini es krim coklat untukmu." ucap pramuniaga itu mengambil es krim coklat lalu berikan padanya.
Beberapa saat kemudian Shanice dan Inem pun sampai didepan pintu yang terbuka itu. Aneh sekali, pintunya masih terbuka dari semenjak tadi kepergian mereka?
Apa tidak takut maling masuk?
Inem pun segera masuk ke dalam mencari keberadaan Alika.
"Nyonya Neng Shanice--- astagfirulloh." Inem langsung melotot kaget saat melihat Alika tergeletak di ujung tembok sana. Ia segera berlari ke dekatnya bersama Shanice.
Shanice menangis kencang, merengek ibunya berulang kali. "Mommy... mommy... mommy."
"Duh kenapa ini, Nyonya Alika.. bangun Nyonya." ucap Inem yang tampak kerepotan membangunkan Alika dan menggotongnya pergi ke kamar.
Tak lama Alika pun membuka kedua matanya, ia melihat seluruh ruangan itu putih. Bukan seperti kamarnya, melainkan ruang rawat di rumah sakit.
Alika segera terduduk bangun meski pening dikepalanya masih ada, bahkan matanya juga masih setengah gelap.
Ia terkejut saat pintu ruang rawatnya terbuka dan masuk dua orang pria kesana. Tak lain itu adalah seorang dokter dan suaminya, Lucas.
"Kamu sudah bangun Al? Syukurlah." ucap Lucas.
"Anda sudah merasa lebih baik Bu Alika?" tanya dokter berkacamata itu.
"Sedikit pusing. Saya sakit apa ya Dok?" tanya Alika cemas.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Ibu, kalau sekarang Ibu sedang mengandung anak kedua Ibu. Selamat ya Bu, usia kandungan Ibu kini baru dua minggu." ucap sang dokter.
Alika tidak percaya ini, ia melihat ke arah Lucas yang juga tampak bahagia menanti responnya.
"Ya ampun Lucas, aku hamil! Astaga, syukurlah." ucap Alika berkaca-kaca. Ia merasa sangat gembira atas ini.
Lucas langsung memeluk Alika saat itu juga dan mengusap kepalanya, mengecup keningnya penuh sayang.
"Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah memberiku kado terindah didalam hidup ini. Terima kasih telah menjadi istriku Al." ucap Lucas tersenyum memandangnya.
Alika terharu dikatakan seperti itu, ia mengangguk dan memeluk suami tercintanya itu.
"Terima kasih juga selalu ada disampingku. Terima kasih telah menjadi suamiku, Lucas." ucap Alika semakin mengeratkan pelukannya.
Memiliki Lucas dan dua anak darinya adalah kado terindah dari perjalanan terjal yang pernah ia alami. Cintanya yang pernah terbuang sia-sia kepada orang yang salah... dibalas dengan pembalasan yang mengagumkan.
Setiap orang memiliki akhir kisahnya tersendiri. Setiap orang memiliki akhir indahnya sendiri selama ia menjalani dan menerima proses ituUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (86)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy
29/03
0banyak yang menghasilkan uang
08/03
0bgus
17/11
0Lihat Semua