Bab 40 Remuk

Isi chat tersebut adalah...
"SAAT INI SUAMI ANDA ADA BERSAMA KAMI, TEMUI KAMI DI HELIOPLAZA SEKARANG JUGA. TANPA ADA PENGAWALAN ATAUPUN KETERLIBATAN POLISI." chat orang tak dikenal itu disertai foto tempat dirinya berada.
Alika segera bangkit dari kursinya dan bawa tasnya pergi dari sana detik itu juga. Menuju Helioplaza.
Beberapa saat kemudian Alika sampai di Helioplaza dan tepat dimana orang tak dikenal tadi mengirim pesan foto.
Alika menuruti titah sang penculik untuk tidak melibatkan polisi. Bahkan dirinya kesana pun hanya seorang diri tanpa pengawalan Rino.
Sudah pukul 14.00 tapi masih belum muncul juga orang tak dikenal itu. Alika segera mengirim chat lagi pada nomor tersebut.
"Saya sudah sampai ditempat sesuai foto. Anda dimana?!" chatnya seraya menaruh kembali ponselnya ke saku.
Alika menunggu hingga lumutan disana, tiba-tiba saja seorang pria memegang bahu kirinya, Alika lantas menoleh ke belakang.
Ia terkejut saat pria bertopi hitam itu lantas membekap mulutnya dengan sapu tangan lalu membuatnya pingsan sehingga jatuh ke pelukannya.
Pria ini membawa Alika pergi bersama teman-temannya lalu masuk ke dalam mobil.
Di kantor, Albert berulang kali menelepon ponsel Alika, akan tetapi tidak diangkat. Kenapa tiba-tiba pergi tanpa memberitahu? Kemana sebenarnya Alika pergi?!
Dia bahkan meninggalkan klien yang sudah memiliki janji dengannya. Benar-benar merepotkan. Albert pun berulang kali meminta maaf pada kliennya itu dan memintanya untuk bersabar menunggu.
Albert pun coba hubungi Angela pada akhirnya. Telepon tersambung. Angela berkata. "Albert? Kenapa telepon?" tanyanya dari seberang.
"Bu Alika dimana?" tanya Albert.
"Loh, bukannya ada di kantor sekarang? Memang tidak--"
Belum selesai bicara Albert langsung mematikan teleponnya dan segera cari sekeliling area kantor itu, mencari dimana keberadaan Alika.
Di sebuah rumah sakit. Amerika.
Lucas terbaring tidur diatas kasur putihnya, sebuah alat pendeteksi detak jantung terus berjalan stabil. Tepatnya sudah satu bulan Lucas terbaring tidur tanpa sekalipun dapat membuka kedua matanya.
Ia mengalami koma dan hingga sekarang belum juga sadar.
Entah apa yang membuatnya begitu betah dengan keadaannya yang seperti itu. Padahal... ada wanita yang selalu setia menunggunya untuk pulang.
Seorang perawat wanita segera masuk ke dalam ruang rawat tersebut dan mengganti infusannya dengan yang baru.
Namanya adalah Stacy, dia perawat yang memiliki tugas untuk mengurus Lucas selama terbaring koma satu bulan ini.
Bagi wanita berambut pirang ini, memandang Lucas adalah hobi yang begitu ia nikmati sepanjang hari.
Lelaki ini sangat tampan, bahkan Stacy tidak bisa membayangkan jika Lucas membuka kedua matanya dan menatapnya dengan tatapannya yang menusuk tajam, laksana membelah dadanya secara spontan.
Sayang sekali sudah satu bulan berlalu tapi masih belum ada perkembangan. Ia bahkan selalu berharap jika suatu saat nanti Lucas dapat terbangun dari komanya.
Setiap hari Stacy tidak bosannya memandang Lucas seraya tersenyum, bahkan sering ia memfoto dirinya bersama Lucas saat itu. Kata teman perawat lainnya dirimu sungguh bodoh.
Apakah kau berniat menikahinya heh?
Ya Stacy tahu itu, akan tetapi tidak apa-apa kan? Selama orangnya pun tidak melarang... err maksudnya orangnya tidak sadar dan belum terbangun dari koma.
Stacy yang sedang sibuk membenarkan infusannya tiba-tiba dipegang tangan kirinya. Stacy terkejut saat melihat Lucas perlahan membuka kedua matanya.
Stacy panik dan merasa sangat bahagia atas hal itu, dirinya antusias! Ia langsung pergi berlari memanggil dokter.
Sejujurnya Stacy tidak tahu jika pria ini adalah Lucas, pemilik perusahaan mobil terkenal di daerah perkotaan sana.
Data pribadi, KTP dan dompet Lucas tidak ditemukan di saku celana maupun jasnya. Lelaki ini diketahui tanpa identitas.
Bahkan Stacy sampai memberi Lucas sebuah nama panggilan yaitu "Mr. Eyebrow" disebabkan alis matanya yang tebal.
Beberapa saat kemudian setelah dokter keluar dari ruang rawatnya. Stacy mendekati Lucas yang tampak terdiam.
"Hai, selamat ya. Kamu telah melewati masa koma." ucap Stacy. Lucas hanya tersenyum samar.
"A,ah.. perkenalkan, nama saya Stacy. Namamu siapa?" tanyanya seraya menyodorkan tangan.
Lucas segera menerima salaman tangannya. "Lucas."
"Ah, okay. Apakah anda lapar? Apa saya perlu membawakan makanan sekarang?" tanya Stacy.
"Boleh." ucap Lucas seraya memijat pelipis dahinya yang masih pusing.
Lucas segera mengambil baju jas dan celana yang menggantung disana, bekas ia pakai waktu kecelakaan satu bulan lalu meski dengan langkah gontai. Dirinya merogoh saku celana dan jasnya.
Sayang sekali ponselnya hilang, mungkin terjatuh saat ia terperosok ke dalam jurang waktu itu, bahkan dompetnya juga ikut hilang.
Lucas segera kembali lagi ke kasurnya. Terduduk, menunggu hingga Stacy muncul kembali disana membawa makanan dan minuman.
"Ini makanannya. Apa kamu bisa memakannya? Apa perlu saya suapi?" tanya Stacy.
"Tangan saya masih utuh." ucap Lucas tersenyum. Stacy jadi tertawa karena hal itu. Meski rasanya sangat gugup.
"Oke, sekarang saya akan pergi. Apakah ada yang anda inginkan lagi?" tanya Stacy.
"Tidak sih, terima kasih." ucap Lucas.
"Jika ada yang anda perlukan lagi, silakan panggil saya kembali ya, Tuan Lucas." ucap Stacy tersenyum. "Iya." ucapnya.
Stacy pun keluar dari ruang rawatnya, sang teman yang mengintipnya pun langsung antusias melihat sadarnya Lucas saat itu.
"Bukankah itu Mr. Eyebrow?" tanya temannya. "Iya!"
Mereka saling curhat gaje disana, melampiaskan rasa kagum satu sama lain tentang Lucas.
Sore harinya Lucas yang sudah merasa dirinya fit pun sudah berganti baju kembali, dirinya langsung pamit dari rumah sakit itu pada Stacy yang ditemuinya saat ini di koridor.
"Loh, anda sudah pulang?" tanya Stacy.
"Iya orang rumah pasti banyak yang khawatir dengan saya." ucap Lucas.
"Tapi anda baru saja sadar dari koma, bagaimana jika anda jatuh pingsan di tengah jalan?" tanya Stacy yang saat itu sudah membawa tasnya bersiap akan pulang.
"Jangan khawatir. Saya yakin bisa, tenang saja." ucap Lucas segera pergi, akan tetapi Stacy memegang tangannya mencegahnya pergi.
"Biar saya antar." ucap Stacy. Lucas terkejut. Ia terdiam memandang wanita dihadapannya heran.
Stacy mengendarai mobilnya lalu beberapa kali melihat ke arah Lucas. Mengajaknya mengobrol.
"Apa kamu rindu dengan rumah?" tanya Stacy.
"Sebenarnya rumah saya di indonesia, saya disini hanya menetap di rumah ibu tiri." ucap Lucas.
"Oh kamu memiliki ibu tiri. Apakah sesuatu baik-baik saja disana?" tanya Stacy.
"Entahlah.. setiap orang memang menuntut kesempurnaan kan?" tanya Lucas seraya tertawa.
Stacy ikut tertawa. "Ya benar.. semua orang termasuk saya." ucapnya dengan logat barat yang kental.
"Apa kamu memiliki adik atau kakak? Apa yang membuatmu rindu dengan rumahmu di indonesia?" tanya Stacy.
"Disana ada istri saya." ucap Lucas yang langsung membuat Stacy terdiam memandangnya lirih. Lucas merasa heran, dia kenapa ya?
Bahkan Lucas melihat jalan mobilnya jadi menyerong ke kiri disebabkan Stacy yang terlalu lama menghadap ke arahnya.
"Awas!" pekik Lucas langsung arahkan kemudi mobil ke kanan. Stacy tersadar dan langsung kembali fokus menatap jalanan.
"A,ah... maaf." ucap Stacy seperti menahan sesuatu. Remuk.

Komentar Buku (86)

  • avatar
    NisaulAlvi

    blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy

    29/03

      0
  • avatar
    TusholihaSilvia

    banyak yang menghasilkan uang

    08/03

      0
  • avatar
    ariyantoriki

    bgus

    17/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru