Bab 20 Istri beneran

Beberapa saat kemudian.
Alika yang sudah rapih mengenakan setelan jas berwarna merah tuanya nampak berjalan menuju ruang tengah, mendekati Yustaf dan Ratna di meja makan. Alika duduk disebelah kiri Yustaf, sedangkan di sebelah kanannya ada sang ibu angkat, Ratna.
"Eh katanya Yus mau keluar kota ya seminggu ini? kamu bukannya jadi admin ya diperusahaanmu? emang kalo admin suka pergi pergi keluar kota?" tanya Ratna kepo.
Yustaf terdiam sejenak meskipun mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya, Alika tampaknya juga penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu.
Yustaf mendehem sebentar lalu berkata. "Sebenarnya ini disebut juga sebagai pekerjaan multitasking. Terkadang jika pekerjaan saya sebagai admin tidak ada, saya suka dioper kantor cabang yang ada diluar kota untuk mengerjakan tugas yang kosong disana." ucap Yustaf.
Ratna mengohkan perkataannya, tidak menganggap alasan itu sebagai hal yang diragukan. Alika mengambil piring berisi roti sandwich yang sudah disediakan di hadapannya. Ia memakannya dengan segera.
"Eh Yus, parfum kamu enak banget diciumnya. Kamu pakai parfum merk apa sih?" tanya Ratna setelah mengendus wangi yang tercium tajam di hidungnya. Alika sibuk memakan sandwichnya, sesekali ia menatap ke arah Yustaf atau ibunya yang sedang berbincang.
"Ini parfum biasa kok mah. Enggak terlalu mahal juga harganya." ucap Yustaf.
"Nama merknya apa Yus? biar mamah beliin buat papa mertua kamu. Tahu sendiri kan papa mertuamu itu enggak gaul pisan (banget), masa minyak wanginya khas kakek kakek gitu. Ituloh yang dioles itu, bukan yang semprot. Mama kalo deket deket tuh suka pengen muntah. Mendingan nyium ketek mama deh dibanding minyak wangi papamu." ucap Ratna yang langsung ditertawai oleh Alika dan Yustaf.
"Emang ketek mama wangi ma?" tanya Alika.
"Oh jelas, ketek mama itu bahkan bisa ngalahin wangi bedak bayi." ucap Ratna.
"Iya aja deh, daripada bonyok." ucap Alika tertawa, begitupun Yustaf.
"Saya juga tidak terlalu mengerti nama merknya, soalnya merk parfum ini bertuliskan huruf china dan ini juga dibelinya dari pasar gelap, kemungkinan beli untuk semodel dengan parfum ini akan susah, tapi nanti saya coba carikan parfum yang bagus untuk papa. Jika perlu saya belikan saja ya melalui online?" tanya Yustaf.
Ratna langsung menolak. "Enggak Yus, enggak usah. Kamu kasih tahu aja nama merk parfum yang bagus nanti papamu yang beli." ucap Ratna.
"Yaudah." ucap Yustaf.
Tak lama berselang, mereka pun sudah berada di teras depan rumahnya. Tak jauh didepan sana juga terparkir mobil pajero sport berwarna putih dan motor matic disertai helmnya.
Kali ini Alika dan Yustaf berniat akan pergi dengan kendaraan masing masing setelah satu tahun ini Alika diantar jemput oleh sang suami.
Alika segera mencium punggung tangan Ratna, diikuti juga oleh Yustaf. Alika mendekati Yustaf dan mencium punggung tangan Yustaf.
"Aku berangkat ya. Kamu hati hati dan jaga diri kamu selama disana. Pokoknya jangan sampai lupain aku, jangan putus kontak dan jangan sampai bawa yang baru." ucap Alika yang langsung membuat Yustaf tertawa.
Ia langsung mencubit pipi Alika yang tirus itu. "Iya istri beneran." ucap Yustaf. Alika ikut tertawa setelah diberi julukan istri beneran oleh Yustaf.
"Dasar suami beneran!" ucap Alika tak mau kalah.
"Aku pergi dulu ya." pamit Alika beralih membelakanginya namun tiba tiba saja tangannya ditarik oleh tangan Yustaf yang membuatnya kembali berbalik menghadapnya.
Yustaf langsung maju dan mencium pipi kanan Alika dengan lembut. "Jangan kangen ya? istri beneran." ucap Yustaf tersenyum manis, Alika tampak terkejut dan langsung memegang dadanya yang mulai berdebar tidak karuan lagi.
Alika memandang wajah tampannya dengan kagum lalu ia yang tidak mau kalah langsung maju dan mencium pipi kiri Yustaf.
"Pasti kangen dong. Suami beneran." ucap Alika yang langsung pamit pergi dari sana, meninggalkan Yustaf terpatung dalam keadaan memegang pipi yang dicium sang istri barusan. Ia tersenyum.
Dasar wanita yang tidak pernah diduga.
Ketika sudah sampai di kantornya, Alika melihat para karyawannya tampak saling menggosip satu sama lain. Tapi kelihatan sekali dari raut wajah mereka yang terpancar kecemasan dan kekhawatiran akan suatu hal.
Lalu ketika mereka menyadari ada Alika disana melihat, mereka langsung seepat mungkin kembali ke tempat duduk masing masing.
Alika segera berjalan dengan tegas menenteng tasnya, menuju ruang kerja yang hanya beberapa meter dari sana. Alika segera membuka pintu ruang kerjanya dan masuk.
Ia berjalan menuju kursi putarnya dan duduk, setelah itu menaruh tasnya ke atas meja didepan. Alika lihat Albert tampak terburu buru masuk ke ruang kerjanya dan mendekatinya. Alika terheran. "Ada apa?" tanya Alika.
"Beberapa karyawan sedang heboh membicarakan masalah ini. Bahkan anda mungkin tidak akan percaya jika saya menginformasikan terkait hal ini." ucap Albert yang semakin membuat Alika bertanya tanya.
"Apa?" tanya Alika heran.
"Dia... mantan suami anda...telah memutus seluruh kerja sama kontrak pada perusahaan kita dan menarik semua investor di perusahaan kita jadi berbalik ke perusahaan AND Group." ucap Albert yang langsung membuat Alika terbelalak. Tidak mungkin...
"K-kok bisa?! bagaimana mungkin semudah itu?!" tanya Alika.
"Nyatanya semua itu memang sedang terjadi sekarang. Meskipun sudah dikirim pihak mediasi pun mereka tetap kekeh dengan pendirian mereka.
Investor itu lebih tertarik bekerja sama dengan perusahaan AND Group, karena mereka memberikan secara percuma sebuah penawaran yang jarang sekali mereka tawarkan pada para investor. Apalagi mereka lebih menang nama dibanding perusahaan kita." ucap Albert.
Alika memijat pelipisnya. Ia mulai bingung. Ia menghela nafas lalu berkata.
"Tolong serahkan padaku tiap nomor telepon para investor yang memutus kerja sama, biar diriku langsung yang bernegosiasi dengan mereka." titah Alika. Albert mengangguk.
"Baik, saya akan kumpulkan semua nomor telepon mereka, mohon ditunggu." ucap Albert dan langsung pergi keluar, menuju tempat kerjanya, mengerjakan tugasnya.
Beberapa saat kemudian setelah Albert memberikan nomor teleponnya pada Alika, sang bosnya itu pun turun tangan langsung menghubungi satu persatu para investor tersebut.
Sesuai tujuan awal dirinya menelepon mereka, ia niat bernegosiasi dengan para investor tersebut hingga memberikan beberapa penawaran terkait perjanjian kerja.
Namun sayangnya mereka tetap kukuh ingin memutus kerja sama dengan perusahaan Alika dan lebih memilih perusahaan AND group.
Ini benar benar aneh, seakan akan mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Alika dengan cara keroyokan. Setelah Alika bernegosiasi dengan para investor, jawaban penolakan pun diterimanya.
Semua ini menyebabkan kerugian yang besar di pihak Alika maupun penurunan saham yang signifikan di perusahaan tersebut.
Ditambah hutang kepada pihak bank semakin membesar dikarenakan bunganya yang terus berlipat, bahkan klien banyak yang ikutan berpaling ke AND Group karena penawaran yang diberikan pada mereka begitu menguntungkan dibanding pada perusahaan Alika.
Alika benar benar merasa terpuruk saat itu. Hari ke hari Alika kerja sampai larut malam untuk menyelesaikan masalah pekerjaannya yang menumpuk, itu karena banyak karyawan penting di perusahaannya sudah mulai dipecat.
Alika mengerjakan semuanya sendirian selama seminggu itu, ditambah Yustaf masih belum pulang ke rumah dari luar kota, dikarenakan pekerjaan disana yang memperpanjang masa durasinya bekerja di luar kota menjadi 1 bulan.
Alika berjuang mati matian seorang diri, demi mempertahankan perusahaannya.
Tanpa diketahui siapapun, keluarga maupun sang suami. Alika hanya tidak merasa jika ia memberitahu pada Yustaf semua masalah akan kelar.
Ia juga tidak ingin pekerjaan Yustaf jadi terganggu karenanya. Selama sebulan itu mereka memang saling berkontak dengan baik, namun sayangnya Alika merahasiakan apa yang menjadi penyebab kedua kantung mata di wajahnya semakin terlihat, Alika terlihat sangat kelelahan menanggung ini semua.
Beberapa minggu kemudian, Alika terus mati matian mencari investor untuk perusahaannya, namun sayang sekali semua investor yang ia tawari kerja sama langsung seakan direbut oleh perusahaan AND group.
Mereka berpaling dengan sangat cepat ke perusahaan AND group. Alika benar benar bimbang. Hingga ketika Alika sudah hampir menyerah tiba tiba Albert memberi kabar gembira dengan memberitahu kemunculan seorang investor dari perusahaan parfum yang tak terlalu terkenal.
Nama perusahaan itu adalah Fizzo group, rumornya dia adalah pengusaha yang ingin mengalihkan bisnisnya ke bidang properti. Alika pun dengan senang hati menerima tawaran kerja sama tersebut.
Setelah itu mereka pun masing masing menjalin sebuah kerja sama. Meskipun Alika sendiri masih merasa jika hutangnya yang berlipat lipat di bank belum bisa tertutupi dan kondisi perusahaan tidak mungkin akan kembali stabil setelah menemukan satu investor saja.
Ia harus menemukan investor lainnya secepatnya, setelah ini!

Komentar Buku (86)

  • avatar
    NisaulAlvi

    blm tau arah critanya tp penasaran sih smoga endingnya happy

    29/03

      0
  • avatar
    TusholihaSilvia

    banyak yang menghasilkan uang

    08/03

      0
  • avatar
    ariyantoriki

    bgus

    17/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru