Beranda/Chasing By A Stranger/
Bab 30 We Are Not In A Save Place Anymore
"HALO? Apa Anda mendengar kami? Anda di sana?"
Aku mundur beberapa langkah menjauhi pintu sementara petugas 911 masih berbicara. Ketukan di pintu terasa seolah-olah aku sedang ada dalam bahaya. Seakan orang itu tahu aku ada di dalam.
Mendekatkan ponsel ke telinga lagi. "Aku tidak bisa banyak bicara sekarang. Tolong, cepat kemari. Seseorang mengetuk pintu kamar apartemenku."
"Tim kami sedang dalam perjalanan. Jangan khawatir. Kami pastikan Anda dan semuanya baik-baik saja."
"Oh, Tuhan ... terima kasih banyak."
Ketukan pintu belum kunjung berakhir.
Satu-satunya sumber penerangan ruangan hanya mengandalkan senter ponsel. Aku menghela napas panjang sambil terus menatap pintu yang mana seseorang masih saja menggangguku. Menakutiku.
Setelah berlama-lama berdiri dekat meja pantri akhirnya suara-suara itu hilang. Susah payah menelan saliva, aku membuat langkah amat sangat pelan dan hati-hati.
Dan inilah saatnya harus mempertaruhkan nyawa di depan mata seolah-olah siap bertempur. Tidak peduli seberapa besar takutnya aku pada sesuatu yang mungkin saja mereka masih ada di sekitar dan mengawasi, aku membuka pintu.
Mengedarkan pandang dengan senter ponsel masih di tangan, pikiran acak yang entah datang dari mana membayangkan kalau mereka akan mengejutkanku begitu kupalingkan wajah. Kenyataannya tidak. Imajinasi ini terlalu liar.
Aku mengabaikan ponselku yang terus bergetar. Menduga itu adalah Elise. Atau bisa saja Mom. Kurt. Atau Samantha. Atau Dad.
Kalau Dad, tidak mungkin. Dia belum menyimpan nomor ponsel baruku kecuali Kurt menyampaikan dan memberitahu semua hal pada Dad.
Ternyata Nancy.
Aku menengok, mendapati kerumunan petugas FBI, kepolisian, dan beberapa dokter forensik berjalan cepat mendekatiku. "Apakah Anda Nathalie Jensen?" Aku mengangguk tanpa perlu menjawab apa-apa lagi. "Bisa Anda tunjukkan di mana kamar itu?"
Menarik kedua pipi ke dalam dengan mulut, aku menelan saliva sambil mengingat-ingat kejadian tersebut. Pemadaman listrik membuat kami semua yang ada di lorong kesulitan mencari kamar yang mana sumber suara itu berasal. Mengangkat senter ponsel ketika mendengar derap langkah kaki seseorang di ujung. Dua petugas apartemen menghampiri semua orang tengah berkumpul di sini.
"Syukurlah kalian kemari." Aku mendesah, menurunkan ponselku. "Aku butuh bantuan kalian."
"Mereka mencarimu," kata Elliott. "Mereka bilang kau menelepon 911."
"Memang benar." Lalu, berpaling ke para petugas. "Ikut aku."
Elliott, aku, dan lainnya berjalan bersama mendekati kamar nomor 145. Satu per satu kamar sudah kami periksa, para penghuni kamar terkaget-kaget melihat kedatangan kami begitu tiba-tiba. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Aku tidak bisa mendengar apa yang para petugas kepolisian, tim FBI, tim forensik, dan detektif bicarakan.
Desahan pelan Elliott menggelitik leherku. Tiba di depan kamar nomor 145, cowok itu langsung membukakan pintu kemudian menyilakan petugas tersebut masuk. Kami berdua menunggu di luar.
"Kau yakin?" tanya Elliott ragu-ragu.
Aku tahu apartemen ini akan dipandang buruk masyarakat lokal setempat lantaran pembunuhan yang sudah terjadi sebanyak dua kali dan kasus ini, bagiku, jauh lebih mengerikan dibandingkan kasus basemen beberapa minggu lalu. Aku baru saja menyadari bahwa ini semua merupakan akal-akalan mereka yang mana sengaja memadamkan listrik agar bisa menguasai serta memainkan permainan liciknya.
Aku mengangguk. "Kau keberatan?" Elliott menggeleng pelan. "Bagus. Jika bukan karena aku, aku tak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Orang-orang takkan menyadari kejadian yang menimpa penghuni kamar itu dan akan segera menyadari kalau sudah mencium bau busuk. Memangnya kau—semua karyawan mau membiarkan mayat busuk begitu saja? Dibiarkan sampai mengeluarkan belatung dari tubuh mereka?"
"Menjijikkan."
"Nah, kau sendiri tahu." Ada jeda sejenak di antara kami. "Kira-kira sedang apa, ya, mereka di dalam? Mudah-mudahan saja berhasil menemukan petunjuk."
"Amin," kata Elliott.
Masih ada beberapa waktu lagi, pikirku. Aku masih bisa menghabiskan beberapa waktu lagi sebelum kuputuskan pindah ke apartemen lain. Jujur saja, aku sudah kadung nyaman dengan apartemen ini apalagi orang-orangnya yang jelas sekali sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarganya. Nancy telah mengubah segalanya begitu sempurna dan aku mengapresiasi kerja kerasnya.
Tetap saja.
Keputusanku sudah bulat. Aku akan pindah segera.
Elliott gelisah di tempat. Mendesah berat. Sesekali menengok ke segala arah dengan sorot mata yang kentara sekali dia ketakutan. Membuat kaget cowok itu bakal jadi suatu masalah. Bisa-bisa atasannya memanggilku lalu menulis surat peringatan atau bisa saja menyeretku ke penjara. Aku tertawa.
"Kau kenapa? Apa yang lucu?"
Cara bicaranya tidak sedang main-main. Aku sendiri sebetulnya tak sedang bercanda. Air muka Elliott cukup datar, namun ada ketakutan di matanya.
"Tidak ada," jawabku. "Mereka lama sekali."
"Mungkin mereka sedang—hei, kau mau ke mana?!"
Penasaran dengan apa yang ada di dalam, aku masuk ke kamar yang dihuni dua wanita paruh baya. Mengedarkan pandang, lalu jatuh ke sosok mayat tergeletak di lantai. Tubuh penuh luka dan lebam. Karena rasa keingintahuanku begitu meledak-ledak, seorang Detektif menghentikanku.
Aku mendecak. "Aku hanya ingin melihat olah TKP-nya saja. Mengapa tidak boleh?"
"Jangan dulu," sang Detektif melanjutkan, "kami masih belum selesai."
"Setelah menunggu berjam-jam di luar dan sampai sekarang belum selesai juga?" Mataku membelalak, melipat kedua tangan di dada. "Ada masalah apa kalian?"
Satu Detektif lain mendekat, menyerahkan beberapa lembar foto kepada Detektif di hadapanku. Keduanya mengangguk. Pria itu mendekati tim FBI.
Detektif kulit putih itu mengabaikan keluhanku. "Kami harus menyelesaikan tugas secepat mungkin."
"Aku ikut."
"Jangan. Sebaiknya tunggu di luar. Ini tugas kami."
Elliott masih di luar, tapi duduk di lantai sembari menyandarkan punggung ke dinding. Dia mendongakkan kepala. "Bagaimana? Mereka sudah menemukan bukti?"
"Ya." Aku membantu cowok ini berdiri. Tidak ada siapa-siapa di sini selain kekosongan—kesunyian di sepanjang lorong apartemen. Aku bertanya pada Elliott, "Kau betulan sendirian di sini? Ke mana semua orang-orang?"
"Kurasa mereka memilih bersembunyi, berdiam diri di kamar daripada keluar tapi dirundungi ketakutan luar biasa," jawabnya. Ketika mataku menangkap dirinya mengeluarkan sebatang rokok, sekejap Elliott memasukkan benda itu lagi ke saku celana panjang.
"Kenapa tidak dikeluarkan saja? Kalau ingin sekali merokok, lakukan saja. Toh, tak ada yang melarang."
"Ya, tahu," jedanya lalu sedetik kemudian melanjutkan, "tapi tidak dengan atasanku. Kau bisa dipecat tanpa hormat kalau ketahuan merokok apalagi itu amat dilarang di sini."
"Mengganggu kenyamanan pengunjung," gumamku agak meremehkan. Kalau dipikir-pikir memang benar. Tak kusalahkan siapa pun. Aku melihat alis Elliott terangkat sebelah. "Kau pikir aku bercanda? Betul. Tapi aku berubah pikiran. Atasanmu membuat keputusan yang bijak. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan melakukan seperti yang dilakukan atasanmu."
Pintu kamar tersebut membuka. Seluruh tim meninggalkan ruangan sementara lima petugas rumah sakit masuk ke dalam. Dua mayat wanita malang itu akhirnya dibawa ke rumah sakit. Reporter serta juru kamera bergerak cepat mendekati kamar itu dan langsung meliput. Cahaya kamera membuat mataku sakit. Kami berdua bergegas pergi menghindari kebrutalan mereka.
Akhirnya, aku dapat berbicara sedikit dengan Detektif tadi. "Tunggu sebentar!" Kugandeng Elliott agar lebih cepat. Dia menolehkan kepala ke arah kami. "Aku ingin tahu apa yang kalian temukan di dalam. Bisakah kau beritahu kami berdua? Apa, sih, motif dari semua musibah ini?"
"Begitu rumit untuk dijelaskan," deham sang Detektif. "Namun, kami mendapatkan sidik jari, jejak sepatu, begitu banyak darah di dinding. Yang paling menegangkan dari itu semua adalah sebuah gambar pentagram yang digambar dengan darah korban. Motifnya belum tahu pasti. Kami dan semua tim akan mendiskusikan hal ini lebih lanjut di kantor. Kami berterimakasih padamu."
Kami kemudian menjabat tangan. Tegas. "Sama-sama." Dia pergi lagi.
Listrik belum kunjung menyala. Lagi dan lagi, Elliott mengerutkan kening. "Aku mengeluh sekarang; kenapa sampai sekarang listrik belum juga nyala? Aku butuh air panas untuk mandi."
"Teman kami sedang memperbaikinya. Mereka bilang seseorang sengaja memutus aliran listrik," katanya.
Alih-alih menjawab, aku memutar bola mata. "Siapa pun yang telah berani membuat kekacauan ini, aku bersumpah hidupnya takkan pernah tenang seumur hidup."
"Kedengarannya meyakinkan sekali," kekeh Elliott. "Aku bertanya-tanya seberapa besar nyalimu saat bertemu dengan seseorang yang ternyata biang kerok dari semuanya. Beranikah?"
"Pastinya aku berani. Aku tak takut pada siapa pun."
"Ha ha lucu sekali. Lihat saja bagaimana ke depannya." Obrolan itu seketika berubah jadi sangat serius. Elliott mendekatkan bibirnya ke telingaku, berbisik, "Berhati-hatilah. Kita semua dalam bahaya sekarang. Kuharap ucapanmu hanyalah satire atau gurauan saja, sebab kita takkan pernah tahu apakah kita akan tetap hidup atau sebaliknya. Kita tak tahu pola pikir seseorang." Menjauh dariku, dia berkata sekali lagi, "Biar kuberitahu satu hal; jangan pernah percaya pada siapa pun meskipun mereka keluarga, kerabat, atau sahabat."
"Mengapa kau bicara begitu?"
"Inilah kenyataannya," jawabnya. "Jangan kau pikir kita kenal seseorang dan berhubungan baik, akan tetapi punya maksud terselubung. Aku cuma ingin kau selamat."Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (22)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Berasa kayak baca novel terjemahan top 👍
02/05/2022
0Keren sekali
11/11
0bagus banget seru baca nya
26/06/2025
0Lihat Semua