logo text

Bab 3 He's Just An Innocent Kid

AKU MENGHABISKAN sisa malamku duduk di sofa, mengamati orang-orang rumah membereskan meja, menyapu, mencuci piring, dan Dad mondar-mandir membawa dua kantong hitam besar ke tempat sampah di luar. Mom lagi-lagi membuat suara bising di dapur, sambil sesekali merutuki diri sendiri. Tak ada hal lain istimewa di sini selain air keran di wastafel memecah kesunyian di ruangan.
Harus kuakui bahwa aku masih memikirkan laki-laki itu. Sejak makan malam terakhir itu bahkan setelahnya, dia sama sekali menolak bicara denganku. Mata cokelatnya seperti sedang mencoba bersembunyi dari sesuatu. Aku tahu Richie pasti akan memarahiku lagi apabila aku bertanya soal itu secara personal.
Dia punya orangtua yang sangat menyayanginya. Bagaimana Mr. Hernandez memperlakukan anak lelakinya dengan baik, sesekali pria itu membangga-banggakan anaknya di hadapan kami betapa rajin dan taatnya Richie beribadah. Mereka adalah orang yang patuh pada agama; dan aku tidak melihat hal buruk di mata mereka semua termasuk Mr. Hernandez sekalipun. Namun, Richie membuat segalanya tampak baik-baik saja dengan berbaur bersama kami semua.
Pintu utama ditutup—dan dikunci. Dad menjatuhkan diri di sofa di sampingku, bersama helaan napasnya yang panjang lalu meraih remote dan menekan tombol benda itu hingga tv menyala. Obrolan malam yang tak layak ditonton untuk bocah seusiaku.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Aku mengerjapkan mata, tak tahu Dad ternyata tengah memperhatikanku. Mom meninggalkan dapur, berjalan naik ke atas menuju kamar tanpa berpaling ke arah kami sekalipun.
Kembali memandangi Dad, dia menaikkan kedua alis seakan menunggu respons dariku.
"Tidak ada," gelengku singkat. "Aku hanya menunggu telepon dari kakak." Sembari berkata, jemariku mengusap pada mata kiriku. Tak peduli Dad percaya atau tidak, kuakui aku sedikit merindukan kakakku di Seattle.
Nampaknya, dia menaruh curiga kepadaku. Aku memang pada dasarnya payah soal bohong-membohong.
Nada bicara Dad menjadi kalem. Membawaku ke dekapannya yang hangat—meskipun aku harus menahan napas karena ketiaknya yang membuatku kepingin semaput, "Aku memperhatikan kalian berdua tadi. Ada apa? Kalian bertengkar?"
"Tidak," jawabku. "Richie dan aku diam karena tidak tahu apa yang harus diobrolkan."
"Kau terdengar seperti seolah-olah kau sudah dewasa."
"Daaaaddddd."
Dad tertawa—atau mungkin menertawakanku. Telapak tangannya mulai menyentuh puncak kepalaku lalu memainkan tiap inci helaian rambutku yang indah.
Katakanlah aku gadis cilik yang congkak. Faktanya memang demikian. Aku bangga pada rambutku.
"Dad hanya bercanda. Ada hal lain yang ingin kau katakan, Nak?"
Menegakkan bahu. "Entah," kataku. "Kurasa tidak."
"Kalau begitu," Dad mencium puncak kepalaku, "selamat malam," tambahnya. Lalu, pergi.
Sedang apa dia saat ini? Dia baik-baik saja?
Sekelebat pemikiran hebat tentangnya kerap menghantuiku. Aku tidak sanggup berhenti memikirkan Richie.
Kubanting remot tv ke atas sofa usai mematikan tv, kuputuskan keluar rumah sejenak mendatangi kediaman Mr. Hernandez.
Mengumpulkan sekuat tenaga supaya tak membuat kekacauan di sini, aku berjinjit teramat pelan hingga mencapai pintu utama kemudian mengambil langkah besar, menutup pintu penuh hati-hati sampai aku berkeringat bahkan tidak bernapas.
Bukan saatnya mengetuk pintu kediaman Hernandez. Aku bergegas bersembunyi di belakang. Dentuman keras terdengar dari dalam. Jeritan seorang wanita, tangisan, semuanya berbaur jadi satu. Benturan keras itu terdengar lagi, aku mencari-cari lubang yang setidaknya bisa melihat ada apa gerangan di dalam. Aku menemukannya! Mataku menyipit menyaksikan kebrutalan di mana Mr. Hernandez menarik rambut seseorang ke dinding. Bersyukur pada Tuhan, berkat celah jendela yang menghubunganku ke ruang tengah dapat melihat segalanya. Kembali mengintip, sorot mataku menangkap ke satu arah—syok bukan main menemukan sahabat baikku dihantam habis-habisan oleh sang ayah. Ini adalah kali pertama aku merasakan jantungku berdentum kelewat kencang. Merasakan rasa sakit begitu luar biasa. Jika saja aku memiliki kemampuan—keberanian menghadapi Mr. Hernandez, aku mungkin akan langsung membawa Richie pergi bersamaku.
Mr. Hernandez, orang kejam tak layak hidup di muka bumi.
Segera aku mencari tempat persembunyian. Pohon itu. Aku berdiri di belakang pohon samping rumah Richie. Mataku mengerjap kaget, Richie berlari meninggalkan Mr. Hernandez menghujani kalimat buruk tentangnya sementara sang ibu menjerit agar dia kembali ke rumah.
Aku ingin sekali membantu sahabatku. Sungguh.
Hanya saja.
Aku gadis cilik yang tak berdaya.
Seakan sesuatu menghantam diri, pikiran mulai berguncang. Memilih antara mengejar anak lelaki itu bakal menimbulkan masalah, tetapi jika dibiarkan saja aku takkan bisa tidur nyenyak.
Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa. Mestinya aku kejar bocah itu. Persetan akan makian Richie, dia adalah segalanya bagiku. Richie tak perlu tahu soal ini betapa aku menyayangi dia.
***
MATA INI tak mampu berkedip. Perasaan hancur oleh pemandangan di depan mata. Kesunyian ini terkadang membuatku takut. Kompleks. Bis maupun kendaraan roda empat lainnya tak ada yang melintas sama sekali.
"Richie ..."
Aku tahu dia pasti kesal padaku, atau lebih buruknya tak menganggapku lagi sebagai sahabatnya. Aku ikhlas kalau Richie melepasku, maka aku tak perlu repot mengganggu kehidupan dia lagi.
Dia bangkit, menegakkan tubuh, berdiri berhadap-hadapan dari kejauhan. Sorot matanya gelap, membuatku sulit untuk berkutik.
Langkah kakinya begitu mantap ketika hendak mendekat. Aku bisa melihat air mukanya yang cukup kompleks. Aku tidak mengerti mengapa Richie nekat kabur ke kuburan.
"Untuk apa kau kemari?" Richie tampak tersinggung juga keberatan akan kedatanganku. Kubiarkan dia terus berbicara. "Kau tak seharusnya datang ke sini, Nat!"
"Aku mencemaskanmu!"
"Dengan mengikutiku, hah?!"
Aku tersentak, masih belum sanggup menanggapi perkataannya beberapa detik yang lalu.
"Astaga, Nat," imbuhnya. "Aku benar-benar tak ingin berdebat denganmu." Napasnya memberat. "Mengapa kau membuntutiku?"
"A-aku ...." Sejujurnya, semua ini salahku. Dia benar. Instingku pun demikian. Benar-benar bodoh. "Aku khawatir denganmu. Aku pergi ke rumahmu tadi, tapi orangtuamu kelihatannya marah besar—"
"Lalu, kau mau apa? Kau mau mengadu ke orangtuaku bahwa aku tidur di sini, benar begitu, Nathalie?"
Aku menggelengkan kepala. "Tidak."
"Aku tahu," kata Richie. "Kau terlalu lugu untuk hal ini. Sama sekali tak keberatan kalau kau memang ingin mengadu ke mereka."
"Aku akan tetap di sini."
Sejenak Richie berpaling. Mencemooh. Kembali kepadaku. "Bodoh."
"Apapun yang kau katakan, aku akan tetap di sini."
Bocah lelaki itu mendesah panjang, menatapku dalam. "Pulanglah. Orangtuamu pasti mencarimu."
"Tapi, Richie—"
"Pulang."
"Aku ingin bersamamu."
"Kau tak layak punya sahabat sepertiku. Begitu pun sebaliknya. Aku satu-satunya orang yang akan mempengaruhi dirimu suatu saat nanti."
Dia pasti sedang bercanda. Aku hanya menanggapi omong kosongnya dengan tertawa.
"Richie—"
"Jangan keras kepala," dia melanjutkan. "Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu."
Merasakan genangan air mata yang sebentar lagi jatuh membasahi permukaan pipi. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seandainya aku punya keberanian, saat ini juga dia harus mendengarkan bahwa aku amat sangat menyayanginya.
Andai saja.
Aku membiarkan anak laki-laki bermata cokelat itu menyentuh kedua bahuku yang terbalut oleh kaos polos merah pekat. Membuang muka, menangis di hadapan Richie Hernandez takkan menyelesaikan masalah. Dia benar. Aku gadis cilik yang lugu sekaligus cengeng. Secara kasar—secara spontan kuseka air mataku.
"Jangan menangis." Richie mengusap kedua mataku yang mulai sembab. Jemarinya dingin saat dia menyentuh wajahku. Bocah tersebut mengecup mataku lembut dan memelukku erat. Astaga, aku benci pada diri sendiri. Aku telah membuat kaosnya basah oleh air mata menjengkelkan ini. "Aku benci melihatmu begini," kata Richie beberapa saat.
"Katakan apa yang terjadi?" Kudongakkan mata, memberanikan diri untuk menatap mata indahnya. Kami berdua duduk agak jauh dari pemakaman. Berteduh di bawah pohon besar—sejujurnya, agak merinding untuk dideskripsikan. "Aku akan meminta Dad untuk membantumu."
"Tidak perlu," katanya singkat. "Aku tak butuh bantuan siapa pun, meski itu ayahmu."
"Jangan keras kepala. Tak tahukah kau betapa aku mencemaskanmu?"
"Itulah gunanya sahabat."
"Kau laki-laki menjengkelkan yang pernah kukenal." Aku mendengar dia terkekeh, sementara aku menahan desakan agar tak menangis lagi.
Dia mulai menatap mataku, berkata, "Aku mau kau terus mengatakan hal itu untukku."
"Kenapa begitu?"
"Lucu saja. Seorang cewek lugu, keras kepala, dan cengeng seperti dirimu mau berkawan denganku."
"Kita sahabat, oke." Aku melarat perkataannya yang baru saja terlontar keluar dari mulut seorang Richie Hernandez. "Kau dan aku akan menjadi sahabat selamanya."
"Kau yakin?"
"Tentu." Begitu percaya diri usai berkata demikian. "Kenapa tidak?"
Nampaknya, Richie tak benar-benar menganggapku serius. Dia selalu tersenyum, maka aku pun membalas senyuman bocah lelaki tersebut.

Komentar Buku (22)

  • avatar
    i******2@gmail.com

    Berasa kayak baca novel terjemahan top 👍

    02/05/2022

      0
  • avatar
    Bang Irfan

    Keren sekali

    11/11

      0
  • avatar
    26Yunita Sihotang

    bagus banget seru baca nya

    26/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru