logo text

Bab 20 I Am Not A Piece Of Your Shit

PADA HARI JUMAT, kupikir semuanya akan berjalan lancar. Tidak ada drama kelas. Tidak ada sandiwara yang bisa menghancurkan hubungan pertemanan. Hari ini tidak se-begitu menyenangkan ketimbang hari-hari sebelumnya; Emil mendadak pindah sekolah dan Richie semakin ke sini menjadi semakin pendiam.
Aku sudah meminta maaf pada Emil Selasa malam di telepon. Hubungan pertemanan kami akhirnya membaik dan menjadi lebih baik. Di sela-sela percakapanku dan Emil di telepon, cowok itu keceplosan bahwa dia dan sekeluarga akan pindah ke San Jose.
Aku tidak menanyakan alasan kepindahan mereka ke San Jose. Cuma bisa memberi dia dukungan seolah-olah aku merentangan kedua tanganku, menunggu dia berjalan ke arahku dan saling berpelukan.
Kalau dipikir-pikir, sebetulnya aku menyesal dan kecewa pada diriku sendiri.
Di kantin aku hanya membeli sebotol air mineral dan duduk sendirian di ujung. Richie selalu berusaha menghindar ketika aku mencoba mengajak dia ngobrol. Sudah tiga hari kami tak saling bicara dan tadi saat kami berdua kerja kelompok, Richie hanya bicara seperlunya saja.
Duduk di bawah pohon sembari menulis jurnal. Aku merasakan adanya hentakan keras sepatu yang hampir menggetarkan tanah. Kudongakkan kepala memandang ke segala arah, mereka sedang lari mengitari lapangan. Bocah-bocah sedang berlatih main bisbol.
Semuanya mengatur posisi sesuai tugas mereka masing-masing. Aku berfokus pada satu titik; itu Richie. Memegangi tongkat kasti sembari melakukan ancang-ancang sebelum bola melambung ke arahnya.
Tibalah saatnya. Kututup buku catatan, menyaksikan Richie dari tempatku. Aku memberi dukungan untuknya diam-diam. Aku tahu dia tidak akan menolehkan kepalanya kemari, tapi aku bisa merasakan ikatan batin kami terjalin sangat kuat dan tahu bahwa aku di sini sedang mendukungnya.
Aku hampir memekik usai Richie memukul bola begitu kencang. Dia berlari selagi bola itu melayang-layang di langit.
Aku masih tidak percaya Richie cukup hebat memukul bola kasti.
Richie sekonyong-konyong tersungkur ke tanah. Semua orang panik dan berlari mendekat.
Spontan bangkit dari duduk, aku berlari ke arah mereka. Napasku tersengal-sengal, menerobos kerumunan orang-orang itu; sang Pelatih tampak panik sembari dia dengan pelan memiringkan tubuh Richie ke kanan.
Dia kumat. Kejang-kejang menyerangnya.
Orang-orang yang berkumpul di sini diam tak bergeming.
Ketegangan ini membuat napasku tercekik.
Richie akhirnya tersadar sekitar sepuluh menit yang lalu. Pria itu langsung memberi tahu dia bahwa Richie tidak diperbolehkan lagi bergabung ke timnya.
"Ini tidak adil!" Urat-urat lehernya bersitegang. Rahang wajahnya mengeras. Berkeringat. Kemarahannya meledak luar biasa di hadapan semua orang. Richie bangkit berdiri, menatap sekeliling amat berang. Lalu, pandangannya jatuh kembali ke sang Pelatih. "Kau sama sekali tidak mau memberiku satu kesempatan lagi untuk bermain. Oh, ayolah! Kalian semua payah! Baik!"
Dia pergi.
Aku mengikutinya di koridor. Lagi, penyakit itu kembali menyerangnya. Bocah-bocah yang ada di koridor langsung berkumpul membentuk lingkaran. Mereka menghalangi jalan untuk orang-orang.
Richie ada di tengah-tengah kerumunan tersebut. Mereka semua terbahak-bahak bahkan mereka menyempatkan diri membuat lelucon sampahnya pada Richie yang sedang sekarat.
Bola matanya tertarik ke atas. Bibirnya membiru. Mulutnya berbusa.
"Tolong! Tolong!"
Aku semakin panik. Bingung tak keruan. Kening juga pelipisku berkeringat deras. Menarik napas dan setengah mendesah, kucoba sekali lagi. "TOLONGGG!"
Dan suaraku tenggelam oleh ledakan tawa mereka.
Mataku menyala-nyala. Berapi-api. Aku secara spontan mendaratkan pukulan pertamaku di wajah cantik cewek kulit putih berambut cokelat itu. Aku tak peduli dan tak ingin tahu siapa dia, yang jelas ini sudah menjadi kewajibanku melindungi sahabatku, tidak peduli dia sekarat atau apapun.
Cewek itu memekik histeris sembari mengelus pipinya yang merah akibat pukulan tanganku yang cukup kencang. "Apa-apaan kau?!"
Aku tidak menanggapi omong kosong sialannya. Berbalik ke Richie, aku berlutut membantu bocah lelaki itu memiringkan badan, seperti yang kulihat ketika Pelatih menolongnya.
Sial.
Kejang-kejangnya belum kunjung berakhir. Aku menggigit kuku jemari sembari menatap penderitaan sahabatku. Rahang mengeras, mengepalkan tangan kencang dan berteriak kepada orang-orang bodoh ini. "PERGI SEMUA! KALIAN MEMBUATKU MUAK SAMPAI KE PERUT! ENYAHLAH!"
Mereka membubarkan diri. Sebagian dari mereka berbisik-bisik dan sebagiannya lagi melirik sinis ke arahku. Persetan tanggapan mereka! Yang kupikirkan saat ini cuma Richie.
Aku membantu mendudukkan dia bersandar di loker. Kejang-kejang itu telah pergi sedetik yang lalu. Richie mengerjapkan mata beberapa kali, memandang berkeliling kemudian menatap ke arahku. "Nathalie?"
Mendengar dia menyebut namaku membuat perasaanku menjadi lega. Aku menghela napas dan tersenyum kepadanya.
"Ya, Richie?"
"Pergi."
Perlahan senyumku mengendur. "Kenapa?"
"Karena aku tidak butuh kau."
"Tapi, kau sahabatku, Richie ...."
"Kau bukan sahabatku," elaknya. Dia meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya. "Aku tidak butuh siapa-siapa."
"Jangan bercanda. Kita selalu bersama, ingat? Kau sahabatku, begitu pun sebaliknya."
"Sebaliknya, kau bukan sahabatku apalagi teman. Pergi."
Richie meninggalkanku sendirian di koridor. Aku terpaksa membungkam mulut ketika hendak mengucapkan sesuatu padanya. Kutatap punggung cowok itu lalu berbelok ke kanan. Semuanya lenyap. Aku bertanya-tanya apa salahku sehingga Richie tak lagi menganggapku sebagai sahabatnya. Dari cara dia berbicara, dia terdengar seperti sedang tertekan. TAPI AKU BENCI RICHIE TAK PERNAH MAU TERBUKA DENGANKU.
Aku merutuki diri sendiri.
Frustrasi, aku berlari ke toilet dan menangis di dalam sana. Hanya itu satu-satunya tempat untuk melampiaskan emosiku.
Kami membuat jarak. Sesekali kulirik Richie di seberang sana. Kami tidak lagi duduk sebangku atau duduk di belakangku. Dia tak lagi menunjukkan senyum lebar konyolnya. Aku mendesah berat, entah apa yang membuat Richie jadi bersikap begini padaku.
Aku tidak menghiraukan apa yang diucapkan Mr. Haroll di tempat duduknya. Aku berkutat pada buku catatanku yang mana lembarannya masih kosong. Isabel fokus mendengarkan pria itu.
Satu-satunya yang kulakukan adalah mendesah panjang.
***
AKU PULANG dengan perasaan teramat kacau. Aku melewati Mom dan Dad di sofa ruang tengah. Berjalan naik ke atas menuju kamar. Kubanting pintu bilik kamarku dengan kencang.
Melempar tas ke ranjang, aku melangkah menuju jendela yang menghubungkanku dengan lingkungan luar. Kamar tidur Richie gelap. Rumahnya tampak kosong. Bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan cowok itu saat ini.
Mungkin dia sekarang sudah punya teman baru yang jauh lebih baik daripada aku.
Aku tahu aku bukan teman yang baik untuknya. Dia tidak pantas berteman denganku.
***
AKU MENDATANGI kediaman keluarga Hernandez. Pintunya membuka, Mrs. Hernandez menyambut kedatanganku dengan hangat.
Ketika aku bertanya mana Richie, air muka Mrs. Hernandez seketika berubah. "Dia tidak tinggal di sini lagi."
Tubuhku menegang dan lemas mendengar kejutan tak menyenangkan itu. Mrs. Hernandez pasti sedang main-main denganku. Mana mungkin Richie pergi dari rumah, pikirku.
Aku melenggang masuk melewati wanita itu. Tak kuhiraukan Mrs. Hernandez menyerukan namaku berkali-kali. Aku memasuki seluruh kamar rumah ini, persis di dalam bilik Richie aku membongkar lemari pakaiannya. Tidak ada. Memeriksa di bawah ranjang. Tidak ada juga. Di dalam kamar mandi. Sama saja. Aku tak menemukan batang hidung cowok itu.
"Ke mana dia pergi?" tanyaku mendesak pada Mrs. Hernandez di depan pintu kamar Richie.
Wanita itu menghela napas. Ada raut kesedihan amat jelas di wajahnya. "Richie sekarang tinggal di rumah Ron. Sepupunya."
Aku tertawa singkat. "Kau bercanda. Kau sama bercandanya seperti Richie. Tak tahukah kau betapa kacaunya diriku setelah apa yang putramu lakukan kepadaku? Tidak, kan?!"
Mrs. Hernandez diam.
"Putramu telah mencampakkanku! Putramu telah membuat hidupku menderita! Aku tidak mengerti alasan keparat apa yang membuat dia bersikap seperti itu padaku. Dia selalu menutup-nutupi semuanya dariku. Dia juga selalu menghindar. Apa salahku?" Napasku tercekat di ujung. Mulutku gemetar. Gelisah. Aku merasakan mataku kini digenangi oleh air mata. "Aku mencoba memahami situasinya, tapi Richie selalu berasumsi bahwa aku berteman dengannya karena aku hanya kasihan padahal tidak! Aku. Tidak. Pernah. Punya. Perasaan. Seperti. Itu. Dia selalu salah paham. Entahlah, aku muak dengan semuanya. Persetan Richie! Aku muak padamu!"
Di dalam kamar, aku melempar semua barang-barang yang ada di meja. Melempar bantal ke sembarang arah. Aku mengabaikan Mom terus-menerus menggedor pintu kamar dan menyerukan namaku.
"TINGGALKAN AKU SENDIRI!"
"Sayang, izinkan Mom masuk sebentar saja."
"Kubilang pergi!" bentakku. "Tolong, Mom. Aku tidak ingin diganggu."
Aku membenamkan wajahku di bantal, menangis di sana. Berteriak. Memaki menyebut Richard Hernandez. Aku benci cowok itu. Aku benci, aku benci, aku benci.
"Mengapa semua ini harus terjadi padaku?" Aku terisak. Tangisanku kian pecah. Frustrasi. Amarah. Segalanya berbaur jadi satu.
"Salahku apa? SALAHKU APA?!" isakku lagi. "Kenapa kau mencampakkanku, Richie? KENAPA?!"
Aku segera beringsut dari ranjang, menyeka air mata dengan kasar sembari berjalan ke meja belajar. Aku menyobek buku-bukuku kelewat brutal. Merusak semua barang di kamar. Dan aku menghancurkan pot tanaman dengan tongkat bisbol pemberian Dad setahun lalu.
Tapi, suasana hatiku masih sama kacaunya seperti tadi pagi. Semua orang yang ada dalam hidupku menghilang begitu saja. Kurt, Richie, berikutnya siapa?
Keparat kau, Richard!
Aku menatap diriku di cermin yang menggantung di dinding. Wajahku kacau. Itu benar. Rambutku berantakan tak keruan. Menatap diriku amat sangat marah. Berikutnya, aku melayangkan kepalan tanganku ke cermin itu hingga retak dan pecah berkeping-keping. Kacanya berserakan di bawahku.
Aku melukai diriku sendiri. Membuat ukiran kasar dekat urat nadi lengan kiri dengan pecahan kaca di bawah kakiku. Aku selalu berusaha membuat diriku mati secepatnya, tapi usahaku begitu sia-sia.
Mencolek telapak tanganku yang berdarah, aku mulai mengoleskan darahku ke kelopak mata dan turun ke pipi. Tak peduli seberapa mengerikanku di cermin. Aku tampak jauh lebih baik.
Kudekatkan telapak tanganku yang masih dialiri darah ke wajahku. Aku mengisapnya begitu brutal. Mencicipi darahku sendiri. Tidak buruk, pikirku.
Aku menangis lagi.
Keparat!
Sekelilingku begitu hampa. Aku tidak dapat merasakan apa-apa selain mendapati diriku yang telah mati. Ya. Aku memang sudah mati. Tubuhku yang masih hidup.
Sejenak memejamkan mata, menghela napas semampu mungkin, aku mulai memandangi diriku di cermin retak. "Kau boleh melukaiku. Kau boleh pergi jauh dari kehidupanku. Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau. Silakan. Aku sudah selesai, Richard Keparat Hernandez. Aku. Sudah. Selesai."

Komentar Buku (22)

  • avatar
    i******2@gmail.com

    Berasa kayak baca novel terjemahan top 👍

    02/05/2022

      0
  • avatar
    Bang Irfan

    Keren sekali

    11/11

      0
  • avatar
    26Yunita Sihotang

    bagus banget seru baca nya

    26/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru