AKU BELUM bertemu Emil sejak sekolah dimulai. Aku juga belum terbiasa menghadapi situasi kelas, meskipun aku sama sekali tak tertarik mengakrabkan diri dengan mereka. Bocah perempuan berambut cokelat gelap duduk di sebelahku, Mary O'Connell, memberitahuku bahwa Emil sedang ada urusan keluarga sampai sekitar dua atau tiga hari. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menganggukkan kepala. Berharap obrolan omong kosongnya cepat berakhir. Aku masuk ke mobil. Mom menjemputku sekitar dua puluh lima menit yang lalu. Banyak murid menerobos orang-orang berjalan di depan, seolah-olah mereka sedang terburu-buru agar tak ketinggalan acara pembukaan kedai burger terbaru di pinggiran kota Los Gatos. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan panjang menggantung di udara. Gerimis membasahi Los Gatos. Mom membolehkanku menyetel radio di dasbor tengah. Mom bertanya ketika kami berhenti di lampu lalu lintas. Beberapa pejalan kaki mulai menyeberangi zebra cross, "Bagaimana sekolahmu?" "Rata-rata," jawabku apa adanya. "Aw, kenapa bisa begitu?" Aku menoleh menatap Mom di kursi kemudi. Radio masih aktif menyala. "Entah, aku juga tidak tahu mengapa," kataku menegakkan bahu. "Bagaimana denganmu, Mom?" "Mom baik. Pekerjaan sedikit padat saja." "Nah, kalau begitu, kenapa Mom menjemputku lebih awal dari biasanya?" Mom tersenyum kecil. "Katamu pengin ketemu Richard? Mom sudah menelepon rekan editor lain untuk merevisi berita majalah yang Mom kerjakan." "Aku tidak tahu itu pekerjaan Mom." "Dulunya Mom seorang koresponden," jelasnya. "Sekarang tidak lagi." "Oh," kataku. Kupikir percakapan kami berakhir sampai sini. Ambulans berhenti membelakangi mobil Mom. Pintu bagasi belakang ambulans membuka, tiba lima petugas paramedis dengan cepat membawa pasien sekarat ke dalam sementara sirine terus berbunyi. Mom kemudian melajukan pelan mobil dan berhenti di lahan parkir. Gerimis telah berhenti, teralihkan oleh sinar matahari yang mulai menampakkan diri. Rumah sakit El Camino tak terlalu ramai. Perjalanan dari sekolahku ke rumah sakit ini menempuh sekitar delapan menit. Kami melewati sejumlah para tenaga medis di lobi. Tidak ada yang saling berbicara. Semua sibuk akan tugas masing-masing. Mom membuka pintu kamar Richie. Di sana aku dapat melihat dia sedang terbaring lemah di ranjang. Mrs. Hernandez keluar. Aku masuk, menarik kursi dan duduk di samping ranjangnya. Kugenggam tangannya yang dingin juga lemah dengan mataku tak lepas dari wajahnya yang pucat. Perban meliliti kepalanya. Patient monitor bekerja normal. Richie belum boleh dipindahkan ke ruangan lain selagi masa kritisnya belum lewat. Dia terjebak dengan berbagai peralatan rumah payahnya yang menancap tubuhnya. Richie di ruang ICU. Mungkin kata 'menancap' kurang tepat untuk mendeskripsikan keadaannya. Kata 'menancap' terdengar seperti kau hendak menancapkan sesuatu di tanah maupun lainnya. Richie pasti marah mendapati dirinya dipenuhi oleh kabel sialan itu. Aku tak ingin berprasangka buruk, tetapi kemungkinan besar Emil mencoba menghindar dari masalah. Berjalan menuju pintu, melongok, melihat Mom sedang bicara dengan Mrs. Hernandez yang tengah bersedih. Sekilas menangkap ucapan Mrs. Hernandez bahwa suaminya akan kemari usai kerja. Kembali ke kursi tadi. Aku berkata pada tubuh Richie, "Kau harus sembuh, oke. Bosan sekali menunggumu melek dan kau tahu apa, aku lelah melihatmu terbaring sekarat bagai mumi. Tak ada yang bisa membuatku tertawa juga." Mom dan Mrs. Hernandez bangkit dari duduk ketika aku keluar dari ruangan Richie. Wanita itu berkata padaku, suaranya hampir tak terdengar, "Richie sudah bangun?" Aku menggeleng. "Belum sama sekali." Lalu, berkata pada Mom, "Aku ingin tidur, Mom. Mataku rasanya berat untuk melek." Mom berlama-lama. Mengabaikanku. "Aku benar-benar minta maaf tidak bisa menjagamu di sini." "Tidak apa-apa, Mrs. Jensen. Aku memahami, kok. Apalagi kita sama-sama seorang ibu." Aku mendeham. Tak peduli Mom kesal, kutarik kain kaus bawahnya, menyeretnya jalan bersamaku. Di belakang, Mrs. Hernandez terkekeh geli. Melambaikan tangan pada kami. Meninggalkan lahan parkir Rumah Sakit El Camino, Mom tidak banyak bicara kecuali lagu klasik menguasai ruangan mobil. Aku mengikuti tiap lirik Lollipop di radio. Lagu keluaran tahun 1959 terdengar nyaman sekaligus bersahabat di telinga. Kuambil buku catatan resep makanan di atas dasbor dan membacanya. Mom membelokkan mobil ke tikungan kanan ke Divison Street, mampir ke Mandala Tea House. Keluar dari mobil, kami melangkah bersama-sama masuk ke kedai di depan. Aku duduk, diikuti Mom. "Aku mau Smoothies Strength, Mom." "Baik," ucap Mom. "Ada lagi?" "Tidak. Tidak ada." "Mom ke depan dulu, oke." Mom mengecup pipiku singkat. Lalu, berjalan menghampiri kasir. Kembali ke kursinya. "Besok Mom tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya." "Aku mengerti." Sebisa mungkin aku tak menampakkan kekecewaanku di hadapan Mom. "Mrs. Hernandez bawa ponsel?" "Mungkin." "Barangkali Mom punya nomornya, jadi aku tak usah repot-repot datang ke sana." Pramusaji itu menghidangkan minuman kami di meja. Pemuda berkacamata dan berambut cokelat tembaga itu sangat tampan. Aku mendambakannya. Sungguh. "Terima kasih banyak," ujarku pada pria muda tersebut. Astaga, bisa-bisa aku mabuk kepayang mendapat senyum ekstranya. Astaga, dia begitu memesona! Bisa-bisa aku gila di tempat. "Sama-sama," jawabnya. Dia pergi. Menatap kepergiannya. Otakku mulai merancang imajinasi yang tak masuk akal. Membayanglan diriku saat dewasa, mungkin saja aku bisa punya pacar—atau suami. Ya, ampun. Aku menyesap Smoothies milikku lewat sedotan. Mataku membulat sempurna, menatap Mom, sebisa mungkin tidak membuat gaduh di sini. Tak salah memilih minuman itu. Rasanya jauh lebih enak ketimbang Smoothie buatan Mom. Mom sedikit kurang becus soal itu, meski begitu aku menghargai masakannya yang super enak. Tak pernah terpikirkan olehku minuman ini benar-benar luar biasa enak. Seolah-olah membawaku ke surga. "Nathalie?" Tangan Mom menggoyang-goyangkan di depan wajahku. "Nathalie?" panggilnya lagi. Seketuka lamunanku buyar, mengerjapkan mata berkali-kali, aku berkata, "Mom bicara padaku?" "Ya," angguknya. "Kau memikirkan apa?" "Memikirkan betapa dahsyatnya serta kenikmatan Smoothies Strength ini. Tak menyesal aku memilihnya. Itu apa Mom?" "Oh, ini," kata Mom sembari mengangkat gelasnya. "Ini Kopi Dragonwell. Kau tidak akan menyukainya." "Memang," kataku. "Sudah tercium jelas. Aku memang tidak suka baunya. Terlalu menyengat dan menyakiti hidungku." Mom tidak tertawa. "Karena ini minuman untuk orang dewasa, Sayang." "Begitukah?" "Ya. Kau akan merasakannya sendiri suatu hari." Aku menggumam. "Menjadi dewasa kelihatannya menyusahkan. Setiap kali melihat Mom dan Dad menjalani rutinitas yang itu-itu saja membuat kepalaku pening. Kuyakin pasti menjemukan." Sedetik kemudian aku menambahkan, "Pernahkah Mom berpikir ingin kembali—atau setidaknya mengenang masa kanak-kanak?" Mom membuka mulut untuk menjawab. Namun, terlihat menahan diri. Tawanya seketika meledak. Setidaknya tidak membuat malu seisi ruangan. Keningku mengernyit. "Ada yang salah dengan pertanyaanku?" Alih-alih menjawab, Mom nampaknya tidak dapat mengendalikan tawanya. Aku memutar bola mata kesal. Rasanya menyesal bertanya begitu padanya, seolah-olah pertanyaanku terdengar seperti lelucon untuknya. *** "DAAAAADDDDDD!" Aku membuat Dad kaget. Kopinya muncrat ke mana-mana. Berhambur kepadanya, kuceritakan seluruh keluh kesahku pada Dad. Mom menutup pintu. Aku membuang muka kesal. "Ada apa, Sayang?" Dad meletakkan cangkir ke meja, membawaku ke pangkuannya. Masih dengan kemeja yang sama, kurasa Dad belum menyempatkan diri untuk mandi dan sebagainya. Keran wastafel menyala dari dapur. Mom sedang mencuci piring atau sesuatu. "Mom tak mau menjawab pertanyaanku, Dad," rengekku, "dan malah ketawa." "Memangnya kau tanya apa tadi?" "Tapi, Dad harus janji takkan tertawa seperti Mom." Jari kelingking kami saling bertautan. "Ya. Tentu. Katakan saja." Kujauhkan jari tanganku, berkata lagi, "Aku, kan, tadi tanya Mom begini—"Mom sewaktu-waktu pernah berpikir ingin menjadi anak kecil lagi, atau setidaknya mengenang"—bukannya menjawab, malah tertawa. Itu bikin aku kesal." Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku kian memberengut ketika Dad terbahak-bahak. Tubuhku berguncang di pangkuannya. Efek dari tawa Dad yang sama sekali tidak lucu. Dad mendudukkanku di kursi lain, seketika berujar, "Astaga, Nathalie. Bagaimana ibumu tidak tertawa sedangkan pertanyaanmu kelewat kocak begitu." Dad tak mampu menghentikan tawanua. Bahunya mengguncang. Sesekali memegangi perutnya, menahan kesakitan. Dari dapur, lagi dan lagi, Mom tertawa keras. Mengerutkan bibir seraya menaruh tangan di dada. "Mom dan Dad sama saja ugh!" Aku berjalan naik ke atas menuju kamar. Membanting pintu. Mom dan Dad masih menertawakanku. Semuanya benar-benar terjadi di luar ekspetasiku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Berasa kayak baca novel terjemahan top 👍
02/05/2022
0Keren sekali
11/11
0bagus banget seru baca nya
26/06/2025
0Lihat Semua