Beranda/Sesal (Alasan Menghilangkannya Istriku)/
Bab 47. TAMAT (Versi Arga)
Aku tidak menyangka, keputusan yang kubuat ternyata membawa kebahagiaan untuk pasangan Haniya dan Tomi. Bagaimana tidak, mereka memang sama-sama saling mencintai. Meski butuh waktu sangat lama, susah sekali untuk menyatukan mereka kembali. Banyak drama yang terjadi dalam prosesnya. Nyaris saja aku menikahi Haniya sebelum Tomi datang dan membatalkan pernikahan kami.
Bukan! Tomi sama sekali tidak merebut Haniya dari aku. Dia bahkan dengan lapang dada datang saat akad nikah akan berlangsung. Hanya saja, sebelum kata pengikat itu kuucapkan. Aku sengaja berbisik kepada Haniya, bertanya apa dia siap menikah dan menjadi istriku setelah sehari sebelumnya kuceritakan niatku sebenarnya menikahinya.
Kuceritakan pula kisahku bersama Arum. Pengalaman merajut rumah tangga dan berakhir perpisahan karena ternodanya kesetiaan. Serta perasaanku yang masih belum juga terlepas dari bayang-bayang mantan istriku itu. Aku hanya ingin tahu, apa Haniya siap kunikahi atau lebih memilih Tomi yang jelas-jelas sangat mencintainya.
Aku tahu, kesalahan Tomi memang berat, tetapi tidak salahnya dia mendapatkan kesempatan sekali lagi. Pria jangkung dengan mata sipit itu memang sudah menyesali segala kesalahannya. Apalagi, dia benar-benar mulai memperdalam agama Islam, bukan semata-mata hanya ingin menikahi seorang gadis Muslimah.
Setelah dipelajari dan berguru pada seorang ustaz, hatinya semakin mantap untuk menjadi seorang mualaf yang taat. Keyakinan kepada Allah semakin hari semakin besar dan kuat. Membuatku tidak menyangka melihat perubahan darinya yang sangat signifikan.
Selepas kepergian Tomi waktu itu, aku terus berpikir dan meminta petunjuk kepada-Nya agar mendapatkan jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Selama beberapa malam tidak pernah absen salat istikharah. Dan jawaban yang keluar kudapatkan semakin memperkuat niatku untuk kembali menyatukan mereka.
Awalnya, kuberikan jalan agar Tomi bisa dengan leluasa untuk meminta maaf dengan suasana yang lebih tenang. Tidak dengan cara seperti dulu. Pun membuat Haniya mengerti agar memberikan waktu untuk mantan suaminya tersebut untuk menjelaskan. Dengan alasan agar Tomi lebih tenang menjalani hidup kedepannya.
Awalnya Haniya tetap kukuh pada kemarahannya. Kekecewaan yang pernah dia rasakan membuat hati gadis itu mengeras dan susah sekali diluluhkan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Haniya mulai melunakkan hatinya.
Setiap Tomi datang ke restoran untuk menemuiku, aku selalu mencoba memberi waktu kepada mereka berdua untuk mengobrol kembali. Berharap Haniya melihat kesungguhan Tomi untuk berubah. Kulihat percakapan mereka dari kejauhan. Meski kekakuan masih terpampang di wajah mereka saat saling mengobrol, namun dari sorot mata keduanya sama-sama masih memendam perasaan.
Aku sama sekali tidak menyangka malah bisa berteman baik dengan Tomi. Mengingat bagaimana kami dulu, sama sekali tidak terpikirkan di antara kami kini terjalin persahabatan.
“Bagaimana dengan keluargamu sekarang? Apa mereka menerima keputusanmu menjadi seorang mualaf?” tanyaku saat kami sedang mengobrol berdua di dalam ruangan kerjaku.
“Alhamdulillah, Bang. Mereka sedikit demi sedikit mengerti. Meski belum menerima sepenuhnya keputusanku. Karena terus gigih diyakinkan, mereka akhirnya tidak lagi seperti sebelumnya yang terus saja mengancamku,” jelasnya membuatku lega. Senang dengan kabar yang baru saja kudengar setidaknya lama kelamaan keluarga Tomi akan mengerti keputusan anggota keluarga mereka itu.
“Lalu bagaimana perasaanmu kepada Haniya? Apa kamu benar-benar ikhlas dia menjadi istriku? Kenapa tidak kamu perjuangkan kembali?”
Tomi terkejut mendengar pertanyaan dariku. Dia hanya diam membisu, mungkin tidak tahu harus menjawab apa. Semua orang juga tahu termasuk aku kalau dia memang masih mencintai Haniya. Aku hanya ingin mengetes seberapa besar cintanya sehingga Tomi mau memperjuangkan Haniya sebelum terlambat menjadi istriku.
“Jangan bercanda, Bang. Saat ini aku sedang mencoba untuk melupakannya. Mencoba untuk mengikhlaskan serta menerima keputusan Haniya. Mungkin memang kami tidak berjodoh. Kalau memang dengan melepaskannya bisa membuat dia bahagia. Aku ikhlas Haniya menikah denganmu, Bang,” tuturnya membuat hati ini semakin bangga akan perubahan Tomi yang sangat signifikan.
Sebenarnya, Tomi memang pria yang baik meski memiliki watak keras. Keadaan yang membuat dia berbuat tidak menyenangkan seperti kemarin. Tekanan dari berbagai sisi membuat dia tidak tenang. Apalagi Tomi memang yang membuat Bapak Haniya meninggal meski dia tidak sengaja melakukannya.
“Aku bertanya serius, Tom. Kenapa tidak terus berjuang untuk mendapatkan cinta Haniya kembali? Kenapa kamu malah berhenti untuk meraih hatinya lagi?”
Pertanyaanku selanjutnya membuat Tomi menarik napas panjang, seolah beban berat mengimpit dadanya.
“Itu tidak berguna, Bang. Haniya sudah tidak menginginkan aku lagi. Sepertinya dia memang sudah mencintai Bang Arga,” ucapnya dengan lesu sambil memainkan gelas kopi di tangannya.
“Kamu yakin dia mencintaiku? Yang kulihat sebaliknya. Dia masih mencintaimu.” Ucapan dariku membuat Tomi mendongak menatapku.
“Aku hanya tidak ingin kalau kalian akan menyesal dikemudian hari setelah segalanya terlambat,” jelasku saat kulihat Tomi memandangku dengan penuh pertanyaan. Mungkin dia heran kenapa aku gencar sekali menjodoh-jodohkan mereka kembali bersama.
Setelah bicara dari hati ke hati, Tomi akhirnya siap mencoba mengambil hati Haniya kembali dengan cara tidak memaksa seperti kemarin atas bantuan dariku. Kubiarkan mereka selalu bertemu agar bisa mengobrol berdua, berharap dengan intensnya kebersamaan di antara keduanya membuat nyaman satu sama lain.
Kemarahan Haniya pun akan hilang seiring waktu dengan melihat perubahan serta ketulusan cinta Tomi.
Benar saja, semakin hari kulihat mereka dekat kembali. Terkadang, aku selalu menyuruh Tomi untuk membantuku mengantar pulang Haniya dengan alasan ada urusan lain. Aku tahu, Haniya selalu menolak karena dia merasa tidak enak padaku. Akan tetapi, aku selalu memaksanya menerima ajakan Tomi.
Kini, usahaku untuk membuat mereka kembali bersama telah berjalan lancar. Membuatku merasa lega luar biasa. Aku senang telah menjadi seseorang yang membuat kedua sejoli itu kembali bersama.
Setelah segala kesedihan terjadi di antara mereka, telah berakhir. Diganti dengan senyum bahagia yang terus saja menghias di wajah pasangan ini, terutama Haniya.
Tanggung jawabku untuk menebus kesalahan kepada almarhum Pak Sastro telah tunai dengan melihat Haniya bahagia. Pun kepada adik-adik serta Bu Farida sampai mereka besar aku sama sekali tidak akan melepas tanggung jawab. Aku ingin menjadi orang pertama yang melihat anak Pak Sastro yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri itu sukses.
Beberapa hari yang lalu, aku pun dikejutkan dengan kedatangan Erika ke rumah. Dia datang menemuiku ingin meminta maaf kepada Arum serta mantan suaminya ini.
Aku terperangah saat Erika bercerita kalau dia bebas karena tidak bersalah. Mantan istriku itu dijebak oleh kekasihnya sendiri Andra agar menjadi kambing hitam atas kejahatan pria itu. Entah apa alasannya sehingga Andra mencoba mencelakai Arum dan putra kami. Aku pun tidak tahu apa yang telah terjadi, karena sampai sekarang, Andra terus saja mengunci mulutnya. Dia mengaku sebagai pelaku dan dalang dari semua yang dia lakukan dengan alasan balas dendam kepadaku.
Akan tetapi, kenapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya. Entahlah, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki bukti apa pun. Hanya bisa berharap kalau pria itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal karena perbuatan kriminalnya.
Erika pun meminta ingin kembali bersamaku membuatku sama sekali tidak percaya dengan apa yang kudengar dari mulutnya sendiri.
“Mas, maafkan aku. Masih bisakah kita untuk kembali bersama? Aku sudah menyesal sudah mengkhianatimu, Mas. Aku berjanji akan menjadi istri yang Mas Arga mau,” ujarnya memohon dengan mengiba. Erika mulai mendekati serta merayuku dengan sikap manjanya.
Membuatku tersenyum sambil menggelengkan kepala, dia memang tidak pernah berubah. Tetap menjadi Erika yang mengandalkan kelihaiannya dalam menggaet seorang pria. Namun, itu dulu, sekarang aku sama sekali tidak akan terbuai dengan segala rayuan mautnya.
Kutolak dia serta menyuruhnya untuk pergi dari rumahku. Tak lupa kuberikan pula ongkos untuk dia kembali ke Bandung rumah orang tuanya.
Meski dengan kesal dan cemberut akhirnya Erika pergi juga sambil menggerutu. Mungkin dia kecewa atas penolakan dariku.
Beberapa jam kemudian, tidak sengaja kulihat berita di televisi kalau ada seorang wanita yang telah mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia tertabrak sebuah mini bus. Dan yang membuat diriku tak kalah terkejut, wanita itu ialah Erika. Dia mengalami kejadian naas tersebut tidak lama setelah mantan istriku tersebut pergi dari rumahku.
Aku terduduk lemas saat mendengar kabar tersebut. Bukan karena aku masih mencintainya, melainkan hanya tidak percaya dengan kabar yang kudengar barusan. Masih tidak percaya dengan kenyataan itu, karena beberapa jam yang lalu kami sempat bertemu.
Umur memang tidak pernah ada yang tahu. Kapan nyawa kita akan dicabut oleh Sang Pemilik Kehidupan. Membuatku semakin yakin mendekatkan diri kepada-Nya. Kita tidak bisa menolak garis takdir yang telah Allah SWT takdirkan. Selama nyawa masih dikandung badan, berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa ada di dekat-Nya.
Di atas pusara mendiang Erika, aku mengenang dosa demi dosa yang telah kuperbuat. Bersyukur Allah SWT masih memberikan kesempatan untukku bertobat. Takkan pernah kusia-siakan waktu yang tersisa untuk mencari pahala serta Ridha-Nya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (77)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
03/08/2022
0kerenn
03/07
0baguss
10/10/2025
0Lihat Semua