logo text

Bab 46. Akankah Kembali Menikah?

“Kau tahu, Haniya sudah tidak perawan lagi. Dia itu pernah menjadi korban pemerkosaan saat masih remaja. Apa kamu yakin ingin menikahi gadis yang tidak sempurna seperti itu?”
Aku terperangah mendengar ucapan Tomi. Apa maksud pria ini menjelekkan Haniya? Bukankah dia juga ingin kembali pada gadis itu? Lantas, apa kenapa dia malah menceritakan hal yang sensitif seperti ini kepadaku?
Ternyata cintanya pada Haniya itu kebohongan.
“Bukankah kamu mencintai Haniya? Lantas, apa yang kamu dapatkan dengan mengotori nama baiknya seperti ini? Kau tahu, yang kamu lakukan ini semakin menguatkan kalau Haniya tidak pantas untukmu. Cintamu itu ternyata hanya kepalsuan,” ujarku dengan nada sinis.
“Apa pun yang kau katakan, saya akan tetap menikahi Haniya dan menerima segala kekurangannya. Itu bukan sesuatu masalah untukku,” ujarku dengan senyum menyeringai karena kulihat Tomi tidak berkutik sedikit pun mendengar ucapanku.
Melihat reaksiku Tomi melotot dengan wajah terkejut, mungkin tidak menyangka kalau aku tidak merubah pikiranku serta rencana menikahi Haniya. Mungkin saja dia mengira aku akan meninggalkan Haniya setelah mengetahui segalanya.
Ya, aku memang sudah tahu masalah ini dari Bu Farida. Beliau menceritakan segala yang telah Haniya alami di masa remajanya. Dengan terisak, beliau mengatakan kalau Haniya memiliki masa yang kelam sehingga membuat dia menjadi gadis yang tidak sempurna.
Bu Farida takut hal ini akan membuat masalah di kemudian hari setelah aku dan putrinya menikah. Pun, tidak ingin sampai membohongiku, padahal masalah ini sangat besar. Berulang kali Haniya batal menikah gara-gara hal ini. Laki-laki yang melamarnya mundur teratur setelah mengetahui gadis itu korban rudapaksa.
Pantas saja, saat ingin menceritakan segalanya yang Haniya bilang rahasia, gadis itu seolah tertekan serta berat untuk mengatakan kepadaku. Aku takbisa membayangkan bagaimana traumanya dia saat ini. Diri ini yakin, kalau Haniya tertekan dengan keadaan seperti ini. Tidak mudah menjadi seorang gadis korban kebejatan seorang pria yang tidak bertanggung jawab.
“Sekali lagi aku tanya, apa yang kamu dapatkan dengan cara seperti ini? Kukira cintamu tulus untuk Haniya. Ternyata palsu belaka.”
Mendengar ucapanku Tomi terduduk dengan lemas dengan tubuh yang terlihat lunglai.
“Bagaimana lagi, aku sudah kehabisan cara agar mendapatkannya kembali. Berbagai cara sudah kulakukan untuk mendapatkan maaf darinya, tapi ....”
Baru kali ini aku melihat pria ini seperti ini. Dia nampak sangat rapuh serta putus asa. Tomi yang kukenal tidak sopan dan kurang aj*r tidak ada lagi.
“Aku sangat mencintainya,” lanjutnya kembali.
“Lalu, kalau kau mencintainya, kenapa kamu membatalkan pertunangan kalian? Apa yang membuatmu tega menyakitinya? Kau tahu, yang tersakiti bukan hanya Haniya, tapi semua keluarganya. Apalagi karena ulahmu Pak Sastro meninggal dunia.”
Tomi mendongak dengan wajah yang tampak merasa bersalah. Dia menghela napas berat seolah beban berat berada di pundaknya.
“Apa kekurangan Haniya yang membuatmu tega mengkhianatinya? Kau harus tahu, aku tidak akan rela melepaskan Haniya untuk laki-laki sepertimu,” tekanku berniat mengorek lebih dalam lagi, apa alasannya mengkhianati mantan tunangannya.
“Aku menyesal telah menyakitinya dengan membatalkan pertunangan kami. Apalagi, mantan mertuaku sampai meninggal gara-gara aku. Setelah mengetahui kabar duka itu, setiap hari aku selalu dirundung rasa bersalah. Apalagi, Pak Sastro selalu datang ke dalam mimpiku. Beliau menitipkan putrinya untuk kubahagiakan. Aku kacau, tertekan dengan rasa bersalah dan cinta yang tidak bersatu Sampai kuputuskan untuk meminta maaf pada Haniya, tapi dia sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasanku.”
Aku terkejut dengan kata-kata yang sempat Tomi ucapkan. Apa maksudnya? Apa ada sesuatu yang membuatnya tertekan seperti itu?
Aku menyuruhnya menceritakan segalanya. Entah kenapa, Tomi seolah menuruti apa yang kukatakan. Dia menceritakan segalanya.
Kalau Tomi sangat mencintai Haniya. Hanya saja, orang tuanya ternyata menentang hubungan mereka karena Tomi sempat berpindah keyakinan. Keluarganya pikir kalau Haniya lah yang telah mencuci otaknya selama ini. Padahal, itu memang keinginan Tomi sendiri.
Aku merasakan yang Tomi rasakan. Kisah cinta mereka sama sepertiku dan Arum. Sama-sama tidak mendapatkan restu. Bedanya, hanya Mama yang tidak setuju. Meski kali ini beliau telah berubah dan menyayangi Arum. Sayang, setelah hubungan membaik, mantan istriku itu sudah tidak sudi lagi kembali kepadaku.
“Apa kamu tidak pernah mau berjuang untuk mempertahankan Haniya? Kalau memang kamu mencintai dia. Lantas, kenapa kamu malah mengkhianatinya?” tanyaku kembali memancing Tomi. Aku tidak bisa menyelesaikan masalahnya kalau sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.
Mendengar pertanyaan dariku wajah Tomi semakin sendu. Dalam keadaan seperti ini dapat kulihat kalau dia benar-benar sedang kacau sekarang.
“Itu hanya kesalahpahaman. Aku sama sekali tidak pernah mengkhianati Haniya,” ujarnya.
Tomi menceritakan awal mula bertemu dengan Haniya dan kenapa dia sampai jatuh cinta pada gadis itu, sehingga berani melamar meski berbeda keyakinan.
Awalnya, pertemuan mereka pertama kali di saat Tomi secara tidak sengaja hampir saja menyerempet Haniya saat gadis itu pulang kuliah. Karena kejadian itu, Haniya mengalami luka gores di kakinya serta terkilir. Sehingga membuat Tomi harus membawanya ke Rumah Sakit untuk diobati.
Karena rasa tanggung jawab, ia mengantarkan Haniya pulang ke rumahnya. Tomi juga meminta nomor ponsel dengan alasan untuk memastikan Haniya baik-baik saja. Katanya, entah mengapa di pertemuan pertamanya Tomi merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Sebuah getaran yang tidak pernah dia rasakan ketika bersama wanita lain.
Wanita yang membuat dia merasa penasaran untuk didekati. Bagaimana tidak Haniya memang wanita yang tertutup dan sangat menghindari pria. Jangankan bersentuhan, berdekatan saja ia tidak nyaman.
Setelah mendapatkan nomor ponselnya, Tomi memberanikan diri untuk menghubungi Haniya. Karena sering berkomunikasi, mereka lama kelamaan dekat dan Tomi memantapkan untuk mengungkapkan perasaannya.
Haniya, memang memiliki perasaan yang sama. Akan tetapi, untuk serius dia tahu memang tidak mungkin untuknya menerima Tomi. Sampai, kabar bahwa Tomi menjadi mualaf menjadikan Haniya lebih terbuka menerima lamarannya.
Akan tetapi, pertunangan mereka ternyata banyak ditentang oleh keluarga Tomi. Meski begitu, Tomi tetap melanjutkan niatnya yang sudah terlanjur terjadi. Sampai, Omanya masuk rumah sakit dan mengancam akan bunuh diri bila cucunya tidak membatalkan niatnya menikahi Haniya serta kembali ke keyakinan mereka yang lama.
Tomi bimbang dan tertekan harus memutuskan yang mana. Karena keduanya sama-sama berharga untuknya. Sampai, pria itu memutuskan untuk mengikuti keinginan keluarganya. Sampai, Tomi dijebak berduaan di dalam hotel seolah telah terjadi sesuatu bersama wanita lain yang tidak lain adalah anak dari rekan bisnis Papanya. Haniya yang memang sengaja diarahkan untuk datang ke sana melihat Tomi dalam keadaan yang membuat dia kecewa berat.
Dia pulang setelah memergoki Tomi yang seolah sedang melakukan sesuatu. Nyatanya bukan itu yang sebenarnya terjadi.
Karena masih keinginan Omanya, bukannya menjelaskan, Tomi malah membatalkan pertunangan beberapa hari setelah kejadian itu. Kebetulan memang dia melakukannya di Rumah Sakit tempat dirawatnya Pak Sastro, hingga beliau terkena serangan jantung karena stok.
Setelah kejadian itu, Tomi dirundung rasa bersalah dan mencoba meminta maaf kepada Haniya. Akan tetapi, gadis itu sama sekali tidak ingin mendengarnya. Bahkan setiap ingin bertemu, Haniya selalu menghindar.
Karena sudah habis cara untuk mendekati Haniya kembali, Tomi memaksanya untuk kembali bersama.
“Lalu, apa benar kamu memang pindah keyakinan karena ingin mendapatkan Haniya?” tanyaku kembali setelah mendengarkan segala ceritanya.
Tomi tidak menjawab sepatah kata pun. Sehingga membuatku bisa menyimpulkan kalau jawabannya benar.
“Niatmu dari awal salah, Tom. Kamu pindah keyakinan karena berharap bukan karena-Nya. Tapi, hanya ingin mendapatkan hamba-Nya. Itu saja sudah keliru,” ujarku membuat Tomi menunduk.
Setelah menceritakan segalanya, Tomi pamit pulang. Sedangkan aku sejak tadi hanya merenung. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Kuakui kalau hati ini belum bisa mencintai Haniya. Bayang-bayang Arum masih tersimpan rapat di hati ini. Aku tidak ingin membohongi diri sendiri dan Haniya langkah apa yang harus kulakukan sekarang?

Komentar Buku (78)

  • avatar
    YulianiLina

    makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh

    03/08/2022

      0
  • avatar
    NajibNajib

    keren

    5h

      1
  • avatar
    YuniNabilla

    kerenn

    03/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru