Bab 44. Calon Istri?

“Kalau boleh tahu, apa alasan mantanmu itu membatalkan pertunangan kalian?” Aku kembali bertanya. Memang terdengar lancang, tetapi ini terpaksa agak bisa mendapatkan solusi yang terbaik.
Haniya mendongak memandang wajahku sekilas sebelum akhirnya menunduk kembali. Wajahnya semakin sendu seperti beban berat mengimpit pundaknya. Sebenarnya apa masalah sesungguhnya?
Air matanya terus saja mengalir dengan deras di pipi gadis itu. Apa aku kurang tepat menanyakan hal ini?
“Sebenarnya ... a-aku ....,”
Aku menghela napas merasa kasihan melihat gadis ini. Mungkin bukan hal yang pantas untuk menanyakan hal ini kepadanya.
“Tidak perlu dijawab kalau itu berat. Maafkan saya telah lancang bertanya,” ucapku sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana yang sudah terasa sendu.
“Tidak, Mas. Mungkin saya memang harus menceritakan semuanya kepada Mas Arga. Apalagi, Tomi sudah mengancam Mas Arga. Lagi pula, saya percaya Mas Arga buka tipe orang yang akan menyebarkan aib orang,” ucapnya dengan terbata-bata sambil sesenggukan.
Aku mengangguk, mulai menunggu Haniya berbicara serta menceritakan masalah apa yang menjadi bebannya sekarang.
“Tomi membatalkan rencana pernikahan kami ... ka-karena orang tuanya tidak merestui kami.” Aku mengangguk sambil menunggu mengucapkan kata selanjutnya. Sudah hal biasa itu terjadi. Bahkan, pernikahanku dengan Arum tanpa restu Mama. Aku mengerti bagaimana perasaannya.
Haniya semakin terlihat gelisah di mataku. Berulang kali gadis itu menelan ludah. Aku memberikan sebotol air putih untuknya dan dia menerima. Kulihat sorot mata Haniya terlihat tertekan. Kira-kira hal berat apa yang dia miliki?
“Sebenarnya ... saya, sa-saya ....” Ucapan Haniya terpotong saat salah seorang pegawai mengetuk pintu ruanganku. Dia masuk setelah kupersilakan.
“Maaf, Bos mengganggu. Tapi, ada seseorang yang mencari Bos Arga,” ucapnya. Alisku mengernyit merasa penasaran siapa yang datang menemuiku?
Aku menyuruhnya meminta tamu itu masuk, sedangkan Haniya mulai pamit dengan air mata yang masih membekas di pipinya. Dia keluar dengan kepala yang masih menunduk sarat akan kesedihan yang mendalam. Kulihat dari kaca ruanganku gadis itu berjalan ke belakang, mungkin akan pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.
Meski penasaran apa yang akan Haniya ceritakan, tetapi tak mungkin membiarkan tamu menunggu. Ternyata yang datang itu seorang distributor bahan-bahan makanan di restoran ini. Kami mengobrol masalah harga bahan pokok yang sedang melambung tinggi. Meminta dariku kenaikan harga.
Karena permintaannya masih dibatas wajar, Aku setuju dengan syarat kualitas barang harus semakin ditingkatkan.
**
Sejak hari di mana mantan tunangan Haniya diusir, aku sama sekali tidak pernah melihatnya lagi datang ke Restoran. Aku pun selalu mengantar gadis itu untuk pulang ke rumahnya, memastikan dia baik-baik saja. Entahlah aku merasa dia butuh perlindungan dariku.
Aku mendapatkan sosok Arum dalam sifat gadis ini, sehingga semakin hari pertemanan kami semakin dekat. Haniya seorang yang pemalu selalu menolak saat aku ingin mengantarnya pulang.
Gadis itu berkata kalau tidak enak dengan karyawan yang lain. Seperti malam ini, saat aku pulang telat karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Seperti biasa, aku melihat Haniya sedang menunggu ojek online yang dia pesan.
“Ayo masuk, biar kuantar kamu pulang,” ajakku membuatnya menoleh. Mata kami sempat beradu.
“Tidak, Mas. Mohon maaf saya tidak bisa ikut. Saya sudah memesan ojek online,” tolaknya. Aku merasa Haniya dua hari terakhir ini menghindariku. Membuatku sedikit bertanya-tanya. Apa aku memiliki salah padanya?
Entahlah, aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Sejak tadi siang gelisah terus menerus membuatku merasa tidak tenang. Terutama saat mengingat Haniya. Apalagi, aku merasa sikap gadis itu berubah lebih pendiam, setelah sebelumnya memang berusaha menjauh dariku. Apa yang terjadi?
“Batalkan saja, nanti aku bayar ongkosnya.” Aku memaksa membuat gadis itu menggeleng dengan cepat.
“ Jangan paksa saya, Mas. Biarkan saya pulang sendiri.”
Tidak lama, seorang pengendara motor ojek online datang. Haniya naik ke atas motor tersebut dan pamitan padaku.
Aku menghela napas berat, ternyata gadis itu sangat keras kepala. Kusuruh Mang Mansur untuk mengikuti Haniya, ingin memastikan dia pulang dengan selamat. Semakin lama hati ini merasa semakin tidak enak membiarkan dia pulang sendiri.
Akan tetapi, aku terkejut dengan arah tujuan gadis itu. Ternyata, dia tidak pulang. Ke mana dia pergi? Aku terus mengikuti motor yang membawanya. Kulihat, kendaraan tersebut berhenti di sebuah salah satu rumah makan yang tidak jauh dari restoran milikku.
Haniya turun dan memberikan ongkos untuk ojek online. Saat hendak masuk ke dalam bangunan tersebut, mataku terbelalak melihat Tomi turun dari motornya dan menghampiri Haniya.
Pria itu tersenyum ingin merangkul gadis itu, namun secepat kilat tangan itu tepisnya. Haniya terlihat tidak suka berjalan dengan pria itu. Lalu, untuk apa dia menemui lelaki itu di sini?
Aku turun dari mobil dan meminta Mang Mansur untuk menunggu di dalam mobil. Meski sopirku itu keberatan, namun aku tetap menyuruhnya untuk diam di mobil. Kucoba membuntuti mereka, meski dengan langkah tertatih karena kondisi kakiku yang masih belum bisa berjalan normal.
Saat hampir mendekat, terdengar bentakan Haniya.
“Jangan kurang ajar kamu! Kalau bukan karena ancamanmu, aku tidak akan datang ke sini untuk menemuimu! Aku jijik!” bentaknya dengan bahu naik turun, sepertinya dia sangat terlihat emosi.
“Jangan begitu dong, Sayang. Aku menyesal sudah membatalkan pertunangan. Aku mohon, kita kembali lagi seperti dulu. Aku akan menikahimu seperti rencana awal kita,” ujar pria tersebut sambil berusaha untuk memegang tangan Haniya yang langsung ditepis gadis itu sebagai reaksinya.
“Tidak akan pernah!” tolak Haniya.
“Aku jijik sama kamu. Setelah membatalkan hubungan kita karena perempuan lain dan kamu kepergok bermain tidak seronok dengan selingkuhanmu, apalagi kata-katamu yang kasar membuat Bapakku serangan jantung. Sekarang kami ingin kembali padaku? Aku tidak sudi, Tom!” tambahnya lagi.
Pria bernama Tomi itu malah menggenggam lengan Haniya dan ingin membawanya pergi dari tempat itu. Akan tetapi, Haniya memberontak.
“Kamu berani menolakku? Apa gara-gara bosmu yang bernama Arga itu? Akan kupastikan restorannya akan hancur setelah kubawa teman-temanku untuk merusaknya,” ancam pria tersebut. Aku mengepalkan tangan dengan geram. Bisa-bisanya dia memaksa menikah dengan memberikan ancaman.
Haniya mematung, dia menggeleng terlihat takut dengan ancamannya.
“Jangan libatkan Mas Arga dalam masalah kita, Tom. Dia orang baik. Mas Arga tidak ada hubungannya sama sekali denganku. Bukan dia alasanku menolakmu,” ucap Haniya dengan bergetar.
Aku tidak tahan melihat pemandangan di depanku ini. Geram dengan sikap mantan calon tunangan Haniya. Aku heran, bisa-bisanya pria seperti itu pernah menjadi bagian dari hidup gadis itu.
Aku mendekat menghampiri mereka, “Jangan paksa Haniya kalau tidak mau kau kumasukkan ke penjara, apalagi dengan mengancamnya. Saya sama sekali tidak takut dengan ancamanmu,” teriakku saat jarak dengan mereka sudah dekat.
Haniya dan pria tersebut terkejut dengan kedatanganku. Terutama lelaki yang bernama Tomi itu berjalan dengan tergesa menghampiri. Dengan cepat dia memukul wajah ini dengan tinjunya sehingga membuatku merasakan perih di ujung bibir. Berulang kali lelaki itu menghadiahkan bogem mentahnya sampai membuatku terbatuk-batuk.
Aku tidak berdaya dengan kondisi kakiku yang seperti ini. Jangankan melawan, berdiri saja menggunakan alat bantu. Sedangkan, Haniya berteriak histeris melihat kami. Mencoba untuk melerai pria bernama Tomi tersebut.
“Jangan pernah ikut campur dengan urusanku. Dia ini calon istriku,” bentaknya setelah melayangkan pukulan terakhir serta melihatku tersungkur.
“Dia bukan calon istrimu, kau hanya mantannya saja. Saya lah calon suaminya sekarang,” ucapku dengan spontan.
Saat hendak melayangkan pukulan kembali, seorang satpam dan para pengunjung restoran ini mencegahnya. Petugas keamanan tersebut mengancam akan melaporkan dia ke kantor polisi jika terus saja berbuat onar. Dengan terpaksa, Tomi pergi meski dengan kesal terlihat di raut wajahnya.
Haniya dan orang-orang membantuku untuk bangun dan membawa ke dalam mobil. Mang Mansur terkejut saat melihat kondisiku yang babak belur. Dia pamit untuk mencari obat di apotek terdekat.
.
Semua orang yang menolongku bubar satu persatu setelah mengantarku masuk ke dalam mobil. Kini tinggal aku dan Haniya di dalam kendaraan ini meski dengan pintu yang terbuka.
Gadis itu meringis saat melihatku merasa kesakitan ketika tangan ini menyentuh bagian yang terluka.
“Kenapa Mas Arga malah melawan Tomi? Apalagi menentangnya?” tanyanya dengan mimik khawatir.
“Saya hanya tidak terima kalau dia mengancammu,” jawabku masih sambil memegang bagian yang terasa lebih sakit.
Gadis itu menghela napas berat, “ Tapi tidak dengan mengorbankan diri, Mas. Bahkan, Mas Arga sampai berbohong mengatakan kalau saya calon istri Mas Arga. Itu akan membuat Mas terseret ke dalam masalahku semakin jauh.”
“Saya tidak berbohong, Niya. Saya serius ingin menikahimu. Mungkin itu satu-satunya cara agar pria bernama Tomi tersebut berhenti untuk mengejar serta mengancammu.”
Gadis di depanku ini kini terperangah dengan mata membulat. Mungkin terkejut dengan ucapanku barusan.
Bersambung.
Ada yang rela kalau Arga menikah lagi?🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk sub, rate, komen dan tap ❤️ happy reading 💞💞💞
💞💞💞
“Kalau boleh tahu, apa alasan mantanmu itu membatalkan pertunangan kalian?” Aku kembali bertanya. Memang terdengar lancang, tetapi ini terpaksa agak bisa mendapatkan solusi yang terbaik.
Haniya mendongak memandang wajahku sekilas sebelum akhirnya menunduk kembali. Wajahnya semakin sendu seperti beban berat mengimpit pundaknya. Sebenarnya apa masalah sesungguhnya?
Air matanya terus saja mengalir dengan deras di pipi gadis itu. Apa aku kurang tepat menanyakan hal ini?
“Sebenarnya ... a-aku ....,”
Aku menghela napas merasa kasihan melihat gadis ini. Mungkin bukan hal yang pantas untuk menanyakan hal ini kepadanya.
“Tidak perlu dijawab kalau itu berat. Maafkan saya telah lancang bertanya,” ucapku sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana yang sudah terasa sendu.
“Tidak, Mas. Mungkin saya memang harus menceritakan semuanya kepada Mas Arga. Apalagi, Tomi sudah mengancam Mas Arga. Lagi pula, saya percaya Mas Arga buka tipe orang yang akan menyebarkan aib orang,” ucapnya dengan terbata-bata sambil sesenggukan.
Aku mengangguk, mulai menunggu Haniya berbicara serta menceritakan masalah apa yang menjadi bebannya sekarang.
“Tomi membatalkan rencana pernikahan kami ... ka-karena orang tuanya tidak merestui kami.” Aku mengangguk sambil menunggu mengucapkan kata selanjutnya. Sudah hal biasa itu terjadi. Bahkan, pernikahanku dengan Arum tanpa restu Mama. Aku mengerti bagaimana perasaannya.
Haniya semakin terlihat gelisah di mataku. Berulang kali gadis itu menelan ludah. Aku memberikan sebotol air putih untuknya dan dia menerima. Kulihat sorot mata Haniya terlihat tertekan. Kira-kira hal berat apa yang dia miliki?
“Sebenarnya ... saya, sa-saya ....” Ucapan Haniya terpotong saat salah seorang pegawai mengetuk pintu ruanganku. Dia masuk setelah kupersilakan.
“Maaf, Bos mengganggu. Tapi, ada seseorang yang mencari Bos Arga,” ucapnya. Alisku mengernyit merasa penasaran siapa yang datang menemuiku?
Aku menyuruhnya meminta tamu itu masuk, sedangkan Haniya mulai pamit dengan air mata yang masih membekas di pipinya. Dia keluar dengan kepala yang masih menunduk sarat akan kesedihan yang mendalam. Kulihat dari kaca ruanganku gadis itu berjalan ke belakang, mungkin akan pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.
Meski penasaran apa yang akan Haniya ceritakan, tetapi tak mungkin membiarkan tamu menunggu. Ternyata yang datang itu seorang distributor bahan-bahan makanan di restoran ini. Kami mengobrol masalah harga bahan pokok yang sedang melambung tinggi. Meminta dariku kenaikan harga.
Karena permintaannya masih dibatas wajar, Aku setuju dengan syarat kualitas barang harus semakin ditingkatkan.
**
Sejak hari di mana mantan tunangan Haniya diusir, aku sama sekali tidak pernah melihatnya lagi datang ke Restoran. Aku pun selalu mengantar gadis itu untuk pulang ke rumahnya, memastikan dia baik-baik saja. Entahlah aku merasa dia butuh perlindungan dariku.
Aku mendapatkan sosok Arum dalam sifat gadis ini, sehingga semakin hari pertemanan kami semakin dekat. Haniya seorang yang pemalu selalu menolak saat aku ingin mengantarnya pulang.
Gadis itu berkata kalau tidak enak dengan karyawan yang lain. Seperti malam ini, saat aku pulang telat karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Seperti biasa, aku melihat Haniya sedang menunggu ojek online yang dia pesan.
“Ayo masuk, biar kuantar kamu pulang,” ajakku membuatnya menoleh. Mata kami sempat beradu.
“Tidak, Mas. Mohon maaf saya tidak bisa ikut. Saya sudah memesan ojek online,” tolaknya. Aku merasa Haniya dua hari terakhir ini menghindariku. Membuatku sedikit bertanya-tanya. Apa aku memiliki salah padanya?
Entahlah, aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Sejak tadi siang gelisah terus menerus membuatku merasa tidak tenang. Terutama saat mengingat Haniya. Apalagi, aku merasa sikap gadis itu berubah lebih pendiam, setelah sebelumnya memang berusaha menjauh dariku. Apa yang terjadi?
“Batalkan saja, nanti aku bayar ongkosnya.” Aku memaksa membuat gadis itu menggeleng dengan cepat.
“ Jangan paksa saya, Mas. Biarkan saya pulang sendiri.”
Tidak lama, seorang pengendara motor ojek online datang. Haniya naik ke atas motor tersebut dan pamitan padaku.
Aku menghela napas berat, ternyata gadis itu sangat keras kepala. Kusuruh Mang Mansur untuk mengikuti Haniya, ingin memastikan dia pulang dengan selamat. Semakin lama hati ini merasa semakin tidak enak membiarkan dia pulang sendiri.
Akan tetapi, aku terkejut dengan arah tujuan gadis itu. Ternyata, dia tidak pulang. Ke mana dia pergi? Aku terus mengikuti motor yang membawanya. Kulihat, kendaraan tersebut berhenti di sebuah salah satu rumah makan yang tidak jauh dari restoran milikku.
Haniya turun dan memberikan ongkos untuk ojek online. Saat hendak masuk ke dalam bangunan tersebut, mataku terbelalak melihat Tomi turun dari motornya dan menghampiri Haniya.
Pria itu tersenyum ingin merangkul gadis itu, namun secepat kilat tangan itu tepisnya. Haniya terlihat tidak suka berjalan dengan pria itu. Lalu, untuk apa dia menemui lelaki itu di sini?
Aku turun dari mobil dan meminta Mang Mansur untuk menunggu di dalam mobil. Meski sopirku itu keberatan, namun aku tetap menyuruhnya untuk diam di mobil. Kucoba membuntuti mereka, meski dengan langkah tertatih karena kondisi kakiku yang masih belum bisa berjalan normal.
Saat hampir mendekat, terdengar bentakan Haniya.
“Jangan kurang ajar kamu! Kalau bukan karena ancamanmu, aku tidak akan datang ke sini untuk menemuimu! Aku jijik!” bentaknya dengan bahu naik turun, sepertinya dia sangat terlihat emosi.
“Jangan begitu dong, Sayang. Aku menyesal sudah membatalkan pertunangan. Aku mohon, kita kembali lagi seperti dulu. Aku akan menikahimu seperti rencana awal kita,” ujar pria tersebut sambil berusaha untuk memegang tangan Haniya yang langsung ditepis gadis itu sebagai reaksinya.
“Tidak akan pernah!” tolak Haniya.
“Aku jijik sama kamu. Setelah membatalkan hubungan kita karena perempuan lain dan kamu kepergok bermain tidak seronok dengan selingkuhanmu, apalagi kata-katamu yang kasar membuat Bapakku serangan jantung. Sekarang kami ingin kembali padaku? Aku tidak sudi, Tom!” tambahnya lagi.
Pria bernama Tomi itu malah menggenggam lengan Haniya dan ingin membawanya pergi dari tempat itu. Akan tetapi, Haniya memberontak.
“Kamu berani menolakku? Apa gara-gara bosmu yang bernama Arga itu? Akan kupastikan restorannya akan hancur setelah kubawa teman-temanku untuk merusaknya,” ancam pria tersebut. Aku mengepalkan tangan dengan geram. Bisa-bisanya dia memaksa menikah dengan memberikan ancaman.
Haniya mematung, dia menggeleng terlihat takut dengan ancamannya.
“Jangan libatkan Mas Arga dalam masalah kita, Tom. Dia orang baik. Mas Arga tidak ada hubungannya sama sekali denganku. Bukan dia alasanku menolakmu,” ucap Haniya dengan bergetar.
Aku tidak tahan melihat pemandangan di depanku ini. Geram dengan sikap mantan calon tunangan Haniya. Aku heran, bisa-bisanya pria seperti itu pernah menjadi bagian dari hidup gadis itu.
Aku mendekat menghampiri mereka, “Jangan paksa Haniya kalau tidak mau kau kumasukkan ke penjara, apalagi dengan mengancamnya. Saya sama sekali tidak takut dengan ancamanmu,” teriakku saat jarak dengan mereka sudah dekat.
Haniya dan pria tersebut terkejut dengan kedatanganku. Terutama lelaki yang bernama Tomi itu berjalan dengan tergesa menghampiri. Dengan cepat dia memukul wajah ini dengan tinjunya sehingga membuatku merasakan perih di ujung bibir. Berulang kali lelaki itu menghadiahkan bogem mentahnya sampai membuatku terbatuk-batuk.
Aku tidak berdaya dengan kondisi kakiku yang seperti ini. Jangankan melawan, berdiri saja menggunakan alat bantu. Sedangkan, Haniya berteriak histeris melihat kami. Mencoba untuk melerai pria bernama Tomi tersebut.
“Jangan pernah ikut campur dengan urusanku. Dia ini calon istriku,” bentaknya setelah melayangkan pukulan terakhir serta melihatku tersungkur.
“Dia bukan calon istrimu, kau hanya mantannya saja. Saya lah calon suaminya sekarang,” ucapku dengan spontan.
Saat hendak melayangkan pukulan kembali, seorang satpam dan para pengunjung restoran ini mencegahnya. Petugas keamanan tersebut mengancam akan melaporkan dia ke kantor polisi jika terus saja berbuat onar. Dengan terpaksa, Tomi pergi meski dengan kesal terlihat di raut wajahnya.
Haniya dan orang-orang membantuku untuk bangun dan membawa ke dalam mobil. Mang Mansur terkejut saat melihat kondisiku yang babak belur. Dia pamit untuk mencari obat di apotek terdekat.
.
Semua orang yang menolongku bubar satu persatu setelah mengantarku masuk ke dalam mobil. Kini tinggal aku dan Haniya di dalam kendaraan ini meski dengan pintu yang terbuka.
Gadis itu meringis saat melihatku merasa kesakitan ketika tangan ini menyentuh bagian yang terluka.
“Kenapa Mas Arga malah melawan Tomi? Apalagi menentangnya?” tanyanya dengan mimik khawatir.
“Saya hanya tidak terima kalau dia mengancammu,” jawabku masih sambil memegang bagian yang terasa lebih sakit.
Gadis itu menghela napas berat, “ Tapi tidak dengan mengorbankan diri, Mas. Bahkan, Mas Arga sampai berbohong mengatakan kalau saya calon istri Mas Arga. Itu akan membuat Mas terseret ke dalam masalahku semakin jauh.”
“Saya tidak berbohong, Niya. Saya serius ingin menikahimu. Mungkin itu satu-satunya cara agar pria bernama Tomi tersebut berhenti untuk mengejar serta mengancammu.”
Gadis di depanku ini kini terperangah dengan mata membulat. Mungkin terkejut dengan ucapanku barusan.
Bersambung.
Ada yang rela kalau Arga menikah lagi?🤭🤭🤭

Komentar Buku (77)

  • avatar
    YulianiLina

    makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh

    03/08/2022

      0
  • avatar
    YuniNabilla

    kerenn

    03/07

      0
  • avatar
    Aini Ramadhani

    baguss

    10/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru