POV Arum “Tidak akan pernah!” bentaknya dengan penuh penekanan. “Kau adalah alat balas dendamku sekarang. Takkan kubiarkan kau untuk bebas dari sini. Selamanya kau akan menjadi pelayanku di rumah ini. Atau kalau perlu menjadi istriku.” “Apa ...!” Apa maksudnya? Menjadi istri pria kejam ini? Bahkan aku baru saja berpisah dari Mas Arga dan melahirkan. Aku menggeleng, tidak menerima apa yang pria itu katakan. Aku harus mencari cara agar bisa terbebas dari pria kejam seperti dia. “Tidak, saya tidak mau menjadi istri anda. Saya mohon, bebaskan saya,” ucapku mengiba. Namun, pria tersebut dengan congkaknya malah berdiri sambil memandangiku sinis. “Memangnya siapa yang ingin memiliki istri sepertimu, heh? Kau bukan jenis wanita yang menjadi seleraku,” sinisnya membuatku melongo. “Bukankah tadi ...?” “Apa? Saya hanya berkata sembarang. Lagi pula, wanita sepertimu apa menariknya? Cantik tidak, menarik tidak apalagi seksi,” sindirnya. Membuatku memalingkan muka. Bisa-bisanya pria ini menghinaku. Memangnya siapa yang ingin dipandang cantik, menarik apalagi seksi. Aku bukan wanita murahan seperti itu. “Tidak heran anda memandang wanita hanya dari fisiknya. Ternyata selera anda wanita murahan , yang hanya bisa mengumbar lekuk tubuh,” balasku kesal. Pria itu melotot memandang tajam padaku. Entahlah, kenapa aku mulai berani untuk menentang pria tersebut. Padahal, sebelumnya aku selalu gemetar meski hanya memandang mata dia yang tajam. Tanganku berkeringat dingin saat lelaki di hadapanku mengepalkan tangan serta mengeraskan rahang. Aku salah bicara. Akan tetapi, sudah terlanjur juga. Biarlah! Aku mau tahu apa yang berani pria itu lakukan padaku. Langkah demi langkah lelaki itu mendekat. Semakin maju ke arahku, pria itu semakin mendekat, diri ini mundur mencoba menjauh. “Apa yang kau katakan tadi?” geramnya. “Maafkan saya. Saya tidak sengaja. Jangan mendekat,” mengingat pria kurang aj*r kemarin membuatku merasa ketakutan saat dihadapkan dengan keadaan yang mirip seperti saat ini. “Apa katamu? Maaf? Kau kira aku bisa memaafkanmu begitu saja,” ujarnya. Aku mundur tanpa melihat apa saja di belakangku. Sampai-sampai kakiku tersandung ujung kasur. Semakin aku mundur pria itu semakin mendekat. Hingga tidak berapa lama, aku sama sekali tidak bisa mundur. Tubuhku tertahan oleh tembok di belakang. Pria itu semakin mendekat dan mengunci tubuh ini. Tangan kanannya dia simpan di samping kepala, sedangkan tangan kirinya membuka kaca mata hitam yang biasa dia pakai. Kukira pria itu sakit mata, makanya selalu tidak lepas memakai benda hitam tersebut. Tubuhku mulai bergetar menahan takut. Tidak! Ini tidak boleh terjadi padaku. Bagaimana caranya diri ini harus kabur dari sekapan pria dingin ini. Apa lagi, sepertinya dia lelaki yang berbahaya. “Apa yang kaukatakan tadi?” tanyanya kembali dengan berat. Aku takkuasa menghindar saat mata kami berserobok. Dapat kulihat dari kedalaman matanya, pria itu seperti menyimpan duka. Terlihat sendu tetapi, ditutupi oleh pandangan tajam. Ya, mata itu setajam mata elang yang siap mengoyak mangsanya. Membuat bibirku kelu. Namun, otak ini cukup waras untuk mencari cara agar bisa terhindar. “Maafkan, saya. Tapi, bukannya perkataan saya benar?” ujarku. Embusan napas pria tersebut dapat kurasakan dengan jarak seperti ini, membuatku memalingkan muka. “Apa maksudmu?” tanya dia sekali lagi dengan penuh penekanan. “Tidak ada apa-apa,” ucapku sambil memamerkan deretan gigi putihku. “Eh itu siapa di belakang?” ucapku berusaha untuk mengalihkan perhatian. Pria itu menoleh ke belakang. Di saat itu pula aku menginjak kakinya serta dengan tergopoh-gopoh berjalan cepat ke luar pintu yang terbuka. Aku tidak tahu ekspresi lelaki dingin tadi. Hanya saja saat aku pergi dari hadapannya, kudengar dia berteriak memanggilku dan anak buahnya. Langkahku terseok-seok, tetapi tetap memaksakan diri, meski dengan susah payah dan menahan nyeri di perut bekas operasi. Beberapa kali bibir ini meringis. Akan tetapi, aku tak menghiraukannya. Yang ada di pikiranku ialah bagaimana bisa lolos dari tempat ini. Tak kuhiraukan lagi kondisi kesehatanku ini. Atau mungkin saja luka di perut akan kembali terbuka. Aku tak peduli. Sayang sekali, saat mencoba menyeret langkahku dengan lebar menuju pintu keluar, beberapa orang dengan perawakan tinggi besar mencegah agar diri dak berhasil melewati gerbang. “Seret wanita itu ke kamarnya. Jangan lupa kunci kembali dari luar. Dasar wanita sial*n,” umpat pria itu dari belakangku. Mungkin saja dia kesakitan karena kakinya sudah kuinjak dengan sekuat tenaga. ** Untuk beberapa hari, aku tidak bisa keluar dari kamar yang kutempati ini. Meski tidak kekurangan apa pun, karena segala kebutuhanku sudah terpenuhi termasuk pakaian. Pun seorang dokter datang memeriksa kondisi luka jahitan bekas operasi di perutku. Kamar dengan nuansa putih ini terlihat mewah jika dibandingkan dengan kamar utama rumah Mas Arga itu bukan apa-apanya. Sebenarnya diriku heran, pria itu menculik namun tidak mencelakakanku sama sekali. Dia hanya mengurungku di kamar ini. Sebenarnya apa maksud pria tersebut dan rencananya? Siang ini, lelaki dingin itu mengizinkanku untuk keluar kamar. Dia menyuruh seorang wanita setengah paruh baya memanggilku dengan diikuti para bodyguard. Bi Ninung, nama wanita tersebut. Aku tahu saat kami berkenalan. Katanya tuan mereka memanggilku untuk menemuinya di ruang kerja. Entah apa yang direncanakan lelaki dingin itu. Aku tidak bisa melawan hanya mengikuti segala perintahnya. Ketika sampai di ruangan kerja, dapat kulihat pria tersebut sedang duduk di sebuah sofa sambil memandang ke luar jendela. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang pria itu sembunyikan, ya? Saat melihatnya sedang melamun begini, aura kejam sama sekali tidak terlihat. “Tuan, Nona Arum sudah ada di sini. Saya permisi dulu,” pamit Bi Ninung membuatku menggeleng takingin ditinggal hanya berdua dengan pria menyebalkan ini. Lelaki tersebut menoleh dan kembali menampakkan aura dinginnya. Dia hanya menggumam tanda mengerti. Sungguh sangat irit bicara. “Bi, bisakah Bi Ninung tetap di sini?” tanyaku berbisik sambil memegang lengan berniat mencegah kepergiannya. Berharap, Bi Ninung akan tetap tinggal di sini menemaniku. “Tidak apa-apa, Non. Tuan tidak akan berbuat apa pun kepada Non Arum. Bibi jamin itu,” ujarnya mencoba membuat tenang. Perlahan Bi Ninung mundur dan menghilang dibalik pintu. Sedangkan dapat kulihat Pria dingin itu berjalan menghampiri, membuatku harus sedikit waspada. Terakhir kali kita bertemu dia hendak melakukan hal kurang ajar padaku. Jadi, aku harus berjaga-jaga. “Kenapa kamu? Jangan khawatir saya tidak berminat mengganggumu. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” ucapnya tepat sasaran sesuai apa yang ada di benak. Kenapa orang ini bisa membaca pikiranku? Mataku menyipit merasa curiga. Apa mungkin dia mempunyai ilmu yang bisa membaca pikiran orang? Ilmu hitam mungkin. Tapi apa iya pria sepertinya percaya hal mistis seperti itu? “Apa? Kamu heran saya tahu apa yang kamu pikirkan?” tanyanya lagi. Benar-benar seperti yang kupikirkan. Aku mengangguk namun langsung buru-buru menggeleng, karena takut menyinggungnya. Bisa-bisa pria ini akan kembali marah seperti beberapa hari yang lalu. Lelaki itu menyuruhku duduk dan aku mengikuti segala perintahnya dengan ragu-ragu. Kuberanikan diri untuk bertanya apa maksudnya menyuruhku menemui dia. “Dengar! Ada sesuatu hal yang harus kamu lakukan untukku. Aku tidak akan mengurungmu lagi tapi dengan satu syarat.” Hatiku membuncah, senyum ini mengembang kala mendengar ucapannya yang membuatku senang. “Ya, saya akan membiarkanmu bebas berkeliaran di rumah ini. Tapi, dengan satu syarat!” “Apa syaratnya?” Aku menunggu apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. Syarat apa yang dia maksud? “Saya ingin kamu mengurus keperluanku di rumah ini dan menjadi calon istri pura-pura di hadapan kakekmu.” Sontak mataku membulat. Aku terkejut dengan apa yang telah dia katakan. Apa maksudnya? Kakek? Aku masih bergeming, tidak mengatakan apa pun. Apa kakek kandungku? Sungguh diri ini masih tidak percaya masih memiliki keluarga. Selama ini, yang kutahu keluarga ayah sudah tiada. Makanya saat menjadi yatim piatu, aku dititipkan di Panti Asuhan. Begitu pun keluarga Ibu, mereka telah meninggal jauh-jauh hari. Namun, apa yang sebenarnya di rencanakan pria ini? Bukankah dia sudah mendapatkan sesuatu yang dia inginkan? Harta warisan yang diberikan kakek untuk Ayah? Lalu, kenapa seolah dia belum puas untuk memperalatku? “Dalam posisi ini, kautidak bisa memilih. Kamu harus menuruti semua perintahku. Atau ... akan kugusur Panti Asuhan yang pernah kamu tempati dari kecil,” ancamnya. Sekali lagi aku terkejut. Kepalaku menggeleng tidak terima dengan ancamannya. Apa yang harus kulakukan? Haruskah kuterima tawarannya? Aku tidak ingin terjadi apa pun di panti.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (77)
YulianiLina
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
03/08/2022
0kerenn
03/07
0baguss
10/10
0Lihat Semua