POV Arum “Kalau dilihat-lihat, wajahmu cantik. Walau aku tidak bisa melihat tubuhmu karena pakaian gombrang ini. Sepertinya, tidak masalah kalau aku bermain-main denganmu,” ujar pria itu. Perkataannya membuatku terkejut dan merasa ketakutan. Dasar pria mesum! Aku mencoba beringsut mundur meski kesusahan karena terbatas kursi saat pria itu mendekat. Ya Allah kumohon selamatkan aku dari pria bejat ini. Jangan pernah biarkan harga diriku ternoda. Pria itu semakin mendekat dan aku terus meronta mencoba menggerakkan badan agar bisa bebas dari ikatan ini. Sambil memundurkan kursi karena pria di hadapanku terus saja mendekat dengan senyumnya yang membuatku takut. Orang ini memang sudah gil*, bisa-bisanya memanfaatkan ketidakberdayaan seorang wanita yang sedang disekap. “Anda mau apa? Jangan mendekat. Jika tidak ... kau akan menyesal,” ancamku yang malah membuat pria itu tertawa terbahak-bahak. “Memangnya apa yang berani kamu lakukan, heh? Kautidak bisa apa pun dengan keadaan terikat seperti ini. Jadi, terima saja apa yang akan kulakukan. Tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkanmu dari sini.” Pria tersebut semakin menghampiri dan mencoba menciumiku, namun kutampar wajahnya dengan tangan ini yang memang tidak terikat. Membuatnya memegang pipi yang sudah memerah karena ulahku. Dia mengepalkan tangan tanda kemarahan yang memuncak. Lalu, memegang lenganku serta mengikatnya kembali ke belakang. “Mulai nakal, heh? Takkan kulepaskan kau. Akan kupastikan kamu menyesal karena sudah menampar wajahku,” tekannya dengan suara yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Orang ini serius dengan perkataannya. Membuat mataku mulai berkaca-kaca memandangnya dengan tatapan memohon. “Saya mohon. Saya baru saja selesai operasi. Kasihanilah saya, jangan lakukan apa pun kepada saya.” Aku mencoba memohon, namun pria itu tidak menggubrisnya sedikit pun, membuatku terus saja meronta dengan tenaga yang lebih kuat. Aku tidak ikhlas kalau orang ini berhasil menodai harga diriku. Namun, saat sejengkal lagi bibirnya mendarat di wajahku. Suara ponsel yang ternyata ada di dalam saku celana pria itu berbunyi. Membuatnya menghela napas berat dan mengumpat. Akan tetapi, raut wajah lelaki itu berubah kala melihat nama penelepon yang tertera di layar. “Hallo, Bos. Saya sudah melakukan tugas dengan baik. Semuanya sudah beres. Wanita ini sudah menandatangani berkas-berkasnya. Sudah kulakukan tugas dengan benar,” ucap pria itu dengan sopan. Mungkinkah orang yang dipanggil Bos itu orang yang tadi ke mari? Untuk sesaat aku berterima kasih walau secara tidak langsung, pria dingin itu telah menyelamatkanku dari pria mesum ini. “Awas kalau sampai kau lakukan hal-hal yang tidak-tidak kepada wanita itu!” Terdengar samar-samar dari ponsel perkataan laki-laki di seberang telepon. Mengingatkan anak buahnya ini untuk tidak melakukan sesuatu padaku. Sehingga, membuat pria di depankumenggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Baik, Bos. Untung Bos mengingatkan, kalau tidak ....” “Awas saja kalau kau melakukan itu! Aku masih membutuhkannya untuk rencanaku selanjutnya! Jangan pernah kau sentuh dia sedikit pun,” tekan Bosnya itu. Meski tidak mendengarnya langsung di gawai, namun masih dapat kudengar suara pria itu meski samar dan kecil. “Baik, Bos,” pria di hadapanku langsung mematikan panggilan tersebut setelah mengatakan itu. Dia menyilangkan tangannya dan menatapku dengan tatapan yang entah. “Kali ini kamu beruntung, Bos tidak membiarkanmu untuk kusentuh. Apa bagusnya wanita sepertimu sehingga dia melarangnya. Memangnya rencana apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dasar mengganggu kesenanganku saja!” lelaki itu terus saja mengumpat. Merasa kesal karena gagal melakukan sesuatu yang hina kepadaku. Setelah itu dia pergi dari tempatku berada. Aku menghela napas dengan dada naik turun. Merasa lega dan bersyukur masih dilindungi Allah SWT. Terima kasih sudah menyelamatkanku Ya Allah. Juga kepada pria itu. Meski jahat telah menculik diri ini. Akan tetapi, dia memastikan anak buahnya tidak melakukan apa pun kepadaku. Sudah satu hari dua malam aku berada di gudang ini. Entah mengapa, semenjak telepon dari bos-nya waktu itu, mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Hanya tubuhku yang terikat, namun untuk makanan tidak pernah telat. Bahkan, pria yang kemarin tidak pernah datang ke mari untuk menggangguku lagi. Mungkinkah ini semua perintah dari bosnya? Kalau memang ingin menculikku kenapa dia tidak mencelakakan diri ini sekalian? Ah, mungkin sesuai katanya kalau masih membutuhkanku untuk misi balas dendamnya. Namun, apa yang dia maksud? Balas dendam ke siapa? Dan apa alasannya? Pertanyaan itu terus saja bergulir di benakku. Memangnya dendam apa yang harus membawaku terseret dalam masalahnya? Apa ini ada hubungannya dengan Ayah? Namun, apa itu? Seketika teringat dengan Bu Rina dan yang lainnya. Mungkin saja saat ini sedang khawatir padaku. Apalagi baru beberapa hari aku kehilangan putra pertama. Diri ini tidak menyangka kalau Erika akan melakukan hal nekat seperti itu. Bahkan, aku sudah rela melepaskan Mas Arga untuk menjadi satu-satunya miliknya. Tapi, kenapa dia tega? Apa karena Mas Arga selalu memberikanku perhatian sehingga membuatnya cemburu sehingga dapat membutakan mata hatinya. Apa hanya karena itu alasannya? Inginku merutuki nasib yang tidak pernah berpihak, namun apa dengan seperti itu akan membuat segalanya lebih baik? Tiba-tiba saja terlintas ceramah ustazah Aisyah istri dari penceramah di sekitar tempat tinggalku dulu. Dia yang selalu mengingatkanku agar lebih mendekatkan diri lagi kepada-Nya. Allah memberikan ujian itu untuk menguji keimanan kita. Dan memberikan kemuliaan bila kita lulus menghadapinya. Ketika sedang melamun, tidak lama seseorang masuk dan ternyata anak buah pria dingin kemarin. Mau apa dia ke mari? Apa jangan-jangan? “Jangan berlebihan begitu. Aku hanya diperintahkan Bos untuk membawamu ke suatu tempat?” ujarnya membuatku terkejut seolah tahu apa yang ada di pikiranku. “Mau di bawa ke mana aku?” tanyaku mulai panik. Apa dia akan melakukan kejahatan yang lebih parah padaku? Atau akan membunuh dan membuangku ke tempat yang sepi? “Jangan banyak tanya. Kau masih beruntung masih bisa bicara, mulutmu yang selalu mengoceh itu tidak kami sumpal. Apalagi Bos malah memastikanmu agar tidak terluka sedikit pun. Padahal sebelumnya dia ingin kau celaka,” ucap pria itu. “Maksudnya?” tanyaku membuat pria itu terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaanku sedikit pun. Apa mungkin pria ini salah bicara? Atau keceplosan? Apa maksudnya? Setelah membuka ikatanku anak buahnya yang berbadan tinggi, kekar mengikuti kami dari belakang. Sepertinya memastikan agar aku tidak kabur. Bagaimana bisa kabur, tanganku saja masih diikat. Di dalam mobil aku terus saja bertanya, mau dibawa ke mana aku ini? Membuat para penculik mulai kesal lalu saling berpandangan seolah memberikan kode. Tunggu! Apa mereka akan berbuat jahat? Ketika sebuah sapu tangan dibekapkan dari belakang, aku meronta mencoba melepaskan diri. Namun sama sekali tidak berhasil. Aku kalah tenaga dengan para pria ini, tidak terasa kepala pusing dan selanjutnya kegelapan menyelimuti. Aku mulai tidak sadarkan diri. ** Mataku mengerjap untuk beberapa kali. Memandangi langit-langit sebuah ruangan yang terlihat mewah. Apa ini surga? Apa para penculik itu telah melenyapkanku? Namun, tunggu! Jika kulihat-lihat sepertinya ini sebuah kamar. Aku juga masih hidup. Lalu, di mana aku sekarang? Ke mana mereka membawaku? Kamar siapa ini? Tanyaku terus bolak-balik, tetapi tidak mendapatkan jawabannya sedikit pun. Aku bangun dan mencoba berjalan ke arah pintu dengan langkah tertatih. Mencoba memutar knop pintu. Akan tetapi, tidak bisa dibuka. Ruangan ini dikunci dari luar. “Tolong bebaskan aku!” teriakku sambil mencoba membuka paksa kunci pintu tersebut. Tidak lama terdengar suara langkah sepatu dari luar. Aku mundur beberapa langkah menuju samping ranjang dan mencari tempat persembunyian. Akan tetapi, terlambat. Seseorang sudah membuka pintu sebelum sempat bersembunyi. Dari balik pintu tersebut, menyembul pria yang dingin kemarin membuatku terkejut melihatnya. “Kenapa anda ada di sini?” tanyaku sambil membekap mulut. Kali ini badanku tidak terikat tali. Jadi, bisa leluasa bergerak atau berlari. Pria itu mengulas senyum sinisnya. Terkesan dingin dengan tatapan yang menusuk setiap orang yang berani memandangnya. “Justru saya yang ingin bertanya. Apa yang kau lakukan tadi? Berteriak-teriak mengganggu istirahat orang lain saja,” tekannya. Entah mengapa membuat nyaliku seakan menciut. “Saya hanya ingin bebas,” cicitku. “Tidak akan pernah!” bentaknya dengan penuh penekanan. “Kau adalah alat balas dendamku sekarang. Takkan kubiarkan kau untuk bebas dari sini. Selamanya kau akan menjadi pelayanku di rumah ini. Atau kalau perlu menjadi istriku.” “Apa ...!” Apa maksudnya? Menjadi istri pria kejam ini? Bahkan aku baru saja berpisah dari Mas Arga dan melahirkan. Aku menggeleng, tidak menerima apa yang pria itu katakan. Aku harus mencari cara agar bisa terbebas dari pria kejam seperti dia.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (78)
YulianiLina
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
03/08/2022
0keren
5h
1kerenn
03/07
0Lihat Semua