Bab 31. Terguncang

Aku termenung di samping pusara putraku. Mengusap-usap nisan yang bertuliskan namanya di sana. Dia pergi sebelum sempat kuberikan nama. Gaishan Raffasya Hafis itulah nama yang kuberikan untuk putra Kami.
Nama yang sudah lama kupersiapkan bersama Arum ketika kami masih menjadi suami istri dulu. Setelah dokter mengatakan jenis kelamin putraku laki-laki, dengan antusias kucari nama bagus. Arum mengiyakan dengan senyum merekah saat kuberitahukan nama tersebut. Dia langsung setuju tanpa merasa keberatan dengan usulku.
Kembali Papa berjongkok di sebelahku, dia menepuk pundak beberapa kali.
“Sebaiknya kita pulang, Ga. Ikhlaskan putramu. Insya Allah dia akan menolong kamu dan Arum agar masuk ke surga di akhirat kelak. Berikan doa di setiap salatmu. Terpenting sekarang ialah bagaimana cara menyampaikan berita duka ini kepada Arum. Dia pasti terguncang saat mendengarnya,” ujar Papa.
Aku mengangguk mengiyakan, meski hubunganku dengan Arum telah berakhir, namun mantan istriku itu butuh seseorang yang akan menguatkan hatinya. Walaupun kali ini sudah haram bagiku untuk memeluk atau mendekapnya, menyalurkan kekuatan.
Kami kembali ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Arum saat ini. Sudah ada Mama di sana bersama Bu Rina yang menemani.
Ketika datang ternyata Arum belum siuman. Meskipun keadaannya sudah melewati masa kritis, namun dia belum sadar karena efek obat bius. Dapat kulihat semua orang menampilkan wajah sendu. Tidak ada keceriaan sedikit pun.
Sedangkan aku, hanya bisa termenung menyesali segala yang telah terjadi. Setelah dari pemakaman, aku sempat mampir ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangan kasus tabrak lari Arum. Namun, belum ada kabar baik mengenai siapa pelakunya.
Kuceritakan pula tentang kecurigaanku terhadap Erika karena beberapa hari yang lalu dia sempat kembali ingin memerasku. Akan tetapi, aku tidak memberikan uang yang dia minta. Apa mungkin inikah alasan Erika mencelakakan Arum? Bukankah dulu dia sempat mengancam akan melakukan itu?
“Baik, Pak. Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai laporan Pak Arga. Nanti kami akan menghubungi kalau sudah ada informasi selanjutnya,” ucap salah satu Polisi yang mendengarkan segala kesaksianku.
Selanjutnya, aku kembali ke Rumah Sakit untuk menemui Arum. Memastikan dia baik-baik saja.
Sampai tengah malam, mata ini sulit sekali untuk Kupejamkan. Masih belum sepenuhnya untuk bisa melupakan kejadian nahas yang mengakibatkan putraku meninggal. Sampai, suara Mama membuyarkan segala lamunan.
“Alhamdulillah Rum. Akhirnya kamu sadar juga. Kami semua sampai khawatir,” ucap Mama.
Aku yang tengah memandang langit-langit di ruangan rumah sakit ini menoleh. Melihat Mama merangkul Arum. Ternyata dia sudah siuman.
“Di mana ini, Ma?” tanya Arum dengan suara pelan.
“Kamu di Rumah Sakit, Rum. Masih ingat apa yang sudah terjadi?” tanya Mama hati-hati. Terlihat sekali mantan istriku itu sedang mengingat-ingat segala yang sudah dia alami.
“Ada sebuah motor yang menabrakku, Ma. Tapi, aku enggak tahu siapa?” jelasnya. Dapat kulihat Arum masih dalam kondisi lemah. Aku hanya bisa memandang dia dari jauh, tidak mau sampai membuat mantan istriku tak merasa nyaman di dekatku.
Apalagi mengingat kemungkinan Erika yang menjadi tersangka, diri ini semakin merasa bersalah. Kalau bukan karena kekhilafanku karena telah berselingkuh. Mungkin bukan hanya rumah tangga kami yang akan bahagia, tetapi darah dagingku masih hidup sampai sekarang.
Arum hendak bangun dari tidurnya, namun sempat berhenti seketika. Dia meraba-raba perutnya, sadar kalau sudah tidak ada lagi bayi di dalamnya.
“Di mana bayiku, Ma?” tanya Arum panik.
“Dokter telah melakukan operasi agar cucu Mama bisa lahir, Rum. Tapi ....”
“Tapi apa, Ma? Putraku selamat, kan? Dia baik-baik saja, kan?” cecar Arum dengan tak sabar. Mama memandangku dan Papa yang ada di sofa Rumah Sakit dengan raut kebingungan. Arum hendak bangun dari pembaringan. Namun, Mama dan Bu Rina segera mencegahnya.
“Kamu mau apa, Rum? Perlu apa? Biar Mama ambilkan.”
“Aku mau lihat bayiku,” ucapnya dengan lemah. Membuatku seketika terlonjak langsung menghampirinya.
“Jangan gegabah kamu, Rum. Jahitan bekas operasi masih basah. Nanti saja kamu pikirkan kondisi bayimu. Yang terpenting kamu harus sembuh dulu,” jelas Bu Rina mencoba menenangkan. Namun, reaksi Arum di luar dugaan, dia tak menghiraukan ucapan kami.
“Rum, jangan nekat. Lukamu masih belum sembuh. Nanti malah akan robek kembali,” cegahku sambil memegang pundaknya. Namun, Arum menepis dengan kasar tanganku.
“Aku hanya mau bayiku, Mas. Aku mau lihat dia dan memastikan kalau putraku baik-baik saja,” Mantan Istriku itu memberontak. Terus menanyakan keberadaan putra kami.
Hati ini bagai tersayat benda tajam, pedih melihat keadaan Arum saat ini. Dia meronta-ronta susah dikendalikan. Karena melihatnya belum pulih dan masih lemah, dengan segala cara mencoba meyakinkan mantan istriku itu untuk tetap tenang.
Tidak lama, Dokter datang dan terpaksa memberikan obat tidur kembali untuk Arum. Membuat diri ini sungguh hancur. Bagaimana bisa aku melihatnya tersiksa seperti ini? Bahkan, Arum memberontak meskipun belum tahu keadaan putra kami. Bagaimana kalau dia tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya? Akankah Arum akan bisa menerima kalau sudah kehilangan bayi kami?
Dokter juga memeriksa keadaan luka pasca operasi mantan istriku itu. Untunglah masih baik-baik saja sehingga dokter tidak perlu melakukan penanganan lagi.
“Sebaiknya jangan ada yang memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Arum sebelum luka-luka dan belas operasinya sembuh. Aku takut dia tidak bisa menerimanya dan malah terjadi hal-hal tidak diinginkan seperti tadi,” jelasku kepada Bu Rina, Mama dan Papa. Mereka mengangguk paham, membuat diri ini menghela napas lega.
Malam ini semua orang tidak bisa tidur. Khawatir kalau saat kami terlelap Arum terbangun dan malah mencari keberadaan putranya. Apalagi aku, karena perasaan bersalah terus saja bergelayut dalam pikiran ini, membuatku terus dirundung duka yang mendalam. Kenapa bayangan jasad putra kami terus saja terbayang di pelupuk mata.
Aku merebahkan badan di atas sofa ruangan rawat ini. Dengan badan duduk sambil bersandar di kursi yang sedang kutempati. Memandang langit-langit kamar sampai tidak sabar tertidur sejenak saking lelahnya.
Namun, suara igauan Arum membuatku terbangun seketika.
“Jangan bawa pergi putraku. Mas, bawa dia ke hadapanku sekarang juga. Jangan biarkan orang lain membawanya,” desisnya dengan suara parau dan lemah. Ya Allah, aku tidak kuat melihat semua ini? Bahkan, di dalam tidurnya pun Arum selalu memimpikan putra kami.
Tidak lama, Arum kembali terbangun, dia masih menanyakan bayi kami. Apa yang harus kukatakan padanya? Haruskah jujur kalau putra kami sudah meninggal?
“Bawa aku menemui bayiku, Mas. Aku ingin melihatnya.” Bibirku kelu, aku dan Mama berpandangan kembali.
“Kamu harus sembuh dulu, baru kita ketemu sama bayimu, ya, Rum.” Bu Rina menenangkan dengan mengobrol sambil menenangkannya. Untunglah kali ini, mantan istriku itu menurut dan sudah agak lebih tenang tidak seperti sebelumnya.
Sudah hampir dua hari, Arum dirawat. Selama itu pula aku tidak bekerja. Hanya menemani Arum dan melihat perkembangannya. Lagi pula, jujur diri ini sedang merasa di dalam fase terbawah dalam hidupku.
Para warga bergantian datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Arum. Mantan istriku itu memang selalu ramah dan mengenal siapa pun yang ada di kampung sekitar Panti. Sehingga sangat dicintai para warga yang mengenalnya.
“Rum, kami sedih saat mendengar kamu kecelakaan,” ujar salah seorang Ibu berbadan kurus.
“Iya. Aku kaget saat mendengarnya,” timpal yang lain dan dibenarkan oleh yang lain.
“Kami juga turut berdukacita atau meninggalnya bayimu, Rum.” Perkataan salah satu ibu-ibu itu langsung membuatku terkejut. Arum memandang semua orang yang ada di ruangan ini. Aku Bu Rina dan Mama segera menghampiri Arum.
Aku berdiri dan mencoba mempersilahkan para ibu-ibu yang menjenguk untuk segera pulang dengan sopan. Salah satu dari mereka yang mengerti langsung mengajak kedua ibu-ibu yang bersamanya untuk mengikuti permintaanku. Beliau berbisik akan menjelaskan segalanya di luar.
Biarlah, yang terpenting sekarang adalah Arum. Dia masih mematung tidak bereaksi mendengar ucapan ibu-ibu tadi. Aku segera menghampirinya dan berdiri di sebelah Mama pinggir ranjang pasien.
“Maksudnya? Apa yang ibu-ibu katakan? Mereka bohong kan, Bu.” Arum memandang penuh pertanyaan di matanya kepada Bu Rina.
“Sabar, Sayang. Mungkin ini saatnya kamu tahu yang sebenarnya, Nak. Kamu harus kuat. Ikhlaskan dia, ya, Rum,” ucap Bu Rina hati-hati sambil mengusap kepala Arum.
“Apa yang ibu katakan? Tidak! Tidak mungkin bayiku meninggal! Dia pasti masih hidup” teriak Arum histeris.
Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis meronta-ronta mencoba untuk bangun dan turun dari ranjang. Membuatku mau tidak mau memeluknya agar Arum diam dan tenang. Meski kutahu ini salah karena dia sudah bukan mahramku. Namun, aku terpaksa melakukannya.
Arum terus saja mencoba melepas diri dari pelukanku. Histeris dengan tangisan yang terdengar pilu, tangannya terus memukul tubuh ini. Tidak terasa mataku ikut berkaca-kaca. Tidak tega mendengar dan melihat orang yang kucintai menderita dan terguncang seperti ini.
Aku terus saja meminta Maaf mengingat kemungkinan Erika adalah dalangnya. Dia sudah ditangkap dan dalam proses penyidikan sekarang. Namun, sampai sekarang dia sama sekali tidak mengakui segala yang dituduhkan. Membuat kasus ini menjadi sangat berbelit-belit.
“Kamu tenang, Rum. Polisi sudah menangkap orang yang dicurigai telah merencanakan segalanya kepadamu. Orang yang kemungkinan telah membunuh bayi kita,” ucapku dengan suara dingin. Amarah dalam diri terus saja bergejolak saat mengingat semuanya. Ingin rasanya aku membalaskan apa yang telah terjadi kepada si pelaku.
Setelah tenang dan cukup lama menangis, Arum memandang kami dengan tatapan kosong. Pertanyaannya membuat bibirku kelu.
“Aku ingin tahu siapa orang yang telah mencoba membunuhku, Mas?” tanyanya dengan lemah namun dingin di telingaku.
Haruskah kukatakan bisa saja Erika yang melakukannya? Aku takut Arum akan semakin membenciku setelah ini.

Komentar Buku (78)

  • avatar
    YulianiLina

    makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh

    03/08/2022

      0
  • avatar
    NajibNajib

    keren

    8h

      1
  • avatar
    YuniNabilla

    kerenn

    03/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru