logo text

Bab 29. Tertabrak atau Ditabrak

POV Arum
“Bagaimana mungkin Bang Satria masih ingat ini?” tanyaku saat membuka paper bag pemberian darinya yang berisi sebuah kotak musik di dalamnya sepasang boneka beruang dan terdapat bulir-bulir putih menyerupai salju.
Aku masih ingat saat itu Shofie dan Bang Satria mengajakku untuk pergi ke sebuah Mall. Ketika sedang menunggu temanku itu berbelanja. Aku tersenyum saat melihat seorang anak kecil yang sedang memainkan kotak musik tersebut bersama orang tuanya. Membuatku mengenang masa-masa saat masih kecil.
Masih teringat saat Ayah masih menyayangi kami, sebelum perempuan itu datang menghancurkan segala kebahagiaan.
Awalnya sikap Ayah baik seperti biasa. Masih menyayangiku dan Mama. Namun, kudengar orang tuaku bertengkar hebat suatu malam. Mulai saat itu, Ayah berubah menjadi lebih dingin, cuek, dan tidak pernah ada waktu untuk kami.
“Yah, kenapa suka pulang malam?” tanyaku yang saat itu masih berusia delapan tahun. Bukannya menjawab, beliau hanya menimpaliku dengan gumaman.
“Mama tiap malam nangis. Arum kasihan lihat Mama,” ucapku masih berusaha mengajaknya mengobrol. Akan tetapi, tetap saja Ayah tidak berubah. Beliau tidak menghiraukan segala ucapanku.
Masih kuingat Ayah sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan beliau tega berteriak di depanku.
“Jangan ganggu Ayah!” bentaknya membuat diri ini seketika mengatupkan mulut dengan rapat.
Itu pertama kalinya Ayah tega membentak. Selanjutnya, setiap hari kulihat Ayah suka pulang malam dengan baju yang berantakan. Kenapa aku bisa tahu?
Karena hampir tiap malam pula aku selalu terbangun saat mendengar suara keributan di kamar Mama dan Ayah.
Mama selalu menangis saat Ayah memukul, menampar bahkan mencambuk tubuh ibu kandungku itu.
“Mas, sampai kapan kamu akan mengabaikan kami seperti ini? Kasihan Arum, Mas. Dia putri kita satu-satunya. Apa Mas enggak menyayangi kami lagi? Ini semua gara-gara perempuan jal*ng itu,” isak Mama dengan pilu.
“Apa yang kamu katakan tadi? Jangan pernah bicara kasar tentang Anita. Dia wanita yang baik!” hardik Ayah tak terima.
“Kalau bukan jal*ng lantas kenapa dia mau berhubungan dengan suami orang? Apa tidak ada laki-laki lain yang pantas dipacarinya sehingga merayu Mas? Apalagi rumah tangga kita hancur seperti ini,” ratap Mama sambil tergugu.
Tak disangka tamparan melayang di pipi mulus Mama. Ayah murka, beliau menyeret Mama kedalam kamar mandi dan memukul nya berkali-kali di sana. Aku melihatnya dengan tubuh yang bergetar langsung menghampiri.
“Ayah jangan sakiti Mama," teriakku dengan air mata yang telah berlinang.
"Jangan ikut campur ini urusan dewasa. Kamu tidur saja sekarang," perintah Ayah sambil melotot tajam seakan memberikan peringatan.
Sekali lagi Ayah mengangkat tangannya hendak memukul Mama, namun seketika itu pula aku berlari dan memeluk tubuhnya. Hampir saja pukulan itu melayang di tubuh ini. Akan tetapi, aku masih bisa bersyukur, Ayah tidak sampai melakukan hal nekat seperti itu.
Beliau menghempaskan tangannya tidak berani memukulku. Aku tahu beliau pasti masih menyayangiku. Dia tidak tega melihat putrinya ini terluka.
Namun, keesokan harinya beliau pergi dari rumah dengan membawa seluruh harta kami. Hanya rumah yang Mama dan aku tempati harta satu-satunya peninggalan Ayah. Setiap harinya Mama mengurusku dengan bekerja banting tulang. Hingga beliau meninggal, setiap malam selalu merindukan kepulangan Ayah.
Hanya desas-desus tentangnya yang terdengar di telingaku. Orang bilang, Ayah berpulang tak lama setelah Mama meninggal. Sampai sekarang pun aku tidak tahu beliau dimakamkan di mana.
“Kamu suka?” tanya Bang Satria membuyarkan lamunan.
“Terima kasih, Bang,” ucapku tulus. Mas Arga masih terlihat heran dengan reaksiku. Mungkin merasa aneh karena barang yang tak seberapa membuatku merasa senang.
“Oh iya, kenapa Bang Satria tahu aku ingin ini?”
“Aku masih ingat, Rum. Aku melihatmu tersenyum sendiri dengan mata berkaca-kaca saat seorang anak kecil memainkan kotak mainan itu. Barusan aku lihat barang yang serupa. Jadi, aku beli buat kamu karena ingat,” jelasnya.
Obrolan kami terganggu saat Mas Arga berdehem keras. Kulihat dia memandang tak suka pada Bang Satria. Aroma persaingan begitu tercium olehku.
Untunglah tidak lama Bu Rina datang dari kamar mandi dan menemaniku berbelanja kembali. Mencairkan segala kecanggungan yang terjadi antara kami.
**
Tinggal beberapa hari lagi aku di prediksi akan melahirkan. Mas Arga hampir setiap hari datang ke mari. Aku tidak bisa mencegahnya. Dia akan lebih keras kepala kalau aku menolak. Mantan mama mertua juga lebih sering menjengukku ke sini. Terkadang khawatir karena tidak bisa menemaniku setiap hari.
Siang ini saat sedang berada di dalam kamar sambil merajut, aku dikejutkan dengan Ivan.
“Kak, ada sesuatu untuk kakak,” teriak Ivan sambil tergopoh-gopoh.
“Ada apa, Van. Jangan berlari seperti itu nanti jatuh,” hardikku. Dia nyengir mendengar omelanku.
“Ada surat yang diantarkan bapak tukang pos buat Kak Arum.” Aku segera menerima surat yang diberikan Ivan. Ternyata surat perceraianku dengan Mas Arga. Aku memandang nanar kertas yang ada ditangan.
Rumah tangga kami telah berakhir. Mas Arga bukan lagi suamiku sekarang, baik secara agama ataupun negara. Statusku kini telah menjadi janda di umur yang masih muda yang dibina bertahun-tahun.
Ah! Mengingatnya kenapa hatiku merasa sakit. Kini semua orang tahu kalau aku telah gagal mempertahankan rumah tangga.
Namun, aku bisa apa? Rasa sakit yang Mas Arga berikan teramat sangat menyiksa. Bagaimana mungkin aku bertahan dengan kebohongan yang terus menerus Mas Arga lakukan. Aku bisa saja memaafkan Mas Arga, tetapi tidak akan bisa lupa dengan kenangan pahit yang ditorehkannya untukku. Rasa sakit ini tetap akan membekas sampai kapan pun. Aku harus kuat demi putraku yang akan lahir sebentar lagi.
Aku mengusap kasar air mata yang sempat keluar dari pelupuk mata. Diri ini tidak boleh bersedih gara-gara ini. Aku harus kuat demi bayi yang di dalam kandungan. Putraku sebentar lagi akan lahir membuat diri ini tersenyum sambil mengusap-usap perut kala sebuah kaki menendang-nendang dengan kuat di dalam sana.
“Kenapa, Sayang. Sudah enggak sabar keluar, ya. Ketemu sama Mama?” Aku berbincang sendiri seolah bayi yang kukandung mendengar segala yang kuucapkan. Mencoba menyalurkan segala kasih sayang yang teramat sangat kurasakan.
Kata dokter aku harus sering jalan kaki agar persalinan nanti lancar. Sore ini aku berniat jalan kaki di sekitar Panti Asuhan ini sembari membeli sesuatu di minimarket. Aku juga harus pergi ke apotek untuk membeli obat karena ada salah satu anak Panti yang sedang demam.
“Bu Arum pergi dulu, ya. Aku mau ke minimarket dan apotek dulu” ucapku berpamitan.
“Biar yang lain aja nanti beli. Jangan terlalu capek, Rum,” kata Bu Rina sambil mengusap-usap lenganku.
“Enggak apa-apa, Bu. Aku sekalian jalan kaki sesuai anjuran dokter. Tempatnya juga enggak jauh, kok. Jadi, Bu Rina enggak usah khawatir” Aku mencoba meyakinkan Bu Rina kalau akan baik-baik saja. Beliau mengangguk tanda mengizinkan. Dia menyuruhku untuk hati-hati berkali-kali.
Ah, Bu Rina ini selalu saja mengkhawatirkanku. Membuat diri ini tersenyum haru mengingat segala kasih sayang tulus yang selalu diberikannya.
Tidak lama aku sudah sampai ke tempat tujuan. Membeli apa pun yang dibutuhkan. Sepanjang perjalanan para warga yang mengenalku menyapa dengan hangat. Seulas senyum selalu terbit dengan tulus di wajah ini.
Saat hendak menyeberang jalan, hal tak terduga terjadi. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi datang ke arahku. Tubuh ini terjungkal berulang kali ke aspal saat kendaraan tersebut menabrak. Bahkan, aku sudah tidak sadar lagi dengan apa yang kurasakan sekarang. Badanku kaku tidak dapat digerakkan. Dapat kurasakan darah mengalir di kaki dan kepala.
Rasa was-was akan bayi yang kukandung semakin merajalela. Namun, diri ini tidak bisa berbuat apa pun.
Ingin bangun namun badanku lemas tak bisa digerakkan. Sampai kegelapan menyapa membuatku tidak sadar lagi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Komentar Buku (77)

  • avatar
    YulianiLina

    makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh

    03/08/2022

      0
  • avatar
    YuniNabilla

    kerenn

    03/07

      0
  • avatar
    Aini Ramadhani

    baguss

    10/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru