Aku terkejut melihat Arum terjatuh dengan posisi duduk. Dia meringis menahan sakit di perutnya. “Rum, kamu tidak apa-apa, 'kan?” tanyaku panik. Dia menepis tanganku yang akan membantunya berdiri membuat diri ini merasa kecewa. Namun, aku bisa apa. Semua ini terjadi karena keteledoranku. “Kamu tidak apa-apa, kan, Rum?” tanya pria yang baru saja kupukul tadi. Aku mendelik memandangnya tak suka. Akan tetapi, orang itu seolah tidak peduli, tetap saja dia menempel kepada Arum. “Tidak apa-apa, Bang. Hanya sakit sedikit,” jawabnya. Membuat diri ini mengepalkan tangan. Hawa panas menjalar di seluruh tubuh. Rasa cemburu ini bergelayut dalam hati bagai racun yang mematikan. Aku tidak suka ada laki-laki lain yang perhatian kepada Arum. Semua orang yang ada di sana datang tergopoh-gopoh menghampiri kami, termasuk Bu Rina pengurus yayasan. “Arum, kenapa kamu sampai jatuh begini, sih? Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya Bu Rina sambil membantu Arum berdiri lalu memapahnya duduk di kursi yang takjauh dari tempat kami berada. Wajah Arum tetap meringis menahan sakit membuatku semakin khawatir dan lekas ingin segera memeriksanya. Namun, mantan istriku itu tak mengizinkanku untuk menyentuhnya. “Biar Mas periksa dulu takut terjadi apa-apa dengan kandunganmu.” Kuhampiri dia, tetapi Arum menggeleng tanda penolakan. “Enggak usah, Mas. Aku baik-baik saja. Oh iya, aku harap Mas Arga jangan pernah mengakuiku sebagai istri Mas lagi. Karena hubungan kita sudah berakhir. Mas juga bukan siapa-siapa buatku sekarang,” tolaknya. Aku yang mendengar Arum mengatakan itu di depan semua orang termasuk pria itu mendadak kelu. Tubuhku mematung. Iya, karena cemburu kepada laki-laki yang sudah lancang memeluk Arum diri ini tak sadar mengatakan kalau dia istriku. Diingatkan akan status kami membuatku merasa kehampaan di sudut hati ini. Benarkah aku sudah kehilangan Arum selamanya? Tidak adakah kesempatan untukku kembali? “Mas mau ngobrol sama kamu, Rum.” Akan kucoba membujuknya kembali. Sampai mantan istriku itu luluh, aku takkan menyerah untuk mendapatkan kembali kepercayaan darinya. Meski kutahu itu sangat sulit untuk kuraih. Namun, tidak ada salahnya, kan, untuk terus mencoba dan berharap. Demi putra kami. “Tapi aku butuh istirahat, Mas. Maaf,” tolaknya. Bu Rina mengajakku untuk bicara empat mata. Sebelum pergi bersamaku beliau terlebih dahulu menyuruh yang lain untuk membopong Arum ke kamarnya. Setelah Arum berlalu kulihat pria tadi mengajak anak-anak untuk bermain bersamanya. Sedangkan aku mengekor di belakang Bu Rina, menuruti segala yang beliau katakan. Kami mengobrol di ruang tamu yang ada di kantor Panti Asuhan ini. Beliau mempersilahkan duduk lalu menyuruh anak panti lain menyiapkan minuman untuk kami. “Nak Arga, ibu tahu, sulit untuk melepaskan Arum. Dapat ibu lihat dari sorot mata Nak Arga kalau masih menyimpan rasa untuknya. Tapi, ibu mohon, untuk sekarang jangan dulu datang kemari. Biarkan dia sendiri menenangkan hatinya. Kasihan kalau terlalu stres bisa berakibat buruk dengan kesehatan kandungannya, bukan? Nak Arga sudah paham dengan yang ibu katakan,” tutur Bu Rina. Aku mengangguk tanda mengerti. Mungkin benar apa yang dikatakan Bu Rina. Arum saat ini butuh ketenangan. Namun, sampai kapan aku harus menunggu maaf darinya. Jujur, setelah perpisahan kami membuatku tak tenang. Setiap malam selalu mengingat dia dan putra kami. Tak lama setelah berbincang-bincang, aku pamit pulang karena telepon dari pihak rumah sakit tempatku bekerja. Ada apa mereka? Apa ini ada hubungannya denganku yang tidak datang untuk bekerja tanpa izin? ** Bahuku terkulai lemas saat mengetahui pihak Rumah Sakit memberikan surat peringatan padaku karena terlalu cuti tanpa izin. Kali ini, karirku terancam. Membuatku mau tidak mau memperbaiki segalanya. Dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Meski tanpa jadi dokter pun aku masih memiliki penghasilan. Namun, profesi ini disukai Arum. Sejak dulu dia suka bangga melihat suaminya ini diterima di Rumah Sakit yang besar. Akan tetapi, aku harus menerima konsekuensi yang harus kutanggung. Untunglah sejak awal ini memang sudah bisa diprediksi. Setelah dari Rumah Sakit, aku berniat untuk pulang ke rumah. Saat sudah sampai dan turun dari mobil. Dahiku mengernyit saat seorang pria paruh baya menghampiriku. Dia keluar dari dalam rumah dengan tangan yang sudah mengepal, dengan giginya gemeretuk. Wajahnya memerah tanda kemarahan yang memuncak. “Untuk apa Bapak Erika datang ke sini? Bukankah aku sudah tidak punya hubungan lagi dengan putrinya?” gumamku. “Menantu kurang aj*r. Ke mana putriku kau usir?” teriaknya murka. “lebih baik kita bicara di dalam, Pak. Akan kuceritakan apa yang Erika lakukan. Jangan mengobrol di luar begini, Pak. Tidak baik dilihat orang,” bujukku untuk mengajaknya mengobrol. Kenapa Erika memberikanku banyak masalah. Termasuk kedatangan Bapaknya ini. Untunglah mantan mertua menuruti apa yang kuucapkan. Beliau masuk ke dalam rumah dan kami pun duduk berseberangan di kursi ruang tamu. “Sekali lagi aku tanya ke mana kamu mengusir Erika!” bentaknya. Membuatku membuang napas kasar. “Maaf, Pak. Saya tidak tahu Erika pergi ke mana. Yang jelas, aku sudah menceraikan putri bapak saat Erika berani bermain serong di belakangku dengan pria lain. Bahkan lelaki tersebut sudah beristri.” “Jangan omong kosong kamu! Dia tidak mungkin berbuat seperti itu. Aku sangat kenal putriku,” bantah bapak Erika. “Tanyakan saja pada putri bapak. Dia sudah bukan lagi urusanku sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi dia seperti apa. Mungkin saja dia pergi bersama kekasihnya,” ujarku dengan nada dingin. Membuat bapak Erika memandang dengan kemarahan. “Jangan bicara yang tidak-tidak tentang putriku!” bentaknya. Aku hanya memutar bola mata malas. Bapak dan anak sama saja, memangnya aku tidak tahu mantan mertua pun tahu masalah ini. Dia tahu putrinya telah berselingkuh di belakangku. Erika sudah menceritakan segalanya kepadaku sebelum dia pergi. Saat ingin membalas ucapan mantan mertuaku. Suara dering ponsel bapak Erika terdengar di telinga. Beliau mengangkat panggilan tersebut. Matanya terbelalak sambil mendengarkan ucapan orang yang berkomunikasi dengan dia. Dahiku mengernyit, merasa heran sekaligus penasaran. Apalagi bapak Erika tersebut mematung dengan bahu yang terkulai lemas. “Apa? Putriku Erika ada di kantor polisi?” tanyanya dengan suara bergetar. Apa yang terjadi dengan Erika? Kenapa dia sampai digiring ke kantor polisi? Apa dia sudah berbuat kejahatan?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (77)
YulianiLina
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
03/08/2022
0kerenn
03/07
0baguss
10/10
0Lihat Semua