POV Arum Hanya beberapa hari tinggal di Solo, khususnya kampung batik Laweyan ini membuatku merasa sudah betah. Bagaimana tidak, selain warganya ramah, suasana sangat damai serta unik. Terutama, arsitektur bangunan di kampung ini yang menurutku memiliki ciri khasnya tersendiri. Apalagi sejarah tempo dulu tentang pembuatan dan pemasaran batik, membuat kampung ini menjadi salah satu destinasi wisata di kota solo. Kampung ini terletak di sisi selatan Kota Solo, Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Kampung Laweyan istimewa bukan semata-mata karena merupakan kampung tua yang eksotis, tapi juga karena menyimpan jejak panjang industri batik di Solo. Pada awal abad ke-20, Kampung Batik Laweyan pernah mengalami masa kejayaan sebagai kampung saudagar batik pribumi. Membuat kota ini terasa istimewa di mataku. Suasana kampung dengan rumah-rumah kuno dan gang-gang jalan yang dibatasi tembok-tembok putih tinggi mendominasi. Termasuk rumah kontrakan yang kutinggali ini persis seperti rumah tempo dulu. Namun, semuanya tetap terawat dengan baik. Toko-toko penjual batik di sepanjang jalan sekaligus rumah bagi penjualnya. Pengrajin batik dan penjualnya menjadi satu, berjejeran di sepanjang jalan Kampung Laweyan. Di sini pengunjung bisa berbelanja batik dan melihat juga cara proses pembuatan batik. Waktu yang paling tepat untuk melihat aktivitas kampung ini adalah di pagi hari. Pengunjung bisa melihat pembuatan batik tulis, batik cap, pencelupan, pencucian hingga penjemuran kain-kain batik yang beraneka corak. Menyusuri jalan-jalan di Laweyan dengan becak sangat menarik. Tentunya, dengan naik becak, tidak akan capai daripada harus berjalan kaki. Para tukang becak pun bertindak menjadi penunjuk jalan. Sementara wisatawan dapat melihat bangunan kuno di kanan dan kiri. Lalu, sesekali berhenti ke sebuah toko batik. Tukang becak di Laweyan sangat sabar menunggu penumpangnya membeli batik. Menyusuri lorong-lorong kecil di antara tembok tinggi dan rumah kuno memiliki sensasi tersendiri. Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar menjadi saksi kejayaan juragan batik di masa lalu. Kita seolah berjalan di antara kejayaan rumah-rumah saudagar batik kaya zaman dahulu. Bukankah itu sangat mengagumkan? Inilah yang membuatku kerasan di kampung ini. Membuat hidupku terasa lebih damai, sambil mencoba untuk melupakan Mas Arga. Demi menghidupi diri sendiri, setiap hari aku membuat segala macam kue untuk di jual berkeliling. Kegiatan itu kukerjakan saat menjelang subuh sampai waktu Zuhur. Terkadang ketika dagangan tak laku, kuberikan pada anak-anak dan orang tua di sekitar kontrakan. Tak jarang pula, Shofie selalu memborong daganganku lalu dibagikan pada para pekerjanya. Temanku itu memang memiliki toko batik warisan dari orang tuanya. Toko itu menjual segala macam kain dan pernak-pernik dengan bahan dasar batik. Dia juga memberiku pekerjaan sebagai salah satu karyawan di tokonya. Shofie mempercayakan segala urusan tokonya padaku. “Rum, dari pada kamu nyari kerja di tempat lain, mending di tempat aku aja. Aku kebetulan membutuhkan orang yang mau dan bisa kupercaya untuk mengelola toko. Kamu tahu, kan? Mas Ardan itu menginginkan aku mengelola usahanya yang lain di sini. Tak mungkin semuanya kuhandle sendiri, Rum. Pasti segalanya akan keteteran. Apalagi, aku jarang sekali untuk mengecek segala urusan di toko ini. Suamiku itu enggak suka kalau perintahnya ditentang. Tadinya aku akan menutup toko ini. Tapi, enggak mungkin kan? Beberapa karyawan akan kehilangan pekerjaan utama mereka. Apalagi, toko memang sedang rame-ramenya,” jelas Shofie hari itu. Meski awalnya keberatan dengan permintaannya, aku tak bisa menolaknya kembali ketika Shofie memohon dengan sangat. Sebenarnya diri ini merasa tak layak mendapatkan kepercayaan sebesar ini darinya. Aku mengangguk tanda setuju, membuat Shofie lekas memelukku sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. “Makasih, ya, Rum. Kamu mau bantu aku. Kamu memang sahabat terbaikku,” ucap Shofie dengan riang. “Justru aku yang mau ucapin makasih sama kamu, Shof. Kamu udah ngasih kerjaan. Maafkan aku terus merepotkanmu selama ini.” “Jangan minta maaf begitu kalau kamu masih nganggap aku temanmu. Kita ini sahabat, kan? Teman akan membantu di saat sedang kesusahan.” Ah, temanku yang satu ini memang orang paling baik yang pernah kukenal. Mendengar kata-kata Shofie membuat mata ini berkaca-kaca. Merasa terharu dengan segalanya. Entah mengapa, aku merasa diri ini semakin cepat emosional. Sebenarnya ada apa dengan diriku? “Kamu udah bisa kerja mulai hari ini, Rum. Tiap hari aku akan ke sini buat cek laporan dari kamu. Sambil makan malam bareng. Kalau di rumah aku suka kesepian,” ujar Shofie. Aku mengangguk dan mengikutinya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai atas. Ruangan kerja dengan segala pernak-pernik tempo dulu masih tertata rapi di setiap sudut ruangan. Membuat kesan nyaman dan adem lebih mendominasi. Apalagi dengan kursi tamu, meja kerja dan lemari dengan bahan kayu berada di ruangan ini. “Mulai hari ini, ruangan ini tempat ruang kerjamu, Rum.” Setelah mengantarku untuk melihat-lihat isi toko ini, Shofie juga memperkenalkanku kepada para karyawan. Aku senang semuanya terlihat ramah-ramah. Sebagian dari mereka berusia muda. Namun, ada pula yang lebih senior di sini. Ada 7 orang pegawai termasuk aku di toko ini. Setelah memperkenalkan nama masing-masing dan mengumumkan apa pekerjaanku di sini, Shofie mengajakku untuk makan siang bersama. Entah mengapa aku merasa ada salah satu karyawan yang terlihat tak suka dan terkesan meremehkan. Apa ini hanya perasaanku saja? Karena tak ingin memusingkan hal yang tidak-tidak, kutepis semua pemikiran anehku. ** Sebelum Zuhur, aku bekerja di toko seperti biasanya. Karena pekerjaan sudah selesai pukul tiga siang tadi, sore ini aku bisa lebih santai, membuatku memanfaatkan untuk beristirahat sekedar merenggangkan badan yang sudah letih. Bagaimana tidak, dari pagi buta aku bangun dan membuat jajanan dan kue basah untuk kudagangkan. Selanjutnya pukul sembilan pagi, setelah toko buka aku bekerja di sesuai yang diamanahkan Shofie. Karena sedang merasa jenuh, kubuka akun media sosialku Instagram. Namun, saat melihat postingan seseorang lewat di beranda medsosku diri ini terkejut saat membacanya. Apa yang dibilang Mas Arga? Apa dia sakit? Mas Arga kenapa dan sakit apa? Kubuka kolom komentar, banyak orang yang merespon dan mengomentari status itu. Padahal postingannya baru beberapa menit yang lalu. Tak sengaja kupencet tombol like di postingan tersebut. Mengingat kesehatan Mas Arga, aku merasa khawatir. Mas Arga sakit apa? Apa sakitnya tidak parah? Dan masih banyak lagi pertanyaan demi pertanyaan yang terbersit dalam benakku. Kuketik nomor kontak Mas Arga, membuatku tak sadar telah menghubunginya. Ada rasa rindu yang menggunung ketika mengingat suamiku kembali. Bagaimanapun bayangan kebersamaan kami susah untuk dilupakan apalagi dihapus untuk selamanya. Sesakit apa pun yang Mas Arga berikan, hati ini tetap merindukannya. Tak lama panggilan diangkat Mas Arga. “Halo, Asalamualaikum.” Suara itu, masih sama seperti yang kukenal dan sering kudengar. Suara seseorang yang sangat kurindukan saat ini. Entah mengapa diri ini merasa, rasa ingin tahu kabar Mas Arga kembali hadir. Namun, aku tak bisa menjawab atau berbicara apa pun. Bibir ini kelu, tak bisa bergerak. ‘Mas, apa kabarmu? Apa benar Mas Arga sakit? Apa Mas ada yang mengurus di sana?’ Pertanyaan konyol, Rum. Pasti suamimu itu sudah di urus Istri barunya sekarang. Mereka sudah satu rumah bersama dan Mas Arga telah membawa wanita itu tinggal di rumah yang kutinggali dulu. Tanpa menjawab apa yang dikatakan Mas Arga. Gegas aku mematikan panggilan tersebut. Merutuki kebodohan diri yang tak bisa mengendalikan hati. Sampai-sampai Mas Arga pasti akan tahu itu nomor baruku. Sepertinya, aku harus mengganti nomor ponselku yang baru kubeli beberapa hari kemarin. Tak ingin sampai suamiku menemukanku kembali. Hampir setengah jam aku melamunkan Mas Arga. Tiba-tiba saat sedang mengingat suamiku itu, perutku terasa tak enak. Rasanya sangat mual. Sampai-sampai aku berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan segala isi perutku yang terisi tadi siang. Kenapa denganku? Akhir-akhir ini aku merasa tubuh ini sering sekali pusing, mual dan lelah. Ah, Mungkin saja ini hanya masuk angin. Aku cuma kurang tidur dan istirahat. Tak ingin memikirkannya, gegas aku kembali melakukan pekerjaanku karena Ratih, telah membawa laporan pendapatan dan penjualan hari ini untuk kuperiksa setiap harinya. Namun, tiba-tiba mataku berkunang-kunang. Kepala ini terasa pusing seolah bumi yang kupijak ini hanya berputar-putar di kepala. Saat tak kuat menahan sakit yang mendera, kudengar Ratih berteriak ketika melihatku terkulai lemas lalu segalanya gelap menyapa.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (77)
YulianiLina
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
makin penasaran Arumnya kemana????? jangan jangan Arum tau suaminya selingkuh jadi kabur deh
03/08/2022
0kerenn
03/07
0baguss
10/10
0Lihat Semua